Para Sahabat Berselisih, tetapi Tidak Berpecah
Para sahabat juga berselisih.
Namun, mereka adalah sebaik-baik orang yang berselisih dan sebaik-baik orang yang menjaga adab dalam perselisihan. Bagaimana mungkin tidak demikian, sementara Allah Ta'ala telah memuji mereka dalam Kitab-Nya, meridhai mereka, mengabadikan keteladanan mereka, meninggikan kedudukan mereka, dan memuliakan mereka dengan kemuliaan yang besar?
Perselisihan mereka tidak menghapus persaudaraan. Perbedaan pendapat tidak membuat mereka kehilangan keadilan. Ijtihad yang berbeda tidak menjadikan mereka saling merendahkan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara perselisihan dalam mencari kebenaran dan perselisihan yang lahir dari hawa nafsu.
Asy-Syafi'i berkata:
"Mereka di atas kita dalam segala ilmu, ijtihad, sifat wara', dan akal, serta dalam berbagai perkara yang dapat diketahui dengan ilmu dan disimpulkan dengannya. Pendapat-pendapat mereka bagi kita sangat terpuji dan lebih utama daripada berbagai pendapat kita untuk diri kita sendiri."
Beliau juga berkata:
"Sungguh, Allah Ta'ala telah memuji para sahabat Rasulullah dan meridhai mereka dalam Al-Qur'an, Taurat, dan Injil. Mereka juga lebih dahulu mendapatkan keutamaan melalui lisan Rasulullah yang tidak diperoleh oleh seorang pun setelahnya. Semoga Allah merahmati mereka dan memberkahi apa yang telah dianugerahkan kepada mereka sehingga mereka mencapai derajat orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh."
Ibnul Qayyim bahkan menuturkan dalam Al-I'lam empat puluh enam dalil tentang kewajiban mengikuti para sahabat. Hal itu, selain menunjukkan keutamaan mereka, juga memperlihatkan kedudukan mereka sebagai generasi yang berhasil memahami dan menerapkan agama dengan sangat dekat kepada sumbernya.
Ketika Berselisih, Mereka Kembali kepada Wahyu
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan generasi setelah mereka, apabila berselisih dalam suatu perkara, mengikuti perintah Allah:
"Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya."
(QS An-Nisa': 59)
Ayat ini bukan sekadar teori bagi mereka. Ia menjadi metode dalam menghadapi perbedaan.
Mereka biasa berdiskusi dalam suatu persoalan dengan semangat musyawarah dan saling menasihati. Pendapat mereka mungkin berbeda dalam persoalan ilmiah maupun praktik, tetapi perbedaan itu tidak menghilangkan keramahan, penjagaan hak, dan persaudaraan agama.
Inilah salah satu pelajaran terpenting dari generasi awal Islam.
Mereka tidak menganggap perbedaan sebagai alasan untuk berhenti menjadi saudara.
Mereka berbeda pendapat, tetapi tetap saling menghormati. Mereka mempertahankan pendapat, tetapi tidak kehilangan keadilan. Mereka berusaha meyakinkan pihak lain, tetapi tidak menjadikan kemenangan pendapat sebagai kemenangan diri.
Perselisihan Ilmiah dan Perselisihan Amaliah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perselisihan di kalangan para ulama dapat berkaitan dengan persoalan ilmiah, seperti akidah dan ushul, maupun persoalan amaliah, seperti fikih dan politik.
Namun, perselisihan dalam persoalan hukum dan praktik justru lebih banyak terjadi di antara para sahabat.
Beliau berkata:
"Adapun perselisihan dalam berbagai hukum, itu lebih banyak daripada yang dapat diteliti. Seandainya setiap kali dua orang muslim berselisih dalam suatu perkara lalu keduanya saling tidak berbicara, pasti tidak akan ada di antara kaum muslimin keterjagaan dan persaudaraan. Abu Bakar dan Umar, dua pemimpin kaum muslimin, biasa berselisih dalam berbagai perkara yang tidak mereka maksudkan kecuali kebaikan."
Kalimat ini sangat penting untuk direnungkan.
Jika setiap perbedaan pendapat dianggap sebagai alasan untuk memutus hubungan, maka persaudaraan umat akan menjadi sangat rapuh.
Sebab, selama manusia memiliki kemampuan berpikir, pengalaman, tingkat pengetahuan, dan cara memahami dalil yang berbeda, perbedaan dalam sebagian persoalan tidak mungkin dihapus seluruhnya.
Yang harus dijaga bukanlah agar semua manusia selalu berpikir sama.
Yang harus dijaga adalah agar perbedaan tidak menghancurkan persaudaraan.
Mereka Berbeda Pendapat, tetapi Bersatu Hati
Generasi terdahulu berselisih dalam rangka mencari kebenaran dan merealisasikan tujuan-tujuan syariat melalui pemahaman terhadap Al-Qur'an dan Sunnah.
Perselisihan semacam itu tidak menjadi ancaman bagi umat.
Mereka dapat berbeda pendapat, tetapi tetap bersatu dalam prinsip. Kalimat mereka tetap satu dan hati mereka tetap terikat dalam persaudaraan.
Mereka tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membentuk permusuhan.
Para sahabat memiliki akhlak yang luhur dan keikhlasan yang kuat. Mereka tidak menjadikan dunia sebagai tujuan perselisihan. Yang mereka cari adalah kebenaran dan kebaikan.
Namun, ada pula pihak-pihak yang berusaha menyulut pertikaian dan memperluasnya.
Asy-Syathibi menukil dari sejumlah ulama bahwa para sahabat setelah wafatnya Rasulullah saw. memang berselisih dalam berbagai hukum agama. Akan tetapi, mereka tidak bercerai-berai dan tidak berubah menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.
Mengapa?
Karena mereka tidak meninggalkan agama.
Mereka hanya berbeda dalam perkara yang memang memungkinkan ijtihad, yaitu ketika tidak menemukan nash yang secara langsung menjelaskan persoalan tersebut. Mereka berusaha memahami Al-Qur'an dan Sunnah, kemudian melakukan ijtihad berdasarkan kemampuan mereka.
Karena itu, perbedaan mereka justru merupakan bagian dari kesungguhan mencari kebenaran.
Mereka tetap saling mencintai dan saling menasihati. Persaudaraan Islam tetap tegak di antara mereka.
Keadaan berubah ketika hawa nafsu mulai masuk.
Ketika dorongan hawa nafsu menguasai perselisihan, muncullah permusuhan. Orang-orang yang mengikuti hawa nafsu kemudian terpecah menjadi berbagai kelompok.
Ini memberikan pelajaran penting: bukan semata-mata perbedaan yang menghancurkan persatuan, tetapi masuknya hawa nafsu ke dalam perbedaan.
Adab Al-Qur'an dalam Perselisihan
Dengan demikian, para sahabat yang mulia memiliki adab yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Mereka dibentuk oleh petunjuk wahyu dan teladan Nabi Muhammad saw.
Ketika berselisih, tujuan mereka bukan mencari keuntungan dunia.
Dunia tidak menjadi ukuran mereka. Hawa nafsu tidak menjadi hakim mereka. Fanatisme kesukuan, kepentingan kelompok, kedudukan, dan keuntungan pribadi tidak menjadi tujuan mereka.
Mereka berusaha menghiasi diri dengan niat yang baik, hikmah, keadilan, kehati-hatian, amanah, dan kelembutan. Sebaliknya, mereka berusaha membuang hawa nafsu dan fanatisme.
Ketika terjadi perselisihan, tempat kembali mereka adalah Al-Qur'an dan Sunnah, baik dari sisi teks maupun maknanya. Mereka tidak memaksakan diri untuk menemukan pembenaran bagi pendapat pribadi. Mereka berusaha mencari kebenaran dengan kemampuan yang Allah berikan kepada mereka.
Karena itu, mereka tidak berselisih untuk menciptakan pertikaian.
Mereka juga tidak berselisih untuk memenangkan diri.
Mereka tidak menjadikan perbedaan sebagai sarana untuk mengangkat kedudukan kelompoknya atau menjatuhkan kelompok lain.
Ibnul Qayyim berkata:
"Sesungguhnya para sahabat berselisih paham dalam banyak masalah. Namun, sebagian mereka tidak memperlihatkan sikap permusuhan dan tidak memutuskan ikatan dengan yang lainnya. Justru masing-masing berusaha sungguh-sungguh membela pendapatnya dengan kemampuan terbaik yang mereka miliki. Setelah perdebatan selesai, mereka kembali kepada keramahan, cinta, persahabatan, dan loyalitas. Tidak ada sebagian mereka yang menyembunyikan kedengkian kepada yang lain atau memendam celaan dan cercaan. Bahkan, seseorang tetap menunjukkan kepada orang yang meminta fatwa, meskipun berbeda dengannya, bahwa orang tersebut lebih baik dan lebih berilmu daripada dirinya."82
Perhatikan bagian terakhir ini.
Seseorang dapat berbeda pendapat dengan saudaranya, tetapi tetap mengakui keilmuan saudaranya.
Ia dapat menganggap pendapatnya lebih kuat, tetapi tidak harus menganggap dirinya lebih mulia.
Inilah adab yang sering hilang ketika perselisihan berubah menjadi pertarungan ego.
Mengapa Perselisihan Para Sahabat Berbeda?
Lalu muncul sebuah pertanyaan penting:
Jika perselisihan dalam agama dilarang, bagaimana dengan perselisihan para sahabat dan para imam setelah mereka?
Apakah perselisihan mereka sama dengan perselisihan yang banyak terjadi pada generasi belakangan?
Jawabannya: tidak. Ada perbedaan yang sangat besar.
Perbedaan itu setidaknya terlihat dari dua hal: sebabnya dan dampaknya.
Pertama: Sebabnya
Perselisihan para sahabat pada dasarnya muncul karena perbedaan pemahaman yang alami dalam memahami dalil. Mereka tidak memilih perselisihan sebagai tujuan.
Perbedaan seperti ini tidak mungkin dihilangkan secara keseluruhan dari kehidupan manusia. Selama seseorang memiliki keterbatasan dalam memahami teks, perbedaan ijtihad mungkin terjadi.
Karena itu, seseorang tidak otomatis tercela hanya karena menghasilkan kesimpulan yang berbeda, selama ia memenuhi syarat-syarat ijtihad dan sungguh-sungguh mencari kebenaran.
Namun, para sahabat sendiri tidak mencintai perselisihan. Ketika ada jalan untuk menghindarinya, mereka berusaha menghindarinya.
Di sinilah letak perbedaan yang penting.
Mereka mengalami perselisihan, tetapi tidak mencintai perselisihan.
Mereka berbeda karena mencari kebenaran, bukan mencari alasan untuk berbeda.
Sementara itu, pada sebagian generasi belakangan, perselisihan terkadang justru dipertahankan dan dibenarkan sebagai sesuatu yang harus diterima tanpa usaha untuk kembali kepada sumber kebenaran.
Padahal para imam yang diikuti dalam ilmu justru sangat menekankan pentingnya mengikuti Sunnah dan meninggalkan pendapat yang bertentangan dengannya.
Kedua: Dampaknya
Perbedaan juga dapat dilihat dari dampaknya terhadap persatuan.
Para sahabat mengalami perselisihan yang cukup banyak dalam persoalan cabang, tetapi mereka sangat menjaga manifestasi persatuan. Mereka berusaha menjauhkan segala sesuatu yang dapat memecah kalimat dan menghancurkan barisan.
Perselisihan tidak otomatis menghilangkan persaudaraan.
Sebaliknya, dalam sebagian keadaan pada generasi belakangan, perselisihan berkembang menjadi perpecahan, pertikaian, saling mencela, bahkan rusaknya akhlak.
Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih serius.
Sebab, ketika umat yang mengemban dakwah kepada manusia justru tampil sebagai manusia yang saling bermusuhan, bagaimana orang lain akan melihat keindahan Islam?
Seseorang yang sedang mencari kebenaran mungkin datang dan melihat banyak kelompok yang saling mengklaim paling benar, saling mencela, dan saling menjauh.
Pertanyaan yang muncul kemudian sangat sederhana:
"Jika kalian semua mengajak kepada agama yang satu, mengapa kalian sendiri tidak dapat bersatu?"
Pertanyaan seperti ini seharusnya menggugah kita.
Belajar dari Adab Para Sahabat
Karena itu, kebutuhan kita hari ini bukan sekadar mengetahui bahwa para sahabat pernah berbeda pendapat.
Yang jauh lebih penting adalah mempelajari bagaimana mereka berbeda pendapat.
Kita perlu belajar bagaimana mereka menjaga niat.
Bagaimana mereka mencari kebenaran.
Bagaimana mereka mengembalikan perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
Bagaimana mereka tetap menghormati orang yang berbeda pendapat.
Bagaimana mereka dapat membela pendapatnya dengan kuat tanpa merendahkan orang lain.
Bagaimana mereka dapat mengatakan bahwa pendapatnya benar tanpa merasa bahwa dirinya pasti lebih mulia.
Dan yang paling penting, bagaimana setelah perselisihan selesai mereka kembali menjadi saudara.
Inilah yang sering terlupakan.
Kita mungkin mewarisi perbedaan pendapat para ulama, tetapi belum tentu mewarisi adab mereka.
Kita mungkin mengetahui dalil yang mereka gunakan, tetapi belum tentu memiliki keikhlasan yang mereka miliki.
Kita mungkin mampu menjelaskan kesalahan pendapat orang lain, tetapi belum tentu mampu menjaga hati dari kesombongan, kebencian, dan fanatisme.
Padahal, ilmu tanpa adab dapat menjadi bahan bakar perselisihan.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang persatuan umat, yang perlu diperbaiki bukan hanya struktur pemikiran, tetapi juga keadaan hati.
Para sahabat mengajarkan bahwa persatuan tidak mengharuskan hilangnya seluruh perbedaan. Persatuan menuntut agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.
Mereka berbeda pendapat, tetapi tidak kehilangan persaudaraan.
Mereka berbeda dalam ijtihad, tetapi tetap kembali kepada wahyu.
Mereka mempertahankan pendapat, tetapi tidak menjadikan kemenangan pendapat sebagai tujuan pribadi.
Mereka mencari kebenaran, bukan kemenangan.
Dan mungkin di situlah salah satu pelajaran terbesar dari generasi terbaik umat ini:
Yang harus kita warisi dari para sahabat bukan hanya pendapat mereka, tetapi juga adab mereka ketika berbeda pendapat.
Sebab, umat tidak akan hancur hanya karena adanya perbedaan. Umat akan mulai rapuh ketika perbedaan telah kehilangan adab, ketika hawa nafsu mengambil alih, ketika fanatisme menggantikan keikhlasan, dan ketika kemenangan atas saudara sendiri lebih dicintai daripada sampainya semua pihak kepada kebenaran.
Karena itu, mempelajari perselisihan para sahabat bukan untuk mencari pembenaran bagi perpecahan kita.
Justru sebaliknya.
Ia mengajarkan kepada kita bagaimana berbeda tanpa berpecah, berdiskusi tanpa bermusuhan, mempertahankan pendapat tanpa kehilangan persaudaraan, dan mencari kebenaran tanpa menjadikan ego sebagai tujuan.
Inilah adab perselisihan yang perlu dihidupkan kembali.
0 komentar: