Sejarah Perpecahan pada Tubuh Muslimin
Sekalipun risalah Nabi Muhammad saw. merupakan risalah terakhir—risalah Islam yang semestinya, apabila diamalkan dan dipegang dengan sungguh-sungguh, melahirkan persatuan dan kesatuan—sejarah umat menunjukkan kenyataan yang tidak sederhana. Setelah Rasulullah saw. wafat, perpecahan dan perselisihan mulai muncul di tengah umat.
Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq ra., persoalan itu dihadapi dengan keteguhan. Beliau memerangi orang-orang murtad dan mereka yang menyimpang hingga persatuan umat kembali terjaga. Setelah itu, Abu Bakar menyerahkan urusan pemerintahan kepada Umar bin Khattab ra.
Umar kemudian menjadi seperti bendungan besar yang menahan derasnya fitnah agar tidak segera menerjang umat. Hal ini tergambar dalam percakapan Hudzaifah bin al-Yaman ra. dengan Umar. Hudzaifah berkata,
"...Sesungguhnya antara engkau dengan fitnah-fitnah itu terdapat sebuah pintu yang tertutup."
Umar bertanya, "Apakah pintu itu didobrak atau dibuka?"
Hudzaifah menjawab, "Tidak, tetapi didobrak."
Umar berkata, "Kalau demikian, pintu itu tidak akan ditutup selama-lamanya."
Aku menjawab, "Tentu saja."
Kemudian kami bertanya kepada Hudzaifah, "Apakah Umar mengetahui pintu itu?"
Dia menjawab, "Ya. Sebagaimana dia mengetahui bahwa setelah esok akan datang malam hari. Hal itu karena aku menceritakan kepadanya suatu perkataan yang tidak keliru."
Kami pun ingin bertanya kepadanya mengenai pintu tersebut. Lalu kami menyuruh Masruq untuk bertanya. Ia bertanya, "Siapakah pintu itu?"
Hudzaifah menjawab, "Umar."
Perumpamaan itu menyimpan pelajaran yang dalam. Selama "pintu" itu masih berdiri, fitnah dapat dibendung. Namun ketika pintu tersebut didobrak, keadaan tidak lagi sama. Umar akhirnya wafat dalam keadaan syahid.
Setelah itu, enam orang yang ditunjuk Umar untuk bermusyawarah memilih Utsman bin Affan ra. sebagai khalifah. Pada masa akhir pemerintahan Utsman, mulai muncul berbagai fitnah, termasuk kemunculan Khawarij, hingga akhirnya beliau terbunuh dalam keadaan syahid.
Pada masa Ali bin Abi Thalib ra., pertumpahan darah semakin meluas. Terjadilah berbagai perselisihan dan pembunuhan sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah saw. Sejak saat itu, perselisihan di tengah umat terus mengalami pasang surut: terkadang mereda, kemudian kembali membesar.
Nabi Muhammad saw. telah bersabda:
"Jika pedang sudah diletakkan pada umatku, maka ia tidak akan diangkat darinya sampai hari kiamat."
Beliau juga bersabda:
"Sesungguhnya seseorang di antara kalian yang hidup setelahku pasti akan melihat banyak perselisihan."
Sejarah kemudian memperlihatkan bahwa perpecahan politik tidak berhenti pada perebutan kekuasaan. Dalam perjalanan waktu, perselisihan itu berkembang dan melahirkan perpecahan dalam persoalan akidah serta munculnya berbagai kelompok dan sekte.
Di antara kelompok yang paling awal muncul adalah Khawarij. Asal kemunculan mereka dikaitkan dengan Dzul Khuwaishirah at-Tamimi yang telah muncul pada masa Nabi Muhammad saw. Berbagai hadis tentang mereka diriwayatkan dalam sejumlah jalur.55
Setelah itu muncul berbagai bentuk bid'ah pemikiran, seperti irja', rafdh, qadar, tajahhum, hulul, dan lainnya. Perkembangannya berlangsung secara bertahap, bahkan sebagian di antaranya baru tampak setelah berakhirnya masa para sahabat.
Bid'ah qadar, misalnya, muncul pada penghujung masa sahabat. Para sahabat yang masih hidup, seperti Abdullah bin Umar dan Ibnu Abbas, mengingkarinya. Dengan demikian, kemunculannya masih sempat dihadapi dan dikritik oleh generasi sahabat.
Setelah masa sahabat berakhir, muncul pula bid'ah irja'. Para pembesar tabi'in yang menjumpai pemikiran tersebut mulai membicarakan dan mengingkarinya. Kemudian muncul tajahhum setelah berakhirnya masa tabi'in. Persoalan ini semakin berkembang dan menjadi ujian besar pada masa para imam, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama pada zamannya.
Setelah itu muncul pula gagasan hulul yang antara lain dikaitkan dengan al-Husain al-Hallaj.
Rangkaian sejarah tersebut menunjukkan satu pola penting: ketika sebuah penyimpangan muncul, Allah senantiasa menegakkan orang-orang yang membantah dan menjelaskannya. Mereka memperingatkan kaum muslimin sebagai bentuk nasihat kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan kaum muslimin.
Dengan demikian, perjalanan sejarah juga menjadi salah satu cara untuk mengenali perbedaan antara orang-orang yang berpegang kepada Sunnah Rasulullah saw. dengan mereka yang mengikuti berbagai bid'ah.
Hadis-Hadis tentang Perpecahan
Banyak hadis sahih dari Nabi Muhammad saw. yang telah dihimpun dalam kitab-kitab para imam yang memberikan perhatian terhadap penjelasan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah, petunjuk, dan ilmu yang mereka pegang.
Di sini cukup disebutkan beberapa hadis yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
Pertama, hadis tentang perpecahan umat.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
"Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahli Kitab telah terpecah dalam agama mereka menjadi tujuh puluh dua sekte. Sesungguhnya umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga sekte: tujuh puluh dua dalam neraka dan satu di surga, dan itulah jamaah."
Dalam sebagian riwayat disebutkan, "Semuanya dalam neraka kecuali satu." Para sahabat bertanya, "Siapakah yang satu itu, wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Yang berpegang kepada apa yang aku dan para sahabatku pegang."
Dalam riwayat lainnya disebutkan, "Itulah jamaah."
Hadis tersebut menunjukkan bahwa perpecahan dalam agama berkaitan dengan munculnya hawa nafsu dan bid'ah yang menjauhkan seseorang dari jamaah. Orang yang mengikuti hawa nafsu dapat meninggalkan prinsip-prinsip yang menjadi pegangan bersama, kemudian mengikuti ayat-ayat mutasyabihat sesuai dengan keinginannya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya."
(QS Ali 'Imran: 7)
Ayat ini mengingatkan bahwa persoalan perpecahan bukan semata-mata persoalan perbedaan pengetahuan. Ada persoalan yang lebih dalam, yaitu kondisi hati. Ketika hati telah condong kepada penyimpangan, ayat yang seharusnya menjadi petunjuk justru dapat dipilih secara selektif untuk membenarkan keinginan.
Karena itu, persoalan manhaj bukan sekadar persoalan "pendapat siapa yang kita ikuti". Ia berkaitan dengan sumber apa yang kita jadikan pegangan, bagaimana kita memahami wahyu, dan apakah kita tunduk kepada kebenaran atau justru menjadikan kebenaran mengikuti hawa nafsu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Karena itulah golongan yang selamat digambarkan bahwa ia merupakan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka adalah mayoritas dan kebanyakan. Sedangkan kelompok-kelompok lainnya merupakan orang-orang yang menyimpang, memecah, berbuat bid'ah, dan mengikuti hawa nafsu. Semboyan kelompok ini ialah meninggalkan Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijma'. Barangsiapa berpegang kepada Al-Kitab, As-Sunnah, dan ijma', maka ia termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah."
Kedua, hadis tentang perselisihan yang tidak dapat dihindari.
Dari Sa'ad bin Abi Waqqash ra., bahwa ia bersama Rasulullah saw. dan sekelompok sahabat datang dari al-'Aliyah. Ketika melewati Masjid Bani Mu'awiyah, Rasulullah masuk dan melaksanakan shalat dua rakaat. Para sahabat pun shalat bersama beliau. Kemudian beliau berdoa panjang kepada Tuhannya.
Setelah itu beliau menghadap kepada para sahabat dan bersabda:
"Aku memohon kepada Tuhanku tiga hal, lalu Dia memberiku dua hal dan melarangku satu hal. Aku memohon kepada Tuhanku agar tidak membinasakan umatku dengan paceklik, lalu Dia memberikannya kepadaku. Aku memohon kepada-Nya agar tidak membinasakan umatku dengan tenggelam, lalu Dia memberikannya kepadaku. Dan aku memohon kepada-Nya agar tidak menjadikan peperangan di antara mereka, tetapi Dia melarangku dari permohonan tersebut."
Ketiga, hadis tentang fitnah yang muncul dari dalam umat sendiri.
Nabi Muhammad saw. bersabda:
"Sesungguhnya Allah melipat bumi untukku sehingga aku melihat timur dan baratnya. Sesungguhnya kerajaan umatku akan mencapai apa yang telah dilipat untukku darinya. Aku diberi dua harta simpanan, yaitu merah dan putih. Aku memohon kepada Tuhanku agar tidak membinasakan umatku dengan paceklik yang menyeluruh dan agar tidak menguasakan musuh dari selain mereka sendiri untuk menguasai dan mencerai-beraikan persatuan mereka..."
Dalam hadis tersebut kemudian disebutkan bahwa Allah tidak menguasakan musuh dari luar untuk membinasakan umat secara keseluruhan, tetapi sebagian mereka akan membinasakan sebagian yang lain dan sebagian mereka akan menawan sebagian yang lain.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa makna tersebut diriwayatkan dari Nabi Muhammad saw. melalui banyak jalur. Semua itu menunjukkan bahwa perpecahan dan perselisihan akan terjadi di tengah umat. Karena itu, Nabi memperingatkan umatnya agar mencari jalan keselamatan.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Ancaman terbesar bagi sebuah umat tidak selalu datang dari luar. Ada kalanya kekuatan dari luar tidak mampu menghancurkan sebuah bangunan selama bagian-bagian di dalamnya tetap kokoh dan saling menopang. Sebaliknya, ketika retakan mulai tumbuh dari dalam, bangunan itu dapat melemah tanpa harus terlebih dahulu diserang dari luar.
Keempat, hadis tentang tetap adanya kelompok yang menegakkan kebenaran.
Diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda:
"Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang menegakkan perintah Allah. Mereka tidak akan dibahayakan oleh orang yang menghinakan atau menentang mereka hingga datang keputusan Allah, sedangkan mereka tetap berada dalam keadaan menang atas manusia."
Hadis ini memberikan sisi lain dari gambaran perpecahan. Sejarah umat memang akan mengenal perselisihan, tetapi perselisihan itu bukan berarti kebenaran akan kehilangan pembelanya.
Di tengah berbagai fitnah, akan selalu ada orang-orang yang berusaha menegakkan perintah Allah, berpegang kepada Sunnah Rasulullah saw., dan menjaga apa yang diwariskan oleh generasi pertama umat ini.
Dengan demikian, hadis-hadis tentang fitnah bukan sekadar pemberitahuan tentang masa depan. Ia juga merupakan peringatan agar umat tidak merasa aman dari penyakit perpecahan.
Perpecahan politik dapat berkembang menjadi perpecahan pemikiran. Perpecahan pemikiran dapat berkembang menjadi perpecahan akidah. Dan ketika perbedaan tidak lagi dikendalikan oleh wahyu, ilmu, dan adab, perselisihan dapat berubah menjadi permusuhan.
Namun di tengah semua itu, masih ada jalan yang harus dijaga: kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, memahami keduanya dengan warisan ilmu generasi awal, menjaga jamaah, dan senantiasa memeriksa hati agar tidak menjadikan hawa nafsu sebagai hakim atas kebenaran.
Sejarah umat dengan demikian bukan hanya catatan tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang kalah. Ia adalah cermin.
Di dalamnya kita dapat melihat bagaimana sebuah persatuan dibangun, bagaimana sebuah "pintu" penjaga fitnah dapat runtuh, bagaimana perselisihan berkembang menjadi pertumpahan darah, dan bagaimana penyimpangan pemikiran dapat tumbuh dari waktu ke waktu.
Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa setiap kali fitnah muncul, Allah menegakkan orang-orang yang berusaha menjelaskan kebenaran dan mengingatkan umat.
Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukan hanya, "Mengapa umat dahulu terpecah?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang harus kita lakukan agar perpecahan yang telah diperingatkan itu tidak kembali menguasai hati dan kehidupan kita?
Di situlah manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak cukup dipahami sebagai sebuah nama. Ia harus menjadi jalan untuk kembali kepada wahyu, menjaga persatuan di atas kebenaran, dan menghadapi fitnah dengan ilmu, kesabaran, serta ketundukan kepada Allah.
0 komentar: