Perjalanan Panjang Perlawanan dan Realitas Sejarah Palestina
Titik Balik Perlawanan Bangsa Palestina
Tahun demi tahun, gelombang perlawanan terus bergolak dari bumi Palestina. Ketika kaum Yahudi mengklaim Tembok Al-Buraq—sisa peninggalan Kuil Sulaiman—sebagai milik mereka, bangsa Palestina bangkit serentak pada tahun 1929. Jauh sebelumnya, perlawanan serupa telah meletus pada tahun 1921, disusul gelombang perlawanan berikutnya pada tahun 1933.
Puncaknya terjadi pada rentang 1936 hingga 1939, di mana seluruh elemen masyarakat mengerahkan segenap kekuatan untuk melawan pendudukan Inggris sekaligus gelombang pengungsi Yahudi. Ribuan syuhada gugur di medan laga, sementara ribuan lainnya mendekam di penjara dan menghadapi berbagai penganiayaan.
Di tengah teror dan tekanan yang tiada henti, semangat rakyat Palestina tidak pernah padam. Inggris, di sisi lain, justru memanfaatkan situasi ini dengan membentuk pasukan khusus Yahudi bernama Haqanah.
Pasukan yang dilatih dan dipersenjatai oleh tentara Inggris ini berkedok mengawal koloni Yahudi, padahal inilah embrio tentara resmi Israel. Nama-nama besar panglima militer Israel sejak tahun 1948—seperti Dayan, Allon, dan lain-lain—merupakan didikan dari kesatuan tersebut.
Persekongkolan Global dan Berdirinya Israel
Inggris berhasil memenuhi segala ambisi kaum Yahudi, bahkan lebih dari yang mereka harapkan, dengan mendirikan sebuah negara bagi mereka di tengah-tengah negeri Islam. Kolaborasi erat antara Yahudi dan dunia Barat terus berlanjut.
Pada tahun 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)—sebagai pewaris Liga Bangsa-Bangsa—memutuskan pembagian wilayah Palestina dan berdirinya negara Yahudi. Negara-negara besar Kristen pun berlomba-lomba memberikan pengakuan:
Amerika Serikat mengakui negara baru tersebut hanya dalam tempo sebelas menit pasca pembentukannya.
Uni Soviet menyusul sebagai negara kedua, ironisnya bertentangan dengan prinsip komunisme internasional yang menentang rasisme. Namun, dalam urusan menumpas Islam, sekat-sekat ideologi seketika runtuh; kekuatan-kekuatan kafir bersatu padu bagaikan dua sisi mata uang yang sama.
Tak lama berselang, resolusi-resolusi PBB dikeluarkan hanya sebagai retorika kosong—mengakui hak bangsa Palestina di atas kertas, namun membiarkan para penguasa Muslim terperangkap dalam permainan politik global.
Tragisnya, sebagian penguasa Muslim justru menjadikan orang-orang Yahudi dan Kristen sebagai wali atau pelindung mereka, sementara umatnya hanya disuguhi kata-kata hampa tanpa daya.
Puncak Kolaborasi dan Ironi di Dunia Islam
Persekutuan lintas agama ini mencapai titik-titik krusial dalam sejarah modern:
Perang Tiga Senjata (1956): Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pasukan gabungan Kristen (Prancis dan Inggris) bersama pasukan Yahudi bersekutu menyerbu Mesir.
Pemutihan Dosa (Tahun 1960-an): Paus Vatikan secara resmi memutihkan "dosa" Yahudi atas darah Al-Masih, demi meredakan ketidaknyamanan umat Kristen yang tanah sucinya jatuh ke tangan kaum Yahudi.
Tragedi di Lebanon: Umat Kristen (Maronit) di Lebanon terang-terangan berperang bersama kaum Yahudi melawan kaum Muslimin dalam satu kubu.
Lebih mengherankan lagi, pemerintah Lebanon yang Kristen tetap menggaji "si pembelot" Mayor Saad Haddad dan pasukannya—dana yang notabene bersumber dari pajak kaum Muslimin dan bantuan negara-negara produsen minyak berpenduduk mayoritas Muslim.
Menelaah Janji Ilahi di Tengah Puing Sejarah
Bagaimana kita membaca realitas ini dalam bingkai teologis? Sebagian mufassir, seperti At-Thabari, menafsirkan ayat tentang sebagian mereka yang menjadi penolong bagi sebagian yang lain (ba'dhu-hum auliya'u ba'dhin). Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa aliansi ini bersifat pragmatis dan rapuh.
Al-Qur'an sendiri menegaskan bahwa perpecahan dan permusuhan internal justru menjadi takdir abadi bagi kaum Nasrani dan Yahudi hingga hari kiamat:
"Dan di antara orang-orang yang menyatakan, 'Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani,' ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya, maka kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat..." (QS. Al-Ma'idah: 14)
Sejarah membuktikan kebenaran ayat ini. Konflik berkepanjangan antara Gereja Timur (Ortodoks) dan Gereja Barat (Katolik), lahirnya Protestanisme di bawah Martin Luther, hingga pertumpahan darah antara Katolik dan Protestan di Irlandia Utara, adalah bukti nyata bahwa dunia Kristen tidak pernah benar-benar padu.
Begitu pula dengan kaum Yahudi. Al-Qur'an menegaskan dalam surah Al-Ma'idah ayat 64 dan Al-Hasyr ayat 14 bahwa permusuhan dan kebencian di antara mereka akan terus ada hingga hari Kiamat, serta hati mereka senantiasa berpecah belah meski tampak bersatu.
Hal ini terhampar jelas di tanah pendudukan Palestina hari ini. Berdiri sekitar tiga puluh partai politik—dari ekstrem kiri komunis hingga zionis radikal—yang saling menjatuhkan dengan sengit. Masyarakat Israel hidup dalam stratifikasi rasial yang kaku:
Kaum Yahudi yang datang dari Eropa Barat dan Timur (seperti Rusia dan Polandia) memegang kendali kekuasaan, menikmati kemakmuran, dan melahirkan tokoh-tokoh utama seperti Golda Meir, David Ben-Gurion, hingga Moshe Dayan.
Sebaliknya, kaum Yahudi Timur (yang bukan berasal dari Eropa atau Amerika) ditempuh sebagai warga negara kelas dua atau tiga, yang kerap dijadikan umpan dalam setiap krisis dan peperangan.
Di balik gemerlap persekutuan global dan rumitnya percaturan politik dunia, sejarah dan lembaran suci telah memberikan garis akhir yang pasti: bahwa kekuatan yang dibangun di atas fondasi kezaliman dan perpecahan tidak akan pernah menemukan ketulusan yang sejati.
0 komentar: