basmalah Pictures, Images and Photos
Kedatangan Islam di Nusantara dari Bukti Arkeologi - Our Islamic Story

Kedatangan Islam di Nusantara dari Bukti Arkeologi  Membicarakan ked...

Kedatangan Islam di Nusantara dari Bukti Arkeologi

Kedatangan Islam di Nusantara dari Bukti Arkeologi 



Membicarakan kedatangan Islam ke Nusantara berarti memasuki wilayah sejarah yang penuh jejak, tetapi sekaligus penuh celah. Data historis dan arkeologis yang tersedia masih terbatas, tidak lengkap, bahkan kadang-kadang membuka ruang bagi penafsiran yang berbeda.

Lalu, bagaimana kita harus membaca sejarah ketika sebagian besar rekamannya telah hilang?

Di sinilah pernyataan Louis Gottschalk menjadi penting. Menurutnya, sejarah sebagai ilmu selalu dibatasi oleh keterbatasan rekaman. Objek yang dipelajari tidak pernah hadir secara utuh karena sebagian rekaman telah hilang, berubah, atau tidak pernah dicatat sama sekali (Louis Gottschalk, 1975: 29–30).

David Hackett Fischer juga mengingatkan bahwa sejarawan pada dasarnya hanya dapat berharap mengetahui sesuatu tentang sesuatu. Setiap pernyataan historis yang benar merupakan jawaban atas pertanyaan tertentu yang diajukan sejarawan, bukan jawaban atas seluruh pertanyaan tentang segala sesuatu (David Hackett Fischer, 1970: 5).

Karena itu, pertanyaan kita bukan semata-mata: “Kapan Islam datang ke Nusantara?”

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Bagaimana proses Islamisasi itu berlangsung?”

Sebab kedatangan Islam dan Islamisasi bukanlah dua hal yang identik. Kedatangan dapat menunjuk pada hadirnya individu atau kelompok Muslim di suatu wilayah. Islamisasi, sebaliknya, merupakan proses yang jauh lebih panjang: terbentuknya komunitas Muslim, berkembangnya jaringan perdagangan, munculnya ulama dan mubalig, penerimaan Islam oleh elite politik, berdirinya kerajaan Islam, serta perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara bertahap.

Dengan perspektif ini, tanggal kedatangan Islam bukan lagi satu-satunya persoalan. Yang jauh lebih menarik adalah bagaimana sebuah agama yang mula-mula hadir melalui hubungan antarmanusia kemudian berkembang menjadi kekuatan sosial, intelektual, ekonomi, dan politik di dunia Melayu-Nusantara.

Dua Arus Besar Teori Kedatangan Islam

Tidak ada kesepakatan di antara para sejarawan mengenai kapan sebenarnya Islam mulai datang dan menyebar di dunia Melayu.

Secara garis besar, teori-teori tersebut dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori.

Kelompok pertama berpendapat bahwa Islam telah hadir sejak abad pertama Hijriah atau sekitar abad ke-7 M. Teori ini dikemukakan antara lain oleh W.P. Groeneveldt, T.W. Arnold, Syed Naguib al-Attas, George Fadlo Hourani, J.C. van Leur, Hamka, Uka Tjandrasasmita, dan sejumlah sejarawan lainnya.

Kelompok kedua berpendapat bahwa kedatangan Islam baru dimulai sekitar abad ke-13 M. Pandangan ini dikaitkan dengan C. Snouck Hurgronje, J.P. Moquette, R.A. Kern, Haji Agus Salim, dan lainnya.

Perbedaan tersebut sebenarnya mengajarkan sesuatu yang penting: sejarah bukan hanya persoalan menemukan tanggal, tetapi juga persoalan menilai bukti.

Jejak Abad ke-7 dan ke-8 M

Teori pertama antara lain bertumpu pada catatan Tiongkok dari Dinasti Tang. Salah satu catatan menyebutkan adanya orang-orang Ta-shih yang membatalkan niat menyerang Kerajaan Ho-ling di bawah pemerintahan Ratu Sima pada sekitar 674 M (Groeneveldt, 1960: 14; George Fadlo Hourani, 1951: 62).

Groeneveldt mengidentifikasi Ta-shih sebagai orang-orang Arab yang menetap di pantai barat Sumatera (Groeneveldt, 1960: 14). Istilah tersebut juga muncul dalam catatan yang lebih kemudian, termasuk catatan Jepang mengenai perjalanan biarawan Kanshin pada 748 M. Ia menyebut Ta-shih-Kuo dan perahu-perahu Po-sse di Khanfu atau Kanton.

Rita Rose Di Meglio berpendapat bahwa Po-sse mungkin berkaitan dengan kelompok keturunan Melayu, sedangkan Ta-shih menunjuk kepada orang Arab dan Persia. Pada masa abad ke-7 dan ke-8 M, menurutnya, belum terdapat bukti kuat mengenai keberadaan kelompok Muslim lain, seperti Muslim India, di kawasan tersebut (Rita Rose Di Meglio, 1970: 108, 109, 115).

Tetapi di manakah sebenarnya Ta-shih itu?

Di sinilah persoalan menjadi menarik. Lokasinya masih diperdebatkan. Groeneveldt menghubungkannya dengan pantai barat Sumatera, sementara Syed Naguib al-Attas dan Uka Tjandrasasmita pernah mengemukakan kemungkinan lokasi lain, seperti Palembang atau Kuala Brang di Semenanjung Malaya.

Perbedaan lokasi ini tidak serta-merta membatalkan seluruh teori. Justru ia menunjukkan bahwa kita perlu berhati-hati dalam menarik kesimpulan dari sumber-sumber lama.

Yang paling aman untuk dikatakan adalah bahwa pada abad ke-7 dan ke-8 M terdapat kemungkinan kuat adanya kontak antara pedagang atau komunitas Muslim—baik Arab maupun Persia, dan mungkin juga kelompok lainnya—dengan wilayah-wilayah di sekitar Selat Malaka.

Jika demikian, mungkinkah Islam telah hadir sebelum munculnya kerajaan Islam?

Sangat mungkin.

Dan di sinilah kita perlu membedakan antara kehadiran Islam dan berdirinya kekuasaan Islam.

Sebuah komunitas Muslim tidak harus menunggu berdirinya kerajaan Islam untuk hadir. Pedagang dapat datang lebih dahulu. Mereka dapat menetap. Mereka menikah dengan penduduk setempat. Mereka membangun komunitas. Mereka berinteraksi dengan masyarakat lokal. Dari hubungan sosial semacam itulah proses Islamisasi dapat berlangsung perlahan.

Perdagangan: Jalan yang Menghubungkan Dunia

Mengapa Islam dapat hadir begitu awal di kawasan Nusantara?

Salah satu jawabannya terletak pada perdagangan laut.

Hubungan dagang antara Asia Barat, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Asia Timur berkembang pesat seiring menguatnya tiga kekuatan besar: Kekhalifahan Umayah di Asia Barat, Dinasti Tang di Asia Timur, dan Sriwijaya di Asia Tenggara (George Fadlo Hourani, 1951: 62; Uka Tjandrasasmita, 1976: 84).

Bayangkan jalur perdagangan tersebut.

Dari Arabia dan Persia, kapal bergerak menuju India. Dari India mereka melanjutkan perjalanan menuju Semenanjung Malaya dan Sumatera. Sebagian bergerak ke Jawa, Champa, dan kemudian menuju Tiongkok.

Jalur perdagangan bukan sekadar jalur barang.

Ia juga menjadi jalur manusia.

Dan ketika manusia bergerak, yang ikut bergerak bukan hanya komoditas, tetapi juga bahasa, pengetahuan, budaya, keyakinan, dan jaringan sosial.

Dengan demikian, laut yang tampak sebagai pemisah justru menjadi jembatan peradaban.

Dari Pelabuhan ke Komunitas Muslim

Ibnu Khurdadhbih dalam Kitab Akhbar menyebut Kalah Bar, yang mungkin merujuk kepada Kedah, sebagai salah satu pelabuhan yang dikunjungi pedagang Muslim dalam perjalanan menuju Tiongkok pada abad ke-9 M.

Menurut Wolters, Ligor dan Kedah telah digunakan pedagang Arab sebagai pusat perdagangan (John K. Whitmore, 1977: 139–153; O.W. Wolters, 1970).

Rute tersebut kemudian menghubungkan Kedah dengan Sumatera, Jawa, Champa, Indocina, hingga Kanton.

Khurdadhbih bahkan menggambarkan perjalanan laut tersebut secara cukup rinci. Dari Masqat menuju Kulam Mali membutuhkan sekitar 29–30 hari. Dari Kulam menuju Kalah Bar sekitar satu bulan. Dari Kalah Bar menuju Sanf Fulaw satu bulan lagi, kemudian dari Sanf Fulaw menuju Khanfu atau Kanton sekitar satu bulan. Keseluruhan perjalanan, termasuk transit, dapat mencapai sekitar 120 hari (George Fadlo Hourani, 1951: 71–74).

Apa yang dapat kita lihat dari informasi tersebut?

Bahwa Nusantara tidak berdiri di pinggir dunia.

Ia justru berada di salah satu simpul jaringan perdagangan internasional.

Dan jika pedagang Muslim secara rutin melewati jalur tersebut, maka kontak dengan masyarakat lokal hampir tidak mungkin dihindari.

Barus: Jejak yang Mengubah Perspektif

Salah satu temuan yang penting adalah batu nisan di Barus, pantai barat Sumatera.

Pada tahun 1978, peneliti Pusat Riset Arkeologi Nasional menemukan sejumlah batu nisan di situs Tuanku Batu Badan. Salah satu yang paling menarik adalah batu nisan seorang perempuan bernama Tuhar Amsuri yang meninggal pada 19 Safar 602 H.

Temuan tersebut sebenarnya telah dilaporkan lebih dahulu oleh D.W.N. de Boer dan J.L. Plas kepada Museum Batavia pada 1929, meskipun pembacaan mereka terhadap inskripsi tersebut berbeda.

Jika pembacaan 602 H tersebut benar, maka makam itu bertanggal sekitar 1205 M. Ia lebih tua daripada makam Sultan Malik as-Salih yang bertanggal 696 H atau 1297 M.

Apa artinya?

Setidaknya, temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Muslim telah hadir di Barus sebelum berdirinya Samudera Pasai.

Dengan demikian, Samudera Pasai tidak harus dipahami sebagai tempat pertama Islam hadir di Sumatera. Ia lebih tepat dipahami sebagai salah satu titik penting ketika komunitas Muslim yang sebelumnya telah berkembang kemudian memperoleh bentuk politik kerajaan.

Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.

Islamisasi tidak dimulai ketika kerajaan Islam berdiri. Kerajaan Islam justru dapat menjadi salah satu hasil dari proses Islamisasi yang telah berlangsung sebelumnya.

Jawa dan Batu Nisan Leran

Jejak yang serupa ditemukan di pantai utara Jawa.

Di Leran, Gresik, ditemukan batu nisan bertuliskan nama Fatimah binti Maimun bin Abdullah. Batu tersebut menggunakan aksara kufi dan mencantumkan tahun wafat yang dibaca sebagai 495 H atau 1102 M. Namun terdapat pembacaan lain yang mengusulkan tahun 475 H atau 1082 M (J.P. Moquette, 1921: 391–399; Paul Ravaisse, 1925: 668–703).

Apa pun perbedaan pembacaan tersebut, batu nisan ini merupakan bukti arkeologis yang sangat penting.

Ia menunjukkan bahwa pada sekitar abad ke-11 M telah terdapat komunitas Muslim di pantai utara Jawa.

Bukankah ini menarik?

Sebelum Islam menjadi kekuatan politik besar di Jawa, jejak masyarakat Muslim ternyata telah muncul terlebih dahulu.

Islam datang sebagai komunitas sebelum tampil sebagai kekuasaan.

Samudera Pasai dan Perubahan Peta Politik

Jika Islam telah hadir lebih awal, mengapa Samudera Pasai baru muncul sebagai kerajaan Muslim pada abad ke-13?

Di sinilah faktor politik dan ekonomi mulai memainkan peran penting.

Samudera Pasai berada di kawasan yang sangat strategis, dekat jalur perdagangan Selat Malaka. Pada saat yang sama, Sriwijaya mulai mengalami kelemahan sejak abad ke-12 dan ke-13.

Catatan Ling-Wai-Tai-Ta yang ditulis Chou-Chu-Fei pada 1178 M memberikan gambaran mengenai kondisi kawasan tersebut.

Tekanan politik juga meningkat, terutama dari Jawa. Singasari mengirimkan Ekspedisi Pamalayu pada 1275 ke Sumatera.

Ketika Sriwijaya melemah, kemampuan kerajaan tersebut untuk mengendalikan jalur perdagangan internasional di sekitar Selat Malaka ikut melemah.

Dalam kondisi seperti itu, muncul ruang baru.

Dan sejarah sering kali menunjukkan bahwa ketika sebuah pusat kekuasaan melemah, pusat baru dapat tumbuh di tempat yang memiliki posisi strategis.

Samudera Pasai muncul dalam konteks semacam itu.

Karena itu, berdirinya Samudera Pasai tidak seharusnya dibaca semata-mata sebagai “awal Islam” di Sumatera. Ia lebih tepat dipahami sebagai fase baru dalam proses Islamisasi, ketika jaringan perdagangan dan komunitas Muslim mulai bertransformasi menjadi kekuatan politik.

Dari Samudera Pasai ke Malaka

Peran Samudera Pasai kemudian semakin luas.

Hubungan perdagangan membuat pengaruh Islam bergerak dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Jalurnya tidak selalu berupa penaklukan. Sering kali ia bergerak melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, dakwah, dan hubungan politik.

Malaka menjadi contoh penting.

Parameswara, menurut Tome Pires, memeluk Islam setelah menikah dengan putri Pasai dan kemudian menggunakan gelar Sultan Megat Iskandar Shah sekitar 1413 M.

Sejak itu Malaka berkembang menjadi pusat kerajaan Islam sekaligus pusat penyebaran Islam ke berbagai wilayah dunia Melayu, terutama pada masa Sultan Muzaffar Shah dan Sultan Mansur Shah.

Hubungan Samudera Pasai dan Malaka dapat dilihat pula melalui kemiripan tipologi batu nisan dan penggunaan koin emas atau dirham.

Apa yang sebenarnya sedang kita lihat?

Bukan sekadar perpindahan agama.

Kita sedang melihat terbentuknya jaringan peradaban Islam.

Samudera Pasai, Malaka, Jawa, Patani, Semenanjung Malaya, hingga wilayah lainnya terhubung oleh jaringan perdagangan dan keilmuan yang memungkinkan gagasan Islam bergerak melampaui batas kerajaan.

Patani: Islam Bergerak Melalui Jaringan

Hikayat Patani menyebut seorang tokoh dari Pasai bernama Syekh Said sebagai salah satu pelopor Islamisasi Patani.

Menurut riwayat tersebut, Raja Patani, Paya Tu Nagpu, disembuhkan oleh Syekh Said dan kemudian memeluk Islam dengan nama Sultan Ismail Shah Zillullah Filalam.

Pada masa Sultan Muzaffar Shah, datang pula seorang mubalig bernama Syekh Saifuddin yang mendirikan masjid dan memperkuat kehidupan masyarakat Muslim di Patani (A. Teeuw & D.K. Wyatt, 1970: 71–78).

Data arkeologis mengenai makam-makam kuno di Patani juga memperlihatkan adanya jaringan tokoh Muslim yang kemudian dikenang dalam tradisi lokal.

Dengan demikian, Samudera Pasai tampaknya bukan hanya sebuah kerajaan.

Ia merupakan salah satu simpul jaringan Islamisasi.

Dari simpul-simpul semacam inilah Islam bergerak ke wilayah lain.

Trengganu: Ketika Islam Menjadi Bahasa Hukum

Jejak lain yang sangat penting adalah Batu Bersurat Trengganu.

Prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu menggunakan aksara Jawi dan bertanggal 702 H atau sekitar 1303 M.

Ia penting bukan hanya karena usianya, tetapi karena isi dan bentuknya menunjukkan bahwa Islam telah mulai memasuki ruang sosial dan hukum masyarakat Melayu.

Di sinilah kita melihat perubahan penting.

Islam tidak lagi hanya hadir sebagai keyakinan pribadi para pedagang.

Ia mulai tampil sebagai bahasa hukum, norma sosial, dan identitas politik.

Perubahan semacam inilah yang menjadi salah satu indikator penting dalam proses Islamisasi.

Brunei: Apakah Islam Baru Datang pada Abad ke-16?

Brunei memberikan persoalan yang tidak kalah menarik.

Teori lama menghubungkan Islamisasi Brunei dengan India, Sumatera Utara, dan Malaka sejak awal abad ke-16. Barbara Watson dan Leonard Y. Andaya bahkan berpendapat bahwa Brunei mengalami persinggungan dengan pedagang Muslim sejak lama, tetapi penguasa Brunei baru mengadopsi Islam sekitar 1514–1521.

Namun, apakah benar demikian?

Data historis dan arkeologis memberikan kemungkinan yang lebih tua.

Tradisi Selasilah atau Tersilah Brunei menyebut Alak ber Tata atau Aluk Batatar sebagai penguasa awal Brunei yang kemudian dikenal sebagai Sultan Muhammad.

Tradisi lain menghubungkannya dengan Johor dan Malaka pada abad ke-15.

Yang lebih menarik adalah bukti arkeologis berupa batu nisan Sultan Abdul Majid bin Muhammad Shah al-Sultan yang bertanggal 440 H atau sekitar 1048 M di Bandar Seri Begawan.

Jika pembacaan dan identifikasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan, maka ia membuka pertanyaan besar:

Mungkinkah komunitas Muslim telah hadir di Brunei jauh sebelum Islam menjadi agama resmi kerajaan?

Pertanyaan itu tentu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Tetapi justru di sinilah arkeologi memainkan peran penting: ia memaksa kita untuk menguji kembali narasi sejarah yang telah lama dianggap mapan.

Sulu dan Filipina Selatan

Jaringan Islamisasi juga bergerak menuju Sulu, Mindanao, Maguindanao, dan Buayan.

Tradisi lokal menyebut tokoh-tokoh seperti Sayid Abu Bakar dan Syarif Muhammad Kabungsuwan sebagai pelopor Islamisasi di kawasan tersebut.

Dalam Tarsilah Sultan-Sultan Sulu yang diterbitkan Saluby pada 1907, disebutkan rangkaian penguasa Sulu mulai dari Abu Bakar atau Sultan Syarif hingga Muhammad Alimuddin II.

Cesar Adib Majul menggunakan Tarsilah tersebut untuk merekonstruksi sejarah awal Islam di Filipina Selatan.

Tradisi tersebut juga menyebut Karim al-Makhdum, yang diperkirakan tiba di Sulu sekitar akhir abad ke-14 M. Batu nisan di Bud Dato dekat Jolo yang bertanggal 710 H atau 1310 M juga menjadi salah satu bukti arkeologis yang menarik untuk dikaji dalam konteks ini.

Kemudian muncul kelompok yang dikenal sebagai Makhdum, yang dalam beberapa riwayat dikaitkan dengan para sufi dan pendakwah yang bergerak dari Iran dan India menuju Asia Tenggara setelah kehancuran Baghdad oleh Mongol pada 1258 M (Cesar Adib Majul, 1987: 22).

Sekali lagi, kita melihat pola yang sama.

Islam bergerak melalui jaringan manusia.

Pedagang, ulama, sufi, penguasa, keluarga, dan komunitas diaspora menjadi bagian dari proses tersebut.

Islamisasi: Bukan Sebuah Peristiwa Tunggal

Jika seluruh jejak tersebut kita susun kembali, kita menemukan sebuah pola yang lebih kompleks daripada sekadar pertanyaan “Islam datang pada abad berapa?”

Islamisasi Nusantara tampaknya merupakan proses yang panjang, bertahap, dan tidak seragam.

Ada pedagang yang datang lebih dahulu.

Ada komunitas Muslim yang kemudian menetap.

Ada perkawinan dengan penduduk lokal.

Ada ulama dan mubalig yang memperluas dakwah.

Ada pelabuhan yang berubah menjadi pusat perdagangan Muslim.

Ada penguasa yang kemudian memeluk Islam.

Ada kerajaan yang tumbuh dan menjadikan Islam sebagai identitas politik.

Ada pula jaringan antarkerajaan yang membuat Islam semakin luas.

Dengan demikian, kedatangan Islam tidak sama dengan Islamisasi, dan Islamisasi tidak sama dengan berdirinya kerajaan Islam.

Ketiganya merupakan tahapan yang saling berkaitan, tetapi tidak identik.

Barangkali inilah sebabnya perdebatan tentang “teori Arab”, “teori India”, atau “teori lainnya” tidak cukup jika hanya digunakan untuk menentukan satu titik asal.

Islamisasi Nusantara mungkin justru merupakan hasil dari pertemuan berbagai jaringan: Arab, Persia, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok.

Dari Mana Islam Datang?

Pertanyaan ini tetap penting.

Tetapi mungkin kita perlu mengubah cara bertanyanya.

Bukan hanya:

“Dari mana Islam datang ke Nusantara?”

Melainkan:

“Melalui jaringan apa Islam sampai ke Nusantara?”

Bukan hanya:

“Kapan Islam datang?”

Tetapi:

“Kapan kehadiran Muslim berubah menjadi komunitas, lalu menjadi masyarakat, dan akhirnya menjadi kekuatan politik?”

Dan bukan hanya:

“Siapa yang pertama membawa Islam?”

Tetapi:

“Siapa yang membuat Islam bertahan, berkembang, dan berakar di tengah masyarakat Nusantara?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat sejarah Islam Nusantara menjadi jauh lebih hidup.

Sebab Islamisasi bukanlah sebuah kapal yang tiba pada satu hari tertentu lalu seluruh Nusantara tiba-tiba menjadi Muslim.

Ia lebih menyerupai gelombang.

Datang dari berbagai arah.

Berulang kali.

Menyentuh pelabuhan demi pelabuhan.

Membentuk komunitas demi komunitas.

Kemudian perlahan memasuki ruang keluarga, pasar, masjid, istana, hukum, pendidikan, bahasa, dan kebudayaan.

Penutup: Membaca Sejarah dengan Rendah Hati

Pada akhirnya, keterbatasan data sejarah seharusnya tidak membuat kita berhenti meneliti. Sebaliknya, keterbatasan tersebut mengajarkan kita untuk lebih rendah hati dalam menyimpulkan masa lalu.

Kita tidak memiliki seluruh rekaman.

Kita hanya memiliki serpihan.

Batu nisan.

Prasasti.

Catatan perjalanan.

Berita dari Tiongkok.

Catatan pedagang.

Tradisi lokal.

Naskah kerajaan.

Dan jejak-jejak arkeologis yang kadang baru ditemukan berabad-abad kemudian.

Dari serpihan-serpihan itulah sejarah disusun.

Karena itu, kesimpulan tentang kedatangan Islam di Nusantara tidak seharusnya dipaksakan menjadi satu tanggal tunggal.

Yang lebih penting adalah memahami prosesnya.

Islam tampaknya telah hadir melalui jaringan perdagangan internasional sejak berabad-abad sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Islam. Kehadiran itu kemudian berkembang menjadi komunitas Muslim di berbagai pelabuhan. Dari komunitas tersebut lahir pusat-pusat Islam baru, seperti Samudera Pasai. Dari sana jaringan Islam meluas ke Malaka, Patani, Jawa, Brunei, Sulu, dan berbagai wilayah lainnya.

Dengan kata lain, Islamisasi Nusantara bukanlah satu peristiwa, melainkan sebuah proses peradaban.

Ia tidak berjalan dalam satu garis lurus.

Ia bergerak melalui laut, pasar, keluarga, masjid, pesantren, istana, dan jaringan ulama.

Dan mungkin justru di situlah letak keunikan sejarah Islam di Nusantara: sebuah agama yang datang melalui jaringan kosmopolitan, tetapi kemudian tumbuh menjadi bagian dari identitas lokal.

Maka tugas kita bukan sekadar mencari siapa yang paling dahulu datang.

Tugas kita adalah memahami bagaimana sebuah perjumpaan berubah menjadi proses, bagaimana proses berubah menjadi komunitas, bagaimana komunitas berubah menjadi peradaban, dan bagaimana peradaban itu kemudian membentuk wajah Islam Nusantara.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (13) Dakwah (16) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) Ekonomi (5) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (111) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (7) Nusantara (292) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (707) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (319) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)