Pembinaan Akidah: Membangun Kekuatan dari Dalam
Jika sebuah masyarakat telah dikuasai oleh berbagai ideologi yang menyimpang dari tauhid, dari mana perubahan harus dimulai?
Apakah langsung dari pertarungan politik?
Apakah dari perubahan struktur kekuasaan?
Ataukah dari pembentukan manusia yang terlebih dahulu memiliki keyakinan yang kokoh?
Dalam perspektif manhaj pembinaan Nabi saw., perubahan harus dimulai dari akidah. Pembinaan ini dilakukan dengan tenang dan mendalam, karena akidahlah yang menjadi sumber lahirnya ibadah, akhlak, keberanian, keteguhan, dan pengorbanan.
Akidah yang benar bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di kepala. Ia harus hidup di dalam hati dan tercermin dalam perilaku.
Sebab, apa yang menyebabkan seseorang mudah ragu?
Apa yang membuatnya tidak teguh ketika menghadapi tekanan?
Mengapa sebagian orang mudah berubah ketika kepentingannya terancam?
Sering kali persoalannya bukan semata-mata kurangnya pengetahuan, melainkan lemahnya keyakinan yang tertanam di dalam hati.
Keraguan, ketidakpastian, kemunafikan, dan penyimpangan dari jalan yang benar dapat berkembang ketika fondasi akidah tidak kokoh.
Karena itu, Islam menggunakan istilah iman untuk menggambarkan akidah. Iman tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga hati. Ia mempertemukan pemikiran dengan keyakinan, pengetahuan dengan ketundukan, dan kesadaran intelektual dengan kekuatan jiwa.
Akidah bukan sekadar kepuasan intelektual yang dingin.
Namun, akidah juga bukan sekadar gejolak perasaan yang tidak memiliki landasan ilmu.
Iman adalah perpaduan keduanya.
Akal memahami kebenaran, hati menerimanya, lalu kehidupan bergerak berdasarkan keyakinan tersebut.
Dari sinilah lahir manusia yang tidak mudah goyah.
---
Dakwah Terang-Terangan Setelah Terbentuk Kader Inti
Lalu, kapan dakwah dilakukan secara terang-terangan?
Apakah sejak hari pertama?
Ataukah ada proses pembinaan yang harus dilalui terlebih dahulu?
Sejarah dakwah Rasulullah saw. menunjukkan bahwa sebelum memasuki fase konfrontasi terbuka, telah terbentuk sekelompok manusia yang memiliki kualitas iman dan keteguhan luar biasa.
Mereka adalah kader inti—nuwat—yang menjadi fondasi awal bangunan masyarakat Islam.
Ketika dakwah memasuki fase yang lebih terbuka dan tekanan semakin berat, tidak seorang pun dari mereka yang meninggalkan Islam. Justru mereka menjadi generasi yang dikenal karena kekuatan iman, keteladanan akhlak, jihad, kesabaran, dan pengorbanannya.
Mengapa mereka mampu bertahan?
Karena sebelumnya mereka telah dibina.
Mereka tidak sekadar mengetahui Islam.
Mereka telah menjadikan Islam sebagai keyakinan hidup.
Kelompok inilah yang kemudian menjadi generasi kepemimpinan—jil al-qiyadah—yang memikul beban dakwah dan menghadapi berbagai tantangan besar setelah Rasulullah saw. wafat.
Di antara mereka terdapat tokoh-tokoh yang memiliki kedudukan sangat tinggi dalam sejarah Islam.
Ada Abu Bakar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin Auf, Sa'id bin Zaid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan lainnya.
Begitu pula para sahabiyah seperti Khadijah radhiyallahu 'anha, Asma' binti Umais, Ummul Fadhl binti al-Harits, dan banyak perempuan beriman lainnya.
Mereka membuktikan bahwa generasi awal Islam bukan hanya dibentuk untuk mengetahui kebenaran.
Mereka dibentuk agar mampu memikul konsekuensi dari kebenaran itu.
---
Mengapa Rasulullah Begitu Menghargai Generasi Awal?
Ada sebuah peristiwa yang menggambarkan betapa tinggi kedudukan para sahabat yang lebih dahulu beriman.
Ketika terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin Auf, Rasulullah saw. mengingatkan Khalid:
«ÙŠَا Ø®َالِدُ، دَعْ عَÙ†ْÙƒَ Ø£َصْØَابِÙŠ
"Wahai Khalid, jangan engkau usik para sahabatku."»
Kemudian Rasulullah saw. menjelaskan bahwa seandainya seseorang menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, nilainya tidak akan menyamai amal salah seorang sahabat yang telah lebih dahulu beriman dan berjuang.
Mengapa?
Bukan karena sahabat-sahabat yang datang kemudian tidak memiliki keutamaan.
Khalid bin Walid sendiri adalah sahabat besar dan panglima yang luar biasa.
Namun, ada nilai sejarah dan pengorbanan yang tidak dapat dihapus begitu saja.
Mereka yang berada di fase awal telah beriman ketika Islam masih lemah secara jumlah dan menghadapi tekanan yang berat. Mereka mempertaruhkan harta, keamanan, kedudukan, bahkan nyawa.
Mereka bukan sekadar pengikut dakwah. Mereka adalah fondasi awal yang menopang bangunan dakwah.
---
Apakah Fase Awal Itu Akan Terulang?
Di titik ini muncul pertanyaan yang menarik.
Apakah fase dakwah yang sangat rahasia seperti periode awal Makkah dapat diulang persis pada zaman sekarang?
Menurut penulis kitab ini, jawabannya adalah tidak.
Mengapa?
Karena situasi sejarah telah berubah.
Dakwah Islam telah diumumkan.
Al-Qur'an telah sempurna.
Sunnah Rasulullah saw. telah diwariskan.
Ilmu Islam telah tersebar luas.
Karena itu, tidak tepat menjadikan fase sirriyatu ad-da'wah pada masa awal sebagai alasan untuk menyembunyikan dakwah Islam secara permanen.
Allah berfirman:
«Ø§Ù„ْÙŠَÙˆْÙ…َ Ø£َÙƒْÙ…َÙ„ْتُ Ù„َÙƒُÙ…ْ دِينَÙƒُÙ…ْ ÙˆَØ£َتْÙ…َÙ…ْتُ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ْ Ù†ِعْÙ…َتِÙŠ Ùˆَرَضِيتُ Ù„َÙƒُÙ…ُ الْØ¥ِسْÙ„َامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu."
(QS. Al-Ma'idah [5]: 3).»
Dengan demikian, harus dibedakan antara kerahasiaan dakwah dan kerahasiaan aktivitas tertentu karena kondisi khusus.
Keduanya bukan hal yang sama.
---
Kerahasiaan Bukan Alasan untuk Menyembunyikan Identitas Islam
Ada keadaan tertentu ketika seorang Muslim mungkin berada di tengah masyarakat yang memusuhinya dan harus menjaga keselamatan dirinya.
Namun apakah itu berarti setiap orang bebas menentukan sendiri bahwa dirinya akan menjalankan kehidupan ganda?
Tentu tidak.
Seseorang tidak dapat mengatakan:
"Saya tetap Muslim dalam hati, tetapi saya mendukung kezaliman, menyebarkan prinsip-prinsip yang bertentangan dengan Islam, dan ikut menjalankan programnya. Semua itu saya lakukan secara rahasia karena saya seorang Muslim yang sedang menjalankan strategi."
Cara berpikir seperti ini harus dibedakan secara tegas dari kondisi darurat yang dibenarkan syariat.
Dalam kerangka yang dibahas penulis, apabila seseorang menjalankan tugas khusus, tugas tersebut bukan ditentukan oleh keinginan pribadi. Ia berada dalam kerangka kepemimpinan dan tanggung jawab yang jelas.
Namun prinsip ini tidak boleh dijadikan pembenaran untuk perilaku nifak.
Tidak setiap orang yang menyembunyikan identitas keislamannya berarti sedang menjalankan strategi dakwah.
Kadang-kadang seseorang hanya sedang menyembunyikan keyakinannya demi kepentingan duniawi.
Di sinilah batas moralnya menjadi penting.
---
Ketika Seseorang Dipaksa
Syariat memberikan pengecualian dalam keadaan tertentu.
Allah berfirman:
«Ø¥ِÙ„َّا Ù…َÙ†ْ Ø£ُÙƒْرِÙ‡َ ÙˆَÙ‚َÙ„ْبُÙ‡ُ Ù…ُØ·ْÙ…َئِÙ†ٌّ بِالْØ¥ِيمَانِ
"...kecuali orang yang dipaksa kafir, sedangkan hatinya tetap tenang dalam keimanan."
(QS. An-Nahl [16]: 106).»
Ayat ini berkaitan dengan orang yang mengalami pemaksaan berat, sebagaimana kisah Ammar bin Yasir radhiyallahu 'anhu.
Ini menunjukkan bahwa syariat membedakan antara orang yang benar-benar dipaksa dan orang yang sekadar takut kehilangan kenyamanan, kedudukan, atau kepentingan dunia.
Perbedaannya sangat penting.
Orang yang dipaksa berada dalam keadaan darurat.
Sedangkan orang yang sengaja memilih menyimpang demi kepentingannya sendiri berada dalam keadaan yang berbeda.
Karena itu, peristiwa Ammar bin Yasir tidak dapat dijadikan alasan umum untuk membenarkan segala bentuk kompromi terhadap prinsip agama.
---
Batas "Penyesuaian Diri"
Lalu bagaimana jika seseorang benar-benar berada dalam kondisi khusus dan harus hidup di tengah lingkungan yang bertentangan dengan keyakinannya?
Sejauh mana ia boleh menyesuaikan diri?
Pertanyaan ini tidak sederhana.
Namun satu prinsip harus tetap dijaga:
penyesuaian tidak boleh menghapus kewajiban dan menghalalkan larangan.
Dalam konteks pembahasan kitab ini, seorang Muslim tidak boleh meninggalkan kewajiban yang wajib dilaksanakan dan tidak boleh melakukan perbuatan yang secara tegas diharamkan hanya demi menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Shalat menjadi contoh paling jelas karena waktunya datang berulang kali dan tidak dapat begitu saja dihilangkan.
Demikian pula puasa Ramadan tetap merupakan kewajiban bagi orang yang memenuhi syaratnya.
Begitu pula larangan seperti khamar dan zina tidak berubah menjadi halal hanya karena seseorang sedang berada di lingkungan yang menganggapnya biasa.
Di sinilah diperlukan kehati-hatian dalam memahami konsep rukhshah.
Keringanan dalam syariat memiliki batas dan sebab.
Ia bukan tiket untuk meninggalkan kewajiban secara sembarangan.
---
Antara Rukhshah dan Kelonggaran yang Dibuat-buat
Ada sebagian orang yang mungkin berkata:
"Bukankah dalam kondisi sulit, kita dapat mengambil keringanan?"
Benar.
Syariat memang mengenal rukhshah.
Tetapi pertanyaannya:
Apakah setiap kesulitan otomatis menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban?
Tidak.
Rukhshah memiliki dasar syar'i dan kondisi yang menjadi sebabnya.
Karena itu, tidak tepat menjadikan keadaan sosial yang tidak nyaman sebagai alasan untuk meninggalkan seluruh kewajiban agama.
Terlebih lagi, jangan sampai seseorang menunda semua shalat hingga dikumpulkan pada penghujung hari tanpa alasan syar'i yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam persoalan jamak dan qadha, terdapat perincian hukum yang harus dikembalikan kepada dalil dan pendapat ulama yang memiliki otoritas dalam fikih. Tidak semestinya setiap keadaan sulit langsung melahirkan hukum baru menurut pertimbangan pribadi.
Ketaatan membutuhkan ilmu, bukan sekadar perasaan sedang berada dalam keadaan sulit.
---
Inti Pembinaan: Membentuk Manusia yang Teguh
Jika seluruh pembahasan ini kita tarik kembali kepada tema awal, maka tampak satu benang merah.
Mengapa pembinaan akidah ditempatkan begitu penting?
Karena sebuah gerakan, masyarakat, bahkan peradaban tidak akan kokoh jika manusia yang menopangnya rapuh dari dalam.
Apa gunanya keberanian tanpa iman?
Apa gunanya kecerdasan tanpa ketundukan kepada Allah?
Apa gunanya organisasi yang besar jika anggotanya mudah goyah ketika menghadapi ujian?
Apa gunanya slogan perjuangan jika manusia yang meneriakkannya tidak mampu menahan godaan dunia?
Maka pembinaan akidah bukan tahap yang boleh dianggap ringan.
Ia adalah proses membangun manusia.
Akidah melahirkan ibadah.
Ibadah membentuk akhlak.
Akhlak membentuk kepribadian.
Kepribadian yang kokoh melahirkan keteguhan.
Dan keteguhan membuat seseorang mampu mempertahankan kebenaran ketika ujian datang.
Itulah pelajaran penting dari generasi awal Islam.
Mereka tidak dibentuk dalam satu malam.
Mereka dibina dengan wahyu.
Mereka ditempa dengan ibadah.
Mereka diuji dengan tekanan.
Mereka belajar bersabar.
Kemudian, ketika dakwah memasuki fase yang lebih terbuka, mereka telah memiliki fondasi yang memungkinkan mereka menghadapi perubahan zaman.
Maka pertanyaan yang paling penting bagi kita bukan hanya:
"Kapan dakwah harus dilakukan secara terbuka?"
Tetapi lebih mendasar:
"Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk sebelum dakwah menghadapi ujian yang lebih berat?"
Sebab perubahan yang besar membutuhkan manusia yang kuat.
Dan manusia yang kuat tidak pertama-tama dibangun dari kekuasaan, jumlah, atau organisasi.
Ia dibangun dari akidah yang hidup di dalam hati.
0 komentar: