Menyelamatkan Buku dari Reruntuhan Gaza
Perang tidak hanya meruntuhkan fondasi beton dan infrastruktur fisik, tetapi juga secara sistematis berupaya melenyapkan rekam jejak ilmu pengetahuan serta memori sejarah suatu bangsa. Di Gaza, ancaman terhadap identitas dan warisan literasi ini terjadi secara nyata dan masif.
Pada Maret 2026, Cultural Cooperation Programme melaporkan bahwa sebanyak 87 perpustakaan umum dan arsip di Gaza telah hancur total atau sebagian akibat pemboman. Kehilangan fasilitas ini merupakan pukulan telak bagi tempat penyimpanan aksara dan kebudayaan setempat.
Namun, ketika tempat penyimpanan pengetahuan runtuh menjadi debu, timbul sebuah pertanyaan reflektif: Bagaimana masyarakat bertahan dan menjaga ingatan mereka agar tidak terhapus?
Perjuangan Mohammed Saad Menyelamatkan Ribuan Koleksi Buku
Mohammed Saad telah mendedikasikan 35 tahun hidupnya untuk mengumpulkan dan merawat sekitar 100.000 buku dari Mesir dan Gaza.
Koleksi bernilai tinggi ini ia himpun dari pelbagai perpustakaan serta pembelian dari warga yang terpaksa menjual pustaka mereka.
Saat melangkah kembali ke perpustakaannya yang hancur di Beit Lahia, Gaza utara, Mohammed tidak memiliki alat berat. Berbekal sebuah palu kecil dan keteguhan jiwa selama berjam-jam, ia melubangi celah di antara reruntuhan beton untuk menarik buku-buku tersebut satu per satu.
Kini, di bawah perlindungan tenda sederhana di Deir al-Balah, Gaza selatan, lembaran sejarah itu kembali bernapas. Tanpa adanya rak, lemari, atau meja, puluhan buku yang selamat ditata langsung di atas lantai tenda hingga melimpah ke trotoar jalanan.
Mohammed tidak sekadar menyimpan buku-buku tersebut; ia menjualnya dengan harga simbolis kepada anak-anak dan remaja, atau membiarkan mereka membaca secara gratis demi memantik kembali semangat belajar.
Penyelamatan buku ini bukan sekadar menyelamatkan kertas, melainkan ikhtiar merebut kembali potongan kehidupan dan pengetahuan yang berusaha dihilangkan oleh perang.
"Saya tidak dapat menyediakan rak atau tempat yang layak saat ini, tetapi buku-buku ini telah mulai menemukan jalannya kembali kepada para pembaca."
Perpustakaan 'Phoenix' dan Dilema Menyelamatkan Warisan dari Nyala Api
Inisiatif Omar Hamad Membangun Kembali 'Phoenix Library'
Di antara jejak abu Beit Hanoun, Omar Hamad, seorang apoteker berusia 30 tahun, memulai langkahnya dengan menyelamatkan 120 buku dari rumahnya. Aksinya kemudian meluas ke reruntuhan Universitas Islam Gaza, melintasi puing-puing fasilitas kebudayaan yang hancur.
Di sana, Omar menemukan cetakan langka Gaza dari era sebelum tahun 1948 serta buku-buku bersejarah berusia lebih dari 200 tahun. Namun, sebuah pemandangan pilu menghentak kesadarannya: dalam krisis bahan bakar yang mencekik, beberapa warga terpaksa menggunakan buku-buku bersejarah tersebut sebagai kayu bakar untuk memasak.
Didorong kepedulian mendalam untuk menyelamatkan identitas kebudayaan tersebut, Omar mendirikan Perpustakaan Phoenix (Phoenix Library) yang resmi dibuka pada 21 April sebagai simbol kebangkitan pengetahuan dari abu kehancuran.
Di dinding perpustakaan tenda ini, terlukis mural sosok Refaat Alareer—sastrawan, penyair, profesor, dan aktivis Gaza—sebagai penghormatan atas nyala memori yang ia wariskan.
Saat ini, Perpustakaan Phoenix menampung sekitar 7.300 buku yang terhimpun dari penyelamatkan pribadi, sumbangan keluarga, dokter, dan peneliti, hingga pembelian buku berkilo-gram di lapak-lapak.
Omar juga mencetak ulang dan membeli sekitar 4.000 buku untuk memperkaya koleksinya, melingkupi sejarah Gaza dan Palestina, politik Palestina dan Zionis, sejarah bahasa Arab, sejarah Islam, novel Palestina, hingga terjemahan sastra dunia.
"Setiap kali saya menyelamatkan sebuah buku, saya merasa telah menyelamatkan seorang manusia."
Trotoar Jalanan dan Senjata Bernama Ilmu Pengetahuan
Kerja Kolektif Relawan Memulihkan Perpustakaan Kota Gaza
Perjuangan menyelamatkan ilmu pengetahuan di Gaza tidak hanya ditopang oleh aksi individu, melainkan juga lewat kerja gotong royong para relawan di perpustakaan kota. Raed al-Wahidi, Kepala Departemen Perpustakaan Kotamadya Gaza, merincikan besarnya tingkat kerugian yang dialami fasilitas umum tersebut:
Perpustakaan Umum (Public Library): Dari total 70.000 koleksi buku, sekitar 70% berhasil bertahan dan kini sedang disortir, dibersihkan, serta diperbaiki oleh para relawan.
Pusat Kebudayaan Rashad Shawa (Diana Tamari Sabbagh Library): Kehilangan seluruh koleksi bukunya yang berjumlah sekitar 50.000 buku akibat kehancuran total.
Perpustakaan Holst (Holst Cultural Centre Library): Mengalami kerusakan parsial dan kehilangan sekitar 10.000 koleksi pustaka.
Meski dihadapkan pada keterbatasan alat dan sumber daya, tim relawan dan staf bekerja tanpa lelah memilah, membersihkan, dan menjilid kembali buku-buku yang rusak agar dapat dimanfaatkan kembali. Setiap buku yang berhasil dipulihkan adalah bagian dari akumulasi pengetahuan bertahun-tahun yang diselamatkan.
Ikhtiar kolektif ini menegaskan bahwa penataan kembali lembar demi lembar karya tulis bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan perjuangan merawat identitas, sejarah, dan memori kolektif bangsa agar tidak lenyap ditelan kehancuran.
Walaupun gedung-gedung perpustakaan di Gaza telah runtuh menjadi puing, dorongan dan kecintaan masyarakatnya terhadap ilmu pengetahuan terbukti tidak dapat dihancurkan.
Setiap lembar buku yang berhasil ditarik dari balik reruntuhan—baik yang terhampar di atas lantai tenda maupun yang digelar di trotoar jalan—merupakan simbol ketahanan jiwa (resilience) dan tempat penyimpanan memori budaya yang abadi.
Kisah para penjaga buku ini memberikan refleksi mendalam bagi kita semua tentang arti penting sebuah pustaka. Di tengah kemudahan akses informasi yang kita nikmati hari ini, bagaimana kita menghargai akses terhadap ilmu pengetahuan dan buku di tengah dunia yang damai?
0 komentar: