Mengapa Dunia Memilih Bungkam atas Pembantaian 20.000 Nyawa Muslim dan Yahudi di Tripolitsa?
Semenanjung Peloponnese hari ini adalah lukisan hidup dari sebuah firdaus Mediterania. Tebing-tebing curam yang memeluk laut biru kristal, barisan pohon zaitun yang berbisik ditiup angin, dan sisa-sisa reruntuhan kuno menjadi magnet bagi jutaan pelancong.
Namun, di balik estetika kartu pos ini, tersimpan sebuah bab sejarah yang seolah dipaksa menghilang dalam kabut waktu—sebuah simfoni kekerasan yang terorkestrasi, yang jejaknya coba dihapuskan dari memori kolektif dunia.
Tepat pada tahun 1821, keindahan ini luluh lantak oleh peristiwa yang kini kita kenal sebagai "Pembantaian Tripoli". Ini bukan sekadar catatan kaki dari perang kemerdekaan; ia adalah luka terbuka yang mempertanyakan moralitas narasi sejarah populer.
Saat dunia Barat mulai memuja kebangkitan kembali semangat Helenistik, ada puluhan ribu nyawa yang dikubur dalam keheningan yang mencekam di pusat Peloponnese.
Angka yang Mengejutkan di Balik Kebungkaman Dunia
Sejarah sering kali menjadi hak istimewa bagi mereka yang menang, dan dalam proses penyusunannya, angka-angka sering kali dikerdilkan demi menjaga kemurnian sebuah epik kemerdekaan.
Namun, fakta di lapangan berbicara melalui nisan-nisan yang hilang. Pada 23 September 1821, sebuah tragedi mencapai puncaknya di Tripoli (Tripolitsa), ibu kota administratif wilayah tersebut.
Untuk memahami skala kehancurannya, kita harus melihat konteks yang lebih luas: dari sekitar 90.000 warga Turki yang mendiami Peloponnese pada April 1821, sebagian besar dibunuh secara sistematis dan hanya sebagian kecil yang berhasil menyelamatkan diri.
Tripoli menjadi pusat dari kampanye pembersihan ini, di mana lebih dari 20.000 pria, wanita, dan anak-anak tewas dalam hitungan minggu.
Dunia internasional saat itu seolah buta dan tuli. Luputnya peristiwa sebesar ini dari diskursus sejarah populer menunjukkan betapa efektifnya "amnesia kolektif" bekerja ketika sebuah tragedi tidak sejalan dengan narasi kepahlawanan yang ingin diagungkan.
Pengepungan, Penyakit, dan Kekejaman Tanpa Batas
Sebelum kota itu benar-benar jatuh dan berubah menjadi ladang pembantaian, penduduk Tripoli yang Muslim telah lebih dulu disiksa oleh penderitaan yang memilukan.
Selama pengepungan oleh pemberontak Yunani, kota itu dilanda kelaparan hebat, kehausan, dan wabah penyakit. Ratusan orang meninggal setiap hari di dalam rumah mereka sendiri, meninggalkan mayat-mayat yang membusuk di jalanan karena tak ada lagi yang mampu menguburkannya.
Ketika tembok kota akhirnya ditembus, kekerasan yang meledak tidak mengenal batas etnis maupun usia. Targetnya bukan hanya militer Ottoman, tetapi setiap jiwa yang dianggap "asing".
Komunitas Muslim dan Yahudi yang telah berabad-abad hidup berdampingan secara damai di sana turut disapu bersih dalam gelombang kebencian yang sistematis.
Sejarawan Inggris William Lane St Clair, dalam bukunya yang otoritatif, Greece May Remain Free, mengabadikan kengerian ini:
"Seluruh Kota Tripoli tiba-tiba dihancurkan tanpa sepengetahuan dunia. Lebih dari 20 ribu pria, wanita, dan anak-anak Turki dibunuh massa Yunani. Berlangsung selama beberapa pekan, mereka dibunuh dengan sengaja dan tanpa penyesalan."
Penghapusan Jejak Budaya: Mencabut Akar Kepemilikan
Pembantaian di Tripolitsa bukan hanya upaya melenyapkan raga, melainkan sebuah strategi "pembersihan etnis" (ethnic cleansing) yang bertujuan menghapus eksistensi sebuah peradaban secara permanen.
Berdasarkan catatan sejarah yang divalidasi oleh Kementerian Luar Negeri Turki, penghancuran fisik dilakukan dengan presisi yang mengerikan. Masjid-masjid diruntuhkan, madrasah-madrasah dibakar, dan simbol-simbol budaya Ottoman disapu bersih dari tanah Peloponnese.
Bahkan, kekerasan ini merambah hingga ke alam metafisika. Makam-makam Muslim dibongkar secara paksa; sisa-sisa jenazah dikeluarkan hanya untuk dibakar di tempat terbuka. Tindakan ini bukan sekadar vandalisme, melainkan upaya brutal untuk menghapus "klaim kepemilikan tanah" dari para leluhur.
Dengan menghancurkan makam, para pemberontak seolah ingin memastikan bahwa komunitas tersebut tidak pernah memiliki sejarah, identitas, atau hak untuk diingat di wilayah itu.
Strategi Para Pedagang: Peran Organisasi Rahasia "Feliki Itera"
Di balik kekacauan yang tampak spontan di jalanan Tripoli, terdapat tangan-tangan dingin yang mengatur strategi dari kejauhan. Pada tahun 1814, di Kota Odessa, Ukraina, sekelompok pedagang Yunani mendirikan sebuah organisasi rahasia bernama "Feliki Itera" (Masyarakat yang Ramah).
Mereka bukan tentara, melainkan arsitek sosiopolitik yang memanfaatkan jaringan perdagangan untuk mendanai dan memicu pemberontakan besar di Balkan.
Momen krusial bagi Feliki Itera datang pada 1821, memanfaatkan kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan setelah jatuhnya Ali Pasha, Gubernur Ioannina yang pemberontak. Dengan visi kemerdekaan yang kaku, organisasi ini menggerakkan massa dengan ideologi yang tidak memberi ruang bagi koeksistensi.
Mereka mengejar kedaulatan politik dengan metode yang sangat brutal, mengubah kekosongan kekuasaan di Balkan menjadi palagan darah yang tak terelakkan.
Kontradiksi Sang Pahlawan: Memoar Theodoros Kolokotronis
Salah satu kesaksian paling menghantui justru datang dari arsitek utama serangan tersebut, Theodoros Kolokotronis. Sebagai pemimpin pemberontak yang kini dipuja sebagai pahlawan nasional Yunani, catatannya memberikan gambaran visual tentang kota yang berubah menjadi neraka.
Dalam memoarnya, ia menuliskan sebuah kalimat yang akan terus membekas dalam sejarah militer:
"Kuku kuda saya tidak menyentuh tanah saat saya berkuda menuju gedung pemerintahan karena jalanan dipenuhi mayat."
Kontradiksi ini adalah inti dari tragedi Tripolitsa. Sosok yang mengakui tumpukan mayat di bawah kuku kudanya kini berdiri tegak dalam bentuk patung-patung perunggu di seluruh pelosok Yunani.
Ini adalah contoh nyata bagaimana narasi nasional sering kali membutuhkan "penyaringan" terhadap fakta-fakta yang tidak nyaman demi membangun identitas bangsa, mengubur sisi gelap sang pahlawan di bawah kejayaan kemerdekaan.
Sejarah yang kelam bukanlah beban untuk terus dipikul sebagai dendam, melainkan cermin untuk kejujuran nurani. Pihak Turki, melalui seruan diplomatiknya, mengajak dunia dan khususnya Yunani untuk menghadapi fakta sejarah Tripolitsa secara terbuka.
Pengakuan atas pembersihan etnis ini adalah langkah krusial dalam membangun hubungan bilateral yang sehat—sebuah perdamaian yang tidak dibangun di atas penyangkalan, melainkan di atas kebenaran yang diakui bersama.
Tragedi Tripolitsa mengingatkan kita bahwa kemerdekaan sering kali dibeli dengan harga kemanusiaan yang teramat mahal.
Jika kita terus membiarkan tragedi-tragedi besar ini "terhapus" dari buku teks hanya karena mereka merusak narasi kemenangan, bukankah kita sedang mempersiapkan panggung bagi sejarah yang sama untuk berulang kembali?
Bagaimanakah seharusnya dunia memperlakukan luka-luka masa lalu yang tersembunyi ini agar keadilan bagi para korban tidak selamanya terkubur di bawah bayang-bayang monumen kemenangan?
0 komentar: