Apa yang Dibawa Para Rasul Dihimpun dalam Risalah Nabi Kita Muhammad ﷺ
Perlu diketahui bahwa pokok-pokok agama yang dibawa oleh para rasul telah dihimpun dalam risalah nabi penutup, Muhammad ﷺ. Risalah beliau menyempurnakan dan menghimpun pokok kebenaran yang dibawa para rasul sebelumnya. Karena itu, setelah datangnya kebenaran yang dibawa Rasulullah ﷺ, tidak ada jalan lain selain mengikutinya. Allah Ta'ala berfirman bahwa setelah kebenaran tidak ada lagi selain kesesatan.
Hal ini tergambar dalam peristiwa ketika Umar bin Khaththab r.a. mendapatkan lembaran yang berisi sesuatu dari Taurat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda kepadanya:
أَفِي شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً؟ كَانَ أَخِي مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا اتِّبَاعِي.
“Apakah engkau ragu, wahai Ibnul Khaththab? Bukankah aku membawanya dalam keadaan putih bersih? Seandainya saudaraku, Musa, masih hidup, maka tidak ada yang dilakukannya selain mengikutiku.”45
Pesan dalam hadis ini sangat kuat. Risalah Nabi Muhammad ﷺ bukanlah risalah yang terputus dari risalah para nabi sebelumnya. Sebaliknya, ia merupakan penyempurna dan penghimpun pokok-pokok kebenaran yang telah dibawa oleh mereka. Karena itu, kedatangan Rasul terakhir sekaligus menempatkan manusia pada satu rujukan wahyu yang terakhir dan sempurna.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
“Penutup para nabi, pemimpin mereka, dan yang paling dihormati Tuhannya adalah Muhammad. Dia mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, tujuan bagi para penempuh, dan hujjah atas seluruh manusia. Dia mengambil sumpah dan perjanjian dengan beriman kepada beliau dan mengikutinya atas semua nabi dan rasul, dan memerintahkan mereka untuk mengambilnya (sumpah dan janji) atas orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan orang-orang mukmin.
Dia menutup risalah dengan-Nya, menjadikannya sebagai petunjuk dari kesesatan, mengajarkan dengannya dari kebodohan, membuka dengannya mata-mata buta, telinga-telinga tuli, dan hati-hati yang tertutup. Dengan demikian, bumi bersinar dengannya setelah kegelapan, hati bersatu setelah perpecahannya. Dia menegakkan agama yang bengkok dengannya dan menjelaskan jalan yang terang benderang. Dia juga menjadikan kehinaan dan kenistaan terhadap orang yang menyalahi perintahnya.
Dia mengutusnya pada rentang (kekosongan) para rasul dan terhapusnya kitab-kitab ketika firman-firman diselewengkan, syariat-syariat diganti, setiap kaum bersandar kepada pendapat mereka yang paling zalim, dan menetapkan hukum atas Allah dan hamba-hamba-Nya dengan perkataan-perkataan yang mereka buat dengan akal mereka yang rusak dan hawa nafsunya. Lantas Allah memberi petunjuk manusia dan menjelaskan jalan dengannya, serta mengeluarkan manusia dengannya dari kegelapan menuju cahaya...”
Dengan demikian, kehadiran Rasulullah ﷺ tidak hanya berarti hadirnya seorang nabi setelah nabi-nabi sebelumnya. Ia juga menandai hadirnya risalah terakhir yang menjadi petunjuk bagi manusia hingga akhir zaman. Ketika manusia mengalami perselisihan, wahyu memberikan ukuran untuk membedakan antara kebenaran dan kesesatan.
Kitab-Kitab dan Risalah-Risalah Itulah yang Menetapkan Hukum di Antara Manusia
Mengapa manusia membutuhkan wahyu untuk menetapkan hukum di antara mereka?
Bagaimanapun manusia berupaya untuk berkumpul, pada tingkat apa pun, sesungguhnya mereka tidak akan pernah mampu membangun perkumpulan yang benar-benar bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat kecuali dengan hukum Allah Ta'ala. Sebab, manusia bukan hanya berbeda dalam kepentingan, tetapi juga memiliki keterbatasan pengetahuan, kecenderungan, dan hawa nafsu.
Karena itu, barangsiapa ingin memberikan nasihat kepada manusia secara umum dan kepada kaum muslimin secara khusus, hendaknya dia menyeru kepada Allah Ta'ala. Itulah agama yang benar yang mereka anut sebelum terjadi perselisihan.
Pada mulanya, manusia berada dalam kebenaran. Kemudian mereka berselisih. Maka Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab bersama mereka untuk menetapkan hukum di antara manusia ketika mereka berselisih tentang kebenaran. Para rasul menjelaskan kebenaran yang diperselisihkan tersebut.
Namun, sesuatu yang menarik untuk direnungkan adalah bahwa kedatangan wahyu tidak serta-merta membuat seluruh manusia bersatu. Bahkan, sebagian manusia justru semakin berselisih setelah datangnya penjelasan. Para rasul dan kitab-kitab merupakan pendorong manusia untuk bersepakat di atas kebenaran dan mengikutinya. Akan tetapi, kesepakatan dan persatuan tidak tercapai. Mereka justru semakin berselisih karena kelaliman dan kedengkian.
Di sinilah tampak bahwa persoalan manusia bukan semata-mata karena tidak adanya petunjuk. Petunjuk telah datang. Persoalannya adalah apakah manusia mau tunduk kepada petunjuk tersebut.
Allah Ta'ala kemudian memberikan hidayah kepada orang-orang beriman kepada kebenaran yang diperselisihkan oleh selain mereka, dengan izin, rahmat, dan kemudahan-Nya.
Dengan demikian, wahyu bukan hanya memberikan informasi tentang kebenaran. Wahyu juga menjadi ukuran yang dengannya manusia menimbang perselisihan mereka. Ia menjadi rujukan ketika akal, kepentingan, dan hawa nafsu membawa manusia kepada arah yang berbeda-beda.
Perselisihan Merupakan Kebinasaan di Akhir Zaman, dan Keselamatan Darinya dengan Mengikuti Rasul
Jika demikian keadaan manusia, maka persoalan perselisihan tidak berhenti pada masa lalu. Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ telah mengabarkan bahwa menjelang akhir zaman fitnah akan semakin banyak, berbagai urusan menjadi samar, Islam kembali asing sebagaimana pada awalnya, ilmu dihilangkan, dan kebodohan merebak.
Setan pun berhasil menguasai manusia hingga berhala-berhala kembali disembah. Perselisihan menjadi semakin gawat sehingga dapat membinasakan orang-orang terakhir sebagaimana telah membinasakan orang-orang pertama.
Karena itu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
لَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا
“Janganlah kalian berselisih. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa.”
Pesan ini mengajak kita untuk melihat perselisihan bukan sekadar sebagai perbedaan pendapat. Ada perselisihan yang lahir dari keterbatasan manusia dan masih dapat ditoleransi. Namun, ada pula perselisihan yang menjauhkan manusia dari kebenaran dan pada akhirnya menjadi sebab kebinasaan.
Keselamatan dari kebinasaan itu adalah dengan mengikuti kebenaran yang dibawa Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ juga bersabda:
“Bagaimana dengan kalian pada suatu masa yang hampir saja datang, ketika manusia disaring pada masa itu satu kali saringan hingga tersisa ampas dari manusia? Perjanjian-perjanjian dan amanah-amanah mereka telah kacau, dan mereka berselisih sehingga mereka begini”—beliau merenggangkan antara jari-jemarinya.
Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan kami, wahai Rasulullah?”
Beliau bersabda, “Kalian mengambil apa yang kalian ketahui dan meninggalkan apa yang kalian ingkari, menuju kepada urusan orang-orang khusus kalian dan meninggalkan urusan orang-orang umum (kaum awam) kalian.”
Dengan demikian, ketika perselisihan semakin banyak dan keadaan semakin samar, keselamatan tidak terletak pada mengikuti setiap suara yang muncul. Keselamatan terletak pada memegang kebenaran yang telah diketahui dan mendidik diri untuk tetap berada di atasnya.
Dalam hadis Al-Irbadh bin Sariyah disebutkan:
“Aku berwasiat kepada kalian dengan takwa kepada Allah. Sesungguhnya orang yang hidup setelahku maka dia akan melihat banyak perselisihan. Karena itu, hendaknya kalian memegang Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku. Berpeganglah kepadanya dan gigitlah erat-erat dengan geraham kalian, dan hindarilah hal-hal baru (dalam urusan agama).”
Nabi Muhammad ﷺ dengan demikian telah mengabarkan bahwa perselisihan akan semakin banyak pada akhir zaman. Dan beliau sekaligus menunjukkan jalan keselamatan darinya: berpegang teguh kepada Sunnah beliau dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.
Sunnah Muhammadiyyah dinukil secara nash, sedangkan Sunnah Khulafaur Rasyidin dipahami melalui apa yang mereka pahami dan praktikkan dari nash-nash wahyu. Karena itu, mengikuti mereka bukan berarti membuat sumber petunjuk baru, melainkan mengikuti pemahaman generasi yang mendapatkan petunjuk terhadap wahyu.
Pada akhirnya, rangkaian pembahasan ini membawa kita kembali kepada satu persoalan mendasar: manusia membutuhkan wahyu bukan hanya karena mereka tidak mengetahui kebenaran, tetapi juga karena mereka mudah berselisih setelah mengetahui kebenaran.
Para rasul datang membawa petunjuk. Kitab-kitab diturunkan untuk menjelaskan kebenaran dan menetapkan hukum di antara manusia. Risalah Nabi Muhammad ﷺ kemudian menghimpun dan menyempurnakan pokok-pokok agama yang dibawa para rasul sebelumnya. Karena itu, ketika perselisihan semakin banyak, jalan keselamatan bukanlah mengikuti setiap pendapat yang muncul, melainkan kembali kepada petunjuk yang telah diwariskan oleh Rasulullah ﷺ.
Di sinilah mengikuti Rasul bukan sekadar persoalan identitas keagamaan. Ia menjadi jalan untuk menjaga manusia agar tetap berada di atas kebenaran ketika berbagai suara, kepentingan, dan perselisihan berusaha menariknya ke arah yang berbeda-beda.
0 komentar: