Jazirah Arab, tempat Al-Qur'an diturunkan dan tempat risalah Islam pertama kali disampaikan, bukanlah wilayah yang kosong dari pengetahuan tentang Allah. Persoalannya justru lebih rumit: mereka mengenal Allah, tetapi pengetahuan itu telah bercampur dengan berbagai bentuk kesyirikan dan penyimpangan.
Dari mana datangnya kerancuan itu?
Sebagiannya dipengaruhi oleh kepercayaan yang datang dari Persia. Sebagiannya lagi bersentuhan dengan Yahudiisme dan Masehiisme dalam bentuk yang telah menyimpang. Di samping itu, terdapat berbagai bentuk keberhalaan yang berkembang dari penyimpangan terhadap agama Ibrahim yang dahulu diwarisi oleh bangsa Arab.
Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar tidak mengenal Tuhan, tetapi mengenal Tuhan dengan konsep yang telah rusak.
Di sinilah Al-Qur'an datang.
Ia tidak sekadar memperkenalkan Allah kepada manusia, tetapi juga membersihkan konsep manusia tentang Allah.
1. Mereka Mengakui Allah, tetapi Menyekutukan-Nya
Salah satu bentuk kerancuan terbesar adalah keyakinan bahwa malaikat merupakan anak-anak perempuan Allah.
Ironisnya, mereka sendiri memandang anak perempuan sebagai sesuatu yang tidak mereka sukai. Namun, ketika berbicara tentang Allah, mereka justru menisbatkan anak-anak perempuan kepada-Nya.
Al-Qur'an membongkar kontradiksi tersebut:
«“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu?”»
Kemudian Allah menegaskan bahwa keyakinan tersebut tidak berdiri di atas ilmu, melainkan hanya dugaan:
«“Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu; mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.”»
(QS. Az-Zukhruf [43]: 15–20)
Pertanyaannya sederhana:
Jika mereka tidak pernah menyaksikan penciptaan malaikat, dari mana mereka memperoleh keyakinan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah?
Jawabannya bukan wahyu.
Bukan ilmu.
Melainkan sangkaan yang diwariskan dan dipertahankan.
---
2. Malaikat Dijadikan Perantara untuk Mendekat kepada Allah
Kesyirikan mereka tidak berhenti pada anggapan bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah. Mereka kemudian menjadikan malaikat sebagai objek penyembahan atau membuat patung-patung yang mereka anggap mewakili malaikat.
Mengapa mereka melakukan itu?
Karena mereka menganggap bahwa malaikat memiliki kedudukan khusus di sisi Allah dan dapat memberikan syafaat bagi mereka.
Mereka merasa bahwa manusia biasa terlalu jauh dari Allah. Karena itu, mereka membutuhkan perantara.
Al-Qur'an mengabadikan alasan mereka:
«“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”»
(QS. Az-Zumar [39]: 3)
Di sinilah letak persoalan tauhid yang sangat mendasar.
Mengapa manusia membutuhkan perantara yang disembah untuk mendekat kepada Allah, padahal Allah sendiri adalah Tuhan yang dekat dan mendengar doa hamba-Nya?
Al-Qur'an menegaskan:
«“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”»
(QS. Az-Zumar [39]: 3)
Maka masalahnya bukan sekadar siapa yang diakui sebagai Tuhan.
Masalahnya adalah kepada siapa ibadah ditujukan dan melalui siapa manusia menggantungkan pengharapan gaibnya.
Mereka juga berkata:
«“Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah.”»
(QS. Yunus [10]: 18)
Al-Qur'an membantah keyakinan tersebut dengan pertanyaan yang sangat tajam:
Apakah mereka hendak memberitahukan kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya di langit dan di bumi?
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
---
3. Ketika Jin Pun Dijadikan Bagian dari Keyakinan Ketuhanan
Kerancuan itu bahkan berkembang menjadi mitos tentang hubungan antara Allah dan jin.
Mereka menyangka terdapat hubungan nasab antara Allah dan jin. Bahkan ada keyakinan bahwa Allah mempunyai pasangan dari golongan jin yang kemudian melahirkan para malaikat.
Karena itu, sebagian mereka juga menyembah jin.
Al-Kalbi dalam Kitabul Ashnam menyebutkan bahwa Bani Malih dari Khuza'ah termasuk kelompok yang menyembah jin.
Al-Qur'an membantah mitos tersebut dengan pertanyaan yang mengguncang:
«“Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan jin, padahal sesungguhnya jin-jin itu mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka).”»
(QS. Ash-Shaffat [37]: 158)
Dengan demikian, kesyirikan bukan hanya memindahkan ibadah dari Allah kepada manusia atau patung.
Ia juga dapat muncul ketika manusia membuat khayalan tentang alam gaib, kemudian menjadikannya sebagai dasar ibadah.
Bukankah ini pelajaran penting?
Semakin sedikit ilmu tentang perkara gaib, semakin besar peluang manusia mengisinya dengan dugaan, mitos, dan khayalan.
Karena itu, tauhid bukan hanya membebaskan manusia dari penyembahan kepada selain Allah. Tauhid juga membebaskan manusia dari khayalan-khayalan tentang Allah dan alam gaib yang tidak memiliki dasar wahyu.
---
4. Ka'bah yang Dibangun untuk Tauhid Dipenuhi Berhala
Penyimpangan itu akhirnya mengambil bentuk yang sangat nyata.
Ka'bah—rumah yang dibangun untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa—dipenuhi oleh berhala.
Diriwayatkan bahwa di dalam Ka'bah terdapat sekitar 360 berhala, di samping berhala-berhala besar yang ditempatkan di berbagai tempat.
Di antara yang paling terkenal adalah Lata, 'Uzza, dan Manat, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:
«“Maka apakah patut kamu (wahai orang-orang musyrik) menganggap Lata, 'Uzza, dan yang ketiga, Manat... sebagai anak perempuan Allah?”»
(QS. An-Najm [53]: 19–21)
Al-Qur'an kemudian membongkar sumber keyakinan tersebut:
«“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk itu.”»
(QS. An-Najm [53]: 23)
Perhatikan ungkapan tersebut:
“Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya.”
Artinya, sebuah keyakinan tidak menjadi benar hanya karena telah diwariskan turun-temurun.
Tradisi bukanlah ukuran kebenaran.
Banyaknya pengikut bukanlah ukuran kebenaran.
Lamanya sebuah keyakinan bertahan bukanlah ukuran kebenaran.
Ukuran kebenaran adalah wahyu dan bukti yang benar.
---
5. Bahkan Batu Pun Bisa Menjadi “Tuhan”
Penyembahan berhala kemudian mengalami kemerosotan yang semakin jauh.
Mereka tidak hanya menyembah patung yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Bahkan batu pun dapat dijadikan objek penyembahan.
Dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Raja' Al-'Utharidi, disebutkan bahwa dahulu mereka menyembah batu. Jika menemukan batu yang dianggap lebih baik, mereka meninggalkan batu sebelumnya dan menggantinya dengan batu yang baru.
Jika tidak menemukan batu, mereka bahkan mengumpulkan tanah, kemudian memerah susu kambing di atasnya dan melakukan tawaf di sekelilingnya.
Al-Kalbi dalam Kitabul Ashnam juga menggambarkan bagaimana seseorang yang berhenti dalam perjalanan dapat memilih sebuah batu untuk dijadikan “tuhan”, sedangkan batu-batu lainnya digunakan sebagai tungku untuk memasak.
Lalu kita bertanya:
Apa sebenarnya yang menjadikan batu pertama layak disembah, sementara batu kedua hanya layak menjadi tungku?
Tidak ada jawaban rasional.
Yang membedakannya hanyalah keyakinan manusia terhadap benda tersebut.
Inilah salah satu bentuk keterpurukan akidah: manusia yang diciptakan mulia justru memberikan kedudukan ketuhanan kepada benda yang tidak mampu memberikan manfaat maupun mudarat.
---
6. Dari Berhala Menuju Penyembahan Bintang
Kesyirikan juga mengambil bentuk lain: penyembahan terhadap benda-benda langit.
Sebagian kelompok Arab mengenal penyembahan terhadap matahari, bulan, dan bintang-bintang.
Disebutkan bahwa sebagian kabilah mengaitkan objek ketuhanan dengan benda langit tertentu, seperti matahari, bulan, Aldebaran, Jupiter, Suhail, dan Mercury.
Al-Qur'an datang mengembalikan pandangan manusia dari benda yang diciptakan kepada Penciptanya:
«“Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakan keduanya.”»
(QS. Fushshilat [41]: 37)
Bukankah matahari memberi cahaya?
Bukankah bulan menerangi malam?
Bukankah bintang menunjukkan arah?
Tetapi apakah sesuatu yang memberikan manfaat atas izin Allah boleh berubah menjadi Tuhan?
Tidak.
Matahari adalah ciptaan.
Bulan adalah ciptaan.
Bintang adalah ciptaan.
Yang layak disembah hanyalah Penciptanya.
Karena itu Al-Qur'an menyebut Allah sebagai Tuhan bintang-bintang:
«“Dan bahwasanya Dia-lah Tuhan (yang memiliki) Bintang Sy'ra.”»
(QS. An-Najm [53]: 49)
Dengan demikian, Al-Qur'an tidak mengajarkan manusia untuk membenci ciptaan Allah. Sebaliknya, manusia diarahkan untuk melihat ciptaan sebagai ayat yang menunjukkan kebesaran Penciptanya, bukan sebagai objek ibadah.
---
7. Ketika Kesyirikan Mengubah Seluruh Tata Kehidupan
Kesyirikan akhirnya tidak lagi hanya menjadi persoalan keyakinan di dalam hati.
Ia melahirkan ritus, aturan, larangan, dan kebiasaan sosial.
Mereka mempersembahkan sebagian hasil pertanian dan ternak kepada tuhan-tuhan palsu. Sebagian ternak mereka haramkan bagi diri sendiri. Sebagiannya hanya boleh dikonsumsi oleh laki-laki dan diharamkan bagi perempuan. Ada pula ternak yang tidak boleh ditunggangi atau disembelih.
Lebih mengerikan lagi, kesyirikan dapat menyeret mereka kepada praktik pengorbanan anak.
Al-Qur'an menggambarkan praktik tersebut dalam QS. Al-An'am [6]: 136–140.
Mereka bahkan membagi hasil pertanian dan ternak:
«“Ini untuk Allah dan ini untuk berhala-berhala kami.”»
Namun pembagian itu tidak adil.
Apa yang diperuntukkan bagi berhala mereka tidak sampai kepada Allah, sedangkan bagian yang mereka nyatakan untuk Allah dapat mereka alihkan kepada berhala.
Al-Qur'an menyebut:
«“Amat buruklah ketetapan mereka itu.”»
Di sinilah kita melihat sesuatu yang sangat penting.
Ketika akidah rusak, kerusakan tidak berhenti di tempat ibadah.
Ia dapat masuk ke dalam:
- aturan makanan,
- hubungan laki-laki dan perempuan,
- pengelolaan harta,
- tradisi keluarga,
- ritual keagamaan,
- bahkan kehidupan dan kematian anak-anak.
Karena itu, tauhid bukan hanya konsep teologis.
Tauhid adalah fondasi kehidupan.
---
8. Mereka Mengenal Allah, tetapi Menolak Hak Allah untuk Mengatur Kehidupan
Inilah bagian yang paling mendasar.
Bangsa Arab bukanlah kaum yang sama sekali tidak mengenal Allah.
Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di antara keduanya.
Lalu di mana masalahnya?
Masalahnya adalah mereka tidak menerima konsekuensi dari pengakuan tersebut.
Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi tidak mau menjadikan Allah satu-satunya yang berhak menentukan halal dan haram.
Mereka mengakui Allah, tetapi tetap memberikan sebagian bentuk ibadah kepada selain-Nya.
Mereka mengakui Allah, tetapi tidak mau tunduk sepenuhnya kepada hukum-Nya.
Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi menolak konsekuensi bahwa seluruh kehidupan harus tunduk kepada-Nya.
Bukankah di sinilah letak perbedaan antara sekadar mengakui Allah dan merealisasikan tauhid?
Tauhid bukan hanya mengatakan:
“Allah adalah Tuhan.”
Tauhid menuntut konsekuensi:
“Karena Allah adalah Tuhan, maka hanya Dia yang berhak disembah, hanya Dia yang menjadi sumber tertinggi ketetapan halal dan haram, dan kepada-Nya seluruh urusan dikembalikan.”
Inilah yang ditolak oleh masyarakat jahiliah.
---
9. “Mengapa Banyak Tuhan Harus Menjadi Satu?”
Penolakan mereka terhadap tauhid direkam Al-Qur'an dengan sangat jelas:
«“Mengapa dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Maha Esa? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu hal yang sangat mengherankan.”»
(QS. Shad [38]: 5)
Perhatikan kalimat itu.
Mereka tidak berkata:
“Kami tidak percaya kepada Allah.”
Mereka justru berkata:
“Mengapa semua tuhan harus menjadi satu?”
Masalah mereka adalah menolak konsekuensi tauhid.
Mereka ingin tetap mempertahankan banyak sesembahan.
Para pemimpin mereka bahkan berkata:
«“Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu.”»
(QS. Shad [38]: 6)
Mengapa mereka mempertahankan banyak tuhan?
Karena tauhid bukan sekadar perubahan istilah.
Tauhid menuntut perubahan otoritas.
Jika Allah satu-satunya Tuhan, maka manusia tidak bebas menjadikan hawa nafsu, tradisi, penguasa, nenek moyang, atau kepentingan kelompok sebagai sumber tertinggi kebenaran.
Karena itu, tauhid memiliki konsekuensi yang sangat besar.
Ia membebaskan manusia dari perbudakan kepada selain Allah.
---
10. Mereka Juga Menolak Hari Kebangkitan
Penolakan mereka tidak berhenti pada tauhid.
Mereka juga menganggap kebangkitan setelah kematian sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
Al-Qur'an menggambarkan ucapan mereka:
«“Apakah dia mengada-adakan kebohongan terhadap Allah ataukah ada padanya penyakit gila?”»
(QS. Saba' [34]: 7)
Mengapa mereka menganggap kebangkitan mustahil?
Karena mereka melihat tubuh manusia yang telah hancur dan tidak dapat membayangkan bagaimana ia akan dikembalikan.
Tetapi bukankah yang menciptakan manusia pertama kali lebih mampu untuk menciptakannya kembali?
Inilah yang hendak diarahkan Al-Qur'an kepada manusia: jangan mengukur kekuasaan Allah dengan keterbatasan imajinasi manusia.
Hari kebangkitan bukan sekadar persoalan kehidupan setelah kematian.
Ia juga menjadi dasar pertanggungjawaban moral.
Jika tidak ada akhirat, mengapa manusia harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya?
Jika tidak ada kebangkitan, apa yang membedakan kezaliman dari keadilan pada akhirnya?
Karena itu, tauhid dan iman kepada akhirat memiliki hubungan yang sangat erat.
Allah adalah satu-satunya Tuhan, dan manusia akan kembali kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan seluruh kehidupannya.
---
Penutup: Dari Kegelapan Menuju Tauhid
Demikianlah kondisi akidah masyarakat Arab ketika Rasulullah ï·º datang membawa risalah.
Mereka bukan manusia tanpa agama.
Mereka justru memiliki banyak agama, ritual, simbol, sesembahan, tradisi, dan keyakinan.
Namun, banyaknya ritual tidak menjamin lurusnya akidah.
Banyaknya sesembahan tidak menunjukkan kedalaman spiritual.
Dan lamanya sebuah tradisi tidak menjadikannya benar.
Mereka mengenal Allah, tetapi menyekutukan-Nya.
Mereka mengakui Allah sebagai Pencipta, tetapi menolak hak-Nya untuk menjadi satu-satunya yang disembah.
Mereka mengenal kehidupan dunia, tetapi menolak kehidupan akhirat.
Mereka memiliki Ka'bah, tetapi memenuhinya dengan berhala.
Mereka mengenal nama Allah, tetapi menggantungkan harapan kepada selain-Nya.
Maka Islam datang bukan sekadar membawa agama baru.
Islam datang untuk mengembalikan manusia kepada agama Ibrahim yang murni:
Allah itu Esa.
Hanya Allah yang disembah.
Tidak ada perantara yang disembah di antara manusia dan Allah.
Tidak ada makhluk yang memiliki kekuasaan gaib secara mandiri.
Halal dan haram adalah hak Allah.
Dan seluruh manusia akan kembali kepada-Nya.
Inilah revolusi terbesar yang dibawa tauhid.
Ia tidak hanya memindahkan manusia dari satu sesembahan kepada sesembahan lain.
Ia membebaskan manusia dari seluruh sesembahan menuju penghambaan hanya kepada Allah.
0 komentar: