basmalah Pictures, Images and Photos
Our Islamic Story

Choose your Language

Saat Orang Kafir Mengatakan Bahwa di Akhirat Mereka Tetap Dianugerahi Harta dan Anak Apakah seseorang dapat memastikan nasibnya ...

Saat Orang Kafir Mengatakan Bahwa di Akhirat Mereka Tetap Dianugerahi Harta dan Anak

Apakah seseorang dapat memastikan nasibnya di akhirat hanya berdasarkan angan-angannya?

Apakah kekayaan di dunia otomatis menjamin kemuliaan di hadapan Allah pada hari kemudian?

Ataukah semua itu hanyalah kesombongan yang dibangun di atas dugaan tanpa ilmu?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dijawab Allah dalam Surah Maryam ayat 77–81.

Kesombongan yang Berbicara Tanpa Dasar

Allah berfirman,

«"Lalu, apakah engkau melihat orang yang kufur terhadap ayat-ayat Kami dan dia mengatakan, 'Di akhirat pasti aku akan diberi harta dan anak.'"
(QS. Maryam: 77).»

Ucapan ini bukanlah lahir dari keyakinan kepada hari akhir. Justru sebaliknya, ia merupakan ejekan kepada orang-orang beriman.

Dalam riwayat tafsir disebutkan bahwa ucapan ini berkaitan dengan seorang musyrik yang berutang kepada sahabat Khabbab bin Al-Aratt. Ketika ditagih, ia justru mengejek, "Kalau memang ada hari kebangkitan, nanti saja aku bayar di sana. Bahkan di akhirat aku akan memperoleh harta dan anak yang lebih banyak."

Betapa beraninya seseorang berbicara tentang sesuatu yang sama sekali tidak ia yakini.

Ia mengingkari hari kebangkitan, tetapi sekaligus mengklaim mengetahui apa yang akan diterimanya pada hari itu.

Allah Mengajukan Pertanyaan yang Membungkam

Lalu Allah menjawab dengan dua pertanyaan yang tidak mungkin dapat dijawab oleh orang tersebut.

«"Apakah dia melihat yang gaib ataukah telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih?"
(QS. Maryam: 78).»

Pertanyaan ini mengguncang dasar kesombongannya.

Apakah ia mampu menembus alam gaib sehingga mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian?

Ataukah ia telah memperoleh jaminan langsung dari Allah bahwa dirinya pasti mendapatkan kenikmatan di akhirat?

Jawabannya tentu tidak.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.

Tidak ada pula orang yang dapat mengklaim memperoleh janji keselamatan dari Allah sementara ia sendiri mengingkari-Nya.

Maka atas dasar apa ia begitu yakin?

Setiap Ucapan Tidak Akan Pernah Hilang

Setelah membantah kesombongan mereka, Allah memberikan peringatan yang sangat tegas.

«"Sama sekali tidak! Kami akan menulis apa yang dia katakan dan Kami akan memperpanjang azab untuknya secara sempurna."
(QS. Maryam: 79).»

Tidak ada satu pun ucapan yang luput dari pencatatan.

Kesombongan, ejekan, kedustaan, dan klaim tanpa ilmu semuanya tercatat dengan sempurna.

Bahkan ucapan yang dianggap ringan oleh manusia dapat menjadi sebab beratnya azab di sisi Allah.

Ini menjadi pengingat bahwa lisan bukan sekadar alat berbicara, tetapi juga saksi yang kelak dipertanggungjawabkan.

Harta dan Anak Tidak Akan Menemani

Allah kemudian menyingkap kenyataan yang sering dilupakan manusia.

«"Kami akan mengambil kembali apa yang dia katakan itu (harta dan anak), dan dia datang kepada Kami seorang diri."
(QS. Maryam: 80).»

Selama hidup, manusia sering merasa kuat karena kekayaan.

Sebagian merasa aman karena banyak anak, keluarga besar, atau pengaruh yang luas.

Namun ketika kematian datang, semua itu tertinggal.

Tidak ada rumah yang ikut dibawa.

Tidak ada rekening yang menyertai.

Tidak ada jabatan yang dapat membela.

Bahkan anak-anak yang paling dicintai pun tidak mampu menggantikan amal orang tuanya.

Sebagaimana firman Allah,

«"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."
(QS. Asy-Syu'ara: 88–89).»

Pada hari itu setiap manusia berdiri sendiri di hadapan Rabb-nya, membawa amalnya masing-masing.

Mencari Kemuliaan kepada Selain Allah

Lalu mengapa mereka begitu yakin akan selamat?

Allah menjelaskan akar persoalannya.

«"Mereka menjadikan selain Allah sebagai tuhan-tuhan agar menjadi pembela mereka."
(QS. Maryam: 81).»

Kaum musyrik berharap berhala-berhala yang mereka sembah akan menjadi pelindung, pemberi syafaat, dan pembela mereka di hadapan Allah.

Mereka menggantungkan kemuliaan kepada sesuatu yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan.

Padahal kemuliaan sejati hanya berada di tangan Allah.

Apa pun yang dijadikan sandaran selain-Nya pada akhirnya akan mengecewakan.

Renungan

Rangkaian ayat ini mengajarkan bahwa kesombongan sering kali lahir dari angan-angan yang tidak memiliki dasar.

Seseorang merasa dirinya pasti selamat hanya karena kekayaan, keturunan, jabatan, atau kedudukan yang dimilikinya.

Padahal Allah bertanya,

"Apakah engkau mengetahui yang gaib?"

Pertanyaan itu bukan hanya ditujukan kepada kaum musyrik Mekah.

Ia juga menjadi cermin bagi setiap manusia yang terlalu percaya diri terhadap keselamatannya tanpa memperbaiki iman dan amalnya.

Sebab pada akhirnya, semua harta akan ditinggalkan.

Semua anak akan berpisah.

Semua jabatan akan berakhir.

Semua pembela akan menghilang.

Yang tetap tinggal hanyalah iman, amal saleh, dan hati yang bersih ketika menghadap Allah.

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah,

"Berapa banyak harta yang akan aku miliki?"

atau,

"Siapa yang akan membelaku?"

Melainkan,

"Apa yang akan aku bawa ketika datang menghadap Allah seorang diri?"

Menjawab Kesombongan Orang Kafir yang Merasa Lebih Baik, Lebih Kaya, dan Lebih Terhormat Apakah kemewahan, kekayaan, dan status ...

Menjawab Kesombongan Orang Kafir yang Merasa Lebih Baik, Lebih Kaya, dan Lebih Terhormat

Apakah kemewahan, kekayaan, dan status sosial merupakan bukti bahwa seseorang berada di jalan yang benar?

Apakah rumah yang megah, lingkungan yang elit, dan banyaknya pengikut adalah tanda bahwa Allah meridai seseorang?

Pertanyaan semacam inilah yang pernah dilontarkan kaum musyrik Mekah kepada kaum Muslimin pada masa awal dakwah. Ketika ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak membantah isi wahyu dengan argumen ilmiah atau logika yang kuat. Sebaliknya, mereka mengalihkan pembicaraan kepada ukuran-ukuran duniawi.

Allah berfirman,

«"Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Manakah di antara kedua golongan yang lebih baik tempat tinggal dan lebih indah tempat pertemuannya?'"
(QS. Maryam: 73)»

Bagi mereka, kebenaran diukur dengan kemewahan. Mereka memandang kaum Muslimin sebagai kelompok kecil yang miskin, lemah, dan sering berkumpul secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam. Sebaliknya, mereka merasa berada di pihak yang benar karena memiliki rumah-rumah megah, kekuasaan, pengaruh, dan majelis-majelis yang dipenuhi tokoh-tokoh terkemuka Quraisy.

Logika mereka sederhana: "Kalau agama Muhammad benar, mengapa justru orang-orang miskin yang mengikutinya? Mengapa kami yang kaya dan terpandang tidak lebih dahulu beriman?"

Pola pikir seperti ini ternyata bukan hanya milik kaum Quraisy. Allah mengabadikannya pula dalam firman-Nya:

«"Sekiranya Al-Qur'an itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak akan mendahului kami (beriman) kepadanya."
(QS. Al-Ahqaf: 11).»

Seolah-olah kekayaan adalah ukuran kebenaran.

Namun, bagaimana Allah menjawab kesombongan itu?

Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ membalas ejekan mereka dengan membanggakan kaum Muslimin. Allah justru mengajak mereka melihat sejarah.

«"Betapa banyak umat sebelum mereka telah Kami binasakan, padahal mereka lebih bagus perkakas rumah tangganya dan lebih indah dipandang mata."
(QS. Maryam: 74).»

Bukankah kaum 'Ad memiliki bangunan-bangunan megah?

Bukankah kaum Tsamud memahat gunung menjadi istana?

Bukankah mereka jauh lebih makmur daripada kaum Quraisy?

Lalu mengapa mereka tetap dibinasakan?

Karena kemewahan bukanlah ukuran kemuliaan di sisi Allah.

Keindahan kota, kecanggihan peradaban, kemajuan ekonomi, dan kemegahan bangunan tidak pernah menjadi jaminan keselamatan suatu bangsa. Yang menjadi ukuran adalah iman, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah.

Lalu mengapa Allah tidak segera menghancurkan orang-orang yang sombong itu?

Allah menjawab:

«"Katakanlah, siapa yang berada dalam kesesatan, biarlah Tuhan Yang Maha Pengasih memperpanjang waktu baginya..."
(QS. Maryam: 75).»

Penangguhan bukan berarti pembenaran.

Kelapangan rezeki bukan selalu tanda keridaan.

Panjang umur bukan berarti Allah menyetujui semua perbuatannya.

Kadang-kadang Allah memberi waktu agar manusia memiliki kesempatan untuk bertobat. Namun, apabila mereka terus tenggelam dalam kesombongan, pada akhirnya mereka akan menyaksikan sendiri siapa yang sebenarnya berada pada posisi yang hina dan siapa yang memiliki bala tentara yang lemah.

Di dunia mereka mungkin tampak kuat.

Di akhirat seluruh kekuatan itu lenyap.

Lalu bagaimana dengan orang-orang beriman yang pada saat itu hidup dalam tekanan, kemiskinan, dan penghinaan?

Allah memberikan kabar gembira kepada mereka.

«"Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal kebajikan yang kekal lebih baik pahala dan kesudahannya di sisi Tuhanmu."
(QS. Maryam: 76).»

Inilah jawaban Allah kepada orang-orang beriman.

Jangan sibuk membandingkan kemewahan.

Jangan berkecil hati karena sedikit pengikut.

Jangan minder karena tidak memiliki kekuasaan.

Yang terpenting adalah terus bertambah dalam hidayah dan amal saleh.

Sebab seluruh kemewahan dunia akan berakhir, sedangkan amal kebajikan akan tetap kekal.

Renungan

Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah kekayaan, jabatan, popularitas, atau kemegahan tempat tinggalnya.

Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa banyak peradaban yang tampak tak terkalahkan akhirnya runtuh karena kesombongan dan kedurhakaannya.

Sebaliknya, orang-orang yang tetap beriman, meskipun tampak lemah di mata manusia, justru memperoleh pertolongan Allah dan kemuliaan yang abadi.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah:

"Siapa yang paling kaya?"

atau,

"Siapa yang paling megah tempat tinggalnya?"

Melainkan:

"Siapakah yang paling dekat kepada Allah?"

Sebab di hadapan-Nya, bukan kemewahan yang menentukan nilai seseorang, melainkan iman, ketakwaan, dan amal salehnya.

Apakah Yang Mati Akan Dihidupkan Kembali? Ketika Al-Qur'an Menjawab Keraguan Kaum Kafir tentang Hari Kebangkitan...


Apakah Yang Mati Akan Dihidupkan Kembali?

Ketika Al-Qur'an Menjawab Keraguan Kaum Kafir tentang Hari Kebangkitan

Apakah manusia benar-benar akan hidup kembali setelah jasadnya hancur menjadi tanah dan tulang-belulang?

Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan baru. Jauh sebelum berkembangnya peradaban modern, kaum musyrik Mekah telah melontarkannya sebagai bentuk ejekan terhadap ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Mereka tidak sekadar bertanya, tetapi berusaha meruntuhkan keyakinan tentang hari kebangkitan.

Salah satu peristiwa paling terkenal melibatkan Ubay bin Khalaf. Menurut riwayat yang dikutip dalam Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI dari Al-Wāḥidī, ia mengambil sepotong tulang yang telah lapuk. Tulang itu diremas hingga hancur menjadi serpihan halus, kemudian diterbangkan oleh angin.

Dengan nada mengejek ia berkata,

«"Apakah setelah menjadi seperti ini manusia masih mungkin dihidupkan kembali?"»

Provokasi inilah yang menjadi latar turunnya firman Allah dalam Surah Maryam.

«"Orang (kafir) berkata, 'Betulkah apabila telah mati kelak, aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan hidup kembali?'"
(QS. Maryam: 66)»

Pertanyaan yang Berulang Sepanjang Sejarah

Al-Qur'an menunjukkan bahwa keraguan semacam ini bukan hanya diucapkan oleh Ubay bin Khalaf. Pertanyaan serupa berkali-kali muncul dari kaum yang mengingkari kehidupan akhirat.

Mereka berkata,

«"Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?"
(QS. Al-Waqi'ah: 47)»

Mereka juga bertanya,

«"Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?"
(QS. Al-Isra': 49)»

Bagi mereka, hancurnya jasad dianggap sebagai bukti mustahilnya kebangkitan. Cara berpikir ini lahir karena penilaian mereka hanya bertumpu pada apa yang dapat dilihat oleh mata.

Allah Membalik Logika Mereka

Al-Qur'an tidak menjawab dengan teori filsafat yang rumit.

Allah justru mengajak manusia kembali kepada fakta yang paling dekat dengan dirinya sendiri.

«"Apakah manusia tidak menyadari bahwa Kami telah menciptakannya dahulu, padahal sebelumnya dia tidak berwujud sama sekali?"
(QS. Maryam: 67)»

Inilah argumen yang sangat mendasar.

Jika Allah mampu menciptakan manusia dari keadaan yang sama sekali tidak ada, mengapa menghidupkan kembali manusia yang pernah ada dianggap mustahil?

Menciptakan dari "ketiadaan" tentu bukanlah pekerjaan yang lebih ringan daripada membangkitkan sesuatu yang telah pernah diciptakan.

Karena itu Allah menegaskan,

«"Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali."
(QS. Ar-Rum: 27)»

Dan dalam Surah Yasin Allah memberikan jawaban yang lebih tegas kepada orang yang membawa tulang belulang itu.

«"Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur?"»

Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ menjawab,

«"Yang akan menghidupkannya ialah Allah yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui segala makhluk."
(QS. Yasin: 78–79)»

Hadis Qudsi: Mendustakan Kebangkitan Berarti Mendustakan Allah

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Allah berfirman bahwa manusia telah mendustakan-Nya ketika menganggap kebangkitan mustahil.

Allah berfirman,

«"Anak Adam telah mendustakan-Ku... Ia berkata bahwa Aku tidak akan menghidupkannya kembali sebagaimana Aku menciptakannya pertama kali. Padahal mengulang penciptaan tidaklah lebih sulit bagi-Ku daripada memulainya."»

Hadis ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah kemampuan Allah, melainkan keengganan manusia mengakui kekuasaan-Nya.

Dari Keraguan Menuju Pengadilan Akhirat

Setelah membantah logika orang-orang kafir, Al-Qur'an kemudian membawa pembaca kepada gambaran Hari Kiamat.

Allah bersumpah,

«"Demi Tuhanmu, sungguh Kami akan mengumpulkan mereka bersama setan-setan, kemudian Kami akan mendatangkan mereka ke sekeliling Jahanam dalam keadaan berlutut."
(QS. Maryam: 68)»

Mereka yang dahulu mengikuti langkah-langkah setan akan dikumpulkan bersama pemimpin yang mereka taati.

Suasana Mahsyar digambarkan sangat dahsyat. Pada hari itu setiap manusia hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam Surah 'Abasa ayat 34–37.

Pemimpin Kedurhakaan Didahulukan

Al-Qur'an kemudian mengungkap proses pengadilan yang sangat adil.

«"Kemudian pasti Kami tarik dari setiap golongan siapa di antara mereka yang paling durhaka kepada Yang Maha Pengasih."
(QS. Maryam: 69)»

Mereka yang paling sombong, paling keras menentang kebenaran, dan paling banyak menyesatkan manusia akan dipisahkan terlebih dahulu.

Allah menegaskan,

«"Kami lebih mengetahui siapa yang paling layak dimasukkan ke dalam neraka."
(QS. Maryam: 70)»

Tidak ada satu pun amal yang tersembunyi. Seluruh perbuatan manusia telah tercatat secara sempurna.

Semua Akan Melewati Neraka

Salah satu ayat yang paling menggugah dalam rangkaian ini adalah firman Allah,

«"Tidak ada seorang pun di antaramu yang tidak akan melewatinya."
(QS. Maryam: 71)»

Para ulama menjelaskan bahwa seluruh manusia akan melewati Shirath yang dibentangkan di atas Neraka Jahanam.

Hadis sahih riwayat Muslim menggambarkan bahwa sebagian orang melintasinya secepat kilat, sebagian seperti angin, sebagian seperti burung, sebagian lagi tersandung, tercabik oleh pengait-pengait neraka, bahkan ada yang akhirnya terjatuh ke dalamnya.

Kecepatan melintas bergantung kepada kadar iman dan amal seseorang.

Akhir yang Berbeda

Perjalanan itu berakhir dengan dua nasib yang sangat kontras.

Allah berfirman,

«"Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalamnya dalam keadaan tersungkur."
(QS. Maryam: 72)»

Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa yang memperoleh keselamatan bukan sekadar orang yang mengaku beriman, melainkan mereka yang menjaga ketakwaannya.

Orang-orang yang amal baiknya lebih berat akan memperoleh ampunan dan rahmat Allah, sedangkan mereka yang dipenuhi kezaliman akan menerima balasan yang setimpal.

Penutup

Rangkaian ayat Surah Maryam ayat 66–72 memperlihatkan pola argumentasi Al-Qur'an yang sangat sistematis.

Dimulai dari pertanyaan sinis orang-orang kafir, kemudian dijawab dengan bukti penciptaan manusia dari ketiadaan, dilanjutkan dengan penegasan tentang kekuasaan Allah menghidupkan kembali makhluk-Nya, lalu ditutup dengan gambaran nyata tentang Mahsyar, Shirath, dan keputusan akhir bagi setiap manusia.

Pesan utamanya sangat jelas: bagi Zat yang menciptakan manusia dari tiada, membangkitkan kembali manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang mustahil. Yang dipersoalkan Al-Qur'an adalah kesombongan manusia yang enggan mempercayainya sebelum hari itu benar-benar datang.

Penanganan Simbol Palestina dan Eskalasi Pengawasan pada Piala Dunia 2026 Apakah sebuah bendera selalu dipandang sebagai identit...

Penanganan Simbol Palestina dan Eskalasi Pengawasan pada Piala Dunia 2026



Apakah sebuah bendera selalu dipandang sebagai identitas nasional, ataukah dalam situasi tertentu ia berubah menjadi objek kecurigaan politik?

Pertanyaan itu mencuat selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Turnamen yang seharusnya menjadi panggung persatuan melalui olahraga justru memperlihatkan fenomena yang mengundang perdebatan: meningkatnya pengawasan terhadap bendera dan atribut Palestina di berbagai stadion.

Secara formal, FIFA mengakui legitimasi bendera nasional dan menjamin hak suporter untuk menampilkan identitas budaya maupun kebangsaan selama tidak mengandung unsur kebencian atau provokasi. Namun, praktik di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Di sejumlah stadion, atribut Palestina justru menjadi sasaran pemeriksaan khusus, bahkan dalam beberapa kasus diminta untuk disimpan atau disita.

Di sinilah muncul sebuah pertanyaan mendasar. Apakah yang bermasalah adalah benderanya, atau cara aturan itu diterapkan?

Masalah utama tampaknya bukan terletak pada regulasi FIFA, melainkan pada ambiguitas penerapannya. Ketika aturan tidak disampaikan secara tegas, ruang interpretasi menjadi sangat luas. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan melalui diskresi aparat keamanan di lapangan.

Koordinator aksi, Maisa Morrar, menilai bahwa ketidakjelasan sikap FIFA telah membuka ruang bagi tindakan yang berbeda-beda di setiap stadion. Menurutnya, kebingungan mengenai apa yang sebenarnya diperbolehkan justru melahirkan arogansi dalam penegakan aturan.

Perbedaan antara regulasi resmi dan praktik di lapangan pun semakin terlihat.

Regulasi FIFA

- Mengizinkan pengibaran bendera nasional dari negara anggota maupun entitas yang diakui.
- Menjamin hak suporter menampilkan identitas budaya dan nasional selama tidak bersifat ofensif.
- Menghendaki standar pemeriksaan yang berlaku sama bagi seluruh atribut suporter.

Realitas di Lapangan

- Petugas keamanan di stadion seperti Los Angeles Stadium (Inglewood) dan Levi's Stadium secara khusus memeriksa atribut Palestina.
- Sejumlah suporter diminta menurunkan atau menyimpan bendera Palestina dengan alasan menjaga ketertiban.
- Pemeriksaan terhadap atribut Palestina sering berlangsung lebih lama dibanding atribut negara lain, sehingga memunculkan kesan adanya diskriminasi visual.

Bukankah hukum kehilangan maknanya ketika diterapkan secara berbeda kepada simbol yang berbeda?

Pola tersebut terlihat dalam pengalaman Omar Dreidi, seorang agen pemain NBA yang memahami aspek hukum kontrak dan regulasi organisasi olahraga internasional. Ketika membawa bendera Palestina di Levi's Stadium, ia mempertanyakan konsistensi petugas keamanan.

Proses yang dialaminya mengikuti pola yang hampir seragam.

Pertama, petugas melakukan identifikasi visual terhadap atribut Palestina. Selanjutnya mereka meminta agar atribut tersebut diturunkan atau disimpan. Ketika suporter mempertanyakan dasar hukumnya, petugas biasanya berkonsultasi melalui radio untuk memperoleh legitimasi tambahan. Jika perdebatan berlanjut, ancaman penyitaan menjadi langkah terakhir.

Dreidi kemudian mengajukan pertanyaan sederhana yang justru menyingkap persoalan prinsip.

«"Jika Anda akan memaksa saya menurunkan bendera Palestina saya, maka paksa juga orang itu untuk melepaskan keffiyeh-nya."»

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan sekadar membela sebuah bendera, melainkan menuntut konsistensi dalam penerapan aturan.

Menariknya, tim nasional Palestina bahkan tidak tampil dalam turnamen tersebut. Namun simbol Palestina justru hadir di berbagai tribun melalui solidaritas suporter dari Aljazair, Yordania, dan berbagai negara lain.

Apa maknanya?

Hal itu menunjukkan bahwa bagi sebagian pendukung sepak bola, Palestina telah melampaui identitas kewarganegaraan semata. Ia menjadi simbol solidaritas terhadap isu kemanusiaan yang mereka yakini.

Maisa Morrar menggambarkan suasana tersebut dengan penuh harapan.

«"Terasa sangat penting bagi saya untuk berada di sana pada saat yang sangat bersejarah ini—berada di stadion besar yang berbasis di AS, dan melihatnya dipenuhi dengan keffiyeh dan bendera Palestina, Yordania, dan Aljazair. Sangat penting bagi saya untuk melihat persahabatan dan solidaritas tersebut."»

Di era media sosial, dinamika itu tidak berhenti di dalam stadion. Rekaman video interaksi Dreidi dengan petugas keamanan yang beredar melalui platform X memicu diskusi internasional dan menjadi bentuk tekanan publik terhadap otoritas penyelenggara.

Peristiwa-peristiwa tersebut akhirnya membawa kritik yang lebih luas kepada FIFA.

Sebagai organisasi yang mengusung slogan pemersatu melalui sepak bola, mampukah FIFA menjaga netralitasnya ketika turnamen berlangsung di tengah tensi geopolitik yang tinggi?

Kritik yang berkembang berfokus pada beberapa hal.

- FIFA menjatuhkan sanksi terhadap Rusia setelah invasi ke Ukraina pada 2022, tetapi hingga kini belum memenuhi tuntutan Federasi Sepak Bola Palestina untuk menjatuhkan sanksi serupa kepada Israel. Perbedaan respons ini dipandang sebagian pihak sebagai standar yang tidak konsisten.
- Kehadiran sejumlah tokoh politik Amerika Serikat, termasuk Donald Trump, dalam rangkaian turnamen turut memunculkan persepsi bahwa penyelenggaraan Piala Dunia tidak sepenuhnya terlepas dari dinamika politik domestik.
- FIFA juga dinilai belum mampu memastikan bahwa aparat keamanan lokal menerapkan aturan secara seragam sehingga hak-hak suporter tetap terlindungi.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang selembar kain yang dikibarkan di tribun.

Yang dipertanyakan adalah apakah prinsip netralitas olahraga benar-benar dapat dipertahankan ketika simbol-simbol tertentu diperlakukan berbeda dibanding simbol yang lain. Selama regulasi masih menyisakan ruang bagi penafsiran yang selektif, perdebatan mengenai keadilan, konsistensi, dan kebebasan berekspresi di arena olahraga internasional tampaknya akan terus berlanjut.

Pengaruh Finansial Lobi Israel (AIPAC) dalam Kontestasi Primer Michigan dan Dinamika Internal Partai Demokrat ...

Pengaruh Finansial Lobi Israel (AIPAC) dalam Kontestasi Primer Michigan dan Dinamika Internal Partai Demokrat



Apakah uang masih menjadi penentu utama dalam demokrasi Amerika? Ataukah mobilisasi akar rumput mampu mengalahkan kekuatan modal politik yang nyaris tak terbatas?

Pertanyaan itu kini diuji di Michigan. Pemilihan primer Partai Demokrat pada 4 Agustus 2026 bukan sekadar perebutan satu kursi Senat. Kontestasi ini telah berubah menjadi medan pertarungan mengenai batas pengaruh kelompok lobi, arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat, dan masa depan identitas Partai Demokrat sendiri.

Michigan memiliki arti yang jauh melampaui batas negara bagian tersebut. Dengan populasi Arab-Amerika terbesar di Amerika Serikat, isu bantuan militer kepada Israel menjadi salah satu faktor elektoral yang paling sensitif. Karena itu, hasil pemilu ini dipandang sebagai test of influence bagi kekuatan lobi pro-Israel sekaligus test of loyalty bagi Partai Demokrat.

Rekor Investasi Politik

Besarnya investasi politik dalam kontestasi ini menunjukkan betapa strategisnya Michigan.

Melalui United Democracy Project (UDP), AIPAC telah menggelontorkan hampir 30 juta dolar AS untuk mendukung Haley Stevens. Angka ini menjadi pengeluaran terbesar organisasi tersebut dalam satu kontestasi politik sepanjang sejarahnya.

Jika digabungkan dengan berbagai kelompok luar lainnya, total pengeluaran yang mendukung Stevens mencapai sekitar 50 juta dolar AS, menciptakan kesenjangan finansial yang sangat besar dibandingkan lawannya.

Pertanyaannya, apakah dominasi dana kampanye masih cukup untuk memenangkan hati pemilih ketika isu moral dan kebijakan luar negeri menjadi pusat perhatian?

Dua Wajah Partai Demokrat

Kontestasi ini pada hakikatnya mempertemukan dua arus besar dalam tubuh Partai Demokrat.

Di satu sisi berdiri Haley Stevens, anggota Kongres empat periode yang merepresentasikan sayap establishment. Ia dikenal sebagai Demokrat yang secara terbuka mendukung hubungan strategis Amerika Serikat dengan Israel dan mengandalkan jaringan donor tradisional serta dominasi iklan media.

Di sisi lain muncul Abdul El-Sayed, politikus progresif Muslim keturunan Mesir yang berupaya menjadi senator Muslim pertama dari Michigan. Ia membangun kampanyenya sebagai antitesis politik uang dengan mengandalkan relawan dan mobilisasi akar rumput.

Dengan demikian, yang dipertarungkan bukan hanya dua kandidat, melainkan dua model politik: kekuatan modal versus kekuatan organisasi masyarakat.

Strategi "De-risking" AIPAC

Menariknya, meskipun motivasi utama dukungan AIPAC berkaitan dengan sikap Stevens terhadap Israel, materi kampanyenya justru hampir tidak menyinggung konflik Israel-Palestina.

Mengapa?

Karena Michigan bukan wilayah yang aman untuk menjadikan Gaza sebagai tema utama kampanye.

Sebaliknya, iklan televisi lebih banyak menyoroti keberhasilan Stevens di bidang manufaktur, lapangan kerja, serta dukungan dari Barack Obama. Strategi ini menunjukkan upaya de-risking, yaitu mengurangi risiko politik dengan mengalihkan perhatian pemilih dari isu yang paling kontroversial.

Strategi tersebut memperlihatkan bahwa bahkan kelompok lobi yang sangat kuat sekalipun memahami bahwa tidak semua pesan efektif disampaikan secara terbuka.

Pergeseran di Dalam Partai Demokrat

Perubahan tidak hanya terjadi di arena kampanye, tetapi juga di dalam tubuh Partai Demokrat sendiri.

Momentum penting muncul ketika DPR membahas amandemen yang diajukan Thomas Massie untuk melarang penggunaan dana pemerintah sebesar 3,3 miliar dolar AS sebagai bantuan militer kepada Israel.

Hasilnya mengejutkan.

Sebanyak 103 anggota Demokrat mendukung amandemen tersebut. Hampir separuh fraksi Demokrat mengambil posisi yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Respons AIPAC pun sangat tegas.

Organisasi tersebut mencabut 15 anggota Demokrat, termasuk Minority Whip Katherine Clark, dari portal pendanaan mereka. Langkah ini menunjukkan penerapan kebijakan yang dapat digambarkan sebagai zero tolerance terhadap setiap upaya membatasi bantuan militer kepada Israel.

Pesan politiknya sangat jelas: dukungan finansial memiliki konsekuensi, demikian pula penolakannya.

Pertarungan Air Wars versus Ground Game

Michigan juga menjadi laboratorium politik mengenai efektivitas dua strategi kampanye yang berbeda.

Haley Stevens mengandalkan air wars, yakni dominasi iklan televisi dan media yang dibiayai oleh pengeluaran luar dalam jumlah besar.

Sebaliknya, Abdul El-Sayed mengembangkan ground game melalui sekitar 10.000 sukarelawan yang melakukan pendekatan langsung kepada pemilih.

Dengan dukungan tokoh progresif seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez, El-Sayed mengusung slogan "The Many versus The Money"—perlawanan masyarakat terhadap dominasi modal politik.

Di sisi lain, muncul pula sebuah Super PAC yang menentang kebijakan Israel dan menyatakan siap mengeluarkan dana "apa pun yang diperlukan" untuk membantu El-Sayed. Kehadirannya menjadi variabel penting yang berpotensi mengubah dinamika pada fase akhir kampanye.

Polarisasi Retorika

Perbedaan strategi kampanye mencerminkan perbedaan sikap yang tajam mengenai kebijakan luar negeri Amerika.

Haley Stevens tetap mempertahankan identitasnya sebagai Demokrat pro-Israel. Meskipun ia mengkritik kepemimpinan Benjamin Netanyahu karena dinilai menghambat perdamaian dan membahayakan keselamatan warga Yahudi, Stevens tetap mendukung kerja sama pertahanan Amerika–Israel tanpa syarat tambahan. Ia juga secara konsisten mengalihkan pembahasan mengenai sumber dana kampanyenya kepada rekam jejak legislasi di bidang manufaktur.

Sebaliknya, Abdul El-Sayed menggunakan istilah "genosida" untuk menggambarkan situasi di Gaza pasca-gencatan senjata Oktober 2025. Ia bahkan menyebut pemerintahan Israel saat ini sebagai pemerintahan yang "jahat" (evil). Narasi utamanya menegaskan bahwa pengaruh finansial kelompok lobi seperti AIPAC telah mendistorsi arah kebijakan Partai Demokrat.

Sebuah Ujian bagi Demokrasi Amerika

Pada akhirnya, pertarungan di Michigan lebih besar daripada sekadar persaingan antara Haley Stevens dan Abdul El-Sayed.

Ini adalah pertanyaan mengenai siapa yang sesungguhnya membentuk arah demokrasi Amerika.

Apakah kekuatan modal politik yang mampu membiayai puluhan juta dolar iklan akan kembali membuktikan dominasinya?

Ataukah pengorganisasian masyarakat, relawan, dan kedekatan dengan pemilih mampu menandingi keunggulan finansial tersebut?

Secara historis, belanja iklan dalam jumlah besar sering kali berhasil memenangkan pemilu primer, terutama ketika tingkat pengenalan kandidat masih rendah. Namun Michigan menghadirkan variabel yang berbeda: polarisasi politik yang tajam, perubahan sikap basis Demokrat terhadap Israel, serta mobilisasi masyarakat yang semakin kuat.

Karena itu, hasil pemilihan primer ini kemungkinan tidak hanya menentukan siapa yang memenangkan kursi Senat, tetapi juga menjadi indikator penting mengenai apakah kekuatan uang masih menjadi penentu utama dalam politik Amerika, atau mulai menghadapi batas-batas baru yang dibangun oleh perubahan sikap para pemilih.

Mereka yang Pernah (Ingin) Mengganti Bahasa Arab dalam Shalat Disebutkan pada sebuah hadis y...

Mereka yang Pernah (Ingin) Mengganti Bahasa Arab dalam Shalat


Disebutkan pada sebuah hadis yang menegaskan bahwa shalat tidak sah tanpa membaca Surah Al-Fatihah. Karena itu, Al-Fatihah wajib dibaca pada setiap rakaat. Konsekuensinya, setiap Muslim berkewajiban menghafalnya sekaligus memahami maknanya, agar bacaan yang terucap di lisan sejalan dengan penghayatan yang hadir di dalam hati.

Pada masa modern pernah muncul gagasan agar bacaan shalat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan alasan mempertahankan bahasa nasional. Menurut Hamka, gagasan semacam ini sangat berbahaya karena dapat memutus hubungan umat Islam dengan sumber ajaran yang asli sebagaimana diwariskan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Mencintai bahasa dan bangsa sendiri merupakan sesuatu yang baik. Namun, kecintaan tersebut tidak boleh mengorbankan warisan akidah yang menjadi fondasi agama. Kehidupan seorang Muslim tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur'an, termasuk bahasa yang digunakan dalam ibadah yang telah ditetapkan syariat.

Hamka memandang bahwa gagasan mengganti bahasa Arab dalam shalat tidak dapat dilepaskan dari pengaruh panjang masa penjajahan yang berusaha mengurangi kedekatan umat Islam dengan bahasa Arab dan menggantinya dengan bahasa penjajah. Ia mencontohkan bahwa hingga tahun 1965, dua puluh tahun setelah Indonesia merdeka, masih ada orang yang lebih mudah berbicara dalam bahasa Belanda daripada bahasa Indonesia.

Ia juga mengemukakan bahwa tata bahasa Melayu, yang menjadi dasar bahasa Indonesia, dalam beberapa hal justru lebih dekat dengan bahasa Arab daripada bahasa Belanda. Sebagai contoh, kata rumahku memiliki bentuk yang sepadan dengan kata Arab baiti, yang sama-sama menunjukkan kepemilikan melalui imbuhan. Sebaliknya, dalam bahasa Belanda digunakan bentuk mijn huis dengan susunan yang berbeda.

Lebih jauh, Hamka mengingatkan bahwa bangsa-bangsa Muslim seperti Persia dan Turki, meskipun lebih dahulu memeluk Islam daripada masyarakat Nusantara, tidak pernah menjadikan bahasa mereka sebagai pengganti bacaan shalat.

Pada abad ketiga dan keempat Hijriah memang pernah muncul gerakan Syu'ubiyah di Persia yang berusaha menonjolkan keunggulan bangsa non-Arab. Namun, gerakan itu tidak sampai mendorong penggantian bacaan shalat dari bahasa Arab ke bahasa Persia.

Memang diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah pernah berijtihad membolehkan seorang mualaf yang sama sekali belum mampu membaca Al-Fatihah menggunakan bahasa Persia untuk sementara waktu. Akan tetapi, pendapat tersebut tidak menjadi pandangan mayoritas ulama. Bahkan, murid-murid beliau lebih memilih pendapat bahwa orang yang belum mampu membaca Al-Fatihah sebaiknya mendengarkan bacaan imam hingga mampu mempelajarinya daripada menggantinya dengan bahasa lain.

Karena itu, para ulama menegaskan bahwa lafaz Al-Fatihah tidak boleh diganti, bahkan dengan susunan kata lain dalam bahasa Arab sekalipun, apalagi diterjemahkan ke bahasa lain. Sebab, setiap bahasa memiliki kekhasan makna yang tidak dapat dipindahkan secara sempurna ke dalam bahasa lain.

Pengalaman di Turki juga sering dijadikan pelajaran. Pada masa Mustafa Kemal Atatürk, adzan pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki sebagai bagian dari kebijakan sekularisasi. Namun, setelah beliau wafat, adzan dikembalikan ke bahasa Arab karena masyarakat merasakan bahwa terjemahan tersebut telah menghilangkan kekuatan dan pengaruh spiritualnya.

Ketika Jalal Bayar memimpin Partai Demokrat menghadapi Partai Republik peninggalan Atatürk, salah satu janjinya adalah mengembalikan adzan ke bahasa Arab. Janji tersebut memperoleh dukungan luas dari masyarakat dan menjadi salah satu faktor yang mengantarkannya kepada kemenangan.

Oleh sebab itu, Al-Fatihah hendaknya tetap dibaca dalam bahasa aslinya sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ. Setiap Muslim juga berkewajiban mempelajari bacaannya sesuai kaidah tajwid serta memahami maknanya agar shalat dapat dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan.

Shalat adalah tiang agama. Dalam shalat, seorang hamba memuji Allah, memohon pertolongan-Nya, serta mengungkapkan doa-doanya melalui bacaan Al-Fatihah. Karena itu, memahami makna bacaan merupakan bagian penting dalam menghadirkan kekhusyukan. Bagaimana mungkin seseorang dapat menghayati dialognya dengan Allah jika ia sama sekali tidak memahami apa yang sedang diucapkannya?

Tanggung jawab ini juga berada di pundak setiap orang tua. Anak-anak hendaknya dibiasakan membaca Al-Qur'an sejak usia dini, dimulai dengan menghafal Al-Fatihah karena surah inilah yang akan selalu mereka baca dalam setiap shalat. Apabila orang tua belum mampu mengajarkannya sendiri, mereka hendaknya menghadirkan guru yang dapat membimbing bacaan anak dengan benar.

Adapun bagi orang yang benar-benar belum mampu membaca Al-Fatihah, Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan agar ia menggantinya dengan terjemahan atau bacaan lain.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa'i, Ahmad, Ibnu Jarud, Ibnu Hibban, dan Ad-Daruquthni disebutkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, "Sesungguhnya aku tidak mampu menghafal sedikit pun bacaan Al-Qur'an. Karena itu, ajarkanlah kepadaku bacaan yang dapat kugunakan dalam shalatku."

Beliau bersabda:

"Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billah."

Hadis ini menunjukkan bahwa apabila seseorang benar-benar belum mampu membaca Al-Fatihah, ia tidak diperintahkan menggantinya dengan bahasa lain. Sebagai gantinya, ia diperbolehkan membaca dzikir-dzikir yang diajarkan Rasulullah ﷺ hingga mampu mempelajari bacaan Al-Qur'an.

Karena bacaan shalat termasuk ibadah yang bersifat tauqifi—ditetapkan berdasarkan tuntunan Rasulullah ﷺ—maka tidak boleh diubah menurut kehendak manusia. Jika seseorang belum mampu membaca Al-Fatihah maupun dzikir-dzikir tersebut, ia dapat mengikuti imam sambil mendengarkan bacaannya hingga mampu mempelajarinya.

Keadaan seperti ini dapat terjadi pada seorang mualaf yang baru mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia telah berkewajiban melaksanakan shalat, tetapi belum menguasai bacaan-bacaannya. Dalam kondisi demikian, ia tetap wajib terus belajar hingga mampu membaca Al-Fatihah dengan baik, sehingga keadaan tersebut hanya bersifat sementara dan tidak menjadi alasan untuk mengganti bahasa shalat dengan bahasa lain.


Sumber:
Hamka, Tafsir Al-Azhar, GIP, 2021, Hal. 88-90

Penderitaan Rasulullah ﷺ Sebelum Menjadi Imam di Masjidil Aqsha Perjuangan Rasulullah ﷺ menghadapi kaum ...

Penderitaan Rasulullah ﷺ Sebelum Menjadi Imam di Masjidil Aqsha

Perjuangan Rasulullah ﷺ menghadapi kaum musyrik Quraisy semakin hari semakin berat. Bagi para pemuka Quraisy, dakwah Islam bukan sekadar perbedaan keyakinan, tetapi ancaman terhadap kedudukan sosial, politik, ekonomi, dan spiritual yang selama ini mereka nikmati. Karena itulah, pertarungan antara hak dan batil semakin sengit.

Islam datang membawa sebuah revolusi besar dalam cara manusia memandang kehidupan. Manusia diperintahkan untuk hanya menyembah Allah, Rabb yang menciptakan mereka, bersujud hanya kepada-Nya, serta membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada sesama manusia, batu, pohon, bintang, maupun makhluk lainnya. Dengan tauhid, manusia diangkat kembali kepada kemuliaannya sebagai hamba Allah semata.

Sebaliknya, masyarakat jahiliah telah tenggelam dalam berbagai bentuk penyimpangan. Mereka tidak lagi memiliki ukuran yang benar tentang halal dan haram. Kezaliman dianggap biasa. Pembunuhan, perbudakan, riba, perampasan hak orang lain, dan eksploitasi terhadap kaum lemah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat terpecah dalam kelas-kelas sosial: bangsawan dan rakyat jelata, tuan dan budak, orang kaya dan orang miskin. Bahkan agama dijadikan alat untuk mempertahankan kekuasaan segelintir orang yang memanfaatkan kebodohan masyarakat demi kepentingan mereka sendiri.

Karena itulah kaum Quraisy mempertahankan sistem tersebut dengan sekuat tenaga. Tekanan terhadap kaum Muslim semakin keras hingga sebagian sahabat terpaksa berhijrah demi menyelamatkan akidah mereka. Namun Rasulullah ﷺ tetap bertahan di Makkah, menyampaikan risalah Allah dengan penuh kesabaran, menjelaskan kebenaran Islam sekaligus membongkar kebatilan kepercayaan masyarakat saat itu.

Di tengah beratnya perjuangan tersebut, Allah menganugerahkan kepada beliau dua pendukung yang sangat berarti. Yang pertama adalah Khadijah radhiyallahu 'anha, istri yang setia menghibur beliau, mengorbankan seluruh hartanya demi dakwah, dan menjadi penenang di saat semua orang memusuhinya. Yang kedua adalah pamannya, Abu Thalib, yang meskipun tidak memeluk Islam, tetap memberikan perlindungan sehingga kaum Quraisy tidak berani membunuh keponakannya secara terang-terangan.

Namun ujian terbesar kemudian datang. Pada tahun yang sama, Khadijah wafat, disusul Abu Thalib. Tahun itu kemudian dikenal sebagai 'Amul Huzn (Tahun Kesedihan), sekitar tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah.

Sejak kedua pelindung beliau tiada, gangguan Quraisy meningkat drastis. Mereka melakukan penghinaan yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Pernah suatu ketika mereka menumpahkan pasir ke kepala Rasulullah ﷺ. Putri beliau, Fatimah Az-Zahra radhiyallahu 'anha, membersihkan kepala ayahnya sambil menangis. Rasulullah ﷺ justru menenangkan putrinya seraya bersabda,

«"Wahai putriku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu."»

Ketika pintu dakwah di Makkah semakin tertutup, Rasulullah ﷺ mencoba mencari harapan baru di Thaif. Beliau mendatangi para pemimpin Bani Tsaqif: Abdu Yalil bin Amru, Mas'ud bin Amru, dan Habib bin Amru. Namun sambutan yang beliau terima jauh lebih menyakitkan daripada di Makkah.

Mereka menolak dakwah beliau dengan kata-kata yang kasar dan menghina. Bahkan ketika Rasulullah ﷺ meminta agar penolakan itu tidak disebarluaskan kepada Quraisy demi keselamatan dirinya, permintaan tersebut justru diabaikan. Mereka menghasut anak-anak dan para budak untuk mengejar, mencaci, dan melempari beliau dengan batu hingga kedua kaki beliau berdarah. Rasulullah ﷺ akhirnya berlindung di sebuah kebun milik Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah.

Di tempat itulah Rasulullah ﷺ memanjatkan doa yang sangat mengharukan kepada Allah:

«"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, sedikitnya daya upayaku, dan hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, Engkaulah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Rabbku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang asing yang bermuka masam kepadaku, atau kepada musuh yang menguasai urusanku? Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas bagiku..."»

Doa itu menggambarkan bahwa penderitaan terbesar Rasulullah ﷺ bukanlah luka fisik ataupun penghinaan manusia, melainkan kekhawatiran jika semua itu merupakan tanda kemurkaan Allah. Selama Allah meridhainya, seluruh penderitaan terasa ringan.

Isra': Karunia Setelah Penderitaan

Di tengah suasana duka dan tekanan yang begitu berat, Allah menganugerahkan salah satu mukjizat terbesar kepada Rasulullah ﷺ, yaitu peristiwa Isra' dan Mi'raj.

Allah memperjalankan beliau pada suatu malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, kemudian mengangkat beliau menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Perjalanan agung ini merupakan bentuk pemuliaan Allah kepada hamba-Nya yang telah bersabar dalam menghadapi seluruh ujian dakwah.

Di Masjidil Aqsha, Rasulullah ﷺ menjadi imam bagi seluruh nabi dan rasul. Dengan izin Allah, para nabi dikumpulkan dan bermakmum kepada beliau. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ merupakan penyempurna seluruh risalah para nabi sebelumnya.

Kesucian Masjidil Aqsha

Allah mengabadikan peristiwa tersebut dalam firman-Nya,

«"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami."
(QS. Al-Isra': 1)»

Dalam hadis riwayat Muslim, Abu Dzar radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang masjid pertama yang dibangun di muka bumi. Beliau menjawab, "Masjidil Haram." Ketika ditanya masjid berikutnya, beliau menjawab, "Masjidil Aqsha." Abu Dzar bertanya lagi tentang jarak waktu antara keduanya, dan Rasulullah ﷺ menjawab, "Empat puluh tahun."

Peristiwa Isra' sekaligus mengembalikan kemuliaan Masjidil Aqsha sebagai salah satu masjid paling suci dalam Islam. Setelah pembebasan Al-Quds pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, kawasan masjid dibersihkan kembali dan difungsikan sebagai tempat ibadah kaum Muslimin.

Surah Al-Isra' juga mengabadikan hubungan umat Islam dengan Masjidil Aqsha serta menyebut keberkahan negeri Syam, termasuk Palestina. Dalam surah yang sama, Allah juga mengingatkan tentang berbagai bentuk kerusakan yang dilakukan Bani Israil serta akibat yang akan mereka terima sebagai konsekuensi dari penyimpangan tersebut.

Karena itu, bagi umat Islam, Masjidil Aqsha bukan sekadar situs bersejarah. Ia merupakan bagian dari perjalanan kenabian Muhammad ﷺ, tempat beliau menjadi imam seluruh nabi, sekaligus salah satu masjid yang dimuliakan Allah hingga akhir zaman.


Sumber:
Asad At-Tamimi, impian Yahudi dan Kehancurannya Menurut Al-Qur'an, GIP, 1992, Hal. 13-21

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (54) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (8) Dakwah (2) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (19) Kecerdasan (320) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (52) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (104) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) Nabi Adam (71) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (5) Nusantara (266) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (667) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (300) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (171) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (34) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)