Para pakar tafsir dan bahasa Arab memberikan perhatian khusus terhadap kata Al-'A'il yang terdapat dalam firman Allah:
«وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
(Adh-Dhuha: 8)»
Sekilas, kata Al-'A'il sering diterjemahkan sebagai “fakir”. Namun, jika ditelusuri lebih jauh melalui khazanah tafsir dan bahasa Arab, maknanya ternyata tidak sesederhana itu.
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan.
Pertama, Al-'A'il tidak identik dengan fakir.
Kedua, Al-'A'il memiliki nuansa makna yang khas dan tidak dapat begitu saja digantikan oleh kata-kata lain yang menunjukkan kefakiran.
Pemahaman ini penting karena ayat tersebut sedang menggambarkan salah satu fase kehidupan Rasulullah saw. Sebuah fase yang kemudian Allah ubah dengan pemberian kecukupan. Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menerjemahkan keadaan beliau hanya dengan istilah “fakir”.
Al-'A'il Tidak Semata-Mata Berarti Fakir
Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi dalam Adhwa Al-Bayan fi Idhah Al-Qur'an bi Al-Qur'an menjelaskan bahwa kata Al-'A'il dapat bermakna seseorang yang memiliki banyak anggota keluarga. Ada pula ulama yang memaknainya sebagai orang fakir.
Namun, kefakiran memiliki konsekuensi berupa kebutuhan kepada pihak lain. Sementara itu, konteks ayat menunjukkan bahwa Allah memberikan kecukupan kepada Rasulullah secara berkelanjutan. Karena itu, kata Fa Aghna menunjukkan adanya perubahan keadaan menuju kecukupan.
Thahir bin Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir menjelaskan bahwa Al-'A'il dalam ayat tersebut dapat bermakna orang yang tidak memiliki harta. Ia menghubungkannya dengan istilah 'ailah yang berarti kefakiran, sebagaimana dalam firman Allah:
«“Dan jika kamu khawatir menjadi miskin karena orang-orang kafir tidak datang, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya.”
(At-Taubah: 28)»
Menurut Ibnu Asyur, kecukupan yang Allah berikan kepada Rasulullah mencakup dua sisi: kecukupan hati dan kecukupan harta. Kecukupan hati merupakan yang paling besar, karena Allah menjaga hati beliau dari kecintaan berlebihan kepada dunia. Adapun kecukupan harta tampak, antara lain, dalam kehidupan beliau bersama Khadijah dalam perdagangan.
Sementara itu, Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menyebutkan adanya dua pendapat mengenai makna Al-'A'il.
Pendapat pertama—yang dianggap populer—memaknainya sebagai fakir. Adapun pendapat kedua memaknainya sebagai orang yang memiliki banyak tanggungan atau banyak anggota keluarga. Dalam pengertian ini, Allah memberikan kecukupan kepada beliau dalam menghadapi berbagai tanggung jawab tersebut.
Bahkan, ada pula penafsiran yang memahami bahwa umat yang sebelumnya berada dalam keadaan “kekurangan” karena ketidaktahuan memperoleh kecukupan melalui Rasulullah, karena mereka mendapatkan petunjuk melalui perjuangan beliau.
Dengan demikian, sejak awal telah terlihat bahwa kata Al-'A'il memiliki medan makna yang lebih luas daripada sekadar “fakir”.
Kekayaan Makna dalam Bahasa Arab
Hal ini semakin jelas jika kita melihat penjelasan dalam Taj Al-'Arus Syarh Al-Qamus Al-Muhith.
Dalam bahasa Arab, akar kata yang berkaitan dengan 'A'il memiliki sejumlah penggunaan. Di antaranya berkaitan dengan kefakiran, kebutuhan, bertambahnya tanggungan, beratnya urusan, hingga seseorang yang menanggung kebutuhan keluarganya.
Jika seseorang dikatakan memenuhi kebutuhan keluarganya—makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan lainnya—ia disebut 'A'il, yaitu orang yang menanggung dan menopang keluarganya.
Demikian pula, ungkapan katsura 'iyaluh menunjukkan seseorang yang memiliki banyak anggota keluarga atau banyak orang yang menjadi tanggungannya.
Al-Akhfasy bahkan menjelaskan maknanya dengan ungkapan “menemukanmu memiliki keluarga”.
Dari sini kita mulai melihat satu sisi yang menarik.
Seseorang bisa saja tidak berada dalam kondisi fakir, tetapi memiliki beban tanggungan yang besar. Ia memiliki sesuatu, tetapi kebutuhan yang harus dipikul juga besar. Ia tidak kekurangan karena tidak mempunyai apa-apa, melainkan karena banyaknya kebutuhan yang harus ia tanggung.
Dalam konteks inilah makna Al-'A'il menjadi lebih luas dan lebih reflektif.
Rasulullah dan Makna “Bersandar”
Dr. Audatullah Mani' Al-Qais, dalam artikelnya yang dimuat di majalah Hady Al-Islam, memilih pendapat bahwa Al-'A'il lebih dekat kepada makna Al-Muttakil, yaitu seseorang yang bersandar kepada pihak lain.
Pemaknaan ini dikaitkan dengan fase kehidupan Rasulullah saw. ketika beliau masih kecil. Pada masa itu beliau berada dalam pengasuhan kakeknya, kemudian pamannya, Abu Thalib.
Dengan demikian, yang dimaksud bukanlah bahwa Rasulullah adalah seorang pengemis atau orang yang tidak memiliki apa-apa. Beliau berada dalam keadaan membutuhkan pengasuhan dan memiliki pihak yang menjadi tempat bersandar dalam kehidupan beliau.
Ini memberikan perspektif yang menarik.
Tidak setiap orang yang membutuhkan berarti fakir. Tidak setiap orang yang memiliki tanggungan berarti tidak memiliki harta. Dan tidak setiap orang yang memperoleh bantuan berarti berada dalam kehinaan.
Karena itu, menerjemahkan Al-'A'il secara otomatis sebagai “fakir” berpotensi menyempitkan pesan ayat.
Apakah Rasulullah Dapat Disebut Fakir?
Untuk memahami persoalan ini lebih jauh, kita perlu melihat bagaimana Al-Qur'an dan bahasa Arab menggunakan berbagai kosakata yang berkaitan dengan kefakiran dan kebutuhan.
Ada Al-Faqir, yaitu orang yang tidak memiliki kecukupan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
Ada Al-Miskin, orang yang berada dalam kekurangan, tetapi tidak meminta-minta kepada manusia.
Ada Al-Miskin Dza Matrabah, yaitu orang yang berada dalam kondisi kemiskinan yang sangat berat.
Ada Al-Ba'is, orang yang mengalami kemiskinan dan penderitaan.
Ada As-Sa'il, orang yang meminta untuk memenuhi kebutuhannya.
Ada Al-Mu'dam, orang yang tidak memiliki sesuatu karena tidak mampu mendapatkannya.
Ada Al-Qani', orang yang meminta karena mengharapkan pemberian.
Ada Al-Mu'tar, orang yang memperlihatkan kebutuhannya tanpa meminta secara langsung.
Ada Al-Muhtaj, orang yang memiliki kebutuhan dan memerlukan harta atau sesuatu yang sejenis.
Ada Dzu Al-Khullah, orang yang berada dalam kebutuhan.
Ada Al-Mumliq, orang yang takut mengalami kefakiran.
Ada Ash-Sha'luk, orang yang tidak mempunyai harta dan tidak bergantung kepada siapa pun untuk mendapatkannya.
Ada Al-Muqtir, orang yang kehidupannya sempit dan penuh kekurangan.
Dan ada Al-Mu'sir, orang yang mengalami kesulitan, termasuk ketidakmampuan membayar utang.
Kosakata tersebut menunjukkan betapa luasnya medan makna yang berkaitan dengan kefakiran, kekurangan, kebutuhan, dan penderitaan dalam bahasa Arab.
Lalu, apakah seluruh karakter tersebut layak disematkan kepada Rasulullah saw.?
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan merenung.
Apakah Rasulullah dapat digambarkan sebagai seseorang yang tidak memiliki makanan pokok sehingga harus meminta kepada orang lain?
Apakah beliau dapat digambarkan sebagai seorang yang meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?
Apakah beliau meminta zakat atau sedekah, sementara sedekah diharamkan bagi beliau?
Tentu, pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan hati-hati.
Sebab, jika kita menyamakan Al-'A'il dengan seluruh karakteristik kefakiran tersebut, kita telah memasukkan makna yang tidak secara otomatis terkandung dalam ayat.
Al-'A'il dan Keunikan Pilihan Kata Al-Qur'an
Di sinilah kita menemukan pelajaran penting tentang bahasa Al-Qur'an.
Jika Allah bermaksud menyampaikan makna “fakir” secara langsung, tersedia sejumlah kosakata Arab yang memang digunakan untuk menunjukkan kefakiran dan kekurangan.
Namun Allah tidak memilih kata-kata tersebut.
Allah memilih kata:
عَائِلًا — 'A'ilan
Kemudian Allah melanjutkannya dengan:
فَأَغْنَىٰ — Fa Aghna
“Lalu Dia memberikan kecukupan.”
Pemilihan kata ini tidak boleh dilepaskan dari struktur ayat.
Allah tidak mengatakan bahwa Dia mendapati Rasulullah sebagai faqir, kemudian menjadikannya kaya. Allah menggunakan kata 'A'il, lalu menyebutkan Aghna sebagai perubahan keadaan yang Allah berikan.
Dengan demikian, perhatian kita seharusnya tidak berhenti pada terjemahan “kekurangan”, tetapi bergerak lebih dalam kepada pertanyaan: kekurangan dalam pengertian apa?
Banyak Tanggungan, Besarnya Beban
Salah satu kemungkinan makna Al-'A'il adalah seseorang yang memiliki banyak tanggungan sehingga kebutuhan yang harus dipikulnya menjadi besar.
Dalam kehidupan Rasulullah saw., tanggung jawab itu terus berkembang.
Beliau bukan hanya seorang individu yang memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Beliau adalah seorang suami, ayah, pemimpin, pendidik, pembawa risalah, dan pada akhirnya penanggung amanah umat.
Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula kebutuhan yang harus dipenuhi.
Karena itu, seseorang dapat berada dalam keadaan memiliki harta, tetapi pada saat yang sama mempunyai beban pengeluaran yang besar.
Di sinilah kata Al-'A'il memiliki nuansa yang tidak sama dengan sekadar Al-Faqir.
Ia mengandung dimensi tanggungan, kebutuhan, dan beban yang harus dipikul.
Dan ketika Allah berfirman:
«“Lalu Dia memberikan kecukupan,”»
maka yang menjadi perhatian bukan sekadar perubahan dari “tidak punya” menjadi “punya”, tetapi perubahan dari keadaan membutuhkan menuju keadaan berkecukupan.
“Fa Aghna”: Allah Memberikan Kecukupan
Perhatikan pilihan kata Allah:
فَأَغْنَىٰ — Fa Aghna
“Lalu Dia memberikan kecukupan.”
Kata ini menunjukkan perubahan keadaan.
Allah tidak sekadar menyebut bahwa Rasulullah memperoleh harta. Allah menyebut bahwa Dia memberikan ghina, yaitu kecukupan.
Kecukupan dalam perspektif Al-Qur'an pun tidak semata-mata persoalan jumlah harta. Ia juga berkaitan dengan keadaan hati, kemampuan memenuhi kebutuhan, dan terbebasnya seseorang dari ketergantungan kepada manusia.
Karena itu, penjelasan para ulama mengenai ghina hati dan ghina harta menjadi penting.
Kecukupan yang paling mendasar adalah kecukupan hati. Harta hanyalah salah satu bentuk sarana yang Allah berikan untuk menopang kehidupan dan amanah.
Jangan Menyederhanakan Kehidupan Rasulullah
Dari sini muncul sebuah refleksi yang penting.
Kehidupan Rasulullah saw. tidak tepat jika digambarkan secara sederhana sebagai kehidupan seseorang yang sejak awal selalu berada dalam kondisi fakir dan tidak memiliki kecukupan materi.
Beliau memang mengalami berbagai keadaan dalam perjalanan hidupnya. Beliau pernah berada dalam situasi sulit, mengalami tekanan, bahkan hidup dalam keterbatasan. Namun, keterbatasan pada satu fase kehidupan tidak otomatis berarti bahwa seluruh kehidupan beliau adalah kehidupan seorang fakir.
Sebelum kenabian pun beliau telah dikenal sebagai pedagang yang dipercaya. Beliau bekerja, berdagang, dan memperoleh penghasilan. Kehidupan bersama Khadijah juga menunjukkan adanya aktivitas ekonomi dan pengelolaan harta.
Setelah menjadi Rasul, orientasi hidup beliau memang bukan mengejar kekayaan. Namun, tidak mengejar kekayaan bukan berarti tidak memiliki harta atau tidak memiliki kecukupan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara zuhud terhadap dunia dan kemiskinan.
Zuhud adalah sikap hati.
Kemiskinan adalah keadaan ekonomi.
Keduanya tidak selalu identik.
Seseorang dapat memiliki harta tetapi zuhud. Sebaliknya, seseorang dapat tidak memiliki harta tetapi belum tentu zuhud.
Sebuah Pelajaran tentang Cara Membaca Al-Qur'an
Pada akhirnya, pembahasan mengenai satu kata dalam satu ayat ini membawa kita kepada pelajaran yang lebih luas.
Al-Qur'an tidak memilih kata secara sembarangan.
Ketika Allah menggunakan Al-'A'il, kita tidak seharusnya tergesa-gesa menggantinya dengan Al-Faqir seolah-olah keduanya sepenuhnya identik.
Perbedaan pilihan kata dapat mengandung perbedaan sudut pandang.
Al-Faqir menyoroti keadaan kekurangan.
Sementara Al-'A'il dapat menghadirkan dimensi lain: tanggungan, kebutuhan, ketergantungan, atau keadaan seseorang yang memiliki beban yang harus dipikul.
Kemudian Allah memberikan kecukupan.
Seolah-olah ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa ukuran kecukupan tidak selalu dimulai dari seberapa sedikit atau banyak harta yang dimiliki seseorang. Ada kalanya persoalannya terletak pada besarnya amanah dan tanggung jawab yang harus ditanggung.
Maka, ketika Allah menyebut:
«“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan,”»
ayat tersebut tidak semestinya dibaca hanya sebagai kisah tentang kemiskinan Rasulullah yang kemudian berubah menjadi kekayaan.
Lebih dalam daripada itu, ayat tersebut mengingatkan kita tentang Allah yang mengetahui kebutuhan hamba-Nya, mengetahui beban yang dipikulnya, kemudian menyediakan kecukupan sesuai dengan amanah yang diberikan kepadanya.
Karena itu, yang perlu kita lihat bukan hanya berapa banyak harta yang dimiliki seseorang, tetapi juga berapa besar tanggung jawab yang dipikulnya dan bagaimana Allah mencukupkan kebutuhannya.
Inilah salah satu keindahan pilihan kata Al-Qur'an: satu kata dapat membuka pintu perenungan yang jauh lebih luas daripada sekadar terjemahan literalnya.
0 komentar: