Kisah Nabi Nuh: Aqidah Islam dalam Pembentukan Umat
Sekarang, marilah kita berhenti sejenak di hadapan kisah Nabi Nuh alaihis-salâm. Bukan sekadar untuk mengenang sebuah peristiwa sejarah, melainkan untuk membaca sebuah rambu jalan yang sangat terang tentang hakikat akidah Islam dan garis pergerakannya.
Mengapa kisah Nuh dan putranya begitu penting?
Karena di sini kita menemukan sebuah pertanyaan mendasar: Apa sebenarnya yang mengikat manusia dalam sebuah umat? Apakah darah? Nasab? Keluarga? Tanah air? Bangsa? Ataukah sesuatu yang lebih tinggi dari semua itu?
Al-Qur'an membawa kita langsung kepada jawabannya.
> “Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.”
(Q.s. Hûd [11]: 36–37)
Kemudian datanglah saat yang telah dijanjikan:
> “Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: ‘Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.’ Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”
(Q.s. Hûd [11]: 40)
Lalu terjadi sebuah adegan yang mengguncang hati.
Bahtera telah berlayar. Gelombang menjulang seperti gunung. Di tengah kedahsyatan banjir itu, Nuh masih memandang seorang anaknya yang berada jauh dari bahtera.
> “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir!”
Namun anak itu menjawab:
> “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah.”
Nuh berkata:
> “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.”
Tetapi gelombang memisahkan keduanya.
Anak itu pun termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
(Q.s. Hûd [11]: 42–43)
Ketika nasab berhadapan dengan akidah
Bayangkanlah keadaan Nuh alaihis-salâm.
Ia seorang nabi. Anak itu adalah anak kandungnya. Ada hubungan darah di antara keduanya. Ada ikatan keluarga. Tetapi apakah hubungan darah itu dengan sendirinya cukup untuk menyelamatkan?
Tidak.
Nuh kemudian berseru kepada Tuhannya:
> “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itu benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.”
Allah menjawab:
> “Hai Nuh, sesungguhnya ia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik.”
(Q.s. Hûd [11]: 45–46)
Di sinilah kita berhenti sejenak.
Bagaimana mungkin seorang anak bukan termasuk keluarga ayahnya, padahal secara biologis ia adalah anaknya?
Jawabannya terletak pada konteks ayat: yang dimaksud bukanlah penyangkalan hubungan nasab, tetapi bahwa ia bukan termasuk keluarga Nuh yang dijanjikan keselamatan karena iman.
Ikatan iman telah terputus.
Maka Allah mengingatkan Nuh agar tidak meminta sesuatu yang tidak diketahuinya hakikatnya.
Inilah rambu jalan yang sangat jelas: Islam tidak meniadakan hubungan darah, tetapi Islam tidak menjadikan hubungan darah sebagai ikatan tertinggi yang menentukan keselamatan dan loyalitas keimanan.
---
Ikatan apakah yang menyatukan umat Islam?
Sesungguhnya ikatan yang menyatukan orang-orang dalam agama ini adalah ikatan yang khas.
Ia bukan sekadar ikatan biologis. Ia bukan pula sekadar ikatan geografis. Ia adalah ikatan akidah.
Maka ikatan Islam bukan semata-mata:
darah dan nasab;
tanah air dan bangsa;
kaum dan marga;
warna kulit dan bahasa;
ras dan suku;
profesi dan status sosial.
Semua ikatan tersebut memiliki tempatnya masing-masing dalam kehidupan manusia. Tetapi semuanya bersifat terbatas dan dapat terputus.
Seorang ayah dapat berbeda keyakinan dengan anaknya.
Seorang saudara dapat berbeda jalan hidup dengan saudaranya.
Seseorang dapat meninggalkan tanah kelahirannya.
Sebuah bangsa dapat berubah.
Sebuah kerajaan dapat runtuh.
Sebuah bahasa dapat berkembang.
Tetapi apakah ikatan akidah juga demikian?
Di sinilah Islam memberikan perspektif yang berbeda.
Yang menyatukan umat bukan semata-mata dari mana seseorang berasal, melainkan kepada siapa ia tunduk dan apa yang ia imani.
---
Rambu yang sama dalam kisah Ibrahim
Al-Qur'an tidak hanya memberikan pelajaran ini melalui kisah Nuh.
Ia juga memperlihatkannya melalui kisah Ibrahim alaihis-salâm.
Ibrahim berhadapan dengan ayahnya sendiri.
Ia berkata:
> “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?”
Ibrahim terus menasihatinya dengan kelembutan:
> “Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”
Namun sang ayah menolak, bahkan mengancam Ibrahim.
Akhirnya Ibrahim berkata:
> “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”
(Q.s. Maryam [19]: 41–50)
Perhatikanlah.
Ibrahim tetap menghormati ayahnya sebagai ayah, tetapi ia tidak mengikuti ayahnya dalam kesyirikan.
Hubungan keluarga tetap ada. Tetapi hubungan akidah tidak boleh dikorbankan demi hubungan keluarga.
---
Bahkan keturunan tidak otomatis menjamin kedudukan di sisi Allah
Hal yang sama tampak dalam kisah Ibrahim dengan keturunannya.
Ketika Allah berfirman:
> “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.”
Ibrahim bertanya:
> “Dan dari keturunanku?”
Allah menjawab:
> “Janji-Ku tidak mengenai orang-orang yang zalim.”
(Q.s. al-Baqarah [2]: 124)
Seolah-olah ada satu prinsip yang terus diulang oleh Al-Qur'an:
Kemuliaan tidak diwariskan secara otomatis melalui darah.
Nabi tidak dapat menjadikan anaknya beriman hanya karena ia seorang nabi.
Orang saleh tidak dapat memberikan kesalehannya kepada anaknya hanya karena hubungan darah.
Keturunan seorang nabi tetap harus memilih jalan kebenaran.
---
Suami dan istri pun tidak otomatis menjadi satu umat
Lalu bagaimana dengan hubungan yang bahkan lebih dekat daripada hubungan nasab?
Suami dan istri.
Al-Qur'an kembali memberikan perumpamaan.
Allah menjadikan istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya hidup di bawah perlindungan dua hamba Allah yang saleh, tetapi keduanya tidak beriman.
> “Lalu kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah.”
(Q.s. at-Tahrîm [66]: 10)
Sebaliknya, Allah menjadikan istri Fir'aun sebagai perumpamaan bagi orang-orang beriman.
Ia hidup di dalam rumah seorang penguasa yang zalim, tetapi hatinya beriman kepada Allah.
> “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya...”
(Q.s. at-Tahrîm [66]: 11)
Lihatlah paradoksnya.
Istri Nuh hidup bersama seorang nabi, tetapi tidak beriman.
Istri Fir'aun hidup bersama seorang tiran, tetapi beriman.
Maka apa yang menentukan kedudukan seseorang di hadapan Allah?
Bukan semata-mata siapa keluarganya, melainkan apa yang ia pilih untuk diyakini dan dijalani.
---
Ketika seseorang harus memilih antara iman dan lingkungan
Al-Qur'an juga memberikan contoh tentang Ibrahim dan orang-orang beriman bersamanya.
Mereka berhadapan dengan kaum, keluarga, negeri, tradisi, dan lingkungan yang mempertahankan kesyirikan.
Mereka menyatakan:
> “Sesungguhnya kami berlepas diri darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah...”
(Q.s. al-Mumtahanah [60]: 4)
Demikian pula kisah para pemuda Ashhabul Kahfi.
Mereka hidup di tengah masyarakat yang menyekutukan Allah. Mereka tidak memiliki kekuatan politik yang besar. Mereka tidak memiliki pasukan. Mereka hanya memiliki iman.
Mereka berkata:
> “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia...”
Ketika lingkungan mereka mengancam akidah mereka, mereka memilih meninggalkan lingkungan tersebut dan berlindung di dalam gua.
(Q.s. al-Kahfi [18]: 9–16)
Bukankah kisah ini kembali mengarahkan kita kepada pertanyaan yang sama?
Apa yang harus kita pertahankan ketika semua ikatan di sekeliling kita menuntut kita untuk mengorbankan iman?
Al-Qur'an memberikan jawabannya melalui kisah-kisah tersebut:
Akidah tidak boleh menjadi korban dari ikatan yang lebih rendah.
---
Ikatan akidah dan kehidupan masyarakat
Dari berbagai kisah tersebut terbentuklah sebuah prinsip tentang masyarakat Islam.
Masyarakat Islam tidak dibangun hanya atas darah.
Tidak dibangun hanya atas tanah.
Tidak dibangun hanya atas ras.
Tidak dibangun hanya atas bahasa.
Tidak dibangun hanya atas kepentingan ekonomi.
Dan tidak dibangun hanya atas status sosial.
Landasan utamanya adalah akidah.
Al-Qur'an menegaskan:
> “Kamu tidak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.”
(Q.s. al-Mujadilah [58]: 22)
Namun prinsip ini jangan dipahami sebagai perintah untuk menghapus kasih sayang keluarga atau hubungan sosial dengan manusia yang berbeda keyakinan. Al-Qur'an sendiri memberikan aturan yang rinci tentang hubungan sosial, keadilan, dan perlakuan terhadap pihak lain.
Yang ditekankan di sini adalah sesuatu yang lebih mendasar:
Jangan sampai loyalitas iman dikalahkan oleh ikatan yang bertentangan dengannya.
---
Akidah: ikatan yang lahir dari pilihan
Mengapa akidah menjadi penting?
Karena akidah berkaitan dengan sesuatu yang sangat khas pada manusia: akal, hati, pilihan, dan kehendak.
Manusia tidak memilih siapa ayahnya.
Ia tidak memilih di mana ia dilahirkan.
Ia tidak memilih warna kulitnya.
Ia tidak memilih suku tempat ia dilahirkan.
Ia tidak memilih bahasa ibunya.
Ia tidak memilih nasabnya.
Semua itu telah ditentukan sebelum ia hadir ke dunia.
Tetapi manusia diberi kemampuan untuk memilih sikap terhadap kebenaran.
Ia diberi akal untuk memahami.
Ia diberi hati untuk meyakini.
Ia diberi kehendak untuk memilih.
Karena itu, akidah memiliki kedudukan yang sangat mendalam dalam pembentukan masyarakat manusia.
Manusia tidak dimuliakan karena darahnya, tetapi karena pilihan moral dan ketundukannya kepada kebenaran.
---
Masyarakat Islam bersifat universal
Jika akidah menjadi dasar persatuan, maka pintu masyarakat tidak dibatasi oleh ras, warna kulit, bahasa, atau bangsa.
Seorang Arab dapat berdiri bersama seorang Persia.
Seorang Romawi dapat berdiri bersama seorang Habasyah.
Seorang dari Timur dapat berdiri bersama seorang dari Barat.
Yang mengikat mereka bukan kesamaan darah.
Bukan pula kesamaan bahasa.
Melainkan kesamaan iman.
Inilah salah satu karakter universal Islam.
Namun justru karena prinsip ini memiliki kekuatan yang besar, ia selalu menghadapi tantangan.
Ketika manusia disatukan oleh akidah, masyarakat menjadi lebih sulit dipecah berdasarkan darah, ras, bahasa, dan wilayah.
Karena itu, sepanjang sejarah, berbagai bentuk fanatisme dapat menjadi alat untuk memecah persatuan manusia:
rasisme, tribalisme, fanatisme kesukuan, chauvinisme, dan berbagai bentuk fanatisme kebangsaan.
Ketika sebuah identitas duniawi diangkat menjadi sesuatu yang dikultuskan, ia dapat berubah menjadi semacam berhala sosial.
Dulu berhala dibuat dari batu.
Hari ini berhala dapat berupa gagasan.
Dulu manusia membungkuk di hadapan patung.
Kini manusia dapat membungkuk di hadapan ideologi, ras, bangsa, kelompok, atau kepentingan ketika semuanya ditempatkan di atas kebenaran dan ketundukan kepada Allah.
---
Berhala tidak selalu berbentuk patung
Di sinilah renungan itu menjadi lebih dalam.
Apakah paganisme hanya berarti menyembah patung?
Tidak selalu.
Paganisme dapat muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus.
Sebuah bangsa dapat dikultuskan.
Sebuah ras dapat dikultuskan.
Sebuah kelompok dapat dikultuskan.
Sebuah ideologi dapat dikultuskan.
Bahkan kepentingan kelompok dapat dikultuskan.
Pertanyaannya bukan sekadar:
“Apakah kita menyembah patung?”
Tetapi:
“Apakah ada sesuatu selain Allah yang kita tempatkan sebagai ukuran tertinggi kebenaran, loyalitas, dan pengabdian?”
Islam datang untuk membebaskan manusia dari seluruh bentuk penghambaan kepada selain Allah.
Bukan sekadar memindahkan manusia dari berhala batu kepada berhala yang lebih modern.
Karena itu, tauhid bukan hanya membebaskan manusia dari banyak tuhan.
Tauhid juga membebaskan manusia dari pengultusan makhluk.
---
Siapakah umat kita?
Ketika Allah menjelaskan umat manusia yang disatukan oleh iman, Dia berfirman:
> “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(Q.s. al-Anbiyâ’ [21]: 92)
Perhatikan baik-baik.
Allah tidak mengatakan:
“Umatmu adalah orang-orang Arab.”
Tidak pula:
“Umatmu adalah orang-orang Persia.”
Bukan pula:
“Umatmu adalah orang-orang Romawi.”
Dan bukan pula:
“Umatmu adalah orang-orang Habasyah.”
Mengapa?
Karena umat Islam melampaui batas-batas geografis dan biologis tersebut.
Di dalamnya ada Arab dan non-Arab.
Ada Persia.
Ada Romawi.
Ada Habasyah.
Ada berbagai bangsa dan bahasa.
Yang menyatukan mereka adalah iman kepada Allah.
Maka Salman al-Farisi tidak menjadi mulia karena darah Persia-nya.
Shuhaib ar-Rumi tidak menjadi mulia karena bangsa Romawi-nya.
Bilal tidak menjadi mulia karena Habasyah-nya.
Mereka menjadi mulia karena iman.
Demikian pula umat Islam tidak ditentukan oleh satu ras, satu bangsa, atau satu wilayah.
Umat adalah ikatan iman yang melampaui batas-batas darah dan tanah.
---
Sebuah pertanyaan untuk kita
Namun di sinilah kita perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:
Jika akidah benar-benar merupakan ikatan utama kita, mengapa kita begitu mudah terpecah oleh ikatan-ikatan yang lebih rendah?
Mengapa perbedaan suku dapat membuat kita saling merendahkan?
Mengapa perbedaan bangsa dapat melahirkan kebencian?
Mengapa perbedaan kelompok dapat mengalahkan persaudaraan iman?
Mengapa kepentingan golongan terkadang lebih kuat daripada kebenaran?
Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia dapat mengganti satu berhala dengan berhala yang lain?
Dahulu ia menyembah batu.
Kemudian ia menyembah ras.
Kemudian bangsa.
Kemudian kelompok.
Kemudian ideologi.
Padahal tauhid mengajarkan satu hal yang sangat sederhana sekaligus sangat berat:
Hanya Allah yang boleh menjadi pusat pengultusan.
Hanya Dia yang menjadi tujuan tertinggi.
Hanya kepada-Nya ketundukan mutlak diberikan.
Dan karena itu, manusia tidak boleh menjadikan makhluk sebagai tandingan dalam pengabdian yang hanya layak diberikan kepada Allah.
---
Penutup: Rambu di persimpangan jalan
Demikianlah salah satu pelajaran besar dari kisah Nuh alaihis-salâm.
Kita mungkin memiliki banyak ikatan:
ikatan keluarga,
ikatan tanah air,
ikatan bangsa,
ikatan bahasa,
ikatan suku,
ikatan profesi,
ikatan sejarah,
dan ikatan kepentingan.
Semua itu memiliki tempatnya.
Tetapi bagi seorang Muslim, ada satu ikatan yang harus berada di atas semuanya:
ikatan akidah.
Karena itulah anak Nuh tidak diselamatkan hanya karena ia anak seorang nabi.
Istri Nuh tidak diselamatkan hanya karena ia istri seorang nabi.
Istri Fir'aun justru dimuliakan meskipun ia hidup di rumah seorang tiran.
Ibrahim tidak mengikuti ayahnya dalam kesyirikan.
Para pemuda Ashhabul Kahfi meninggalkan lingkungan mereka demi mempertahankan iman.
Dan umat para nabi sepanjang sejarah dipersatukan bukan oleh darah, bangsa, atau bahasa, melainkan oleh ketundukan kepada Allah.
Inilah rambu yang sangat terang di persimpangan jalan:
Manusia boleh berbeda dalam darah, tetapi tidak boleh berbeda dalam sumber penghambaan kepada Allah.
Manusia boleh berbeda bangsa, tetapi kebenaran tidak memiliki bangsa.
Manusia boleh berbeda bahasa, tetapi Tuhan mereka satu.
Manusia boleh berbeda tempat kelahiran, tetapi kiblat pengabdian mereka satu.
Dan akhirnya, kita sampai pada satu kesimpulan:
> “Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(Q.s. al-Anbiyâ’ [21]: 92)
Itulah umat yang diperkenalkan Allah kepada kita.
Bukan umat yang dibangun oleh kesamaan darah.
Bukan umat yang dibatasi oleh warna kulit.
Bukan umat yang dikurung oleh batas geografis.
Melainkan umat yang dipersatukan oleh tauhid, iman, dan ketundukan kepada Allah.
Cukup sampai di sini kita merenungkan inspirasi dari kisah Nuh alaihis-salâm tentang salah satu masalah paling mendasar dalam agama ini: siapa yang sesungguhnya menjadi keluarga kita, dan atas ikatan apakah masyarakat kita harus dibangun?
0 komentar: