Rasulullah SAW. tidak diutus untuk menghapus kebatilan dengan kebatilan. Beliau tidak diutus untuk mengganti satu permusuhan dengan permusuhan yang lain, atau mengharamkan sesuatu di satu tempat lalu menghalalkannya di tempat lain demi kepentingan tertentu. Beliau juga tidak diutus sekadar untuk mengganti kekuasaan suatu bangsa dengan kekuasaan bangsa yang lain.
Karena itu, misi Rasulullah SAW. tidak dapat dipahami hanya sebagai gerakan politik, pembebasan suatu bangsa, atau perebutan kekuasaan. Beliau bukan pemimpin nasional yang bertugas menarik keuntungan bagi bangsanya sendiri. Beliau juga bukan tokoh politik yang hendak mengeluarkan bangsa Arab dari kekuasaan Persia dan Romawi untuk kemudian memasukkannya ke dalam kekuasaan 'Adnan dan Qathan.
Risalah beliau jauh lebih luas.
Rasulullah SAW. diutus kepada seluruh umat manusia sebagai Basyir, pembawa kabar gembira, dan Nadzir, pemberi peringatan. Beliau mengajak manusia kembali kepada kebenaran Allah SWT. yang terang dan membebaskan manusia dari berbagai bentuk kesesatan.
Beliau datang untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan kepada selain Allah menuju penghambaan kepada Allah Yang Maha Esa; dari kepengapan kehidupan dunia menuju kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan di akhirat; dari kezaliman akibat penyimpangan agama menuju keadilan Islam.
Beliau menyeru manusia agar berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Beliau menghalalkan bagi mereka segala sesuatu yang baik dan mengharamkan segala sesuatu yang buruk, sesuai dengan apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah SWT. Beliau juga datang untuk melepaskan beban-beban berat dan belenggu yang selama ini membebani kehidupan manusia.
Dengan demikian, perubahan yang dibawa Rasulullah SAW. bukan sekadar perubahan pada siapa yang berkuasa, tetapi perubahan mengenai untuk apa manusia hidup, kepada siapa manusia tunduk, dan dengan nilai apa kehidupan harus dijalankan.
Seruan itu tidak ditujukan hanya kepada satu bangsa dengan mengecualikan bangsa lainnya. Ia ditujukan kepada jiwa manusia dan hati nurani seluruh umat manusia.
Namun, perubahan yang bersifat universal tetap harus dimulai dari suatu tempat. Karena kerusakan dan kemerosotan yang begitu kuat terjadi di tengah bangsa Arab pada masa itu, mereka memperoleh perhatian pertama dalam perjuangan Rasulullah SAW. yang sangat berat.
Mekah, Ummul Qura', dan Semenanjung Arabia menjadi pusat awal risalah tersebut. Dari tempat itulah seruan tauhid disampaikan, manusia dibentuk, dan masyarakat baru mulai dibangun.
Ada pula alasan yang berkaitan dengan karakter masyarakat Arab ketika itu. Dalam lingkungan mereka terdapat ciri-ciri kejiwaan dan keistimewaan dalam bidang bahasa dan sastra yang membuat pesan risalah dapat disampaikan dengan kekuatan yang sangat besar. Al-Qur'an turun dalam bahasa mereka, menggugah akal dan hati mereka, sekaligus menantang mereka dengan sesuatu yang sangat mereka kuasai: bahasa.
Maka, universalitas risalah tidak berarti bahwa perubahan harus dimulai dari seluruh dunia secara serentak. Risalah yang universal justru memiliki titik awal yang nyata, kemudian bergerak melampaui batas-batas bangsa dan wilayah.
Tabiat Manusia Merupakan Gembok dan Kuncinya
Rasulullah SAW. bukan seorang reformer seperti para pembaharu yang hanya berusaha masuk melalui salah satu sisi kehidupan masyarakat. Beliau tidak datang melalui "pintu belakang" untuk memperbaiki satu penyakit sosial, lalu meninggalkan penyakit lainnya.
Sebagian pembaharu mungkin berhasil memperbaiki satu persoalan pada suatu tempat dan suatu masa. Sebagian lainnya bahkan menghabiskan seluruh hidupnya untuk melakukan perubahan, tetapi tidak berhasil mencapai perubahan yang mendasar.
Mengapa demikian?
Karena masyarakat bukan sekadar kumpulan aturan. Masyarakat dibentuk oleh manusia, sedangkan manusia digerakkan oleh jiwa, keyakinan, keinginan, kebiasaan, dan nilai-nilai yang diyakininya.
Selama bagian yang paling dalam itu tidak berubah, perubahan pada permukaan akan mudah kembali kepada keadaan semula.
Dalam teks ini, Mahatma Gandhi dijadikan sebagai salah satu ilustrasi mengenai persoalan tersebut. Gandhi membangun perjuangannya antara lain di atas prinsip tanpa kekerasan dan perlawanan tanpa kekerasan. Ia juga berusaha memperbaiki kedudukan kelompok Paria melalui penolakan terhadap praktik diskriminatif yang menganggap mereka tidak layak disentuh.
Ia menyampaikan gagasan-gagasan tersebut melalui pidato, tulisan, dan perjuangan politik serta spiritual selama bertahun-tahun.
Namun, sebagaimana dicatat dalam teks asal, gagasan tersebut berhadapan dengan konflik sosial yang sangat berat. Kekerasan komunal yang menyertai proses pemisahan India pada 1947 menunjukkan betapa sulitnya mengubah perilaku masyarakat apabila akar kejiwaan dan struktur sosial yang melahirkannya belum berubah secara mendasar. Peristiwa kekerasan tersebut menelan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar dan meninggalkan luka mendalam dalam sejarah India.
Demikian pula, usaha memperbaiki kedudukan kelompok yang tertindas tidak serta-merta menghapus diskriminasi yang telah berakar panjang dalam masyarakat.
Pelajaran yang hendak ditarik dari contoh tersebut bukanlah bahwa setiap usaha pembaruan di luar risalah kenabian pasti gagal. Persoalannya lebih mendasar: perubahan manusia tidak cukup hanya dengan gagasan yang baik; gagasan itu harus menemukan tempat di dalam jiwa manusia dan membentuk cara hidupnya.
Di sinilah kita dapat memahami perbedaan mendasar antara perubahan yang menyentuh permukaan dan perubahan yang menyentuh akar.
Rasulullah SAW. datang membawa jalan perubahan yang dimulai dari manusia itu sendiri. Beliau tidak hanya memberitahukan apa yang harus dilakukan, tetapi terlebih dahulu membangun keyakinan yang membuat manusia rela melakukannya.
Beliau datang melalui "pintu depan" kehidupan manusia dengan membawa kunci yang sesuai dengan gemboknya.
Gembok itu adalah jiwa manusia.
Kuncinya adalah tauhid.
Selama berabad-abad, manusia telah mencoba membuka persoalan kehidupan dengan berbagai macam cara. Namun, jika akar persoalannya terletak pada penyimpangan hubungan manusia dengan Allah SWT., maka perubahan tidak akan sempurna selama hubungan itu belum diluruskan.
Karena itu, seruan pertama Rasulullah SAW. bukanlah:
Siapa yang akan menjadi penguasa?
Bukan pula:
Bangsa mana yang harus menguasai bangsa lain?
Seruan beliau dimulai dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar:
Siapa Tuhan manusia? Kepada siapa manusia harus tunduk? Dan untuk apa manusia hidup?
Di tengah-tengah kaumnya, Rasulullah SAW. menyerukan agar manusia beriman kepada Allah Yang Maha Esa, meninggalkan penyembahan kepada berhala, dan berhenti mengikuti jalan setan dalam pengertian yang luas. Beliau menyeru:
"Wahai manusia, bersaksilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, niscaya kalian akan beruntung."
Beliau juga menyeru manusia untuk membenarkan risalahnya dan meyakini adanya kehidupan akhirat.
Dari sinilah perubahan dimulai.
Tauhid bukan sekadar mengganti nama sesembahan. Tauhid mengubah pusat kehidupan manusia. Sebelum tauhid, manusia dapat tunduk kepada berhala, penguasa, harta, hawa nafsu, tradisi, atau fanatisme. Setelah tauhid, manusia diarahkan untuk menempatkan Allah SWT. sebagai pusat ketaatan.
Ketika pusat kehidupan berubah, cara manusia memandang dunia pun berubah.
Kekuasaan tidak lagi menjadi alat untuk berbuat sewenang-wenang, tetapi amanah. Kekayaan tidak lagi menjadi tujuan akhir, tetapi titipan. Keberanian tidak lagi menjadi sarana menindas, tetapi kekuatan untuk membela kebenaran. Ilmu tidak lagi menjadi alat penipuan, tetapi sarana mengenali kebenaran. Kehidupan dunia tidak lagi dipandang sebagai tujuan terakhir, karena manusia menyadari adanya kehidupan akhirat.
Maka, perubahan yang dilakukan Rasulullah SAW. bukanlah pergantian satu bentuk Jahiliyah dengan bentuk Jahiliyah yang lain.
Beliau tidak sekadar mengganti siapa yang berada di atas. Beliau mengubah manusia agar memahami untuk apa ia berada di dunia.
Dari sinilah Jahiliyah mulai digantikan oleh Islam: bukan pertama-tama dengan pergantian kekuasaan, tetapi dengan pergantian orientasi hidup; bukan dengan kebatilan baru yang melawan kebatilan lama, tetapi dengan kebenaran yang membebaskan manusia dari seluruh bentuk penghambaan selain kepada Allah SWT.
0 komentar: