Perpecahan: Celah yang Melemahkan Umat
Tidak ada keraguan bahwa dalam perjalanan sejarah, kaum muslimin menghadapi berbagai bentuk permusuhan dari orang-orang yang menentang Islam. Mereka menggunakan beragam cara untuk melemahkan Islam dan kaum muslimin. Namun, ada satu cara yang dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar serangan dari luar: memecah-belah kaum muslimin dari dalam.
Mengapa perpecahan menjadi begitu berbahaya?
Karena ketika sebuah umat kehilangan persatuan, kekuatan yang semula dapat digunakan untuk menghadapi berbagai tantangan justru berbalik menjadi pertikaian di antara mereka sendiri. Energi umat habis untuk saling mencurigai, saling menyerang, dan saling melemahkan.
Al-Qur'an mengingatkan:
«“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.”
(QS Al-Anfal: 46)»
Ayat ini menunjukkan hubungan yang sangat jelas: perselisihan bukan sekadar persoalan hubungan sosial. Ketika perselisihan berkembang menjadi pertikaian, dampaknya dapat menghilangkan keberanian dan kekuatan sebuah umat.
Karena itu, Al-Qur'an juga memperingatkan kaum muslimin agar berhati-hati terhadap pihak-pihak yang tidak menghendaki kebaikan bagi mereka:
«“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan teman orang-orang yang di luar kalanganmu sebagai teman kepercayaanmu. Mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat.”
(QS Ali 'Imran: 118)»
Peringatan ini mengajarkan satu hal penting: sebuah umat tidak hanya perlu memiliki kekuatan untuk menghadapi ancaman dari luar, tetapi juga harus memiliki kewaspadaan terhadap berbagai upaya yang dapat merusak persaudaraan dan persatuannya.
Perpecahan sebagai Strategi yang Berulang dalam Sejarah
Jika kita menengok sejarah, kita akan menemukan berbagai peristiwa yang memperlihatkan bagaimana konflik internal dapat dimanfaatkan untuk melemahkan suatu masyarakat.
Namun, di sinilah kita perlu berhati-hati. Tidak setiap perselisihan di antara kaum muslimin dapat begitu saja disebut sebagai hasil rekayasa musuh. Dalam sejarah selalu terdapat banyak faktor: kesalahan manusia, perbedaan pemahaman, kepentingan politik, fanatisme kelompok, kelemahan informasi, bahkan hawa nafsu.
Yang perlu kita renungkan adalah bagaimana perpecahan yang telah muncul dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk memperlebar konflik tersebut.
Al-Qur'an sendiri telah menggambarkan bagaimana kaum munafik berusaha mengganggu barisan kaum muslimin.
Allah berfirman:
«“Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak akan menambah kekuatanmu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan mereka tentu bergegas maju ke depan di celah-celah barisanmu untuk mengadakan kekacauan di barisanmu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang sangat suka mendengarkan perkataan mereka.”
(QS At-Taubah: 47)»
Bahaya menjadi semakin besar ketika propaganda kebencian menemukan orang-orang yang bersedia mendengarkan, mempercayai, dan menyebarkannya.
Dengan demikian, persoalannya bukan hanya siapa yang menyebarkan fitnah, tetapi juga mengapa fitnah itu dapat menemukan tempat di tengah umat.
Masjid yang Dibangun untuk Memecah Persatuan
Al-Qur'an memberikan contoh lain melalui peristiwa Masjid Dhirar. Allah berfirman:
«“Dan di antara orang-orang munafik itu ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana pada orang-orang yang beriman, untuk kekafiran, dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, ‘Kami hanya menghendaki kebaikan.’ Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta.”
(QS At-Taubah: 107)»
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa sebuah tindakan yang secara lahiriah tampak baik dapat memiliki tujuan yang berbeda di baliknya.
Sebuah bangunan dapat disebut masjid. Sebuah slogan dapat berbicara tentang kebaikan. Sebuah gerakan dapat mengatasnamakan kepentingan umat. Namun, ukuran kebenaran tidak berhenti pada nama dan penampilan. Yang harus diperhatikan juga adalah tujuan, cara, dan dampaknya terhadap umat.
Karena itu, umat perlu memiliki kejernihan dalam menilai berbagai gerakan yang muncul di tengah mereka.
Mengguncang Barisan dari Dalam
Dalam Perang Ahzab, Al-Qur'an juga menggambarkan bagaimana sebagian orang berusaha melemahkan kaum muslimin dari dalam.
Allah berfirman:
«“Dan ketika segolongan di antara mereka berkata, ‘Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.’ Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi dengan berkata, ‘Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka.’ Padahal rumah-rumah itu tidak terbuka; mereka hanyalah hendak lari.”
(QS Al-Ahzab: 13)»
Allah juga berfirman:
«“Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, ‘Marilah bersama kami.’”
(QS Al-Ahzab: 18)»
Ayat-ayat ini menunjukkan bentuk lain dari pelemahan: bukan menyerang secara langsung, melainkan mengguncang semangat, menebarkan keraguan, menghalangi perjuangan, dan menarik orang-orang keluar dari barisan.
Cara seperti ini sering kali tidak terlihat sebagai serangan. Bahkan mungkin disampaikan dengan alasan keselamatan, kepentingan pribadi, atau pertimbangan yang tampak masuk akal.
Di sinilah pentingnya kewaspadaan.
Tidak semua orang yang berada di tengah barisan benar-benar bekerja untuk memperkuat barisan. Dan tidak semua perkataan yang terdengar menenangkan pada akhirnya menghasilkan ketenangan.
Ketika Fitnah Menjadi Konflik Antarsaudara
Peristiwa berita dusta yang menimpa Aisyah radhiyallahu 'anha memberikan pelajaran yang sangat dalam tentang betapa cepat sebuah fitnah dapat merusak persaudaraan.
Fitnah tersebut berkembang hingga hampir memicu pertikaian antara Aus dan Khazraj. Padahal kedua kelompok itu telah dipersatukan oleh Islam.
Ketika Rasulullah saw. menyampaikan persoalan tersebut di hadapan kaum muslimin, Sa'ad bin Mu'adz berdiri menyatakan kesediaannya membela Rasulullah. Namun, Sa'ad bin Ubadah merespons dengan pembelaan terhadap kelompoknya. Perdebatan kemudian berkembang. Usaid bin Hudhair turut berbicara. Ketegangan antara Aus dan Khazraj pun meningkat hingga mereka hampir saling menyerang.
Perhatikan betapa cepat perubahan itu terjadi.
Sebuah berita dusta bermula dari satu persoalan. Kemudian berkembang menjadi pembicaraan. Pembicaraan berubah menjadi kecurigaan. Kecurigaan menyentuh fanatisme kelompok. Dan fanatisme kelompok hampir menyeret dua komunitas yang telah dipersatukan oleh iman ke dalam pertikaian.
Rasulullah saw. kemudian terus meredakan mereka hingga mereka kembali diam.
Kisah ini memberikan pelajaran bahwa fitnah tidak selalu menghancurkan umat dengan menyerang seluruh umat sekaligus. Kadang-kadang ia cukup dengan menyentuh titik-titik sensitif dalam hubungan antarkelompok.
Ketika fanatisme telah menguasai seseorang, kebenaran dapat berubah menjadi pembelaan kelompok. Persaudaraan dapat dikalahkan oleh identitas golongan.
Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya persatuan di tingkat slogan, tetapi juga adab ketika muncul perbedaan.
Tentang Abdullah bin Saba' dan Fitnah Sejarah
Dalam literatur sejarah Islam juga terdapat kisah tentang Abdullah bin Saba' yang dikaitkan dengan berbagai fitnah pada masa akhir pemerintahan Utsman dan konflik yang kemudian terjadi di antara kaum muslimin.
Namun, pembahasan tentang tokoh dan perannya dalam rangkaian peristiwa tersebut memiliki perbedaan dalam sumber-sumber sejarah. Karena itu, bagian ini perlu dikaji secara kritis dan tidak cukup hanya dengan menyandarkan seluruh rangkaian konflik kepada satu tokoh.
Pelajaran yang lebih luas tetap penting: konflik yang besar biasanya tidak lahir dari satu sebab tunggal. Ada persoalan politik, perbedaan penilaian, informasi yang tidak utuh, fanatisme, kepentingan, provokasi, dan kesalahan manusia yang dapat saling bertemu.
Maka, mempelajari sejarah bukan sekadar mencari siapa yang harus disalahkan. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana sebuah umat yang sebelumnya bersatu dapat masuk ke dalam pusaran konflik.
Fanatisme Kelompok dan Identitas
Perpecahan juga dapat tumbuh ketika identitas kelompok ditempatkan lebih tinggi daripada persaudaraan Islam.
Primordialisme, fanatisme kebangsaan, fanatisme kelompok, maupun berbagai identitas politik dapat menjadi persoalan apabila identitas tersebut membuat seseorang menilai saudaranya bukan lagi berdasarkan kebenaran dan keadilan, tetapi berdasarkan kelompoknya.
Masalahnya bukan semata-mata keberadaan identitas. Manusia memang hidup dengan berbagai identitas sosial, budaya, dan kebangsaan.
Persoalannya muncul ketika identitas itu berubah menjadi fanatisme yang membutakan, sehingga kepentingan kelompok mengalahkan keadilan dan persaudaraan.
Sejarah modern menunjukkan bahwa masyarakat muslim juga pernah mengalami fragmentasi politik dan sosial dalam berbagai bentuk. Ketika umat terpecah ke dalam kepentingan yang saling berhadapan, pihak luar dapat memanfaatkan celah tersebut.
Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan sekadar, “Siapa yang memecah kita?” tetapi juga:
Mengapa kita begitu mudah dipecah?
Pertanyaan kedua ini jauh lebih penting karena mengarahkan kita kepada evaluasi diri.
Perbedaan Pemikiran dan Bahaya Fanatisme
Dalam perjalanan sejarah Islam muncul berbagai aliran teologi, fikih, dan pemikiran. Sebagian perbedaan tersebut merupakan hasil dari proses intelektual yang kompleks dan tidak dapat disederhanakan hanya sebagai hasil pengaruh dari luar.
Karena itu, pembahasan tentang berbagai aliran harus dilakukan dengan ilmu dan keadilan. Tidak semua perbedaan pendapat adalah bentuk permusuhan terhadap Islam, dan tidak setiap perbedaan fikih berarti perpecahan umat.
Justru di sinilah pentingnya membedakan antara perbedaan ilmiah dan fanatisme yang melahirkan permusuhan.
Perbedaan dalam memahami persoalan tertentu dapat terjadi karena perbedaan dalil, metode istinbat, pengetahuan terhadap suatu riwayat, atau cara memahami teks. Perbedaan semacam itu tidak otomatis menghancurkan persaudaraan.
Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan berubah menjadi kebencian, saling merendahkan, saling menuduh, dan menganggap kelompok sendiri sebagai satu-satunya representasi kebenaran dalam seluruh persoalan.
Dengan demikian, persoalan umat bukan sekadar adanya banyak pendapat. Persoalannya adalah hilangnya adab dalam menyikapi perbedaan.
Musuh dari Luar dan Kelemahan dari Dalam
Pada akhirnya, kita perlu melihat persoalan ini secara lebih seimbang.
Ancaman dari luar memang dapat terjadi. Sejarah memperlihatkan bahwa kekuatan politik dari luar pernah memanfaatkan konflik internal umat. Namun, tidak adil jika seluruh kelemahan umat selalu dijelaskan dengan teori campur tangan pihak luar.
Sebuah bangunan yang kokoh tidak mudah runtuh hanya karena ada orang yang berusaha merobohkannya dari luar. Tetapi apabila fondasinya telah retak, sedikit tekanan saja dapat memperbesar kerusakan.
Demikian pula umat.
Pihak luar mungkin mencoba memanfaatkan perpecahan. Namun, celah itu hanya dapat dimanfaatkan apabila perpecahan memang telah tumbuh di dalam diri umat.
Karena itu, memperkuat persatuan bukan hanya berarti menghadapi musuh dari luar. Ia dimulai dengan memperbaiki hubungan di antara kaum muslimin sendiri: mengurangi fanatisme, menjaga lisan, memeriksa berita, menegakkan keadilan, dan mengembalikan perselisihan kepada prinsip-prinsip agama.
Mengapa Kita Harus Mempelajari Fikih Perselisihan?
Di sinilah kita sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar.
Jika persatuan Islam merupakan salah satu tujuan penting dalam kehidupan umat, lalu bagaimana kita menghadapi perbedaan?
Apakah persatuan berarti semua orang harus mempunyai pendapat yang sama?
Tentu tidak.
Para sahabat sendiri pernah berbeda pendapat. Namun, perbedaan mereka tidak otomatis menghilangkan persaudaraan. Mereka memiliki tempat kembali yang sama: Allah dan Rasul-Nya.
Karena itu, yang perlu kita pelajari bukan hanya fikih persatuan, tetapi juga fikih perselisihan.
Bagaimana cara berbeda pendapat?
Apa yang harus dilakukan ketika kita merasa pendapat kita benar?
Bagaimana kita memperlakukan saudara yang berbeda pandangan?
Kapan sebuah perbedaan merupakan perbedaan ilmiah yang dapat ditoleransi, dan kapan ia berubah menjadi penyimpangan yang harus dikoreksi?
Bagaimana menyampaikan koreksi tanpa merusak kehormatan saudara?
Dan yang paling penting: bagaimana tetap bersaudara ketika kita belum mencapai kesepakatan?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi semakin penting pada zaman ketika informasi bergerak begitu cepat. Sebuah potongan pernyataan dapat menyebar dalam hitungan detik. Sebuah tuduhan dapat menjangkau ribuan orang sebelum kebenarannya diperiksa. Sebuah perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan hanya karena masing-masing pihak merasa kelompoknya harus menang.
Padahal, persatuan tidak selalu berarti keseragaman.
Persatuan berarti memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada kepentingan kelompok. Persatuan berarti ketika perbedaan muncul, kita masih memiliki tempat kembali yang sama. Persatuan berarti tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk meruntuhkan persaudaraan.
Kembali kepada Pertanyaan Awal
Maka, persoalan terbesar bukan hanya bagaimana umat menghadapi pihak yang ingin memecah-belah mereka. Persoalan yang lebih dalam adalah bagaimana umat membangun kekebalan terhadap perpecahan.
Jika kita mudah terprovokasi, mudah percaya kepada berita, mudah menghina saudara, mudah mengutamakan kelompok, dan mudah mengubah perbedaan menjadi permusuhan, maka sebenarnya kita sendiri telah menyediakan pintu bagi perpecahan.
Karena itu, pertanyaan akhirnya bukan sekadar:
“Siapa yang ingin memecah-belah umat?”
Tetapi:
“Apa yang membuat kita mudah dipecah-belah?”
Dari sinilah pembahasan tentang fikih perselisihan menjadi penting.
Atas dasar apa kita bersatu?
Bagaimana kita membangun persatuan?
Bagaimana adab kita ketika berbeda?
Bagaimana kita menjaga persaudaraan ketika belum menemukan kesepakatan?
Dan jika kita belum sepakat dalam suatu persoalan, apakah itu berarti harapan untuk bersatu harus berakhir?
Bukankah Tuhan kita satu, kitab kita satu, dan Rasul kita satu?
Bukankah para sahabat telah memberikan teladan bahwa perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan perpecahan?
Mungkin di situlah pekerjaan besar umat bermula: bukan menghapus seluruh perbedaan, tetapi belajar mengelola perbedaan dengan ilmu, keadilan, dan adab, sehingga perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.
0 komentar: