basmalah Pictures, Images and Photos
Pengajaran Al-Qur’an di Madinah - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Pengajaran Al-Qur’an di Madinah 1. Nabi Muhammad saw. sebagai Guru ...

Pengajaran Al-Qur’an di Madinah

Pengajaran Al-Qur’an di Madinah

1. Nabi Muhammad saw. sebagai Guru Al-Qur’an

Setelah hijrah dan menetap di Madinah, Nabi Muhammad saw. menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan. Salah satu bagian penting dari pusat pendidikan tersebut adalah Suffah, tempat para sahabat belajar, termasuk mereka yang membutuhkan pembinaan dalam membaca dan menulis. Di tempat ini tersedia pula makanan dan tempat tinggal bagi mereka yang memerlukannya.

Dengan demikian, pendidikan Al-Qur’an di Madinah berlangsung dalam suasana yang lebih terbuka dibandingkan periode Mekah. Jika di Mekah pengajaran Al-Qur’an banyak berlangsung dalam keadaan penuh tekanan dan secara sembunyi-sembunyi, di Madinah pendidikan tersebut berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim.

Ketika Nabi Muhammad saw. mengajarkan Al-Qur’an, para sahabat yang memiliki kemampuan tertentu turut membantu dalam bidang pendidikan. Abdullah bin Sa'id bin al-'Ash, Ubadah bin ash-Shamit, dan Ubay bin Ka'ab, misalnya, turut mengajarkan dasar-dasar membaca dan menulis.

Pengajaran Nabi Muhammad saw. kepada para sahabat berlangsung secara langsung. Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi membacakan Al-Qur’an kepada mereka. Apabila sampai pada ayat sajdah, beliau mengucapkan takbir kemudian bersujud. Dengan cara demikian, pembelajaran Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi juga disertai pengajaran tentang bagaimana ayat tersebut diamalkan.

Sejumlah sahabat juga meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. membacakan surah kepada mereka secara pribadi. Di antara mereka adalah Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Salam, Hisyam bin Hakim, Umar bin Khaththab, dan Ibnu Mas'ud. Hal ini menunjukkan bahwa pengajaran Al-Qur’an dilakukan secara langsung, baik dalam kelompok maupun secara individual.

Para utusan yang datang ke Madinah dari berbagai daerah juga memperoleh perhatian dalam bidang pendidikan. Mereka tidak hanya mendapatkan perlindungan berupa makanan dan tempat tinggal, tetapi juga mendapatkan pembinaan keagamaan. Nabi Muhammad saw. memperhatikan keadaan mereka dan menanyakan tingkat pengetahuan yang telah mereka miliki sehingga pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

Setiap kali menerima wahyu, Nabi Muhammad saw. segera membacakannya kepada para sahabat. Pengajaran tersebut juga diberikan kepada kaum perempuan melalui pertemuan-pertemuan tersendiri. Dengan demikian, penyampaian wahyu tidak terbatas kepada kelompok tertentu, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat Muslim.

Utsman bin Abi al-'Ash merupakan salah satu sahabat yang sangat bersemangat mempelajari Al-Qur’an dari Nabi Muhammad saw. Apabila ia tidak dapat menemui Nabi, ia mendatangi rumah Abu Bakar untuk melanjutkan proses belajarnya.

Dari berbagai riwayat tersebut terlihat bahwa pendidikan Al-Qur’an di Madinah memiliki karakter yang semakin sistematis. Nabi Muhammad saw. bukan hanya membacakan wahyu, tetapi juga mengajarkan cara membaca, memahami, dan mengamalkannya. Para sahabat kemudian mengambil bagian dalam proses tersebut sehingga pendidikan Al-Qur’an berkembang menjadi kegiatan bersama dalam masyarakat.

2. Dialek dalam Pengajaran Al-Qur’an

Salah satu persoalan yang muncul dalam perkembangan masyarakat Islam adalah keberagaman dialek bahasa Arab. Meskipun bangsa Arab menggunakan bahasa yang sama, setiap kabilah memiliki ciri pengucapan dan aksen yang berbeda. Perbedaan semacam ini bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan bahasa manusia. Bahkan dalam satu bahasa yang sama, masyarakat dari wilayah yang berbeda dapat memiliki perbedaan dalam pengucapan, intonasi, maupun kosakata.

Perbedaan tersebut juga dikenal dalam masyarakat Arab. Misalnya, kata qultu (قلتُ) dapat mengalami perubahan pengucapan dalam dialek masyarakat tertentu. Demikian pula nama Qasim dapat mengalami perubahan bunyi dalam sebagian dialek, sebagaimana kata rijal dapat mengalami variasi pengucapan di wilayah tertentu.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting ketika Islam berkembang melampaui batas-batas kesukuan. Masyarakat Muslim di Madinah berasal dari berbagai kabilah dan latar belakang. Mereka datang membawa dialek masing-masing. Jika seluruhnya harus meninggalkan dialek yang telah mereka gunakan sejak kecil dan kemudian menggunakan satu bentuk pengucapan yang sama sekali baru, proses belajar Al-Qur’an tentu akan menjadi lebih sulit.

Dalam konteks inilah kemudahan dalam pengajaran Al-Qur’an menjadi penting. Nabi Muhammad saw. mengajarkan bacaan Al-Qur’an kepada masyarakat dengan memperhatikan kemampuan dan latar belakang bahasa mereka. Dengan adanya kemudahan tersebut, orang-orang dari berbagai kabilah dapat mempelajari dan membaca Al-Qur’an tanpa harus terlebih dahulu kehilangan kemampuan bahasa yang telah mereka miliki.

Keragaman dialek dengan demikian tidak menghalangi penyebaran Al-Qur’an. Sebaliknya, adanya kemudahan dalam cara membaca memungkinkan wahyu dipelajari oleh masyarakat Arab yang semakin luas. Pendidikan Al-Qur’an dapat menjangkau berbagai kelompok tanpa kehilangan kedudukannya sebagai sumber utama ajaran Islam.

3. Para Sahabat sebagai Pengajar Al-Qur’an

Setelah memperoleh pendidikan langsung dari Nabi Muhammad saw., para sahabat tidak hanya menjadi murid, tetapi juga mengambil peran sebagai guru. Mereka mengajarkan Al-Qur’an kepada orang-orang yang baru masuk Islam maupun kepada masyarakat yang membutuhkan pembinaan.

Abdullah bin Mughaffal al-Muzani menceritakan bahwa ketika seorang Arab berhijrah ke Madinah, Nabi Muhammad saw. menugaskan seseorang dari kalangan Anshar untuk membimbingnya memahami Islam dan mengajarkan Al-Qur’an kepadanya. Abdullah bin Mughaffal sendiri mengalami hal yang serupa. Ia mendapatkan seorang sahabat Anshar yang membantunya memahami agama dan mengajarkan Al-Qur’an.

Riwayat ini memperlihatkan bahwa pendidikan Al-Qur’an telah menjadi bagian dari sistem pembinaan masyarakat Muslim. Orang yang datang ke Madinah tidak dibiarkan belajar sendiri, tetapi diarahkan kepada sahabat yang dapat membimbingnya.

Ubadah bin ash-Shamit termasuk sahabat yang mengajarkan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad saw. Ubay bin Ka'ab juga aktif mengajarkan Al-Qur’an di Madinah. Bahkan, ia secara terus-menerus mengajarkan Al-Qur’an kepada seorang yang memiliki keterbatasan penglihatan di rumahnya.

Kegiatan belajar Al-Qur’an juga berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil. Abu Sa'id al-Khudri menceritakan bahwa ia duduk bersama sekelompok sahabat dari kalangan Muhajirin ketika seorang qari membacakan Al-Qur’an kepada mereka.

Sahl bin Sa'd meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah mendatangi mereka ketika mereka membaca Al-Qur’an secara bergantian. Uqbah bin Amir juga menceritakan bahwa Nabi mendatangi mereka ketika sedang berada di masjid dan saling mengajarkan Al-Qur’an.

Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. pernah mengunjungi kelompok mereka ketika sedang membaca Al-Qur’an. Dalam kelompok tersebut terdapat orang-orang Arab dan non-Arab. Anas bin Malik juga menggambarkan suasana serupa: Nabi datang ketika mereka sedang membaca Al-Qur’an, sementara di antara mereka terdapat orang Arab dan non-Arab, dengan latar belakang fisik dan sosial yang beragam.

Riwayat-riwayat tersebut memperlihatkan bahwa pengajaran Al-Qur’an di Madinah telah menjadi aktivitas kolektif. Para sahabat belajar dari Nabi, kemudian saling mengajarkan. Masjid menjadi ruang pendidikan, sementara rumah-rumah juga menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran Al-Qur’an.

4. Para Pengajar Al-Qur’an Menjangkau Wilayah di Luar Madinah

Peran para sahabat sebagai pengajar Al-Qur’an tidak berhenti di Madinah. Ketika wilayah dakwah Islam semakin luas, Nabi Muhammad saw. mengutus sejumlah sahabat ke berbagai daerah untuk mengajarkan agama dan Al-Qur’an.

Mu'adz bin Jabal, misalnya, dikirim ke Yaman untuk mengajarkan Islam. Abu Ubaidah juga dikirim ke Najran. Wabra bin Yuhannas mengajarkan Al-Qur’an di San'a, Yaman, kepada Ummu Sa'd binti Buzrug pada masa kehidupan Nabi Muhammad saw.

Pengorbanan para pengajar Al-Qur’an juga tampak dalam peristiwa Bir Ma'unah. Sejumlah sahabat yang dikenal sebagai ahli membaca dan mengajarkan Al-Qur’an menjadi korban dalam perjalanan tersebut. Riwayat menyebutkan bahwa puluhan pengajar Al-Qur’an terbunuh dalam peristiwa itu.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa penyebaran Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad saw. tidak hanya berlangsung melalui pengajaran di Madinah. Para sahabat membawa ilmu yang mereka peroleh dari Nabi ke berbagai wilayah, bahkan dengan risiko kehilangan nyawa.

5. Hasil Kegiatan Pendidikan Al-Qur’an

Pendidikan Al-Qur’an yang berlangsung secara intensif pada masa Nabi Muhammad saw. melahirkan banyak sahabat yang menghafal dan menguasai Al-Qur’an. Mereka kemudian menjadi pengajar di Madinah maupun di wilayah-wilayah yang telah menerima Islam.

Sebagian dari para penghafal Al-Qur’an tersebut gugur dalam berbagai peristiwa, antara lain di Bir Ma'unah dan Yamamah. Karena itu, tidak seluruh nama mereka dapat diketahui dari sumber-sumber sejarah yang sampai kepada generasi berikutnya. Namun, para sahabat yang tetap hidup terus menjalankan tugas pengajaran dan menjadi mata rantai penting dalam penyebaran Al-Qur’an.

Di antara para sahabat yang dikenal memiliki peran dalam pengajaran Al-Qur’an adalah Ibnu Mas'ud, Abu Ayyub, Abu Bakar ash-Shiddiq, Abu ad-Darda, Abu Zaid, Abu Musa al-Asy'ari, Abu Hurairah, Ubay bin Ka'ab, Ummu Salamah, Tamim ad-Dari, Sa'ad bin Mundhir, Hafshah, Zaid bin Tsabit, Salim maula Abu Hudzaifah, Sa'd bin 'Ubadah, Sa'd bin 'Ubaid al-Qari, Syihab al-Qurasyi, Thalhah, Aisyah, Ubadah bin ash-Shamit, Abdullah bin Sa'ib, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr, Utsman bin Affan, 'Atha bin Markayud, Uqbah bin Amir, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khaththab, Amr bin al-'Ash, Fudhalah bin Ubaid, Qais bin Abi Sa'sa'ah, Mujammi' bin Jariyah, Maslamah bin Makhlad, Mu'adz bin Jabal, Mu'adz Abu Halimah, Ummu Waraqah binti Abdullah bin al-Harits, dan Abdul Wahid.

Daftar tersebut menunjukkan luasnya jaringan pendidikan Al-Qur’an pada generasi pertama Islam. Pengajaran tidak lagi bergantung kepada satu orang guru, tetapi telah berkembang menjadi jaringan para sahabat yang tersebar di berbagai tempat. Mereka membawa bacaan dan pengetahuan yang diperoleh langsung dari Nabi Muhammad saw. kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, pendidikan Al-Qur’an di Madinah menghasilkan dua hal sekaligus: lahirnya para huffaz yang menjaga Al-Qur’an melalui hafalan, dan lahirnya para mu'allim yang menyebarkan bacaan serta pengajarannya kepada masyarakat luas.

6. Kesimpulan

Jika periode Mekah merupakan fase peletakan dasar pendidikan Al-Qur’an dalam kondisi penuh tekanan, maka periode Madinah memperlihatkan berkembangnya pendidikan tersebut menjadi sebuah sistem sosial yang lebih luas. Masjid menjadi pusat pembelajaran, Suffah menjadi tempat pembinaan, rumah-rumah menjadi ruang pengajaran, dan para sahabat menjadi jaringan guru yang menyebarkan Al-Qur’an.

Nabi Muhammad saw. mengajarkan Al-Qur’an secara langsung kepada para sahabat. Beliau membacakannya kepada laki-laki dan perempuan, mengajarkannya kepada individu maupun kelompok, serta memberikan kemudahan kepada masyarakat yang datang dari berbagai kabilah dan latar belakang bahasa.

Setelah menerima pengajaran tersebut, para sahabat meneruskannya kepada orang lain. Sebagian mengajar di Madinah, sebagian dikirim ke Yaman dan Najran, dan sebagian lainnya mengemban tugas pendidikan di berbagai wilayah. Dengan demikian, penyebaran Al-Qur’an berjalan melalui hubungan guru dan murid yang terus bersambung.

Salah satu hasil terpenting dari proses tersebut adalah lahirnya generasi penghafal Al-Qur’an. Mereka menjaga wahyu melalui hafalan sekaligus menyebarkannya melalui pengajaran. Bahkan ketika sebagian dari mereka gugur dalam berbagai peristiwa, jaringan pengajaran tidak terputus karena telah tumbuh banyak pengajar di berbagai tempat.

Dengan demikian, sejarah pendidikan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad saw. memperlihatkan sebuah proses yang berlapis: wahyu diturunkan, Nabi membacakannya, para sahabat mempelajarinya, para huffaz menghafalnya, para mu'allim mengajarkannya, kemudian Al-Qur’an dibawa kepada masyarakat yang semakin luas. Dari sinilah terbentuk jaringan pendidikan Al-Qur’an yang menjadi salah satu fondasi penting bagi keberlangsungan transmisi wahyu pada generasi-generasi berikutnya.


0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (68) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (33) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (4) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (321) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (776) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (20) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (250) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)