basmalah Pictures, Images and Photos
Generasi Awal Dakwah: Memfokuskan Pembinaan Akidah dan Membentuk Kader Inti yang Kokoh - Our Islamic Story

Generasi Awal Dakwah: Memfokuskan Pembinaan Akidah dan Membentuk Kader Inti yang Kokoh ...

Generasi Awal Dakwah: Memfokuskan Pembinaan Akidah dan Membentuk Kader Inti yang Kokoh

Generasi Awal Dakwah: Memfokuskan Pembinaan Akidah dan Membentuk Kader Inti yang Kokoh


Pembinaan Akidah: Membangun Kekuatan dari Dalam

Jika sebuah masyarakat telah dikuasai oleh berbagai ideologi yang menyimpang dari tauhid, dari mana perubahan harus dimulai?

Apakah langsung dari pertarungan politik?

Apakah dari perubahan struktur kekuasaan?

Ataukah dari pembentukan manusia yang terlebih dahulu memiliki keyakinan yang kokoh?

Dalam perspektif manhaj pembinaan Nabi saw., perubahan harus dimulai dari akidah. Pembinaan ini dilakukan dengan tenang dan mendalam, karena akidahlah yang menjadi sumber lahirnya ibadah, akhlak, keberanian, keteguhan, dan pengorbanan.

Akidah yang benar bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di kepala. Ia harus hidup di dalam hati dan tercermin dalam perilaku.

Sebab, apa yang menyebabkan seseorang mudah ragu?

Apa yang membuatnya tidak teguh ketika menghadapi tekanan?

Mengapa sebagian orang mudah berubah ketika kepentingannya terancam?

Sering kali persoalannya bukan semata-mata kurangnya pengetahuan, melainkan lemahnya keyakinan yang tertanam di dalam hati.

Keraguan, ketidakpastian, kemunafikan, dan penyimpangan dari jalan yang benar dapat berkembang ketika fondasi akidah tidak kokoh.

Karena itu, Islam menggunakan istilah iman untuk menggambarkan akidah. Iman tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga hati. Ia mempertemukan pemikiran dengan keyakinan, pengetahuan dengan ketundukan, dan kesadaran intelektual dengan kekuatan jiwa.

Akidah bukan sekadar kepuasan intelektual yang dingin.

Namun, akidah juga bukan sekadar gejolak perasaan yang tidak memiliki landasan ilmu.

Iman adalah perpaduan keduanya.

Akal memahami kebenaran, hati menerimanya, lalu kehidupan bergerak berdasarkan keyakinan tersebut.

Dari sinilah lahir manusia yang tidak mudah goyah.

---

Dakwah Terang-Terangan Setelah Terbentuk Kader Inti

Lalu, kapan dakwah dilakukan secara terang-terangan?

Apakah sejak hari pertama?

Ataukah ada proses pembinaan yang harus dilalui terlebih dahulu?

Sejarah dakwah Rasulullah saw. menunjukkan bahwa sebelum memasuki fase konfrontasi terbuka, telah terbentuk sekelompok manusia yang memiliki kualitas iman dan keteguhan luar biasa.

Mereka adalah kader inti—nuwat—yang menjadi fondasi awal bangunan masyarakat Islam.

Ketika dakwah memasuki fase yang lebih terbuka dan tekanan semakin berat, tidak seorang pun dari mereka yang meninggalkan Islam. Justru mereka menjadi generasi yang dikenal karena kekuatan iman, keteladanan akhlak, jihad, kesabaran, dan pengorbanannya.

Mengapa mereka mampu bertahan?

Karena sebelumnya mereka telah dibina.

Mereka tidak sekadar mengetahui Islam.

Mereka telah menjadikan Islam sebagai keyakinan hidup.

Kelompok inilah yang kemudian menjadi generasi kepemimpinan—jil al-qiyadah—yang memikul beban dakwah dan menghadapi berbagai tantangan besar setelah Rasulullah saw. wafat.

Di antara mereka terdapat tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam sejarah Islam.

Ada Abu Bakar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Sa'id bin Zaid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan lainnya.

Begitu pula para sahabiyah seperti Khadijah radhiyallahu 'anha, Asma' binti Umais, Ummul Fadhl binti al-Harits, dan banyak perempuan beriman lainnya.

Mereka membuktikan bahwa generasi awal Islam bukan hanya dibentuk untuk mengetahui kebenaran.

Mereka dibentuk agar mampu memikul konsekuensi dari kebenaran itu.

---

Mengapa Rasulullah Begitu Menghargai Generasi Awal?

Ada sebuah peristiwa yang menggambarkan betapa tinggi kedudukan para sahabat yang lebih dahulu beriman.

Ketika terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin Auf, Rasulullah saw. mengingatkan Khalid:

«ÙŠَا Ø®َالِدُ، دَعْ عَÙ†ْÙƒَ Ø£َصْØ­َابِÙŠ

"Wahai Khalid, jangan engkau usik para sahabatku."»

Kemudian Rasulullah saw. menjelaskan bahwa seandainya seseorang menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, nilainya tidak akan menyamai amal salah seorang sahabat yang telah lebih dahulu beriman dan berjuang.

Mengapa?

Bukan karena sahabat-sahabat yang datang kemudian tidak memiliki keutamaan.

Khalid bin Walid sendiri adalah sahabat besar dan panglima yang luar biasa.

Namun, ada nilai sejarah dan pengorbanan yang tidak dapat dihapus begitu saja.

Mereka yang berada di fase awal telah beriman ketika Islam masih lemah secara jumlah dan menghadapi tekanan yang berat. Mereka mempertaruhkan harta, keamanan, kedudukan, bahkan nyawa.

Mereka bukan sekadar pengikut dakwah. Mereka adalah fondasi awal yang menopang bangunan dakwah.

---

Apakah Fase Awal Itu Akan Terulang?

Di titik ini muncul pertanyaan yang menarik.

Apakah fase dakwah yang sangat rahasia seperti periode awal Makkah dapat diulang persis pada zaman sekarang?

Menurut penulis kitab ini, jawabannya adalah tidak.

Mengapa?

Karena situasi sejarah telah berubah.

Dakwah Islam telah diumumkan.

Al-Qur'an telah sempurna.

Sunnah Rasulullah saw. telah diwariskan.

Ilmu Islam telah tersebar luas.

Karena itu, tidak tepat menjadikan fase sirriyatu ad-da'wah pada masa awal sebagai alasan untuk menyembunyikan dakwah Islam secara permanen.

Allah berfirman:

«Ø§Ù„ْÙŠَÙˆْÙ…َ Ø£َÙƒْÙ…َÙ„ْتُ Ù„َÙƒُÙ…ْ دِينَÙƒُÙ…ْ ÙˆَØ£َتْÙ…َÙ…ْتُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ Ù†ِعْÙ…َتِÙŠ Ùˆَرَضِيتُ Ù„َÙƒُÙ…ُ الْØ¥ِسْÙ„َامَ دِينًا

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."
(QS. Al-Ma'idah [5]: 3).»

Dengan demikian, harus dibedakan antara kerahasiaan dakwah dan kerahasiaan aktivitas tertentu karena kondisi khusus.

Keduanya bukan hal yang sama.

---

Kerahasiaan Bukan Alasan untuk Menyembunyikan Identitas Islam

Ada keadaan tertentu ketika seorang Muslim mungkin berada di tengah masyarakat yang memusuhinya dan harus menjaga keselamatan dirinya.

Namun apakah itu berarti setiap orang bebas menentukan sendiri bahwa dirinya akan menjalankan kehidupan ganda?

Tentu tidak.

Seseorang tidak dapat mengatakan:

"Saya tetap Muslim dalam hati, tetapi saya mendukung kezaliman, menyebarkan prinsip-prinsip yang bertentangan dengan Islam, dan ikut menjalankan programnya. Semua itu saya lakukan secara rahasia karena saya seorang Muslim yang sedang menjalankan strategi."

Cara berpikir seperti ini harus dibedakan secara tegas dari kondisi darurat yang dibenarkan syariat.

Dalam kerangka yang dibahas penulis, apabila seseorang menjalankan tugas khusus, tugas tersebut bukan ditentukan oleh keinginan pribadi. Ia berada dalam kerangka kepemimpinan dan tanggung jawab yang jelas.

Namun prinsip ini tidak boleh dijadikan pembenaran untuk perilaku nifak.

Tidak setiap orang yang menyembunyikan identitas keislamannya berarti sedang menjalankan strategi dakwah.

Kadang-kadang seseorang hanya sedang menyembunyikan keyakinannya demi kepentingan duniawi.

Di sinilah batas moralnya menjadi penting.

---

Ketika Seseorang Dipaksa

Syariat memberikan pengecualian dalam keadaan tertentu.

Allah berfirman:

«Ø¥ِÙ„َّا Ù…َÙ†ْ Ø£ُÙƒْرِÙ‡َ ÙˆَÙ‚َÙ„ْبُÙ‡ُ Ù…ُØ·ْÙ…َئِÙ†ٌّ بِالْØ¥ِيمَانِ

"...kecuali orang yang dipaksa kafir, sedangkan hatinya tetap tenang dalam keimanan."
(QS. An-Nahl [16]: 106).»

Ayat ini berkaitan dengan orang yang mengalami pemaksaan berat, sebagaimana kisah Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu.

Ini menunjukkan bahwa syariat membedakan antara orang yang benar-benar dipaksa dan orang yang sekadar takut kehilangan kenyamanan, kedudukan, atau kepentingan dunia.

Perbedaannya sangat penting.

Orang yang dipaksa berada dalam keadaan darurat.

Sedangkan orang yang sengaja memilih menyimpang demi kepentingannya sendiri berada dalam keadaan yang berbeda.

Karena itu, peristiwa Ammar bin Yasir tidak dapat dijadikan alasan umum untuk membenarkan segala bentuk kompromi terhadap prinsip agama.

---

Batas "Penyesuaian Diri"

Lalu bagaimana jika seseorang benar-benar berada dalam kondisi khusus dan harus hidup di tengah lingkungan yang bertentangan dengan keyakinannya?

Sejauh mana ia boleh menyesuaikan diri?

Pertanyaan ini tidak sederhana.

Namun satu prinsip harus tetap dijaga:

penyesuaian tidak boleh menghapus kewajiban dan menghalalkan larangan.

Dalam konteks pembahasan kitab ini, seorang Muslim tidak boleh meninggalkan kewajiban yang wajib dilaksanakan dan tidak boleh melakukan perbuatan yang secara tegas diharamkan hanya demi menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Shalat menjadi contoh paling jelas karena waktunya datang berulang kali dan tidak dapat begitu saja dihilangkan.

Demikian pula puasa Ramadan tetap merupakan kewajiban bagi orang yang memenuhi syaratnya.

Begitu pula larangan seperti khamar dan zina tidak berubah menjadi halal hanya karena seseorang sedang berada di lingkungan yang menganggapnya biasa.

Di sinilah diperlukan kehati-hatian dalam memahami konsep rukhshah.

Keringanan dalam syariat memiliki batas dan sebab.

Ia bukan tiket untuk meninggalkan kewajiban secara sembarangan.

---

Antara Rukhshah dan Kelonggaran yang Dibuat-buat

Ada sebagian orang yang mungkin berkata:

"Bukankah dalam kondisi sulit, kita dapat mengambil keringanan?"

Benar.

Syariat memang mengenal rukhshah.

Tetapi pertanyaannya:

Apakah setiap kesulitan otomatis menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban?

Tidak.

Rukhshah memiliki dasar syar'i dan kondisi yang menjadi sebabnya.

Karena itu, tidak tepat menjadikan keadaan sosial yang tidak nyaman sebagai alasan untuk meninggalkan seluruh kewajiban agama.

Terlebih lagi, jangan sampai seseorang menunda semua shalat hingga dikumpulkan pada penghujung hari tanpa alasan syar'i yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam persoalan jamak dan qadha, terdapat perincian hukum yang harus dikembalikan kepada dalil dan pendapat ulama yang memiliki otoritas dalam fikih. Tidak semestinya setiap keadaan sulit langsung melahirkan hukum baru menurut pertimbangan pribadi.

Ketaatan membutuhkan ilmu, bukan sekadar perasaan sedang berada dalam keadaan sulit.

---

Inti Pembinaan: Membentuk Manusia yang Teguh

Jika seluruh pembahasan ini kita tarik kembali kepada tema awal, maka tampak satu benang merah.

Mengapa pembinaan akidah ditempatkan begitu penting?

Karena sebuah gerakan, masyarakat, bahkan peradaban tidak akan kokoh jika manusia yang menopangnya rapuh dari dalam.

Apa gunanya keberanian tanpa iman?

Apa gunanya kecerdasan tanpa ketundukan kepada Allah?

Apa gunanya organisasi yang besar jika anggotanya mudah goyah ketika menghadapi ujian?

Apa gunanya slogan perjuangan jika manusia yang meneriakkannya tidak mampu menahan godaan dunia?

Maka pembinaan akidah bukan tahap yang boleh dianggap ringan.

Ia adalah proses membangun manusia.

Akidah melahirkan ibadah.

Ibadah membentuk akhlak.

Akhlak membentuk kepribadian.

Kepribadian yang kokoh melahirkan keteguhan.

Dan keteguhan membuat seseorang mampu mempertahankan kebenaran ketika ujian datang.

Itulah pelajaran penting dari generasi awal Islam.

Mereka tidak dibentuk dalam satu malam.

Mereka dibina dengan wahyu.

Mereka ditempa dengan ibadah.

Mereka diuji dengan tekanan.

Mereka belajar bersabar.

Kemudian, ketika dakwah memasuki fase yang lebih terbuka, mereka telah memiliki fondasi yang memungkinkan mereka menghadapi perubahan zaman.

Maka pertanyaan yang paling penting bagi kita bukan hanya:

"Kapan dakwah harus dilakukan secara terbuka?"

Tetapi lebih mendasar:

"Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk sebelum dakwah menghadapi ujian yang lebih berat?"

Sebab perubahan yang besar membutuhkan manusia yang kuat.

Dan manusia yang kuat tidak pertama-tama dibangun dari kekuasaan, jumlah, atau organisasi.

Ia dibangun dari akidah yang hidup di dalam hati.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (55) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (17) Dakwah (19) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (2) Ekonomi (13) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (20) Kecerdasan (331) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (58) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (114) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (10) Nusantara (298) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (719) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (324) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)