Susunan Ayat dan Surah dalam Al-Qur’an
A. Susunan Ayat ke dalam Surah
Diakui secara umum bahwa susunan ayat dan surah dalam Al-Qur’an memiliki keunikan yang luar biasa. Susunannya tidak mengikuti urutan waktu turunnya wahyu dan tidak pula disusun semata-mata berdasarkan subjek pembahasan. Ada hikmah dan rahasia tertentu di balik susunan tersebut yang hakikatnya hanya Allah yang Mahatahu, karena Dia adalah Pemilik Kitab itu sendiri.
Bayangkan jika seseorang bertindak sebagai editor terhadap sebuah buku yang ditulis orang lain. Mengubah urutan kalimat, paragraf, atau pembahasan dapat memengaruhi keseluruhan makna yang hendak disampaikan pengarang. Karena itu, dalam sebuah karya, kewenangan terakhir mengenai susunan dan isi tentu berada pada pengarangnya.
Demikian pula Al-Qur’an. Ia bukan karya manusia yang dapat disusun ulang berdasarkan pertimbangan manusia. Allah adalah sumber wahyu sekaligus Pemiliknya. Karena itu, susunan wahyu tidak diserahkan kepada manusia untuk ditentukan menurut selera, kebutuhan zaman, atau pertimbangan tema.
Al-Qur’an sendiri memberikan gambaran tentang tanggung jawab Ilahi dalam proses pengumpulan, pembacaan, dan penjelasan wahyu:
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami penjelasannya.”
Dari sini tampak bahwa wahyu bukan sekadar disampaikan kepada Nabi Muhammad, lalu beliau bebas menentukan bentuknya. Ada bimbingan Allah dalam proses penerimaan, pembacaan, pengumpulan, dan penjelasan wahyu.
Adapun dalam menjelaskan kandungan wahyu kepada manusia, Allah memberikan mandat kepada Rasulullah. Al-Qur’an menyatakan:
“Dan Kami telah menurunkan kepadamu peringatan agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.”
Dengan demikian, Rasulullah bukan hanya penerima wahyu, tetapi juga penjelasnya. Beliau mendapatkan otoritas khusus melalui wahyu untuk menerangkan kandungan Al-Qur’an kepada umatnya.
Dari sinilah kita dapat memahami bahwa susunan ayat dalam surah tidak lahir dari keputusan komunitas Muslim setelah wafatnya Nabi, apalagi dari keputusan perorangan. Rasulullah mendapatkan bimbingan dalam menerima dan menyampaikan wahyu, termasuk dalam menunjukkan penempatan ayat-ayatnya.
Petunjuk tentang Penempatan Ayat
Al-Qur’an terdiri atas surah-surah dengan panjang yang berbeda-beda. Ada surah yang sangat panjang hingga mencapai ratusan ayat, dan ada pula surah yang hanya terdiri atas beberapa ayat.
Sejumlah riwayat menunjukkan bahwa Nabi Muhammad memberikan petunjuk kepada para penulis wahyu mengenai tempat ayat-ayat yang baru diturunkan. Ketika sebuah ayat turun, beliau tidak sekadar menyuruh para sahabat menuliskannya, tetapi juga menunjukkan kepada mereka di mana ayat tersebut harus ditempatkan.
Utsman menjelaskan bahwa ketika turun wahyu, Nabi Muhammad memanggil para penulis wahyu dan memberikan arahan agar ayat tersebut ditempatkan pada surah tertentu, sebagaimana yang beliau jelaskan.
Zaid bin Tsabit juga memberikan kesaksian mengenai proses pengumpulan Al-Qur’an di hadapan Nabi Muhammad. Kesaksian semacam ini memperlihatkan bahwa proses penulisan wahyu berlangsung dalam pengawasan Rasulullah.
Riwayat dari Utsman bin Abi al-'Ash bahkan menggambarkan bahwa ketika Nabi Muhammad sedang duduk bersama para sahabat, beliau tiba-tiba memusatkan pandangan pada suatu tempat. Setelah itu beliau menjelaskan bahwa Malaikat Jibril baru saja datang dan memerintahkannya untuk menempatkan suatu ayat pada bagian tertentu dari sebuah surah.
Riwayat lain dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa ayat, “Dan peliharalah dirimu dari hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah,” merupakan ayat terakhir yang diturunkan. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Malaikat Jibril mengarahkan agar ayat itu ditempatkan setelah ayat ke-280 dari surah Al-Baqarah.
Kesaksian Ubay bin Ka'ab juga memberikan gambaran yang sama. Ia menceritakan bahwa terkadang permulaan sebuah surah diturunkan terlebih dahulu. Ia menuliskannya. Kemudian turun wahyu lain dan Nabi Muhammad memerintahkan, “Tulislah ini dalam surah yang menyebut ini dan itu.” Pada kesempatan lain, wahyu turun dan para penulis menunggu arahan Nabi mengenai tempat ayat tersebut.
Gambaran ini penting untuk direnungkan. Wahyu memang turun secara bertahap sesuai dengan perjalanan dakwah Rasulullah dan berbagai peristiwa yang terjadi. Akan tetapi, urutan turunnya wahyu tidak sama dengan urutan ayat dalam mushaf.
Di sinilah terlihat adanya perbedaan antara sejarah turunnya Al-Qur’an dan struktur Al-Qur’an yang kita baca hari ini.
Wahyu turun mengikuti kebutuhan dakwah, pertanyaan manusia, peristiwa, tantangan, dan perkembangan masyarakat. Namun setelah turun, ayat-ayat tersebut ditempatkan pada posisi tertentu dalam surah sesuai dengan petunjuk yang diberikan kepada Rasulullah.
Karena itu, Al-Qur’an tidak dapat dipahami seperti sebuah buku sejarah yang disusun berdasarkan kronologi peristiwa.
Pengawasan Rasulullah terhadap Susunan Ayat
Kesaksian para sahabat menunjukkan bahwa Nabi Muhammad terus melakukan pengawasan terhadap penulisan dan pengumpulan wahyu.
Zaid bin Tsabit menceritakan suatu peristiwa ketika mereka bersama Nabi Muhammad dalam proses pengumpulan Al-Qur’an. Riwayat tersebut sekaligus menggambarkan kedekatan para penulis wahyu dengan Rasulullah dalam proses tersebut.
Pengawasan ini juga dapat dilihat dari praktik pembacaan Al-Qur’an dalam shalat. Nabi Muhammad membaca surah-surah tertentu dalam shalat dan para sahabat mengenal bagian awal maupun akhir surah.
Misalnya, Nabi Muhammad menjelaskan kepada Umar bahwa ayat-ayat terakhir dari surah An-Nisa’ dapat menjadi bekal dalam menyelesaikan persoalan warisan.
Abu Mas'ud al-Badri meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad menyampaikan keutamaan dua ayat terakhir surah Al-Baqarah bagi orang yang membacanya pada malam hari.
Ibnu Abbas juga menceritakan bahwa ketika ia bermalam di rumah Maimunah, istri Nabi Muhammad, ia mendengar Nabi bangun dari tidurnya dan membaca sepuluh ayat terakhir surah Ali Imran.
Riwayat-riwayat semacam ini menunjukkan bahwa para sahabat mengenal surah sebagai satuan yang memiliki awal dan akhir yang jelas. Mereka tidak memperlakukan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai kumpulan potongan wahyu yang bebas ditempatkan sesuka hati.
Dengan demikian, susunan ayat dalam setiap surah memiliki dasar yang kuat dalam praktik kenabian.
---
B. Penyusunan Surah
Pembahasan mengenai susunan surah sedikit berbeda dengan pembahasan mengenai susunan ayat.
Jika mengenai penempatan ayat dalam surah terdapat banyak riwayat yang menunjukkan arahan Nabi Muhammad, maka mengenai urutan seluruh surah dalam mushaf terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Beberapa sumber menyebutkan adanya mushaf pribadi yang dinisbatkan kepada sahabat tertentu, seperti Ubay bin Ka'ab dan Ibnu Mas'ud, yang susunan surahnya berbeda dengan mushaf yang kemudian menjadi standar umat Islam.
Namun, perbedaan semacam itu perlu ditempatkan secara proporsional. Perbedaan susunan surah, jika benar terdapat dalam sebagian mushaf pribadi para sahabat, tidak otomatis berarti adanya perbedaan isi Al-Qur’an.
Hal ini penting karena setiap surah pada dasarnya merupakan satu kesatuan yang memiliki karakter dan bangunan tersendiri. Ia tidak harus dipahami sebagai bagian dari sebuah buku kronologis yang hanya dapat dipahami apabila dibaca berdasarkan urutan turunnya wahyu.
Justru keunikan Al-Qur’an terletak pada struktur tersebut. Surah-surahnya menjadi unit-unit yang berdiri sendiri, tetapi pada saat yang sama saling membentuk sebuah bangunan wahyu yang utuh.
Apakah Urutan Surah Bersifat Wajib?
Para ulama juga membahas apakah urutan surah sebagaimana terdapat dalam mushaf merupakan sesuatu yang wajib diikuti dalam setiap bentuk interaksi dengan Al-Qur’an.
Dalam praktik membaca, belajar, mengajar, dan menghafal, seseorang tidak selalu harus memulai dari surah pertama kemudian bergerak hingga surah terakhir. Banyak orang menghafal Al-Qur’an dari surah-surah pendek di bagian akhir mushaf, kemudian bergerak menuju surah-surah sebelumnya.
Dalam shalat pun terdapat riwayat bahwa Nabi Muhammad pernah membaca surah-surah dalam urutan yang tidak sama dengan urutan mushaf. Hal ini menunjukkan bahwa membaca surah tidak selalu terikat pada urutan mushaf dalam setiap keadaan.
Karena itu, perlu dibedakan antara susunan mushaf sebagai struktur yang telah diterima umat dan urutan membaca surah dalam berbagai aktivitas ibadah, belajar, dan menghafal.
Keduanya tidak selalu merupakan persoalan yang sama.
Perbedaan Pendapat Ulama
Mengenai siapa yang menentukan urutan seluruh surah, terdapat beberapa pendapat.
Pertama, ada pendapat yang menyatakan bahwa susunan seluruh surah sebagaimana terdapat dalam mushaf bersumber dari Nabi Muhammad. Pendapat ini memandang bahwa susunan tersebut memiliki dasar dari masa kenabian.
Kedua, ada yang berpendapat bahwa seluruh susunan surah ditetapkan oleh Nabi Muhammad, kecuali surah At-Taubah yang penyusunannya dilakukan pada masa setelah beliau.
Ketiga, ada pendapat yang menganggap bahwa susunan seluruh surah merupakan hasil pengaturan para sahabat, terutama dalam proses kodifikasi mushaf pada masa Abu Bakar dan kemudian Utsman bin Affan.
Keempat, Ibn 'Atiyyah berpendapat bahwa sebagian surah telah disusun oleh Nabi Muhammad, sedangkan sebagian lainnya diserahkan kepada para sahabat.
Perbedaan pendapat ini menunjukkan bahwa persoalan urutan surah memang memiliki dimensi sejarah dan metodologis yang perlu dikaji dengan hati-hati. Namun, perbedaan tersebut tidak sama dengan perbedaan mengenai keberadaan ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri.
---
Al-Qur’an: Wahyu yang Tidak Disusun Menurut Kronologi
Jika kita berhenti sejenak dan memperhatikan struktur Al-Qur’an, kita akan menemukan sesuatu yang sangat menarik.
Al-Qur’an turun selama bertahun-tahun, mengikuti perjalanan dakwah Rasulullah. Ada ayat yang turun ketika kaum Muslim masih tertindas di Makkah. Ada yang turun setelah hijrah. Ada yang turun ketika umat Islam menghadapi perang, membangun masyarakat, menghadapi kaum munafik, berinteraksi dengan Ahli Kitab, mengatur kehidupan keluarga, ekonomi, hukum, hingga hubungan sosial.
Namun semuanya tidak disusun dalam mushaf berdasarkan tanggal turunnya.
Artinya, Al-Qur’an tidak meminta manusia memahami wahyu hanya melalui kronologi.
Ada struktur lain yang hendak diperlihatkan.
Sebuah ayat yang turun pada suatu peristiwa tertentu dapat ditempatkan bersama ayat-ayat lain dalam sebuah surah yang memiliki tema, arah, dan bangunan makna tertentu. Karena itu, posisi sebuah ayat dalam mushaf tidak dapat dipandang sebagai persoalan teknis belaka.
Letak ayat menjadi bagian dari cara Al-Qur’an berbicara kepada manusia.
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Ketika manusia mencoba menyusun kembali Al-Qur’an berdasarkan urutan turunnya wahyu, ia sebenarnya sedang mengubah cara membaca yang telah diwariskan melalui mushaf. Kronologi wahyu memang penting untuk memahami konteks turunnya ayat, tetapi kronologi bukanlah struktur final mushaf.
Al-Qur’an memiliki sejarah turunnya, tetapi ia juga memiliki struktur bacaan.
Dan keduanya tidak boleh dicampuradukkan.
Pada akhirnya, yang berada di hadapan kita bukan sekadar kumpulan ayat yang pernah turun pada masa lalu. Kita sedang berhadapan dengan sebuah kitab yang memiliki susunan tertentu, dibaca dari generasi ke generasi, dihafalkan, diajarkan, dan diamalkan sebagai satu kesatuan.
Karena itu, mempelajari susunan Al-Qur’an bukan hanya mempelajari di mana sebuah ayat ditempatkan, tetapi juga belajar bertanya:
Mengapa ayat ini berada di sini? Mengapa ia berada dalam surah ini? Apa hubungan ayat ini dengan ayat sebelum dan sesudahnya? Dan apa yang hendak dibentuk Al-Qur’an melalui susunan tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita dari sekadar membaca Al-Qur’an menuju upaya memahami arsitektur wahyu.
Sebab Al-Qur’an bukan hanya kumpulan ayat.
Ia adalah sebuah bangunan petunjuk.
0 komentar: