Dari Tafakkur Menuju Ma‘rifah, dari Ma‘rifah Menuju Perubahan
Ada sebuah gambaran sederhana tetapi sangat dalam.
Seorang petugas yang bertugas memindahkan arah trem tidak perlu mengangkat trem itu, lalu memutarnya secara paksa ke arah yang baru. Ia cukup menggerakkan sebuah tuas kecil pada rel. Perubahan kecil pada titik yang tepat membuat seluruh perjalanan trem berubah arah.
Bukankah demikian pula manusia?
Kita sering ingin mengubah keadaan dengan mengubah sesuatu yang tampak di luar. Kita ingin mengubah keluarga, masyarakat, organisasi, bahkan umat. Kita sibuk memperbaiki struktur, mengganti kebijakan, menyusun program, dan membangun berbagai sarana.
Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih mendasar:
Di manakah sebenarnya arah kehidupan manusia ditentukan?
Jawabannya ada di dalam hati.
Hati adalah pusat arah manusia. Jika hati berubah, cara berpikir berubah. Jika cara berpikir berubah, sikap berubah. Jika sikap berubah, perilaku berubah. Dan ketika perilaku manusia berubah secara kolektif, keadaan masyarakat pun ikut berubah.
Karena itu, Hasan al-Banna menggambarkan ma‘rifah Allah sebagai semacam “tongkat pemindah arah” bagi hati. Ketika pengenalan yang benar kepada Allah menyentuh hati, hati itu dapat berpindah dari satu keadaan menuju keadaan yang lain.
Dari lalai menjadi sadar.
Dari takut kepada makhluk menjadi takut kepada Allah.
Dari lemah menjadi kuat.
Dari cinta dunia secara berlebihan menjadi cinta kepada kebenaran.
Dari hidup tanpa arah menjadi hidup dengan tujuan.
Maka jika kita benar-benar menginginkan perubahan, pertanyaan pertama bukanlah:
“Apa yang harus kita ubah di luar diri kita?”
Tetapi:
“Apa yang harus kita ubah di dalam hati kita?”
---
Ma'rifah Allah: Titik Awal Perubahan
Kita sangat membutuhkan ma‘rifah Allah.
Bukan sekadar mengetahui bahwa Allah itu ada.
Bukan sekadar mampu menyebut nama-nama-Nya.
Bukan pula sekadar memiliki pengetahuan tentang sifat-sifat-Nya.
Ma‘rifah adalah pengenalan yang melahirkan kesadaran.
Kita mengenal Allah sehingga hati merasa diawasi-Nya.
Kita mengenal Allah sehingga nikmat membuat kita bersyukur.
Kita mengenal Allah sehingga musibah tidak membuat kita putus asa.
Kita mengenal Allah sehingga kekuasaan tidak membuat kita sombong.
Kita mengenal Allah sehingga ilmu tidak membuat kita merasa paling tahu.
Lalu dari mana kita memperoleh ma‘rifah itu?
Salah satu jalannya adalah dengan tafakkur: memikirkan ciptaan Allah dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan-Nya di alam semesta.
Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia untuk melihat.
Tetapi melihat dengan apa?
Bukan sekadar dengan mata.
Melihat dengan hati yang hidup.
---
Langit dan Bumi: Kitab Allah yang Terbentang
Allah berfirman:
«إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ»
«“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 190)»
Siapa yang dimaksud?
Allah melanjutkan:
«“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi...”
(QS. Ali ‘Imran: 191)»
Perhatikan hubungan keduanya.
Zikir dan pikir.
Hati mengingat Allah.
Akal memikirkan ciptaan-Nya.
Keduanya bertemu, lalu lahirlah kesadaran:
«“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.”»
Inilah tafakkur yang dikehendaki Al-Qur'an.
Bukan sekadar mengumpulkan informasi.
Bukan sekadar mengagumi keindahan alam.
Tetapi bergerak dari ciptaan menuju Pencipta, dari fenomena menuju makna, dari pengetahuan menuju pengagungan.
Karena itu Allah berfirman:
«“Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.’”
(QS. Yunus: 101)»
Al-Qur'an bahkan mengarahkan pandangan kita kepada sesuatu yang sangat dekat:
«“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?”
(QS. Al-Ghasyiyah: 17)»
Dan lebih dekat lagi:
«“Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Adz-Dzariyat: 21)»
Jadi, medan tafakkur itu tidak terbatas.
Langit dapat menjadi guru.
Bumi dapat menjadi guru.
Tumbuhan dapat menjadi guru.
Hewan dapat menjadi guru.
Air dapat menjadi guru.
Bahkan diri kita sendiri dapat menjadi guru apabila kita mau memperhatikannya.
---
Masalahnya Bukan Kekurangan Tanda
Yang menarik, Al-Qur'an tidak mengatakan bahwa manusia kekurangan tanda-tanda kekuasaan Allah.
Justru tanda-tanda itu terlalu banyak.
Allah berfirman:
«“Dan betapa banyak tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi yang mereka lalui, tetapi mereka berpaling darinya.”
(QS. Yusuf: 105)»
Masalahnya bukan karena Allah tidak menunjukkan tanda.
Masalahnya adalah manusia tidak memperhatikannya.
Bukankah setiap hari kita melihat matahari?
Kita melihat hujan.
Kita melihat tumbuhan tumbuh.
Kita melihat bayi berkembang.
Kita melihat tubuh bekerja tanpa kita perintah satu per satu.
Kita melihat kehidupan muncul dari sesuatu yang sebelumnya tidak tampak hidup.
Namun semua itu dapat berlalu begitu saja tanpa mengubah hati.
Mengapa?
Karena melihat belum tentu memperhatikan.
Mendengar belum tentu memahami.
Mengetahui belum tentu mengenal.
Dan memiliki ilmu belum tentu memiliki ma‘rifah.
Karena itu Al-Qur'an memberikan kritik yang sangat keras kepada manusia yang memiliki hati, mata, dan telinga tetapi tidak menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah.
«“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami; mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar...”
(QS. Al-A'raf: 179)»
Betapa mengerikannya keadaan itu.
Mata ada.
Tetapi tidak melihat.
Telinga ada.
Tetapi tidak mendengar.
Akal ada.
Tetapi tidak mengambil pelajaran.
---
Pada Setiap Sesuatu Ada Tanda
Mari kita mulai dari sesuatu yang sangat besar:
alam semesta.
Bumi yang kita pijak terasa begitu luas.
Tetapi ketika manusia memandang bumi dari perspektif kosmik, ukurannya menjadi sangat kecil dibandingkan luasnya alam semesta.
Kemudian kita memandang matahari.
Lalu planet-planet.
Lalu bintang-bintang.
Lalu galaksi.
Lalu berbagai struktur kosmik yang terus dipelajari manusia.
Semakin jauh pandangan ilmu pengetahuan bergerak, semakin manusia menyadari betapa terbatasnya dirinya.
Jarak antarbintang bahkan tidak lagi nyaman diukur dengan kilometer. Manusia menggunakan tahun cahaya, yaitu jarak yang ditempuh cahaya selama satu tahun.
Dan cahaya bergerak dengan kecepatan sekitar 300.000 kilometer per detik.
Bayangkan.
Dalam satu detik saja, cahaya dapat menempuh jarak yang bagi manusia hampir mustahil dibayangkan.
Lalu kita bertanya:
Seberapa luas sebenarnya alam yang Allah ciptakan?
Al-Qur'an mengarahkan kita untuk merenungkan tempat-tempat beredarnya benda-benda langit:
«“Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui.”
(QS. Al-Waqi'ah: 75–76)»
Ilmu pengetahuan terus membuka sedikit demi sedikit rahasia alam.
Namun setiap penemuan seharusnya tidak membuat manusia semakin sombong.
Justru sebaliknya.
Semakin luas pengetahuan, semakin dalam kesadaran akan keterbatasan diri.
Allah berfirman:
«“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra': 85)»
---
Dari Alam Semesta Menuju Atom
Sekarang mari kita bergerak dari sesuatu yang sangat besar menuju sesuatu yang sangat kecil.
Dari galaksi menuju materi.
Dari ruang kosmik menuju atom.
Manusia mempelajari struktur materi, unsur-unsur, partikel, interaksi, dan berbagai hukum yang mengaturnya.
Semakin dalam penelitian dilakukan, semakin kompleks pula dunia yang ditemukan.
Apa yang dahulu dianggap sederhana ternyata menyimpan lapisan-lapisan struktur yang sangat rumit.
Di sinilah ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati.
Manusia boleh menemukan hukum.
Manusia boleh menyusun teori.
Manusia boleh mengembangkan teknologi.
Tetapi manusia tidak menciptakan hukum-hukum dasar alam itu dari ketiadaan.
Ia menemukan sebagian dari apa yang telah Allah ciptakan.
Maka ilmu pengetahuan seharusnya tidak menjadi alasan untuk meninggalkan Allah.
Sebaliknya, ilmu dapat menjadi jalan untuk semakin mengenali kebesaran-Nya.
---
Sebutir Biji: Laboratorium Kehidupan
Sekarang mari kita tinggalkan langit dan turun ke tanah.
Ambillah sebuah biji.
Kecil.
Ringan.
Tampak sederhana.
Tetapi apakah ia benar-benar sederhana?
Letakkan ia di tanah.
Berikan air.
Kemudian tunggu.
Sesuatu yang tampak mati mulai berubah.
Akar keluar.
Tunas muncul.
Batang tumbuh.
Daun terbentuk.
Kemudian bunga.
Lalu buah.
Dan pada akhirnya muncul kembali biji-biji baru.
Siapa yang mengajarkan biji itu kapan harus tumbuh?
Siapa yang mengatur arah pertumbuhan akarnya?
Siapa yang membuat daun mampu menjalankan fungsinya?
Siapa yang menentukan karakter setiap jenis tanaman?
Al-Qur'an bertanya:
«“Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kami yang menumbuhkannya?”
(QS. Al-Waqi'ah: 63–64)»
Pertanyaan itu mengguncang kesombongan manusia.
Kita menanam.
Tetapi kita tidak menciptakan kehidupan.
Kita menyiram.
Tetapi kita tidak memerintahkan sel untuk membelah.
Kita menyediakan tanah.
Tetapi kita tidak menciptakan mekanisme pertumbuhan.
Kita hanya bekerja di dalam sistem yang telah Allah ciptakan.
---
Airnya sama, Hasilnya Berbeda
Allah memberikan gambaran yang sangat menarik:
«“Di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang. Semuanya disirami dengan air yang sama, tetapi Kami melebihkan sebagian tanaman atas sebagian yang lain dalam rasanya.”
(QS. Ar-Ra'd: 4)»
Airnya bisa sama.
Tanahnya berdekatan.
Namun hasilnya berbeda.
Bentuk berbeda.
Warna berbeda.
Aroma berbeda.
Rasa berbeda.
Waktu tumbuh berbeda.
Karakter berbeda.
Bukankah ini mengundang kita untuk berhenti sejenak?
Bagaimana keragaman kehidupan muncul dari sistem yang begitu teratur?
Semakin kita mempelajari tumbuhan, semakin banyak rahasia yang ditemukan.
Dan setiap penemuan baru seharusnya membawa kita bukan hanya kepada kekaguman terhadap mekanisme alam, tetapi kepada pertanyaan yang lebih mendasar:
Siapa yang menetapkan hukum-hukum yang memungkinkan kehidupan itu berlangsung?
---
Serangga yang Kecil, Sistem yang Besar
Sekarang arahkan pandangan kepada makhluk yang sering kita abaikan.
Serangga.
Kecil sekali.
Bahkan sebagian di antaranya tidak kita perhatikan.
Tetapi di balik tubuh yang kecil itu terdapat struktur biologis, sistem sensorik, mekanisme gerak, metabolisme, reproduksi, dan pola perilaku yang luar biasa kompleks.
Perhatikan lebah.
Ada pembagian kerja.
Ada pola komunikasi.
Ada struktur sosial.
Ada kemampuan membangun sarang.
Ada kemampuan mencari sumber makanan.
Ada mekanisme pertahanan.
Makhluk yang begitu kecil ternyata memiliki dunia yang begitu kompleks.
Maka Allah berfirman:
«“Inilah ciptaan Allah. Maka perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh selain-Nya.”
(QS. Luqman: 11)»
Dan Allah berfirman:
«“Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan kepada setiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.”
(QS. Taha: 50)»
Lalu datang tantangan Al-Qur'an yang sangat kuat:
«“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak akan dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.”
(QS. Al-Hajj: 73)»
Pesannya jelas:
Manusia boleh membuat benda. Tetapi kehidupan adalah wilayah yang jauh lebih dalam daripada sekadar membuat bentuk.
---
Burung: Perjalanan yang Menakjubkan
Lalu lihatlah burung.
Jenisnya sangat beragam.
Bentuknya berbeda.
Ukuran berbeda.
Warna berbeda.
Suara berbeda.
Pola hidup berbeda.
Ada burung yang hidup sendiri.
Ada yang hidup berkelompok.
Ada yang melakukan perjalanan migrasi dalam jarak yang sangat jauh.
Bagaimana mereka mengetahui waktu untuk berpindah?
Bagaimana mereka menemukan arah?
Bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan?
Bagaimana induk merawat anaknya?
Bagaimana telur berkembang hingga menjadi anak burung?
Semakin kita memperhatikan, semakin banyak pertanyaan muncul.
Dan setiap pertanyaan dapat menjadi pintu menuju tafakkur.
Ilmu menjelaskan bagaimana suatu proses berlangsung. Tafakkur mengajak kita bertanya tentang makna di balik keteraturan tersebut.
---
Laut: Dunia yang Belum Selesai Dibaca
Kemudian lihatlah laut.
Permukaannya saja sudah begitu luas.
Namun dunia di bawah permukaannya jauh lebih luas dan kompleks.
Berbagai organisme hidup dalam lingkungan dengan tekanan, suhu, cahaya, dan kondisi kimia yang berbeda.
Sebagian besar dunia laut bahkan masih terus diteliti.
Laut juga memiliki peran besar dalam sistem kehidupan bumi: dalam siklus air, pertukaran energi, iklim, dan berbagai proses ekologis.
Air menguap.
Uap membentuk awan.
Awan bergerak.
Hujan turun.
Air mengalir.
Siklus berlangsung.
Dan kehidupan terus berjalan.
Al-Qur'an mengajak kita memperhatikan hujan dan awan:
«“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara bagian-bagiannya, lalu menjadikannya bertindih-tindih, sehingga kamu melihat hujan keluar dari celah-celahnya...”
(QS. An-Nur: 43)»
Dan tentang air yang kita minum:
«“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?”
(QS. Al-Waqi'ah: 68–69)»
Bukankah air yang setiap hari kita minum sebenarnya adalah nikmat yang sangat besar?
Kita sering tidak menyadarinya karena nikmat itu terlalu dekat.
---
Atmosfer: Selimut Kehidupan
Bumi juga memiliki atmosfer dengan komposisi yang memungkinkan kehidupan berlangsung.
Gas-gas di atmosfer memiliki fungsi masing-masing.
Suhu bumi dipengaruhi oleh berbagai proses yang kompleks.
Energi matahari diterima bumi.
Udara bergerak.
Tekanan berubah.
Awan terbentuk.
Hujan turun.
Angin bergerak.
Semuanya saling berhubungan dalam sistem yang sangat kompleks.
Ilmu pengetahuan terus berusaha memahami proses tersebut.
Tetapi semakin banyak yang ditemukan, semakin kita memahami bahwa kehidupan bukanlah sesuatu yang sederhana.
Kita hidup di dalam sistem yang sangat rumit, sementara sebagian besar dari proses itu berlangsung tanpa kita sadari.
Bukankah itu seharusnya membuat kita bersyukur?
---
Dan Sekarang: Lihatlah Dirimu Sendiri
Setelah melihat langit, bumi, tumbuhan, serangga, burung, laut, dan atmosfer, Al-Qur'an membawa kita kembali kepada sesuatu yang paling dekat:
diri sendiri.
«“Dan pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Adz-Dzariyat: 21)»
Inilah perjalanan tafakkur yang luar biasa.
Kita keluar memandang alam semesta.
Kemudian kita kembali ke dalam diri.
Perhatikan tubuh.
Jantung bekerja.
Paru-paru bernapas.
Darah beredar.
Sistem saraf mengirimkan sinyal.
Pencernaan mengolah makanan.
Ginjal menyaring darah.
Otak mengolah informasi.
Mata menangkap cahaya.
Telinga menangkap gelombang suara.
Kulit merasakan sentuhan.
Dan semua itu berlangsung ketika kita sedang tidur.
Siapa yang mengatur semuanya?
Kita bahkan tidak mampu mengendalikan sebagian besar proses tersebut secara sadar.
Lalu mengapa kita begitu mudah merasa hebat?
---
Keajaiban Janin
Perhatikan pula perkembangan manusia sejak awal kehidupannya.
Sesuatu yang sangat kecil berkembang secara bertahap menjadi manusia dengan organ-organ yang kompleks.
Jantung.
Otak.
Mata.
Telinga.
Tangan.
Kaki.
Sistem saraf.
Dan berbagai sistem biologis lainnya.
Setelah lahir, manusia belajar.
Ia melihat.
Ia mendengar.
Ia mengingat.
Ia berbicara.
Ia berpikir.
Ia mencintai.
Ia membayangkan masa depan.
Dari mana datangnya kemampuan itu?
Otak manusia sendiri masih menjadi salah satu objek penelitian paling kompleks.
Bagaimana ingatan disimpan?
Bagaimana manusia belajar?
Bagaimana kesadaran bekerja?
Bagaimana pikiran membentuk keputusan?
Semakin manusia menyelidiki dirinya sendiri, semakin ia menemukan betapa terbatasnya pengetahuannya.
Maka Al-Qur'an kembali mengingatkan:
«“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS. Al-Isra': 85)»
---
Jangan Berhenti Pada Keajaiban
Namun ada satu hal penting.
Tafakkur tidak boleh berhenti pada kalimat:
“Wah, luar biasa.”
Itu baru kekaguman.
Tafakkur harus membawa kita lebih jauh:
“Siapa yang menciptakan semua ini?”
Kemudian:
“Apa yang dikehendaki Pencipta dari diriku?”
Lalu:
“Bagaimana seharusnya aku hidup setelah mengetahui semua ini?”
Di situlah pengetahuan berubah menjadi ma‘rifah.
Dan ma‘rifah berubah menjadi ibadah.
Ibadah melahirkan akhlak.
Akhlak melahirkan perilaku.
Perilaku manusia membentuk masyarakat.
Maka jalurnya menjadi:
Tafakkur → Ma‘rifah → Iman → Taqwa → Akhlak → Amal → Perubahan.
Inilah mengapa mengenal Allah bukan persoalan intelektual semata.
Ia adalah persoalan transformasi manusia.
---
Ilmu Harus Kembali Kepada Penciptanya
Karena itu, ilmu tidak seharusnya dipisahkan dari Allah.
Wahyu pertama dimulai dengan:
«اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ»
«“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-'Alaq: 1)»
Perhatikan:
Bacalah—dengan nama Tuhanmu.
Artinya, membaca bukan sekadar aktivitas intelektual.
Membaca harus memiliki arah.
Ilmu harus memiliki orientasi.
Pengetahuan harus membawa manusia kepada pengenalan terhadap Pencipta, bukan menjadikannya semakin sombong terhadap Pencipta.
Karena itu, semakin dalam seseorang mempelajari alam, seharusnya semakin dalam pula rasa tunduknya kepada Allah.
Allah berfirman:
«“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar.”
(QS. Fushshilat: 53)»
---
Alam Adalah Ayat yang Terbentang
Al-Qur'an adalah ayat yang terbaca.
Alam semesta adalah ayat yang terlihat.
Keduanya mengajak manusia menuju Allah.
Karena itu, seorang mukmin seharusnya memiliki dua kebiasaan:
membaca wahyu dan membaca alam.
Membaca Al-Qur'an dengan mata dan hati.
Membaca alam dengan ilmu dan iman.
Ketika keduanya bertemu, lahirlah manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sadar kepada siapa kecerdasannya harus dipertanggungjawabkan.
---
Kunci Ma'rifah Ada di Sekitar Kita
Sesungguhnya tanda-tanda Allah tidak jauh.
Ia ada di langit.
Ada di bumi.
Ada dalam air yang kita minum.
Ada dalam makanan yang kita makan.
Ada dalam biji yang tumbuh.
Ada dalam burung yang terbang.
Ada dalam lebah yang bekerja.
Ada dalam laut yang luas.
Ada dalam hujan yang turun.
Ada dalam tubuh kita.
Ada dalam kehidupan kita sendiri.
Allah berfirman:
«“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia...”
(QS. Al-An'am: 59)»
Kita hanya mengetahui sedikit.
Kita hanya melihat sebagian.
Kita hanya memahami sebagian kecil dari keseluruhan ciptaan.
Karena itu, setiap penemuan baru seharusnya tidak menjadikan manusia berkata:
“Sekarang saya telah mengetahui semuanya.”
Sebaliknya:
“Ya Allah, ternyata yang belum aku ketahui jauh lebih banyak daripada yang telah aku ketahui.”
---
Kembali Kepada Hati
Sekarang kita kembali kepada gambaran trem di awal.
Mengapa kita harus merenungkan ciptaan Allah?
Bukan sekadar agar kita menjadi ahli astronomi.
Bukan semata-mata agar kita menjadi ahli biologi.
Bukan hanya agar kita kagum kepada alam.
Tujuan akhirnya adalah hati.
Kita melihat langit agar hati mengenal kebesaran-Nya.
Kita melihat tumbuhan agar hati mengenal kemurahan-Nya.
Kita melihat hewan agar hati mengenal kebijaksanaan-Nya.
Kita melihat air agar hati mengenal rahmat-Nya.
Kita melihat diri sendiri agar hati mengenal kelemahan dan ketergantungan kita kepada-Nya.
Dan ketika hati mengenal Allah, arah kehidupan mulai berubah.
Itulah “tuas” yang mengubah arah manusia.
Bukan perubahan yang dipaksakan dari luar.
Tetapi perubahan yang dimulai dari pusat kesadaran manusia.
---
Jika Hati Berubah, Kehidupan pun Berubah
Maka pertanyaan terakhirnya adalah:
Apakah kita sudah benar-benar mengenal Allah?
Bukan sekadar mengetahui nama-Nya.
Bukan sekadar mengetahui sifat-Nya.
Tetapi apakah pengenalan itu sudah mengubah cara kita hidup?
Ketika melihat nikmat, apakah kita bersyukur?
Ketika melihat kesulitan, apakah kita bersabar?
Ketika memiliki kekuasaan, apakah kita adil?
Ketika memiliki ilmu, apakah kita rendah hati?
Ketika melihat keindahan ciptaan-Nya, apakah hati kita semakin tunduk?
Jika belum, mungkin kita masih membutuhkan lebih banyak tafakkur.
Sebab kita tidak kekurangan tanda-tanda Allah.
Kita hanya sering kekurangan hati yang mau membacanya.
Maka mari belajar melihat kembali.
Lihat langit.
Lihat bumi.
Lihat air.
Lihat tumbuhan.
Lihat hewan.
Lihat diri sendiri.
Kemudian tanyakan kepada hati:
“Siapa yang menciptakan semua ini?”
Dari pertanyaan itulah perjalanan ma‘rifah dimulai.
Dan semakin kita mengenal Allah, semakin besar pula kedudukan-Nya di dalam hati.
Namun pada akhirnya, kita harus menyadari keterbatasan kita:
kita tidak akan mampu mengenal Allah dengan seluruh hakikat-Nya.
Dia lebih agung daripada seluruh gambaran yang mampu kita bayangkan.
Dia lebih tinggi daripada seluruh pengetahuan yang mampu kita capai.
Maha Suci Allah yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Maka tujuan tafakkur bukanlah membuat kita merasa telah memahami Allah sepenuhnya.
Sebaliknya, tafakkur membuat kita sadar:
betapa sedikit yang kita ketahui, betapa besar ciptaan-Nya, dan betapa agung Penciptanya.
Dan ketika kesadaran itu benar-benar menyentuh hati, arah kehidupan pun berubah.
Hati berubah.
Manusia berubah.
Dan dari manusia-manusia yang berubah itulah perubahan umat dapat dimulai.
0 komentar: