basmalah Pictures, Images and Photos
Tenaga Kerja dan Organisasi dalam Islam - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Tenaga Kerja dan Organisasi dalam Islam  Buruh merupakan salah satu faktor produ...

Tenaga Kerja dan Organisasi dalam Islam


Tenaga Kerja dan Organisasi dalam Islam 

Buruh merupakan salah satu faktor produksi yang diakui dalam berbagai sistem ekonomi, terlepas dari kecenderungan ideologis yang mendasarinya. Dalam ilmu ekonomi, tenaga kerja dipandang sebagai salah satu sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa.

Namun, tenaga kerja tidak sama dengan faktor produksi lainnya. Ada kekhususan yang melekat pada buruh: tenaga kerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manusia itu sendiri. Karena itu, persoalan buruh tidak pernah semata-mata persoalan jumlah tenaga, produktivitas, permintaan, dan upah. Di balik tenaga kerja selalu ada manusia dengan martabat, kebutuhan, hak, kewajiban, serta tanggung jawab sosial.

Di sinilah ekonomi Islam memberikan kerangka yang berbeda.

Dalam ekonomi sekular modern, faktor-faktor produksi banyak dipahami sebagai bagian dari proses perubahan sejarah dan mekanisme ekonomi. Islam memandangnya dalam kerangka yang lebih luas, yaitu kerangka moral dan etika yang bersumber dari syariat. Karena itu, hubungan antara pemilik modal dan buruh, hak dan kewajiban pekerja, tanggung jawab majikan, serta tata cara memperoleh dan menggunakan tenaga kerja tidak dilepaskan dari nilai-nilai moral.

Dengan demikian, buruh sebagai faktor produksi dalam Islam tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan sosial dan moral.

Buruh Bukan Sekadar Komoditas

Dalam Islam, buruh bukan sekadar sejumlah tenaga atau jasa abstrak yang ditawarkan untuk dijual kepada pihak yang membutuhkan tenaga kerja. Di balik jasa tersebut terdapat manusia yang harus dihormati hak dan martabatnya.

Karena itu, orang yang mempekerjakan buruh tidak hanya memiliki hubungan ekonomi dengan pekerjanya. Ia juga memikul tanggung jawab moral dan sosial.

Demikian pula pekerja. Memang benar bahwa seorang pekerja memiliki tenaga yang dapat ia tawarkan dan ia berhak memperoleh imbalan yang layak atas pekerjaannya. Namun, kebebasan itu tidak bersifat mutlak. Ia tidak diperbolehkan menggunakan tenaga dan keahliannya untuk melakukan pekerjaan yang dilarang oleh syariat.

Hubungan kerja, dengan demikian, bukanlah hubungan antara dua pihak yang bebas melakukan apa saja demi kepentingannya masing-masing. Pekerja tidak boleh memeras majikan, sebagaimana majikan tidak boleh memeras pekerja.

Tanggung jawab seorang buruh juga tidak serta-merta berakhir ketika ia meninggalkan tempat kerja. Ia tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kepentingan yang sah, baik kepentingan majikan maupun kepentingan pekerja lain yang berada dalam posisi kurang beruntung.

Di sinilah terlihat bahwa Islam memandang tenaga kerja bukan hanya dari sisi ekonominya, tetapi juga dari sisi kemanusiaannya.

Ukuran moral dan sosial semacam ini tidak selalu tampak dalam pembahasan faktor produksi dalam ilmu ekonomi sekular. Robert L. Heilbroner dan Lester C. Thurow, dalam The Economic Problem, menggambarkan perubahan historis yang menjadikan buruh semakin dipandang sebagai suatu kuantitas abstrak dari usaha yang ditawarkan kepada para pencari tenaga kerja.

Perubahan tersebut, menurut mereka, telah memisahkan buruh dari kehidupan sosialnya. Tenaga manusia kemudian diperlakukan sebagai salah satu faktor produksi yang dapat diperjualbelikan dalam mekanisme ekonomi.

Pandangan tersebut membantu kita memahami perbedaan mendasar antara pendekatan ekonomi yang memandang buruh terutama sebagai faktor produksi dan pendekatan Islam yang tetap melihat manusia di balik faktor produksi tersebut.

Karena itu, tenaga kerja dalam Islam dapat dikatakan digunakan dalam pengertian yang lebih luas sekaligus lebih terbatas.

Lebih luas, karena penggunaan jasa tenaga kerja tidak hanya dilihat dari pertimbangan finansial, tetapi juga dari dimensi moral dan sosial.

Namun, sekaligus lebih terbatas, karena seorang pekerja tidak mempunyai kebebasan mutlak untuk menggunakan tenaga dan keahliannya sesuka hati. Kebebasan ekonomi tetap berada dalam batas-batas yang ditetapkan syariat.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang tenaga kerja dalam Islam bukan hanya, “Berapa harga tenaga seseorang?” tetapi juga, “Untuk apa tenaga itu digunakan, bagaimana hubungan antara pekerja dan majikan dibangun, dan nilai apa yang lahir dari hubungan kerja tersebut?”

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat tenaga kerja dalam ekonomi Islam tidak dapat dipisahkan dari persoalan akhlak.

---

Organisasi

Jika tenaga kerja berbicara tentang manusia yang menjalankan proses produksi, maka organisasi berbicara tentang bagaimana berbagai unsur produksi tersebut disatukan dan diarahkan menuju tujuan tertentu.

Dalam analisis ekonomi sekular konvensional, laba umumnya dihubungkan dengan pendapatan pengusaha. Laba dipandang sebagai imbalan bagi pihak yang mengelola dan mengorganisasikan berbagai sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya produksi lainnya.

Namun, ketika organisasi ditempatkan dalam kerangka ekonomi Islam, muncul pertanyaan yang lebih mendasar:

Apakah organisasi hanya dibentuk untuk menghasilkan keuntungan, ataukah ia juga mempunyai tanggung jawab sosial dan moral?

Pertanyaan ini penting karena organisasi bukanlah benda mati. Di dalamnya terdapat manusia, kepentingan, hubungan kerja, modal, keahlian, keputusan, dan berbagai tujuan yang harus diselaraskan.

Pada pandangan pertama, mungkin tidak terlihat adanya ciri yang secara khusus membedakan organisasi Islam dari organisasi dalam sistem ekonomi lainnya. Akan tetapi, ketika prinsip-prinsip ekonomi Islam diterapkan dalam praktik, terdapat sejumlah karakter yang membentuk corak organisasi tersebut.

1. Organisasi Berbasis Kemitraan

Pertama, ekonomi Islam pada dasarnya lebih menekankan hubungan berbasis kemitraan dan pembagian hasil daripada hubungan yang semata-mata bertumpu pada pinjaman berbunga.

Dalam kerangka demikian, pengelola perusahaan tidak hanya bekerja dengan orientasi memperoleh imbalan tetap, tetapi dapat terlibat dalam usaha yang keuntungan dan risikonya dibagi bersama para pemilik modal atau mitra usaha.

Semangat ini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk kerja sama, seperti mudharabah dan musyarakah.

Hubungan semacam itu mendorong munculnya kekuatan-kekuatan kooperatif. Modal tidak berdiri sendiri, sementara pengelola juga bukan sekadar pihak yang menjual keahliannya. Keduanya dipertemukan dalam suatu kerja sama yang menghubungkan modal, tenaga, keahlian, risiko, dan hasil.

Di sini organisasi tidak sekadar menjadi tempat bertemunya faktor-faktor produksi. Ia menjadi ruang tempat berbagai pihak berbagi tanggung jawab terhadap usaha yang dijalankan.

2. Makna Keuntungan yang Lebih Luas

Kedua, karena bunga atas modal tidak dibenarkan dalam ekonomi Islam, konsep keuntungan memperoleh makna yang lebih luas.

Modal uang tidak dapat dipisahkan begitu saja dari manusia yang mengelolanya. Modal manusia berupa pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan kemampuan manajerial harus dipadukan dengan modal finansial.

Dengan demikian, pemilik modal, pengelola, dan pengusaha menjadi bagian yang saling berkaitan dalam organisasi. Keuntungan bukan semata-mata hasil dari modal uang, tetapi merupakan hasil dari proses kerja bersama.

Hal ini tidak berarti bahwa organisasi Islam tidak berusaha memperoleh laba. Mencari keuntungan tetap merupakan bagian penting dari kegiatan ekonomi.

Yang membedakannya adalah bahwa keuntungan bukan satu-satunya tujuan yang menentukan seluruh perilaku organisasi.

Dalam kerangka Islam, organisasi berhadapan dengan banyak tujuan yang harus diselaraskan dengan batas-batas moral. Keuntungan tetap dicari, tetapi pencarian keuntungan tidak boleh menghapus tanggung jawab terhadap manusia, masyarakat, dan ketentuan syariat.

Dengan demikian, perbedaan antara organisasi Islam dan organisasi dalam ekonomi sekular tidak hanya terletak pada tujuan yang dinyatakan secara konseptual, tetapi juga pada cara tujuan tersebut diterjemahkan ke dalam keputusan-keputusan operasional.

3. Integritas Moral dalam Organisasi

Ketiga, karena organisasi merupakan suatu kesatuan yang menggabungkan modal, manusia, dan kepentingan yang berbeda, integritas moral menjadi sangat penting.

Kejujuran, ketepatan, dan kesungguhan dalam pencatatan serta pelaporan keuangan bukan sekadar persoalan teknis akuntansi. Dalam perspektif Islam, semuanya merupakan bagian dari amanah.

Islam menekankan kejujuran dan ketepatan dalam perdagangan. Prinsip ini juga memiliki konsekuensi ekonomi. Semakin tinggi kepercayaan antara pihak-pihak yang terlibat, semakin kecil kebutuhan untuk melakukan pengawasan yang berlebihan.

Sebaliknya, ketika kejujuran hilang, biaya pengawasan meningkat. Setiap transaksi harus diperiksa, setiap laporan harus dicurigai, dan setiap hubungan ekonomi membutuhkan pengamanan tambahan.

Dengan demikian, akhlak bukan sesuatu yang berada di luar sistem ekonomi. Akhlak justru dapat menjadi bagian penting dari efisiensi organisasi.

Kejujuran bukan hanya membuat seseorang menjadi baik secara moral. Dalam hubungan ekonomi, kejujuran juga menciptakan kepercayaan yang memungkinkan kerja sama berlangsung dengan lebih baik.

4. Manusia sebagai Pusat Organisasi

Terakhir, faktor manusia dalam produksi dan strategi usaha memperoleh kedudukan yang sangat penting.

Organisasi tidak hanya terdiri atas modal, mesin, gedung, teknologi, dan prosedur. Semua itu pada akhirnya dijalankan oleh manusia.

Karena itu, strategi organisasi dalam Islam tidak cukup hanya diarahkan pada maksimalisasi keuntungan atau penjualan. Ia juga harus memperhatikan manusia yang berada di dalam dan di sekitar organisasi tersebut.

Di sinilah nilai itsar—mendahulukan kepentingan orang lain dalam batas-batas yang dibenarkan—dapat memengaruhi perilaku produsen dan pengelola.

Penerapannya tentu tidak selalu berbentuk tindakan yang sama dalam setiap organisasi. Dalam praktiknya, organisasi tetap harus memperhitungkan efisiensi, keuntungan, risiko, dan keberlangsungan usaha. Namun, seluruh pertimbangan tersebut ditempatkan dalam kerangka moral yang lebih luas.

Pada akhirnya, organisasi dalam ekonomi Islam bukan sekadar mesin untuk menghasilkan laba. Ia merupakan wadah kerja sama manusia dalam mengelola amanah sumber daya.

Di dalamnya terdapat modal, tenaga, keahlian, kepemimpinan, keuntungan, dan risiko. Tetapi di atas semua itu terdapat satu pertanyaan yang lebih mendasar:

Untuk apa semua sumber daya tersebut dikelola?

Jika jawabannya hanya keuntungan, maka organisasi mudah menjadikan manusia sebagai alat.

Tetapi jika keuntungan ditempatkan sebagai bagian dari amanah yang lebih luas, maka organisasi dapat menjadi sarana untuk mempertemukan kepentingan ekonomi dengan tanggung jawab moral dan sosial.

Dengan demikian, tenaga kerja dan organisasi dalam ekonomi Islam pada akhirnya bertemu pada satu titik: kegiatan ekonomi tidak pernah terlepas dari manusia, dan manusia tidak pernah terlepas dari pertanggungjawaban moralnya.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (70) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (38) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (4) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (321) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (779) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (20) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (252) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)