Sebagian orang mengatakan, “Jalan untuk membebaskan Palestina adalah persatuan.”
Sebagian yang lain meneriakkan semboyan, “Dengan persatuan kita kembalikan Palestina!” atau, “Tanpa persatuan, kita tidak mungkin mampu menghadapi Israel. Israel memiliki persenjataan lengkap dan bahkan sejak lama telah berhasil mengembangkan senjata nuklir.”
Benarkah demikian?
Tentu, persatuan adalah sesuatu yang harus diupayakan. Bahkan, persatuan merupakan salah satu langkah penting menuju cita-cita yang lebih besar: persatuan umat Islam seluruhnya.
Namun, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana mungkin persatuan itu dibangun jika manhaj dan tujuan yang menjadi landasan setiap negeri berbeda-beda?
Yang satu bergerak ke kanan, yang lain ke kiri. Yang satu menyebut dirinya revolusioner, sementara yang lain dicap reaksioner. Ada yang berhaluan liberal, ada yang sosialis. Ada yang mendekat kepada Blok Barat, sementara yang lain memilih Blok Timur.
Kalau demikian, apa yang sesungguhnya dapat menyatukan mereka?
Apa yang Pernah Menyatukan Bangsa Arab?
Mari kita menengok kembali sejarah.
Dahulu, bangsa Arab hidup dalam keadaan yang terpecah-pecah. Mereka terdiri atas berbagai kabilah yang sering berselisih, bahkan berperang satu sama lain. Tetapi kemudian datang Islam.
Islam mengubah kumpulan kabilah yang tercerai-berai itu menjadi sebuah umat. Dengan ikatan iman, mereka memiliki tujuan yang sama, arah yang sama, dan nilai yang sama.
Lalu, apakah faktor yang dahulu berhasil menyatukan mereka itu tidak mungkin lagi menjadi faktor persatuan pada masa kini?
Jika dahulu Islam mampu menyatukan mereka, mengapa sekarang kita mencari sumber persatuan di luar Islam?
Persatuan memang diperlukan. Tetapi persatuan membutuhkan fondasi. Tanpa fondasi yang sama, persatuan mudah berubah menjadi sekadar koalisi kepentingan yang sewaktu-waktu dapat pecah.
Islam bukanlah sekadar alat politik yang digunakan untuk merebut kekuasaan atau menekan pihak lain. Islam adalah agama yang diturunkan Allah, dengan akidah, nilai, hukum, dan tujuan hidup yang membentuk satu kesatuan.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar: “Bagaimana negara-negara Arab bersatu?”
Pertanyaan yang lebih dalam adalah:
“Di atas dasar apakah mereka akan bersatu?”
Ketika Kepentingan Mengalahkan Persatuan
Tanpa kembali kepada Islam sebagai landasan yang benar, masyarakat akan mudah terpecah mengikuti manhaj dan kepentingan masing-masing.
Itulah yang pernah terlihat dalam dunia Arab: ada negara yang bergabung dengan Blok Barat, ada yang mendekat kepada Blok Timur. Ada yang menyebut dirinya revolusioner, sementara yang lain disebut reaksioner. Ada yang berhaluan kiri dan ada yang berhaluan kanan. Ada yang liberal dan ada yang sosialis.
Bahkan di dalam setiap kubu pun masih muncul kelompok-kelompok yang berbeda sesuai dengan kepentingan dan orientasi mereka.
Lalu, apa yang dapat membebaskan mereka dari lingkaran perpecahan semacam itu?
Jika kepentingan politik menjadi pusat kehidupan, bukankah egoisme akan semakin kuat? Jika hawa nafsu menjadi penguasa, bukankah setiap kelompok akan berusaha membangun kekuasaannya sendiri?
Akhirnya, di setiap penjuru muncul penguasa dan di setiap negeri berdiri pemerintahan yang memiliki kepentingannya sendiri.
Bukankah sejarah Andalusia memberikan pelajaran yang menyakitkan tentang hal ini?
Ada sebuah syair yang menggambarkan keadaan tersebut:
«Yang membuat aku tak bergairah di Andalus
Banyaknya gelar Mu'tashim dan Mu'tadhid.
Gelar raja tak pada tempatnya,
Seperti kucing berlagak harimau.»
Apa yang hendak dikatakan oleh gambaran itu?
Ketika setiap penguasa lebih sibuk mempertahankan gelar, wilayah, dan kekuasaannya sendiri, umat dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar: kesatuan dan peradabannya.
Persatuan dan Palestina
Namun demikian, ada hal yang perlu dibedakan.
Apakah berarti pembebasan Palestina baru mungkin dilakukan setelah seluruh dunia Islam bersatu?
Tidak sesederhana itu.
Persatuan memang sangat penting dan sangat bermanfaat. Tetapi persatuan tidak harus ditempatkan sebagai satu-satunya syarat yang secara mutlak menentukan keberhasilan perjuangan Palestina.
Dalam sejarah, beberapa negara Arab pernah bergabung menghadapi Israel. Akan tetapi, persatuan politik semacam itu ternyata tidak otomatis menghasilkan kekuatan yang efektif.
Mengapa?
Karena persoalannya bukan hanya berapa banyak negara yang bergabung. Persoalannya adalah apa yang menjadi jiwa, orientasi, dan fondasi dari negara-negara tersebut.
Peristiwa perang Arab-Israel pada Juni 1967 memberikan pelajaran penting. Beberapa negara Arab berada dalam satu front menghadapi Israel, tetapi kekuatan yang secara jumlah tampak besar itu tidak mampu menghasilkan kemenangan yang diharapkan.
Maka pertanyaan yang sering diajukan pun menjadi sangat sederhana:
“Bagaimana mungkin bangsa Arab yang jumlahnya puluhan juta dapat dikalahkan oleh Israel yang jumlah penduduknya jauh lebih sedikit?”
Jawaban yang pernah diberikan juga sederhana:
“Karena yang sedikit itu memiliki kekuatan yang terpadu, sedangkan yang banyak itu terpecah-belah.”
Jawaban tersebut memang mengandung kebenaran.
Jumlah bukanlah segala-galanya.
Banyaknya manusia tidak otomatis melahirkan kekuatan. Banyaknya negara tidak otomatis menghasilkan persatuan. Banyaknya senjata tidak otomatis menghasilkan kemenangan.
Yang menentukan adalah kesatuan tujuan, kesatuan arah, kesatuan visi, dan kekuatan yang terorganisasi.
Bahkan, secara teoritis, persatuan beberapa negara merdeka saja sudah dapat mengubah keseimbangan kekuatan. Satu negara besar dengan sumber daya manusia, ekonomi, dan militernya pun memiliki potensi besar untuk memberikan tekanan yang sangat kuat.
Karena itu, persoalan sebenarnya bukan sekadar:
“Berapa banyak jumlah kita?”
Tetapi:
“Untuk apa jumlah yang besar itu digerakkan?”
“Apa yang menyatukan mereka?”
“Apa tujuan yang mereka perjuangkan?”
Dan yang paling mendasar:
“Di atas nilai dan keyakinan apakah persatuan itu dibangun?”
Jika persatuan hanya dibangun di atas kepentingan politik sementara, ia dapat pecah ketika kepentingan berubah.
Tetapi jika persatuan dibangun di atas akidah, nilai, tujuan, dan kesadaran sebagai umat, maka persatuan tidak lagi sekadar kesepakatan antarpemerintah.
Ia menjadi persatuan umat.
Di situlah persoalan Palestina harus dilihat secara lebih mendalam: bukan hanya sebagai persoalan jumlah negara, jumlah tentara, atau kelengkapan senjata, tetapi juga sebagai persoalan identitas, tujuan, kepemimpinan, persatuan, dan fondasi peradaban.
0 komentar: