Saat Orang Kafir Mengatakan Bahwa di Akhirat Mereka Tetap Dianugerahi Harta dan Anak
Apakah seseorang dapat memastikan nasibnya di akhirat hanya berdasarkan angan-angannya?
Apakah kekayaan di dunia otomatis menjamin kemuliaan di hadapan Allah pada hari kemudian?
Ataukah semua itu hanyalah kesombongan yang dibangun di atas dugaan tanpa ilmu?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang dijawab Allah dalam Surah Maryam ayat 77–81.
Kesombongan yang Berbicara Tanpa Dasar
Allah berfirman,
«"Lalu, apakah engkau melihat orang yang kufur terhadap ayat-ayat Kami dan dia mengatakan, 'Di akhirat pasti aku akan diberi harta dan anak.'"
(QS. Maryam: 77).»
Ucapan ini bukanlah lahir dari keyakinan kepada hari akhir. Justru sebaliknya, ia merupakan ejekan kepada orang-orang beriman.
Dalam riwayat tafsir disebutkan bahwa ucapan ini berkaitan dengan seorang musyrik yang berutang kepada sahabat Khabbab bin Al-Aratt. Ketika ditagih, ia justru mengejek, "Kalau memang ada hari kebangkitan, nanti saja aku bayar di sana. Bahkan di akhirat aku akan memperoleh harta dan anak yang lebih banyak."
Betapa beraninya seseorang berbicara tentang sesuatu yang sama sekali tidak ia yakini.
Ia mengingkari hari kebangkitan, tetapi sekaligus mengklaim mengetahui apa yang akan diterimanya pada hari itu.
Allah Mengajukan Pertanyaan yang Membungkam
Lalu Allah menjawab dengan dua pertanyaan yang tidak mungkin dapat dijawab oleh orang tersebut.
«"Apakah dia melihat yang gaib ataukah telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pengasih?"
(QS. Maryam: 78).»
Pertanyaan ini mengguncang dasar kesombongannya.
Apakah ia mampu menembus alam gaib sehingga mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian?
Ataukah ia telah memperoleh jaminan langsung dari Allah bahwa dirinya pasti mendapatkan kenikmatan di akhirat?
Jawabannya tentu tidak.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.
Tidak ada pula orang yang dapat mengklaim memperoleh janji keselamatan dari Allah sementara ia sendiri mengingkari-Nya.
Maka atas dasar apa ia begitu yakin?
Setiap Ucapan Tidak Akan Pernah Hilang
Setelah membantah kesombongan mereka, Allah memberikan peringatan yang sangat tegas.
«"Sama sekali tidak! Kami akan menulis apa yang dia katakan dan Kami akan memperpanjang azab untuknya secara sempurna."
(QS. Maryam: 79).»
Tidak ada satu pun ucapan yang luput dari pencatatan.
Kesombongan, ejekan, kedustaan, dan klaim tanpa ilmu semuanya tercatat dengan sempurna.
Bahkan ucapan yang dianggap ringan oleh manusia dapat menjadi sebab beratnya azab di sisi Allah.
Ini menjadi pengingat bahwa lisan bukan sekadar alat berbicara, tetapi juga saksi yang kelak dipertanggungjawabkan.
Harta dan Anak Tidak Akan Menemani
Allah kemudian menyingkap kenyataan yang sering dilupakan manusia.
«"Kami akan mengambil kembali apa yang dia katakan itu (harta dan anak), dan dia datang kepada Kami seorang diri."
(QS. Maryam: 80).»
Selama hidup, manusia sering merasa kuat karena kekayaan.
Sebagian merasa aman karena banyak anak, keluarga besar, atau pengaruh yang luas.
Namun ketika kematian datang, semua itu tertinggal.
Tidak ada rumah yang ikut dibawa.
Tidak ada rekening yang menyertai.
Tidak ada jabatan yang dapat membela.
Bahkan anak-anak yang paling dicintai pun tidak mampu menggantikan amal orang tuanya.
Sebagaimana firman Allah,
«"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."
(QS. Asy-Syu'ara: 88–89).»
Pada hari itu setiap manusia berdiri sendiri di hadapan Rabb-nya, membawa amalnya masing-masing.
Mencari Kemuliaan kepada Selain Allah
Lalu mengapa mereka begitu yakin akan selamat?
Allah menjelaskan akar persoalannya.
«"Mereka menjadikan selain Allah sebagai tuhan-tuhan agar menjadi pembela mereka."
(QS. Maryam: 81).»
Kaum musyrik berharap berhala-berhala yang mereka sembah akan menjadi pelindung, pemberi syafaat, dan pembela mereka di hadapan Allah.
Mereka menggantungkan kemuliaan kepada sesuatu yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan.
Padahal kemuliaan sejati hanya berada di tangan Allah.
Apa pun yang dijadikan sandaran selain-Nya pada akhirnya akan mengecewakan.
Renungan
Rangkaian ayat ini mengajarkan bahwa kesombongan sering kali lahir dari angan-angan yang tidak memiliki dasar.
Seseorang merasa dirinya pasti selamat hanya karena kekayaan, keturunan, jabatan, atau kedudukan yang dimilikinya.
Padahal Allah bertanya,
"Apakah engkau mengetahui yang gaib?"
Pertanyaan itu bukan hanya ditujukan kepada kaum musyrik Mekah.
Ia juga menjadi cermin bagi setiap manusia yang terlalu percaya diri terhadap keselamatannya tanpa memperbaiki iman dan amalnya.
Sebab pada akhirnya, semua harta akan ditinggalkan.
Semua anak akan berpisah.
Semua jabatan akan berakhir.
Semua pembela akan menghilang.
Yang tetap tinggal hanyalah iman, amal saleh, dan hati yang bersih ketika menghadap Allah.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah,
"Berapa banyak harta yang akan aku miliki?"
atau,
"Siapa yang akan membelaku?"
Melainkan,
"Apa yang akan aku bawa ketika datang menghadap Allah seorang diri?"
0 komentar: