Pada bagian sebelumnya telah kita tegaskan: jika ibadah hanya dipahami sebagai ritual-ritual peribadatan, apakah layak seluruh perjuangan para rasul dicurahkan untuk menegakkannya?
Apakah ritual semata cukup menjelaskan mengapa para rasul harus menghadapi penolakan, ancaman, pengusiran, bahkan penyiksaan? Apakah ia cukup menjelaskan mengapa para dai dan orang-orang beriman sepanjang zaman harus membayar harga yang begitu mahal?
Tentu tidak.
Ada sesuatu yang jauh lebih mendasar.
Yang diperjuangkan oleh para rasul adalah pembebasan seluruh manusia dari ketundukan kepada manusia, kemudian mengembalikan mereka kepada ketundukan hanya kepada Allah. Ketundukan itu bukan hanya dalam ruang ibadah ritual, tetapi dalam seluruh urusan kehidupan: dunia dan akhirat, nilai dan tujuan, hukum dan aturan, kepemimpinan dan orientasi hidup.
Karena itu, tauhid tidak berhenti pada pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang disembah. Tauhid harus memiliki pengaruh nyata terhadap seluruh kehidupan manusia.
Di sinilah kita memahami dimensi tauhid secara lebih luas: tauhid uluhiyyah dalam peribadatan, tauhid rububiyyah dalam pengakuan terhadap kepemilikan dan pengaturan Allah, tauhid qiwamah dalam kepemimpinan, tauhid hakimiyyah dalam kekuasaan dan penetapan hukum, tauhid mashdar asy-syari'ah dalam sumber syariat, tauhid manhaj al-hayah dalam manhaj kehidupan, dan tauhid jihah dalam menentukan arah serta tujuan pengabdian manusia.
Mengapa seluruhnya harus bermuara kepada tauhid?
Bukan karena Allah membutuhkan ketundukan manusia. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan seluruh makhluk. Manusialah yang membutuhkan tauhid.
Sebab tanpa tauhid, kehidupan manusia mudah tercerai-berai. Ia dapat memiliki banyak pusat orientasi, banyak sumber nilai, banyak tujuan, dan banyak kekuatan yang ditakutinya sekaligus diharapkannya.
Lalu, ke mana manusia akan berjalan?
Satu Arah, Satu Sumber
Marilah kita melihat persoalan ini secara lebih menyeluruh.
Ketika konsepsi tauhid benar-benar masuk ke dalam kehidupan manusia, ia berdialog dengan seluruh eksistensi manusia: dengan akal, hati, kebutuhan, kerinduan, kecenderungan, rasa takut, harapan, usaha, dan perilakunya.
Bukankah manusia membutuhkan satu arah?
Ia membutuhkan tempat untuk meminta, kepada siapa ia berharap, siapa yang ia takuti kemurkaan-Nya, dan siapa yang ia cari keridaan-Nya.
Tauhid memberikan jawaban yang utuh: Allah.
Dialah Pencipta segala sesuatu. Dialah Pemilik segala sesuatu. Dialah Pengatur segala sesuatu.
Karena itu, tauhid juga mengembalikan manusia kepada satu sumber dalam memperoleh persepsi dan konsepsi, nilai dan standar, hukum dan aturan.
Ketika manusia bertanya tentang alam semesta, kehidupan, dan dirinya sendiri, ia membutuhkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar yang terus bergolak dalam dirinya:
Dari mana aku berasal? Untuk apa aku hidup? Ke mana aku akan kembali? Apa yang benar dan apa yang salah? Apa yang harus aku kejar? Apa yang harus aku tinggalkan? Kepada siapa aku harus tunduk?
Jika semua pertanyaan itu memiliki sumber yang satu, bukankah kehidupan menjadi lebih utuh?
Sebaliknya, jika manusia mengambil akidah dari satu sumber, nilai dari sumber lain, hukum dari sumber lain, tujuan hidup dari sumber lain, dan ukuran keberhasilan dari sumber yang berbeda lagi, bukankah kepribadiannya akan terpecah?
Di sinilah tauhid menghadirkan kesatuan.
Kesatuan dalam keyakinan.
Kesatuan dalam orientasi.
Kesatuan dalam nilai.
Kesatuan dalam tujuan.
Kesatuan antara hati, pikiran, dan perbuatan.
Kesatuan adalah Hakikat
Ketika seluruh eksistensi manusia berhimpun dalam satu arah—dalam emosi dan tingkah laku, persepsi dan respons, akidah dan manhaj, kehidupan dan kematian, usaha dan perjuangan, kesehatan dan rezeki, dunia dan akhirat—ia tidak lagi tercerai-berai ke dalam berbagai arah yang saling bertentangan.
Ia menjadi satu kesatuan.
Dan bukankah kesatuan itu sesuai dengan hakikat penciptaan?
Allah adalah Esa.
Alam semesta, meskipun penuh dengan keragaman fenomena, bentuk, dan keadaan, berada dalam satu sistem yang tunduk kepada ketetapan-Nya.
Kehidupan memiliki beragam bentuk dan jenis, tetapi seluruhnya berada dalam pengaturan-Nya.
Manusia pun berbeda-beda dalam individu, karakter, kemampuan, dan potensinya, tetapi seluruhnya tetap merupakan makhluk Allah.
Bahkan tujuan penciptaan manusia pun satu: beribadah kepada Allah, meskipun bentuk dan medan pengabdiannya beragam.
Maka ketika manusia menyelaraskan dirinya dengan hakikat tersebut, ia menemukan kekuatan yang luar biasa.
Ia tidak lagi hidup melawan fitrah penciptaannya.
Ia tidak lagi berjalan dengan banyak kompas.
Ia memiliki satu arah.
Dan ketika arah itu jelas, bukankah langkah menjadi lebih mantap?
Dari Kesatuan Lahir Kekuatan
Ketika manusia hidup dalam kesatuan tersebut, ia mencapai keselarasan yang tinggi dengan dirinya, dengan alam semesta tempat ia hidup, dan dengan sunnatullah yang mengatur kehidupan.
Dari sinilah lahir kekuatan.
Bukan sekadar kekuatan fisik, tetapi kekuatan pribadi: keteguhan jiwa, kejernihan orientasi, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menjalankan peran dalam kehidupan.
Bukankah seseorang akan lebih kuat ketika ia tidak terpecah antara apa yang diyakininya dan apa yang dilakukannya?
Bukankah masyarakat akan lebih kokoh ketika nilai, tujuan, dan orientasinya tidak saling bertabrakan?
Itulah yang terjadi pada generasi awal Islam ketika hakikat tauhid mencapai kedalaman yang luar biasa dalam diri mereka.
Allah kemudian menjadikan mereka mampu memainkan peran yang sangat besar dalam sejarah manusia.
Dan jika hakikat itu kembali diwujudkan—dengan izin Allah—bukankah ia juga akan melahirkan kekuatan yang besar?
Sebab kekuatan tauhid bukanlah kekuatan yang berdiri sendiri. Ia berakar pada fitrah manusia dan selaras dengan sunnatullah dalam kehidupan.
Tauhid Bukan Hanya Meluruskan Akidah
Namun, apakah urgensi tauhid hanya terletak pada lurusnya konsepsi iman?
Tidak.
Meluruskan akidah memang sangat besar nilainya karena ia menjadi fondasi seluruh bangunan kehidupan. Tetapi pengaruh tauhid jauh lebih luas.
Tauhid juga mengubah cara manusia merasakan kehidupan.
Ketika seluruh aktivitas hidup diarahkan kepada Allah, kehidupan tidak lagi terbagi menjadi sesuatu yang "agama" dan sesuatu yang "bukan agama" secara terpisah dari orientasi pengabdian kepada-Nya.
Aktivitas yang kecil maupun besar dapat bernilai ibadah ketika dilakukan sesuai petunjuk Allah dan diarahkan untuk mencari keridaan-Nya.
Bekerja, belajar, membangun keluarga, mencari rezeki, mengelola masyarakat, menjaga kesehatan, menolong sesama, bahkan menghadapi ujian kehidupan—semuanya memperoleh makna baru ketika berada dalam orientasi pengabdian kepada Allah.
Bukankah ini membuat kehidupan menjadi lebih tinggi nilainya?
Bukankah manusia menjadi lebih utuh ketika setiap langkahnya memiliki arah yang sama?
Inilah salah satu puncak kesempurnaan manusia: seluruh kehidupannya menjadi bagian dari pengabdiannya kepada Allah.
Puncak Penghambaan
Tetapi di manakah puncak perjalanan manusia itu?
Kita melihat teladan paling tinggi pada diri Rasulullah ﷺ.
Beliau mencapai kedudukan menerima wahyu dari Allah. Beliau juga mencapai kedudukan yang sangat agung dalam peristiwa Isra.
Allah berfirman:
«تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا»
«"Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam."
(QS. Al-Furqan [25]: 1)»
Perhatikan satu kata yang sangat mendalam: عَبْدِهِ — hamba-Nya.
Di tengah kedudukan Rasulullah ﷺ yang paling mulia, Allah menyebut beliau sebagai hamba-Nya.
Mengapa?
Karena justru di situlah kemuliaan manusia.
Bukan ketika manusia bebas dari penghambaan, tetapi ketika ia terbebas dari seluruh penghambaan kepada makhluk lalu menjadi hamba Allah semata.
Hal yang sama tampak dalam firman Allah tentang Isra:
«سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ»
«"Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(QS. Al-Isra [17]: 1)»
Sekali lagi: بِعَبْدِهِ — hamba-Nya.
Maka, bukankah kita perlu membalik cara pandang kita tentang kebebasan?
Manusia mengira dirinya bebas ketika ia tidak tunduk kepada siapa pun. Padahal manusia pasti tunduk kepada sesuatu: kepada hawa nafsu, manusia lain, kekuasaan, harta, popularitas, ideologi, atau kepentingan.
Pertanyaannya bukan: "Apakah manusia akan menjadi hamba?"
Pertanyaannya adalah:
"Kepada siapa manusia akan menjadi hamba?"
Tauhid memberikan jawaban yang membebaskan:
Hanya kepada Allah.
Dan ketika manusia hanya tunduk kepada Allah, ia terbebas dari ketundukan kepada selain-Nya.
Inilah hakikat tauhid dalam kehidupan manusia: bukan sekadar menambah ritual, melainkan mengembalikan seluruh eksistensi manusia kepada satu Tuhan, satu sumber kebenaran, satu arah pengabdian, dan satu tujuan kehidupan.
Dari sanalah lahir manusia yang utuh.
Dari sanalah lahir kehidupan yang selaras.
Dan dari sanalah pula lahir kekuatan yang mampu mengubah sejarah.
0 komentar: