Dalam memelihara ingatan Nabi Muhammad saw. terhadap wahyu secara konstan, Malaikat Jibril berkunjung kepada beliau setiap tahun. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa hadis berikut.
Fatimah berkata, “Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, ‘Malaikat Jibril hadir membacakan Al-Qur’an kepadaku dan saya membacakannya sekali setahun. Hanya pada tahun ini ia membacakan seluruh isi kandungan Al-Qur’an sebanyak dua kali. Saya tidak berpikir lain kecuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat.’”
Ibnu Abbas melaporkan bahwa Nabi Muhammad saw. berjumpa dengan Malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadan hingga akhir bulan. Keduanya membaca Al-Qur’an secara silih berganti.
Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad saw. dan Malaikat Jibril membaca Al-Qur’an secara bergantian setiap tahun. Hanya pada tahun wafatnya, mereka membaca secara bergantian sebanyak dua kali.
Ibnu Mas‘ud melaporkan hal yang serupa, dengan tambahan, “Manakala Nabi Muhammad saw. dan Malaikat Jibril selesai membacanya, lalu memberi giliran kepada saya untuk membaca di hadapan Nabi Muhammad saw., dan beliau memberikan penghargaan atas keindahan bacaan saya.”41
Nabi Muhammad saw., Zaid bin Tsabit, dan Ubay bin Ka‘ab juga membaca Al-Qur’an secara bergiliran setelah sesi terakhir bersama Malaikat Jibril. Nabi Muhammad saw. juga membaca Al-Qur’an di hadapan Ubay dua kali pada tahun wafatnya.
Tiap hadis di atas memberikan gambaran tentang pembacaan Al-Qur’an antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw. dengan menggunakan istilah mu‘aradhah. Al-Qur’an tidak hanya diterima, tetapi juga dibaca kembali, disimak, dan diperiksa secara berulang. Dengan demikian, proses penerimaan wahyu tidak berhenti pada saat ayat diturunkan. Ada proses pemeliharaan yang berlangsung terus-menerus.
Di sinilah kita dapat memahami betapa padatnya tugas Nabi Muhammad saw. terhadap wahyu. Beliau tidak hanya menerima wahyu secara divine reception, tetapi juga menjadi pengawas ketepatan penyampaiannya, memberikan keterangan yang diperlukan, mendorong masyarakat luas untuk mengenal dan menyebarluaskannya, serta menjadi mahaguru bagi para sahabat.
Allah tentu tidak perlu turun ke bumi untuk menjelaskan ayat demi ayat kepada manusia. Allah justru berfirman, “Adalah tugas Kami untuk menjelaskan,” bukan, “Ini tugasmu, Muhammad, untuk memberi penjelasan.” Hal ini menunjukkan bahwa Allah memberikan legitimasi sepenuhnya kepada Nabi Muhammad saw. untuk menjelaskan ayat-ayat-Nya. Penjelasan tersebut bukan berdasarkan perkiraan pribadi, melainkan berada dalam bimbingan dan inspirasi Allah sendiri.
Demikian pula halnya dengan pemeliharaan dan kompilasi Al-Qur’an.
Setelah menghafalnya, tugas membaca, memelihara, mengompilasi, mengajarkan, dan menerangkan Al-Qur’an menyatu dalam tugas utama beliau sepanjang masa kenabian. Semua itu beliau laksanakan dengan penuh kesetiaan dan mendapatkan persetujuan Allah SWT atas upaya yang beliau lakukan.
Karena itu, perhatian utama dalam bab-bab mendatang akan mencakup tiga masalah penting. Pertama, penjelasan tentang wahyu. Kedua, literatur sunnah Nabi Muhammad saw., yang keseluruhannya merupakan penjelasan terhadap Al-Qur’an. Ketiga, penyatuan seluruh ajaran tersebut ke dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Klaim-klaim para Orientalis
Pembahasan tentang pemeliharaan Al-Qur’an tidak terlepas dari berbagai teori yang dikemukakan oleh sebagian penulis orientalis. Beberapa di antara mereka membangun teori yang berbeda dari keyakinan umat Islam mengenai bagaimana Al-Qur’an dipelihara sejak masa Nabi Muhammad saw.
Noldeke, misalnya, menganggap bahwa Nabi Muhammad saw. pernah lupa terhadap wahyu sebelumnya. Sementara itu, Rev. Mingana menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. maupun masyarakat Muslim tidak pernah memberikan perhatian yang berlebihan terhadap Al-Qur’an, kecuali setelah negara Islam meluas. Dengan kata lain, menurut pandangan tersebut, perhatian untuk memelihara ayat-ayat Al-Qur’an bagi generasi mendatang baru muncul kemudian.
Namun, apakah masuk akal jika perhatian terhadap pemeliharaan Al-Qur’an baru muncul setelah wilayah Islam meluas?
Pendekatan terhadap persoalan ini semata-mata dari sudut pandang akal memang tidak cukup untuk membuktikan seluruh persoalan. Akan tetapi, ada satu pertanyaan mendasar yang tetap perlu diajukan: bagaimana mungkin seseorang yang meyakini bahwa dirinya menerima kalamullah akan bersikap acuh terhadap pemeliharaan wahyu tersebut?
Terlepas dari apakah seseorang menerima Muhammad saw. sebagai seorang nabi atau tidak, secara logis beliau akan tetap berusaha mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kalamullah. Jika beliau benar-benar seorang rasul, persoalannya tentu menjadi semakin jelas. Pemeliharaan Al-Qur’an merupakan tugas suci.
Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diturunkan kepada beliau. Karena itu, pemeliharaannya bukanlah persoalan sampingan. Ia merupakan bagian dari amanah kenabian itu sendiri.
Lalu, bagaimana jika—sekadar sebagai alasan dalam sebuah perdebatan—Muhammad saw. sebenarnya berpura-pura mengaku sebagai nabi? Atau, katakanlah, Al-Qur’an merupakan hasil rekayasa beliau sendiri? Apakah dalam keadaan demikian beliau akan mampu menghasilkan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada sekarang?
Dalam kerangka argumentasi tersebut, jawabannya tetap tidak mudah diberikan. Sebab, jika beliau benar-benar mempertahankan keyakinan yang disampaikannya, maka tindakan untuk mengubah atau mengabaikan wahyu justru akan bertentangan dengan pengakuannya sendiri. Sebaliknya, jika beliau konsisten dengan apa yang diyakininya, maka pemeliharaan Al-Qur’an menjadi konsekuensi yang wajar dari keyakinan tersebut.
Dengan demikian, persoalan ini tidak cukup dijelaskan hanya dengan dugaan bahwa perhatian terhadap Al-Qur’an baru muncul setelah Islam berkembang menjadi kekuatan politik. Ada rangkaian fakta mengenai hafalan, pembacaan, pengajaran, mu‘aradhah, dan pencatatan yang telah berlangsung sejak masa Nabi Muhammad saw.
Apakah seseorang menempatkan Muhammad saw. dalam kelompok para nabi ataupun menganggap beliau berpura-pura, perilaku beliau terhadap Al-Qur’an tetap menunjukkan perhatian yang sangat besar terhadap wahyu tersebut.
Karena itu, teori apa pun yang mengandaikan adanya perubahan atau perbedaan dalam pemeliharaan Al-Qur’an harus berhadapan dengan rangkaian fakta tersebut. Jika seorang ahli teori mengajukan penjelasan tentang mengapa Nabi Muhammad saw. bertindak sedemikian rupa, bahkan mengorbankan kepentingannya demi menjalankan perintah Allah, maka penjelasan itu semestinya tidak berhenti pada dugaan. Ia harus berhadapan dengan bukti-bukti yang dapat ditelusuri.
Kesimpulan
Hafalan, pengajaran, pencatatan, kompilasi, dan penjelasan Al-Qur’an—sebagaimana telah kita uraikan—merupakan bagian penting dari misi Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an bukan hanya dibacakan kepada beliau, tetapi juga dihafalkan, dibaca kembali, diajarkan, dijelaskan, dan dipraktikkan. Bahkan orang-orang kafir pun tertarik untuk mendengarkannya secara sembunyi-sembunyi.
Semua ini membawa kita kepada satu pertanyaan yang lebih luas: bagaimana mungkin sebuah kitab yang telah berusia lebih dari empat belas abad tetap hidup begitu kuat dalam ingatan manusia?
Jawabannya tidak cukup dicari hanya pada keberadaan sebuah mushaf. Sebab, Al-Qur’an tidak hanya hidup dalam lembaran-lembaran yang tertulis. Ia hidup dalam hafalan, dalam bacaan, dalam pengajaran, dan dalam transmisi dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Dalam bab-bab berikutnya, kami akan menjelaskan lebih mendalam sikap kehati-hatian Nabi Muhammad saw. dan masyarakat Muslim pada masa awal Islam dalam memelihara Al-Qur’an. Semua itu memberikan dasar bagi keyakinan bahwa Al-Qur’an muncul dan beredar dalam bentuknya yang asli tanpa perubahan.
Sebelum halaman ini kita akhiri, mari kita alihkan pandangan ke zaman sekarang. Kita tidak lagi berbicara hanya tentang bagaimana Al-Qur’an dipelihara pada masa Nabi Muhammad saw. Kita juga dapat melihat bagaimana ia terus diajarkan dan dihafalkan hingga masa kita.
Umat Islam di seluruh dunia berjalan melalui suatu periode yang amat suram dalam sejarah, suatu masa ketika harapan dan keimanan tampak begitu sulit dan tidak menentu dari hari ke hari. Namun, di tengah keadaan tersebut, terdapat umat Islam dalam jumlah yang tidak terhitung—dari berbagai kelompok usia, jenis kelamin, dan berbagai belahan dunia—yang berkomitmen menghafal Al-Qur’an seluruhnya.
Di sinilah kenyataan itu menjadi menarik untuk direnungkan.
Sebuah kitab yang diturunkan lebih dari empat belas abad yang lalu tidak hanya tersimpan dalam perpustakaan atau ruang-ruang khusus. Ia berada di dalam dada manusia. Anak-anak menghafalnya. Orang dewasa mengulanginya. Para guru mengajarkannya. Para penghafal menyimaknya kembali di hadapan guru. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, rangkaian itu terus berlangsung.
Bandingkan hal ini dengan kitab Injil yang telah diterjemahkan, baik seluruhnya maupun sebagian, ke dalam ribuan bahasa, dicetak dan dibagikan dalam jumlah yang amat besar dengan dana yang sangat besar pula. Dengan upaya tersebut, kitab Injil dapat dianggap memiliki peredaran yang luas dan banyak orang berminat membelinya. Akan tetapi, menurut sumber yang dikutip dalam pembahasan ini, hanya sebagian kecil yang berminat membacanya.
Sikap masa bodoh terhadap isi kitab suci bahkan dapat berjalan lebih jauh daripada yang mungkin dibayangkan seseorang.
Pada tanggal 26 Januari 1997, harian The Sunday Times menurunkan hasil penelitian yang dilakukan oleh koresponden Rajeev Syal dan Cherry Norton tentang Sepuluh Perintah Tuhan. Secara acak, jajak pendapat terhadap dua ratus ribu anggota pastor Kristen Anglican mengungkap bahwa dua pertiga dari pendeta wakil Paus Inggris tidak dapat mengungkapkan isi Sepuluh Perintah Tuhan.
Hal ini, menurut laporan tersebut, bukan saja terjadi pada orang Kristen biasa, melainkan juga pada para pendetanya.
Gambaran tersebut memperlihatkan perbedaan dalam pola transmisi dan pengajaran kitab suci yang sedang dibandingkan. Di satu sisi, teks agama dapat memiliki peredaran yang sangat luas melalui pencetakan dan penerjemahan. Di sisi lain, Al-Qur’an juga memiliki tradisi hafalan dan pengajaran yang berlangsung secara langsung dari manusia kepada manusia.
Al-Qur’an tidak hanya berada di atas kertas. Ia berada dalam bacaan. Ia berada dalam hafalan. Ia berada dalam proses pengajaran yang terus berlangsung.
Maka, jika kita ingin memahami pengaruh mendalam Al-Qur’an dan keberhasilan misi pendidikan Nabi Muhammad saw., perhatian tidak cukup diarahkan kepada jumlah mushaf yang dicetak atau luasnya penerjemahan. Kita perlu melihat pula kehidupan sebuah kitab di dalam ingatan manusia.
Di situlah salah satu gambaran paling nyata tentang bagaimana Al-Qur’an terus hidup: dibaca, dihafal, diajarkan, disimak, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
0 komentar: