Penghormatan Rasulullah terhadap Orang-Orang yang Membantu Beliau dalam Blokade Ekonomi Syi'bi
Blokade Syi'bi Abu Thalib bukan hanya memperlihatkan bagaimana kaum Quraisy menggunakan tekanan ekonomi sebagai senjata. Peristiwa itu juga memperlihatkan sisi lain yang tidak kalah penting: bagaimana Rasulullah saw. mengingat, menghargai, dan membalas kebaikan orang-orang yang pernah membantu beliau ketika berada dalam kesulitan.
Dalam keadaan tertekan, seseorang dapat dengan mudah melupakan siapa yang pernah berdiri di sisinya.
Namun Rasulullah saw. tidak demikian.
Kebaikan yang diberikan kepadanya tidak hilang begitu saja bersama berlalunya waktu. Bahkan setelah bertahun-tahun, ketika keadaan telah berubah dan beliau berada dalam posisi yang jauh lebih kuat, jasa orang-orang yang pernah membantu tetap beliau ingat.
Penghormatan tersebut terlihat dalam beberapa bentuk.
---
1. Bani Al-Muthallib: Kerabat yang Tidak Meninggalkan Rasulullah
Salah satu bentuk penghormatan Rasulullah terhadap orang-orang yang mendukung beliau dalam masa blokade terlihat dalam kedudukan Bani Hasyim dan Bani Al-Muthallib.
Ketika kaum Quraisy melakukan pemboikotan terhadap Rasulullah dan Bani Hasyim, Bani Al-Muthallib tidak memisahkan diri dari mereka.
Mereka bersama-sama masuk ke Syi'bi Abu Thalib.
Mereka menanggung tekanan sosial dan ekonomi bersama-sama. Mereka tidak hanya menyaksikan Rasulullah menghadapi blokade, tetapi turut merasakan akibatnya.
Dukungan tersebut kemudian memiliki konsekuensi penting dalam fikih Islam.
Dzawi Al-Qurba dan Bagian Kerabat Rasulullah
Allah berfirman:
«“Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlimanya untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”
(Al-Anfal: 41)»
Ayat ini menjadi dasar pembahasan mengenai pembagian seperlima (khumus) dari harta rampasan perang.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa bagian kerabat Rasulullah diberikan kepada Bani Hasyim dan Bani Al-Muthallib.
Mengapa?
Karena Bani Al-Muthallib tidak meninggalkan Bani Hasyim ketika mereka berada dalam tekanan.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Bani Al-Muthallib mendukung Bani Hasyim sejak masa Jahiliah maupun pada masa awal Islam. Mereka juga bersama-sama masuk ke Syi'bi karena ingin melindungi Rasulullah.
Di antara mereka terdapat orang-orang yang telah memeluk Islam dan bergabung bersama Rasulullah karena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun mereka yang belum memeluk Islam tetap memberikan perlindungan karena hubungan kekerabatan dan loyalitas kepada Abu Thalib.
Hal ini berbeda dengan Bani Abdu Syams dan Bani Naufal. Meskipun masih memiliki hubungan nasab, mereka tidak memberikan dukungan yang sama terhadap Bani Hasyim. Bahkan, menurut penjelasan Ibnu Katsir, mereka menentang dan berusaha mencegah sebagian Quraisy melakukan tindakan terhadap Rasulullah.
Karena itu, ukuran kedekatan dalam persoalan ini tidak semata-mata hubungan darah.
Ada dimensi lain yang sangat penting: siapa yang hadir ketika saudaranya berada dalam kesulitan?
Dalam sebuah hadis disebutkan:
«إنهم لم يفارقونا في جاهلية ولا إسلام»
«“Mereka tidak memisahkan diri dari kami, baik pada masa Jahiliah maupun Islam.”»
Karena itu, jumhur ulama berpendapat bahwa Dzawi Al-Qurba yang mendapatkan bagian dari seperlima harta rampasan perang adalah Bani Hasyim dan Bani Al-Muthallib.
Dari Syi'bi Abu Thalib ke Fikih
Di sini kita menemukan sesuatu yang menarik.
Sebuah keputusan ekonomi dan hukum yang muncul dalam kehidupan umat Islam ternyata tidak dapat dilepaskan dari sejarah pengorbanan manusia.
Bani Al-Muthallib tidak sekadar tercatat sebagai sebuah nama dalam silsilah Quraisy.
Mereka adalah kelompok yang pernah berdiri bersama Bani Hasyim ketika tekanan datang.
Sejarah kemudian mengingat sikap tersebut.
Ini mengajarkan bahwa dalam Islam, pengorbanan tidak selalu berhenti pada sebuah peristiwa. Ia dapat memiliki konsekuensi sosial, moral, bahkan hukum.
---
2. Hukaim bin Hizam dan Abu Al-Bukhturi: Kebaikan yang Tidak Dilupakan
Selain kerabat yang memberikan perlindungan, Rasulullah saw. juga tidak melupakan orang-orang yang memberikan bantuan secara langsung selama masa blokade.
Di antara mereka adalah Hukaim bin Hizam dan Abu Al-Bukhturi.
Keduanya memberikan kontribusi pada masa ketika kaum Quraisy berusaha menutup seluruh akses menuju Syi'bi.
Hukaim bin Hizam
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Hukaim bin Hizam pernah berusaha membawa makanan kepada bibinya, Khadijah ra., yang berada bersama Rasulullah di Syi'bi.
Tindakan tersebut tidak mudah.
Ia berhadapan dengan Abu Jahal yang berusaha menghalanginya.
Namun Hukaim tetap berusaha mengirimkan makanan.
Rasulullah tidak melupakan kebaikan tersebut.
Bertahun-tahun kemudian, setelah keadaan berubah dan kaum Muslimin memperoleh kemenangan, Rasulullah memberikan kepada Hukaim bin Hizam seratus ekor unta dari harta beliau pada peristiwa Hunain.
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Rasulullah memberikan seratus ekor unta kepada beberapa tokoh Quraisy yang saat itu termasuk orang-orang yang dilunakkan hatinya, di antaranya Abu Sufyan, Mu'awiyah bin Abu Sufyan, Hukaim bin Hizam, dan Al-Harits bin Al-Harits bin Kildah.
Pemberian tersebut berasal dari harta Rasulullah.
Di sini terdapat sebuah pelajaran yang sangat dalam.
Kebaikan yang dilakukan seseorang pada saat kita lemah tidak hilang nilainya ketika kita telah kuat.
Bahkan, kekuatan justru dapat menjadi ujian: apakah seseorang masih mengingat tangan yang pernah menolongnya ketika ia tidak berdaya?
Rasulullah saw. memperlihatkan bahwa beliau mengingatnya.
---
Abu Al-Bukhturi: Jasa yang Bahkan Berpengaruh di Medan Perang
Abu Al-Bukhturi memiliki kisah yang berbeda.
Ia bukan seorang Muslim, tetapi pernah menunjukkan sikap yang membela orang-orang yang berada dalam blokade.
Ketika Hukaim bin Hizam hendak membawa makanan kepada Khadijah, Abu Al-Bukhturi mempertanyakan tindakan Abu Jahal yang melarangnya.
Ia bahkan terlibat dalam perselisihan dengan Abu Jahal karena persoalan tersebut.
Abu Al-Bukhturi juga disebut sebagai salah seorang yang berperan dalam merobek dokumen pemboikotan yang dibuat oleh kaum Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Al-Muthallib.
Karena itu, ketika Perang Badar terjadi, Rasulullah tidak memperlakukannya seperti orang Quraisy lainnya.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas bahwa Rasulullah bersabda kepada para sahabat agar tidak membunuh orang-orang dari Bani Hasyim yang keluar ke medan perang karena terpaksa. Beliau juga menyebut secara khusus Abu Al-Bukhturi.
Beliau menjelaskan bahwa Abu Al-Bukhturi tidak menghendaki peperangan tersebut.
Mengapa Rasulullah memberikan perhatian khusus kepadanya?
Karena beliau mengetahui sejarah kebaikan orang tersebut.
Abu Al-Bukhturi pernah mencegah orang-orang Quraisy mengganggu Rasulullah. Ia tidak menyakiti beliau dan tidak menyampaikan sesuatu yang menyusahkan beliau. Ia juga berperan dalam merobek dokumen pemboikotan.
Maka kebaikannya tidak hilang hanya karena ia berbeda keyakinan.
Kebaikan Tetap Kebaikan
Di sini kita menemukan sebuah prinsip akhlak yang sangat kuat.
Rasulullah tidak menilai seseorang hanya berdasarkan posisi terakhirnya.
Beliau juga tidak menghapus seluruh kebaikan seseorang hanya karena orang tersebut belum menjadi Muslim.
Ada tindakan manusia yang tetap layak dihargai sebagai tindakan baik.
Perbedaan keyakinan tidak menghapus fakta bahwa seseorang pernah berbuat baik.
Dan Rasulullah menunjukkan penghargaan itu bahkan dalam situasi perang.
---
3. Al-Muth'im bin Adi: Jasa yang Dikenang Setelah Bertahun-Tahun
Tokoh berikutnya adalah Al-Muth'im bin Adi.
Ia termasuk orang yang memiliki peran penting dalam membantu mengakhiri tekanan terhadap Bani Hasyim.
Ia pernah memasukkan makanan kepada orang-orang yang berada di Syi'bi dan menunjukkan keberanian dalam menentang keberlanjutan blokade.
Bantuan tersebut diberikan ketika orang-orang yang berada di Syi'bi berada dalam keadaan sangat sulit.
Bertahun-tahun kemudian, Al-Muth'im bin Adi telah meninggal.
Namun Rasulullah masih mengingat jasanya.
Hal ini terlihat dalam peristiwa Perang Badar.
Ketika Rasulullah mendapatkan para tawanan dari kaum musyrik, beliau bersabda:
«“Kalaulah Al-Muth'im bin Adi masih hidup lalu berbicara kepadaku mengenai para tawanan itu, niscaya aku akan membebaskan mereka karena permintaannya.”»
Perkataan ini sangat menyentuh.
Al-Muth'im bukan seorang Muslim.
Namun kebaikannya tetap memiliki tempat dalam ingatan Rasulullah.
Ia telah membantu ketika Rasulullah berada dalam tekanan. Maka setelah bertahun-tahun, ketika Rasulullah memiliki kekuasaan dan berada dalam posisi menentukan nasib para tawanan, beliau masih mengingat jasa tersebut.
Tidak Semua Hutang Dibayar dengan Uang
Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa membalas kebaikan tidak selalu berarti mengembalikan sesuatu dalam bentuk yang sama.
Seseorang mungkin pernah memberikan makanan.
Orang lain mungkin memberikan perlindungan.
Yang lain mungkin membantu menghentikan kezaliman.
Dan ketika tiba saatnya, balasan dapat hadir dalam bentuk penghormatan, perlindungan, pemberian harta, atau bahkan keputusan yang mempertimbangkan jasa tersebut.
Inilah akhlak Rasulullah dalam memperlakukan kebaikan manusia.
---
4. Khadijah binti Khuwailid: Pengorbanan yang Tidak Terpisahkan dari Dakwah
Di antara orang yang paling besar pengorbanannya selama masa sulit tersebut adalah Khadijah binti Khuwailid ra.
Khadijah bukan hanya mendampingi Rasulullah secara emosional.
Ia juga memberikan dukungan material yang sangat besar.
Harta yang dimilikinya menjadi salah satu sumber penting bagi keberlangsungan kehidupan Rasulullah dan orang-orang yang bersama beliau dalam menghadapi tekanan Quraisy.
Karena itu, pembahasan mengenai penghormatan Rasulullah terhadap orang-orang yang membantu beliau dalam blokade tidak akan lengkap tanpa membahas Khadijah secara khusus.
Kisah tentang infak Rasulullah kepada istri-istrinya dan bagaimana beliau mengenang pengorbanan Khadijah akan dibahas tersendiri.
---
Kebaikan yang Dicatat oleh Sejarah
Jika kita memperhatikan semua tokoh tersebut, tampak sebuah pola yang indah.
Bani Al-Muthallib berdiri bersama Bani Hasyim.
Hukaim bin Hizam berusaha mengirimkan makanan.
Abu Al-Bukhturi menentang tindakan yang menzalimi Bani Hasyim dan membantu merobek dokumen pemboikotan.
Al-Muth'im bin Adi membantu orang-orang yang diblokade dan kemudian dikenang Rasulullah bahkan setelah ia wafat.
Khadijah mengorbankan harta dan dirinya untuk mendampingi Rasulullah dalam masa yang sangat berat.
Mereka memiliki latar belakang yang berbeda.
Sebagian adalah kerabat.
Sebagian bukan Muslim.
Sebagian membantu dengan harta.
Sebagian membantu dengan perlindungan.
Sebagian membantu dengan keberanian.
Namun Rasulullah saw. tidak menghapus satu pun kebaikan tersebut dari ingatannya.
Ketika Kita Sudah Kuat
Barangkali inilah refleksi terbesar dari kisah ini.
Ketika seseorang sedang lemah, ia mudah mengingat orang yang membantunya.
Tetapi ketika ia telah kuat, ia justru diuji: apakah ia masih mengingatnya?
Rasulullah saw. memberikan teladan bahwa kekuatan tidak seharusnya menghapus ingatan terhadap kebaikan masa lalu.
Bahkan ketika posisi beliau telah berubah—dari orang yang diblokade menjadi pemimpin yang memiliki kekuasaan—beliau tetap mengingat orang-orang yang pernah memberikan bantuan ketika beliau berada dalam tekanan.
Maka sejarah Syi'bi bukan hanya sejarah tentang bagaimana kaum Quraisy menggunakan kekuatan ekonomi untuk menekan Rasulullah.
Ia juga sejarah tentang loyalitas, keberanian, pengorbanan, dan penghargaan terhadap kebaikan.
Dan di antara akhlak yang paling indah adalah ketika seseorang tidak hanya mengingat siapa yang menyakitinya, tetapi juga tidak pernah melupakan siapa yang pernah menolongnya ketika ia berada dalam kesulitan.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif