basmalah Pictures, Images and Photos
Apakah Rasulullah SAW Fakir? - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Makna Al-'A’il dalam QS Adh-Dhuha: 8 Para pakar tafsir dan bahasa Arab memberikan perhat...

Apakah Rasulullah SAW Fakir?


Makna Al-'A’il dalam QS Adh-Dhuha: 8

Para pakar tafsir dan bahasa Arab memberikan perhatian khusus terhadap kata Al-'A'il yang terdapat dalam firman Allah:

«وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
(Adh-Dhuha: 8)»

Sekilas, kata Al-'A'il sering diterjemahkan sebagai “fakir”. Namun, jika ditelusuri lebih jauh melalui khazanah tafsir dan bahasa Arab, maknanya ternyata tidak sesederhana itu.

Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan.

Pertama, Al-'A'il tidak identik dengan fakir.

Kedua, Al-'A'il memiliki nuansa makna yang khas dan tidak dapat begitu saja digantikan oleh kata-kata lain yang menunjukkan kefakiran.

Pemahaman ini penting karena ayat tersebut sedang menggambarkan salah satu fase kehidupan Rasulullah saw. Sebuah fase yang kemudian Allah ubah dengan pemberian kecukupan. Karena itu, kita perlu berhati-hati ketika menerjemahkan keadaan beliau hanya dengan istilah “fakir”.

Al-'A'il Tidak Semata-Mata Berarti Fakir

Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi dalam Adhwa Al-Bayan fi Idhah Al-Qur'an bi Al-Qur'an menjelaskan bahwa kata Al-'A'il dapat bermakna seseorang yang memiliki banyak anggota keluarga. Ada pula ulama yang memaknainya sebagai orang fakir.

Namun, kefakiran memiliki konsekuensi berupa kebutuhan kepada pihak lain. Sementara itu, konteks ayat menunjukkan bahwa Allah memberikan kecukupan kepada Rasulullah secara berkelanjutan. Karena itu, kata Fa Aghna menunjukkan adanya perubahan keadaan menuju kecukupan.

Thahir bin Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir menjelaskan bahwa Al-'A'il dalam ayat tersebut dapat bermakna orang yang tidak memiliki harta. Ia menghubungkannya dengan istilah 'ailah yang berarti kefakiran, sebagaimana dalam firman Allah:

«“Dan jika kamu khawatir menjadi miskin karena orang-orang kafir tidak datang, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya.”
(At-Taubah: 28)»

Menurut Ibnu Asyur, kecukupan yang Allah berikan kepada Rasulullah mencakup dua sisi: kecukupan hati dan kecukupan harta. Kecukupan hati merupakan yang paling besar, karena Allah menjaga hati beliau dari kecintaan berlebihan kepada dunia. Adapun kecukupan harta tampak, antara lain, dalam kehidupan beliau bersama Khadijah dalam perdagangan.

Sementara itu, Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menyebutkan adanya dua pendapat mengenai makna Al-'A'il.

Pendapat pertama—yang dianggap populer—memaknainya sebagai fakir. Adapun pendapat kedua memaknainya sebagai orang yang memiliki banyak tanggungan atau banyak anggota keluarga. Dalam pengertian ini, Allah memberikan kecukupan kepada beliau dalam menghadapi berbagai tanggung jawab tersebut.

Bahkan, ada pula penafsiran yang memahami bahwa umat yang sebelumnya berada dalam keadaan “kekurangan” karena ketidaktahuan memperoleh kecukupan melalui Rasulullah, karena mereka mendapatkan petunjuk melalui perjuangan beliau.

Dengan demikian, sejak awal telah terlihat bahwa kata Al-'A'il memiliki medan makna yang lebih luas daripada sekadar “fakir”.

Kekayaan Makna dalam Bahasa Arab

Hal ini semakin jelas jika kita melihat penjelasan dalam Taj Al-'Arus Syarh Al-Qamus Al-Muhith.

Dalam bahasa Arab, akar kata yang berkaitan dengan 'A'il memiliki sejumlah penggunaan. Di antaranya berkaitan dengan kefakiran, kebutuhan, bertambahnya tanggungan, beratnya urusan, hingga seseorang yang menanggung kebutuhan keluarganya.

Jika seseorang dikatakan memenuhi kebutuhan keluarganya—makanan, minuman, pakaian, dan kebutuhan lainnya—ia disebut 'A'il, yaitu orang yang menanggung dan menopang keluarganya.

Demikian pula, ungkapan katsura 'iyaluh menunjukkan seseorang yang memiliki banyak anggota keluarga atau banyak orang yang menjadi tanggungannya.

Al-Akhfasy bahkan menjelaskan maknanya dengan ungkapan “menemukanmu memiliki keluarga”.

Dari sini kita mulai melihat satu sisi yang menarik.

Seseorang bisa saja tidak berada dalam kondisi fakir, tetapi memiliki beban tanggungan yang besar. Ia memiliki sesuatu, tetapi kebutuhan yang harus dipikul juga besar. Ia tidak kekurangan karena tidak mempunyai apa-apa, melainkan karena banyaknya kebutuhan yang harus ia tanggung.

Dalam konteks inilah makna Al-'A'il menjadi lebih luas dan lebih reflektif.

Rasulullah dan Makna “Bersandar”

Dr. Audatullah Mani' Al-Qais, dalam artikelnya yang dimuat di majalah Hady Al-Islam, memilih pendapat bahwa Al-'A'il lebih dekat kepada makna Al-Muttakil, yaitu seseorang yang bersandar kepada pihak lain.

Pemaknaan ini dikaitkan dengan fase kehidupan Rasulullah saw. ketika beliau masih kecil. Pada masa itu beliau berada dalam pengasuhan kakeknya, kemudian pamannya, Abu Thalib.

Dengan demikian, yang dimaksud bukanlah bahwa Rasulullah adalah seorang pengemis atau orang yang tidak memiliki apa-apa. Beliau berada dalam keadaan membutuhkan pengasuhan dan memiliki pihak yang menjadi tempat bersandar dalam kehidupan beliau.

Ini memberikan perspektif yang menarik.

Tidak setiap orang yang membutuhkan berarti fakir. Tidak setiap orang yang memiliki tanggungan berarti tidak memiliki harta. Dan tidak setiap orang yang memperoleh bantuan berarti berada dalam kehinaan.

Karena itu, menerjemahkan Al-'A'il secara otomatis sebagai “fakir” berpotensi menyempitkan pesan ayat.

Apakah Rasulullah Dapat Disebut Fakir?

Untuk memahami persoalan ini lebih jauh, kita perlu melihat bagaimana Al-Qur'an dan bahasa Arab menggunakan berbagai kosakata yang berkaitan dengan kefakiran dan kebutuhan.

Ada Al-Faqir, yaitu orang yang tidak memiliki kecukupan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

Ada Al-Miskin, orang yang berada dalam kekurangan, tetapi tidak meminta-minta kepada manusia.

Ada Al-Miskin Dza Matrabah, yaitu orang yang berada dalam kondisi kemiskinan yang sangat berat.

Ada Al-Ba'is, orang yang mengalami kemiskinan dan penderitaan.

Ada As-Sa'il, orang yang meminta untuk memenuhi kebutuhannya.

Ada Al-Mu'dam, orang yang tidak memiliki sesuatu karena tidak mampu mendapatkannya.

Ada Al-Qani', orang yang meminta karena mengharapkan pemberian.

Ada Al-Mu'tar, orang yang memperlihatkan kebutuhannya tanpa meminta secara langsung.

Ada Al-Muhtaj, orang yang memiliki kebutuhan dan memerlukan harta atau sesuatu yang sejenis.

Ada Dzu Al-Khullah, orang yang berada dalam kebutuhan.

Ada Al-Mumliq, orang yang takut mengalami kefakiran.

Ada Ash-Sha'luk, orang yang tidak mempunyai harta dan tidak bergantung kepada siapa pun untuk mendapatkannya.

Ada Al-Muqtir, orang yang kehidupannya sempit dan penuh kekurangan.

Dan ada Al-Mu'sir, orang yang mengalami kesulitan, termasuk ketidakmampuan membayar utang.

Kosakata tersebut menunjukkan betapa luasnya medan makna yang berkaitan dengan kefakiran, kekurangan, kebutuhan, dan penderitaan dalam bahasa Arab.

Lalu, apakah seluruh karakter tersebut layak disematkan kepada Rasulullah saw.?

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan merenung.

Apakah Rasulullah dapat digambarkan sebagai seseorang yang tidak memiliki makanan pokok sehingga harus meminta kepada orang lain?

Apakah beliau dapat digambarkan sebagai seorang yang meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?

Apakah beliau meminta zakat atau sedekah, sementara sedekah diharamkan bagi beliau?

Tentu, pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan hati-hati.

Sebab, jika kita menyamakan Al-'A'il dengan seluruh karakteristik kefakiran tersebut, kita telah memasukkan makna yang tidak secara otomatis terkandung dalam ayat.

Al-'A'il dan Keunikan Pilihan Kata Al-Qur'an

Di sinilah kita menemukan pelajaran penting tentang bahasa Al-Qur'an.

Jika Allah bermaksud menyampaikan makna “fakir” secara langsung, tersedia sejumlah kosakata Arab yang memang digunakan untuk menunjukkan kefakiran dan kekurangan.

Namun Allah tidak memilih kata-kata tersebut.

Allah memilih kata:

عَائِلًا — 'A'ilan

Kemudian Allah melanjutkannya dengan:

فَأَغْنَىٰ — Fa Aghna

“Lalu Dia memberikan kecukupan.”

Pemilihan kata ini tidak boleh dilepaskan dari struktur ayat.

Allah tidak mengatakan bahwa Dia mendapati Rasulullah sebagai faqir, kemudian menjadikannya kaya. Allah menggunakan kata 'A'il, lalu menyebutkan Aghna sebagai perubahan keadaan yang Allah berikan.

Dengan demikian, perhatian kita seharusnya tidak berhenti pada terjemahan “kekurangan”, tetapi bergerak lebih dalam kepada pertanyaan: kekurangan dalam pengertian apa?

Banyak Tanggungan, Besarnya Beban

Salah satu kemungkinan makna Al-'A'il adalah seseorang yang memiliki banyak tanggungan sehingga kebutuhan yang harus dipikulnya menjadi besar.

Dalam kehidupan Rasulullah saw., tanggung jawab itu terus berkembang.

Beliau bukan hanya seorang individu yang memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Beliau adalah seorang suami, ayah, pemimpin, pendidik, pembawa risalah, dan pada akhirnya penanggung amanah umat.

Semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula kebutuhan yang harus dipenuhi.

Karena itu, seseorang dapat berada dalam keadaan memiliki harta, tetapi pada saat yang sama mempunyai beban pengeluaran yang besar.

Di sinilah kata Al-'A'il memiliki nuansa yang tidak sama dengan sekadar Al-Faqir.

Ia mengandung dimensi tanggungan, kebutuhan, dan beban yang harus dipikul.

Dan ketika Allah berfirman:

«“Lalu Dia memberikan kecukupan,”»

maka yang menjadi perhatian bukan sekadar perubahan dari “tidak punya” menjadi “punya”, tetapi perubahan dari keadaan membutuhkan menuju keadaan berkecukupan.

“Fa Aghna”: Allah Memberikan Kecukupan

Perhatikan pilihan kata Allah:

فَأَغْنَىٰ — Fa Aghna

“Lalu Dia memberikan kecukupan.”

Kata ini menunjukkan perubahan keadaan.

Allah tidak sekadar menyebut bahwa Rasulullah memperoleh harta. Allah menyebut bahwa Dia memberikan ghina, yaitu kecukupan.

Kecukupan dalam perspektif Al-Qur'an pun tidak semata-mata persoalan jumlah harta. Ia juga berkaitan dengan keadaan hati, kemampuan memenuhi kebutuhan, dan terbebasnya seseorang dari ketergantungan kepada manusia.

Karena itu, penjelasan para ulama mengenai ghina hati dan ghina harta menjadi penting.

Kecukupan yang paling mendasar adalah kecukupan hati. Harta hanyalah salah satu bentuk sarana yang Allah berikan untuk menopang kehidupan dan amanah.

Jangan Menyederhanakan Kehidupan Rasulullah

Dari sini muncul sebuah refleksi yang penting.

Kehidupan Rasulullah saw. tidak tepat jika digambarkan secara sederhana sebagai kehidupan seseorang yang sejak awal selalu berada dalam kondisi fakir dan tidak memiliki kecukupan materi.

Beliau memang mengalami berbagai keadaan dalam perjalanan hidupnya. Beliau pernah berada dalam situasi sulit, mengalami tekanan, bahkan hidup dalam keterbatasan. Namun, keterbatasan pada satu fase kehidupan tidak otomatis berarti bahwa seluruh kehidupan beliau adalah kehidupan seorang fakir.

Sebelum kenabian pun beliau telah dikenal sebagai pedagang yang dipercaya. Beliau bekerja, berdagang, dan memperoleh penghasilan. Kehidupan bersama Khadijah juga menunjukkan adanya aktivitas ekonomi dan pengelolaan harta.

Setelah menjadi Rasul, orientasi hidup beliau memang bukan mengejar kekayaan. Namun, tidak mengejar kekayaan bukan berarti tidak memiliki harta atau tidak memiliki kecukupan.

Di sinilah kita perlu membedakan antara zuhud terhadap dunia dan kemiskinan.

Zuhud adalah sikap hati.

Kemiskinan adalah keadaan ekonomi.

Keduanya tidak selalu identik.

Seseorang dapat memiliki harta tetapi zuhud. Sebaliknya, seseorang dapat tidak memiliki harta tetapi belum tentu zuhud.

Sebuah Pelajaran tentang Cara Membaca Al-Qur'an

Pada akhirnya, pembahasan mengenai satu kata dalam satu ayat ini membawa kita kepada pelajaran yang lebih luas.

Al-Qur'an tidak memilih kata secara sembarangan.

Ketika Allah menggunakan Al-'A'il, kita tidak seharusnya tergesa-gesa menggantinya dengan Al-Faqir seolah-olah keduanya sepenuhnya identik.

Perbedaan pilihan kata dapat mengandung perbedaan sudut pandang.

Al-Faqir menyoroti keadaan kekurangan.

Sementara Al-'A'il dapat menghadirkan dimensi lain: tanggungan, kebutuhan, ketergantungan, atau keadaan seseorang yang memiliki beban yang harus dipikul.

Kemudian Allah memberikan kecukupan.

Seolah-olah ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa ukuran kecukupan tidak selalu dimulai dari seberapa sedikit atau banyak harta yang dimiliki seseorang. Ada kalanya persoalannya terletak pada besarnya amanah dan tanggung jawab yang harus ditanggung.

Maka, ketika Allah menyebut:

«“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan,”»

ayat tersebut tidak semestinya dibaca hanya sebagai kisah tentang kemiskinan Rasulullah yang kemudian berubah menjadi kekayaan.

Lebih dalam daripada itu, ayat tersebut mengingatkan kita tentang Allah yang mengetahui kebutuhan hamba-Nya, mengetahui beban yang dipikulnya, kemudian menyediakan kecukupan sesuai dengan amanah yang diberikan kepadanya.

Karena itu, yang perlu kita lihat bukan hanya berapa banyak harta yang dimiliki seseorang, tetapi juga berapa besar tanggung jawab yang dipikulnya dan bagaimana Allah mencukupkan kebutuhannya.

Inilah salah satu keindahan pilihan kata Al-Qur'an: satu kata dapat membuka pintu perenungan yang jauh lebih luas daripada sekadar terjemahan literalnya.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (70) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (42) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (9) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (321) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (781) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (22) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (253) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)