Kebangkitan sejumlah kerajaan Muslim di Nusantara sejak abad ke-13 membuka babak baru dalam hubungan antara Nusantara dan Timur Tengah. Hubungan yang sebelumnya lebih banyak bertumpu pada perdagangan perlahan berkembang menjadi hubungan keagamaan, intelektual, kebudayaan, bahkan politik dan militer.
Pertanyaannya kemudian: mengapa perubahan itu terjadi?
Mengapa para pedagang Arab dan Persia yang sebelumnya lebih banyak datang untuk berdagang mulai semakin aktif dalam penyebaran Islam?
Dan mengapa, dalam ingatan sejarah masyarakat Muslim Nusantara, justru sosok Raja Rum—yang kemudian diasosiasikan dengan Dinasti Utsmani—memperoleh tempat yang begitu istimewa?
Jawabannya tidak dapat dilepaskan dari perubahan besar yang berlangsung di Nusantara dan Timur Tengah.
Dari perdagangan menuju jaringan keagamaan
Pada masa-masa awal, para pedagang Arab dan Persia memainkan peranan penting dalam hubungan antara Timur Tengah dan Nusantara. Mereka datang terutama karena kepentingan perdagangan. Namun, menjelang akhir abad ke-12, terjadi perubahan orientasi.
Kemunduran Sriwijaya, terutama sejak akhir abad ke-12, ikut mengubah peta perdagangan Nusantara. Melemahnya kekuasaan Sriwijaya tidak hanya disebabkan oleh persoalan internal, tetapi juga oleh munculnya kekuatan-kekuatan baru di Jawa, termasuk Kediri.
Dalam keadaan ekonomi yang semakin tertekan, Sriwijaya menerapkan kebijakan perdagangan yang semakin monopolistik. Bea terhadap kapal asing meningkat, sementara para pedagang yang mencoba berdagang di pelabuhan lain menghadapi denda dan berbagai bentuk tekanan.
Lalu apa yang terjadi?
Para pedagang Arab dan Persia mulai mencari pelabuhan-pelabuhan alternatif. Mereka tidak lagi terkonsentrasi pada pusat perdagangan lama. Perpindahan jalur perdagangan itu justru memperluas kontak mereka dengan berbagai wilayah Nusantara.
Di sinilah sebuah perubahan penting berlangsung.
Perdagangan tidak berhenti, tetapi jaringan perdagangan mulai berkelindan dengan jaringan agama.
Para pedagang bukan hanya membawa barang. Mereka juga membawa keyakinan, tradisi, bahasa, kisah, dan hubungan sosial yang menghubungkan masyarakat Nusantara dengan dunia Islam yang lebih luas.
Dengan demikian, hubungan dagang perlahan melahirkan hubungan religio-kultural. Dari hubungan religio-kultural berkembang pula hubungan politik.
Bukankah inilah salah satu pola penting dalam sejarah Islam?
Agama tidak selalu menyebar melalui satu jalur tunggal. Ia dapat bergerak melalui pelabuhan, pasar, keluarga, perkawinan, ulama, perjalanan haji, jaringan intelektual, dan hubungan antarkerajaan.
Mengapa "Ruhum" begitu penting?
Namun ada sesuatu yang menarik.
Jika orang Arab dan Persia merupakan kelompok yang jauh lebih sering berinteraksi langsung dengan masyarakat Nusantara pada masa awal, mengapa sebagian masyarakat Muslim Nusantara justru begitu mengagungkan Raja Rum?
Di Minangkabau, misalnya, tradisi lokal menghubungkan Alam Minangkabau dengan konsep Nur Muhammad dan dua wilayah besar lainnya: Benua Ruhum dan Benua Cina.
Benua Ruhum dipahami sebagai wilayah Barat yang memiliki hegemoni politik, sedangkan Benua Cina ditempatkan sebagai kekuatan besar di Timur.
Konsepsi tersebut jelas tidak dapat dibaca semata-mata sebagai catatan sejarah faktual. Ia juga mencerminkan cara masyarakat Muslim Nusantara membangun pandangan dunia mereka.
Dalam tradisi tersebut, penguasa Minangkabau bahkan dikaitkan dengan penguasa Rum. Sebagian kisah menempatkan nenek moyang mereka sebagai keturunan penguasa Rum yang datang untuk menjalankan peran tertentu di Nusantara.
Mengapa hubungan genealogis seperti itu penting?
Karena dalam masyarakat tradisional, silsilah bukan sekadar daftar nama. Ia adalah sumber legitimasi.
Menghubungkan seorang penguasa dengan pusat kekuasaan besar berarti menempatkan kerajaan lokal dalam jaringan dunia yang lebih luas. Seorang raja tidak lagi dipandang sebagai penguasa sebuah wilayah terpencil, tetapi sebagai bagian dari sejarah besar umat manusia dan dunia Islam.
Iskandar Dzû Al-Qarnayn dan imajinasi politik Nusantara
Fenomena yang sama terlihat dalam berbagai historiografi Melayu.
Sosok Iskandar Dzû Al-Qarnayn memperoleh tempat penting dalam Sejarah Melayu dan berbagai hikayat lainnya. Silsilah para penguasa Melayu ditarik hingga kepada tokoh legendaris tersebut.
Mengapa?
Karena sosok Iskandar bukan sekadar tokoh masa lalu. Ia menjadi simbol kekuasaan, keluasan wilayah, dan legitimasi kerajaan.
Demikian pula Nabi Sulaiman, Ratu Bilqis, Nabi Khidir, dan Raja Rum menjadi bagian dari imajinasi politik dan spiritual masyarakat Muslim Nusantara.
Dalam Hikayat Merong Mahawangsa, misalnya, terdapat kisah hubungan Raja Rum dengan Merong Mahawangsa. Kisah tersebut kemudian menghubungkan berbagai dinasti di Kedah, Patani, Perak, dan wilayah lainnya dengan suatu dunia politik yang jauh lebih luas.
Di Gayo bahkan terdapat legenda tentang Pangeran Rum bernama Genali atau Kawe Tepat yang dikisahkan memiliki kelahiran ganda: pertama di Rum dan kemudian di Linge.
Menariknya, kisah tersebut tidak berhenti sebagai cerita asal-usul.
Masyarakat Gayo bahkan memasukkan Rum ke dalam mata rantai transmisi otoritas:
Firman dari Tuhan → Hadis dari Nabi → kata sepakat jumhur dari Rum → sabda dari Aceh.
Apakah kisah-kisah semacam ini dapat dibuktikan secara historis?
Sulit.
Bahkan sebagian besar memang tidak dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah dalam pengertian modern.
Tetapi bukankah justru di situlah nilai pentingnya?
Legenda mungkin tidak selalu mampu menjelaskan apa yang benar-benar terjadi, tetapi sering kali sangat mampu menjelaskan apa yang dipercayai, diharapkan, dan dianggap penting oleh sebuah masyarakat.
Dari Rum ke Utsmani
Istilah Rum sendiri memiliki sejarah panjang.
Sebelum munculnya Dinasti Utsmani, istilah Rum dalam literatur Persia dan Turki digunakan untuk menunjuk Byzantium atau wilayah Romawi. Namun setelah Dinasti Utsmani bangkit dan menaklukkan Konstantinopel pada 1453, makna politik istilah tersebut semakin erat dengan kekuasaan Utsmani.
Di mata dunia Muslim, Utsmani kemudian tampil sebagai salah satu kekuatan politik dan militer terbesar.
Maka sangat masuk akal jika masyarakat Muslim Nusantara pada masa berikutnya mulai mengidentifikasi "Raja Rum" dengan Sultan Utsmani.
Terlebih lagi, pengaruh Utsmani tidak hanya dirasakan melalui berita dari Timur Tengah. Pengaruh itu hadir melalui jaringan perdagangan, pelayaran, jamaah haji, ulama, dan para pedagang yang bergerak melintasi Lautan India.
Dengan kata lain, Rum menjadi simbol sebuah pusat kekuatan Muslim yang jauh, tetapi terasa dekat melalui jaringan umat.
Lautan India: ketika perdagangan dan solidaritas bertemu
Pada awal abad ke-16, pengaruh Utsmani mulai terasa lebih kuat di Lautan India.
Kehadiran angkatan laut Utsmani membawa dampak besar. Selain memperkuat posisi Turki dalam perdagangan, kehadiran tersebut ikut menciptakan kondisi yang relatif lebih aman bagi perjalanan haji.
Ini penting.
Sebab perjalanan haji bukan sekadar perjalanan spiritual. Ia juga merupakan salah satu jaringan komunikasi terbesar dunia Islam.
Seorang Muslim dari Aceh yang pergi ke Makkah tidak hanya bertemu orang Arab. Ia dapat bertemu Muslim dari India, Persia, Afrika, Anatolia, dan berbagai wilayah lainnya.
Mereka bertemu di Makkah.
Mereka berbicara.
Mereka bertukar informasi.
Mereka membawa pulang berita.
Dengan demikian, haji menjadi salah satu jaringan yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Islam global.
Kesaksian Ludovico Varthema pada awal abad ke-16 bahkan memberikan gambaran tentang keberadaan jamaah dari wilayah Nusantara di Makkah.
Maka semakin jelas bahwa Nusantara bukanlah dunia Islam yang terisolasi.
Ia telah menjadi bagian dari jaringan yang jauh lebih luas.
Utsmani, Portugis, dan ancaman terhadap dunia Muslim
Pada saat yang sama, muncul ancaman baru: Portugis.
Kekuatan Portugis semakin agresif memasuki Lautan India dan menguasai sejumlah pelabuhan strategis. Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Pasai juga kemudian menjadi sasaran.
Bagi kerajaan-kerajaan Muslim di Nusantara, persoalannya bukan lagi sekadar perdagangan.
Ini telah menjadi persoalan kekuasaan, jalur perdagangan, dan keamanan umat.
Bagi Utsmani, kehadiran Portugis juga merupakan ancaman terhadap jalur perdagangan dan perjalanan haji.
Karena itu, hubungan antara Nusantara dan Utsmani memperoleh dimensi baru.
Aceh, khususnya, melihat Utsmani sebagai calon sekutu dalam menghadapi Portugis.
Dan Utsmani melihat kawasan Lautan India sebagai bagian penting dari pertarungan geopolitik yang lebih luas.
Maka perdagangan, agama, dan politik bertemu dalam satu arena.
Aceh dan Istanbul: solidaritas yang melintasi lautan
Hubungan paling erat antara kerajaan Muslim Nusantara dan Utsmani kemudian dibangun oleh Kesultanan Aceh.
Sultan 'Ali Mughayat Syah berhasil mengusir Portugis dari Pasai pada 1524. Namun ketika Sultan 'Ala' Al-Din Ri'ayat Syah Al-Qahhar berkuasa, Aceh menyadari bahwa menghadapi Portugis membutuhkan kekuatan yang lebih besar.
Maka Aceh mulai membangun jaringan dengan berbagai kekuatan Muslim.
Pasukan Turki, Gujarat, Abissinia, dan Malabar dilibatkan dalam kekuatan militer Aceh. Kehadiran orang-orang Turki dalam struktur militer Aceh menunjukkan bahwa hubungan tersebut bukan sekadar cerita tentang persaudaraan simbolik.
Ada kerja sama yang nyata.
Ada pertukaran keahlian.
Ada kepentingan strategis.
Dan ada pula solidaritas keagamaan.
Hubungan itu semakin jelas ketika Aceh mengirimkan misi diplomatik ke Istanbul.
Pada 1562, seorang duta Aceh berada di Istanbul untuk meminta bantuan militer Utsmani menghadapi Portugis. Kemudian pada 1565, kembali muncul misi Aceh yang membawa permohonan bantuan kepada Sultan Utsmani.
Dalam suratnya, Sultan Aceh menyebut penguasa Utsmani sebagai khalifah Islam dan menggambarkan penderitaan kaum Muslim akibat aktivitas Portugis.
Mengapa bahasa yang digunakan begitu kuat?
Karena hubungan itu tidak hanya dibangun atas dasar kepentingan politik.
Ada bahasa solidaritas umat di dalamnya.
Aceh tidak sedang berbicara kepada sebuah negara asing biasa. Ia sedang berbicara kepada kekuatan Muslim yang dipandang sebagai salah satu pelindung dunia Islam.
Bantuan Utsmani dan keterbatasan kekuasaan
Namun sejarah tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Sultan Sulayman Al-Qanuni wafat pada 1566 sebelum bantuan besar kepada Aceh dapat diwujudkan sepenuhnya. Sultan Selim II kemudian memberikan dukungan dan memerintahkan ekspedisi menuju Aceh.
Armada Utsmani yang dipersiapkan membawa tentara, ahli senjata api, dan artileri.
Tetapi perjalanan tersebut terganggu oleh pemberontakan di Yaman. Akibatnya, hanya sebagian kekuatan yang akhirnya mencapai Aceh.
Serangan besar terhadap Portugis tidak menghasilkan kemenangan yang diharapkan.
Apakah itu berarti hubungan Aceh-Utsmani gagal?
Tidak sesederhana itu.
Sebab dalam sejarah, sebuah aliansi tidak selalu diukur hanya dari kemenangan terakhirnya.
Hubungan tersebut telah menghasilkan pertukaran pengetahuan militer, teknologi persenjataan, hubungan diplomatik, dan penguatan posisi Aceh dalam dunia Islam.
Bahkan ketika hubungan sempat melemah, para penguasa Aceh berikutnya berusaha menghidupkannya kembali.
Iskandar Muda dan hubungan yang kembali dibangkitkan
Pada masa Sultan Iskandar Muda, hubungan Aceh dengan Utsmani kembali memperoleh perhatian.
Sumber-sumber Aceh menceritakan pengiriman armada menuju Istanbul. Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang, misi tersebut kembali membawa senjata dan sejumlah pakar militer.
Para ahli tersebut kemudian dikaitkan dengan pembangunan benteng dan berbagai fasilitas penting di Aceh.
Di sini terlihat sesuatu yang menarik.
Hubungan internasional bukan hanya soal surat dan hadiah. Ia juga dapat mengubah kemampuan sebuah negara.
Pengetahuan militer berpindah.
Teknologi berpindah.
Pengalaman berpindah.
Dan bersama semua itu, terbentuk pula kesadaran bahwa Aceh bukan kerajaan yang berdiri sendirian.
Ia merupakan bagian dari dunia Islam yang luas.
Dua raja besar di dunia Islam
Bahkan muncul sebuah kisah yang sangat menarik.
Ketika sebuah misi Utsmani datang ke Aceh untuk mendapatkan balsem tradisional guna mengobati Sultan Muhammad III, mereka menyaksikan kebesaran Aceh.
Ketika kembali ke Turki, mereka dikisahkan menyampaikan kekaguman mereka kepada Sultan Rum.
Lalu muncullah ungkapan bahwa terdapat dua raja besar di muka bumi:
di Barat, penguasa Turki; di Timur, penguasa Aceh.
Apakah pernyataan itu benar-benar pernah diucapkan?
Kita harus berhati-hati.
Sumber semacam ini perlu dibaca secara kritis dan tidak langsung diterima sebagai fakta literal.
Namun secara kultural, kisah tersebut sangat menarik.
Mengapa?
Karena ia menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh memandang dirinya sendiri.
Aceh tidak melihat dirinya sebagai kerajaan kecil di ujung dunia.
Ia melihat dirinya sebagai kekuatan besar di Timur yang memiliki kedudukan dalam dunia Islam bersama kekuatan besar di Barat.
Dan di sinilah makna "Benua Ruhum" menjadi semakin jelas.
Nusantara dalam jaringan dunia Islam
Jika seluruh rangkaian ini kita lihat dari kejauhan, tampak sebuah pola besar.
Pada awalnya, hubungan Nusantara dengan Timur Tengah banyak digerakkan oleh perdagangan.
Kemudian perdagangan melahirkan komunitas Muslim.
Komunitas Muslim melahirkan jaringan ulama dan hubungan keagamaan.
Jaringan keagamaan memperkuat hubungan budaya.
Hubungan budaya melahirkan imajinasi tentang asal-usul, silsilah, dan legitimasi kekuasaan.
Kemudian, ketika Portugis muncul sebagai kekuatan kolonial di Lautan India, jaringan tersebut memperoleh dimensi politik dan militer.
Dari sinilah hubungan Nusantara–Timur Tengah berkembang menjadi sebuah jaringan dunia Islam.
Jadi, apakah Islamisasi Nusantara dapat dipahami hanya sebagai kedatangan para pedagang?
Tentu tidak.
Apakah dapat dipahami hanya sebagai kedatangan para ulama?
Juga tidak.
Sejarahnya jauh lebih kompleks.
Ada pedagang.
Ada ulama.
Ada jamaah haji.
Ada kerajaan.
Ada pelaut.
Ada hubungan keluarga.
Ada jaringan intelektual.
Ada diplomasi.
Ada peperangan.
Dan ada pula imajinasi kolektif tentang persaudaraan umat Islam.
Dari pelabuhan ke pusat dunia
Pada akhirnya, kisah hubungan Nusantara dengan Rum mengajarkan sesuatu yang lebih luas.
Sebuah wilayah geografis yang jauh tidak selalu berarti jauh secara peradaban.
Aceh berada ribuan kilometer dari Istanbul.
Minangkabau berada jauh dari Anatolia.
Malaka jauh dari Kairo dan Makkah.
Namun laut justru menjadi jalan yang menghubungkan mereka.
Kapal membawa rempah-rempah.
Pedagang membawa berita.
Jamaah haji membawa pengalaman.
Ulama membawa ilmu.
Diplomat membawa surat.
Tentara membawa teknologi.
Dan semua itu membentuk jaringan yang membuat dunia Islam terasa lebih dekat daripada jarak geografisnya.
Maka ketika masyarakat Nusantara berbicara tentang Raja Rum, mereka sesungguhnya sedang berbicara tentang sesuatu yang lebih besar daripada sebuah kerajaan.
Mereka sedang membayangkan sebuah dunia.
Dunia yang menghubungkan Timur dan Barat.
Dunia yang mempertemukan perdagangan dan agama.
Dunia yang mempertemukan Makkah, Aceh, Malaka, Gujarat, Kairo, Yaman, dan Istanbul.
Dan yang paling penting, dunia yang membuat seorang Muslim di Nusantara merasa bahwa ia bukan bagian dari masyarakat yang berdiri sendirian.
Ia adalah bagian dari umat yang terbentang melampaui batas laut, kerajaan, dan negeri.
Bukankah di situlah salah satu kekuatan terbesar jaringan Islam pada masa itu?
Bukan karena semua wilayah berada di bawah satu pemerintahan.
Melainkan karena mereka merasa terhubung oleh iman, ilmu, perdagangan, perjalanan, dan kepentingan bersama.
Itulah sebabnya kisah Benua Ruhum dan Nusantara bukan sekadar kisah tentang hubungan Aceh dengan Turki Utsmani.
Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah dunia yang luas dibangun—sedikit demi sedikit—oleh manusia yang bergerak melintasi laut, membawa barang, ilmu, keyakinan, harapan, dan cita-cita.
Dan dari perjalanan panjang itulah Nusantara semakin sadar:
bahwa dirinya bukan berada di pinggir dunia Islam, tetapi merupakan salah satu simpul penting di dalamnya.
0 komentar: