Menjawab Kesombongan Orang Kafir yang Merasa Lebih Baik, Lebih Kaya, dan Lebih Terhormat
Apakah kemewahan, kekayaan, dan status sosial merupakan bukti bahwa seseorang berada di jalan yang benar?
Apakah rumah yang megah, lingkungan yang elit, dan banyaknya pengikut adalah tanda bahwa Allah meridai seseorang?
Pertanyaan semacam inilah yang pernah dilontarkan kaum musyrik Mekah kepada kaum Muslimin pada masa awal dakwah. Ketika ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak membantah isi wahyu dengan argumen ilmiah atau logika yang kuat. Sebaliknya, mereka mengalihkan pembicaraan kepada ukuran-ukuran duniawi.
Allah berfirman,
«"Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Manakah di antara kedua golongan yang lebih baik tempat tinggal dan lebih indah tempat pertemuannya?'"
(QS. Maryam: 73)»
Bagi mereka, kebenaran diukur dengan kemewahan. Mereka memandang kaum Muslimin sebagai kelompok kecil yang miskin, lemah, dan sering berkumpul secara sembunyi-sembunyi di Darul Arqam. Sebaliknya, mereka merasa berada di pihak yang benar karena memiliki rumah-rumah megah, kekuasaan, pengaruh, dan majelis-majelis yang dipenuhi tokoh-tokoh terkemuka Quraisy.
Logika mereka sederhana: "Kalau agama Muhammad benar, mengapa justru orang-orang miskin yang mengikutinya? Mengapa kami yang kaya dan terpandang tidak lebih dahulu beriman?"
Pola pikir seperti ini ternyata bukan hanya milik kaum Quraisy. Allah mengabadikannya pula dalam firman-Nya:
«"Sekiranya Al-Qur'an itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak akan mendahului kami (beriman) kepadanya."
(QS. Al-Ahqaf: 11).»
Seolah-olah kekayaan adalah ukuran kebenaran.
Namun, bagaimana Allah menjawab kesombongan itu?
Allah tidak memerintahkan Nabi Muhammad ï·º membalas ejekan mereka dengan membanggakan kaum Muslimin. Allah justru mengajak mereka melihat sejarah.
«"Betapa banyak umat sebelum mereka telah Kami binasakan, padahal mereka lebih bagus perkakas rumah tangganya dan lebih indah dipandang mata."
(QS. Maryam: 74).»
Bukankah kaum 'Ad memiliki bangunan-bangunan megah?
Bukankah kaum Tsamud memahat gunung menjadi istana?
Bukankah mereka jauh lebih makmur daripada kaum Quraisy?
Lalu mengapa mereka tetap dibinasakan?
Karena kemewahan bukanlah ukuran kemuliaan di sisi Allah.
Keindahan kota, kecanggihan peradaban, kemajuan ekonomi, dan kemegahan bangunan tidak pernah menjadi jaminan keselamatan suatu bangsa. Yang menjadi ukuran adalah iman, ketakwaan, dan ketaatan kepada Allah.
Lalu mengapa Allah tidak segera menghancurkan orang-orang yang sombong itu?
Allah menjawab:
«"Katakanlah, siapa yang berada dalam kesesatan, biarlah Tuhan Yang Maha Pengasih memperpanjang waktu baginya..."
(QS. Maryam: 75).»
Penangguhan bukan berarti pembenaran.
Kelapangan rezeki bukan selalu tanda keridaan.
Panjang umur bukan berarti Allah menyetujui semua perbuatannya.
Kadang-kadang Allah memberi waktu agar manusia memiliki kesempatan untuk bertobat. Namun, apabila mereka terus tenggelam dalam kesombongan, pada akhirnya mereka akan menyaksikan sendiri siapa yang sebenarnya berada pada posisi yang hina dan siapa yang memiliki bala tentara yang lemah.
Di dunia mereka mungkin tampak kuat.
Di akhirat seluruh kekuatan itu lenyap.
Lalu bagaimana dengan orang-orang beriman yang pada saat itu hidup dalam tekanan, kemiskinan, dan penghinaan?
Allah memberikan kabar gembira kepada mereka.
«"Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal kebajikan yang kekal lebih baik pahala dan kesudahannya di sisi Tuhanmu."
(QS. Maryam: 76).»
Inilah jawaban Allah kepada orang-orang beriman.
Jangan sibuk membandingkan kemewahan.
Jangan berkecil hati karena sedikit pengikut.
Jangan minder karena tidak memiliki kekuasaan.
Yang terpenting adalah terus bertambah dalam hidayah dan amal saleh.
Sebab seluruh kemewahan dunia akan berakhir, sedangkan amal kebajikan akan tetap kekal.
Renungan
Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah kekayaan, jabatan, popularitas, atau kemegahan tempat tinggalnya.
Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa banyak peradaban yang tampak tak terkalahkan akhirnya runtuh karena kesombongan dan kedurhakaannya.
Sebaliknya, orang-orang yang tetap beriman, meskipun tampak lemah di mata manusia, justru memperoleh pertolongan Allah dan kemuliaan yang abadi.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah:
"Siapa yang paling kaya?"
atau,
"Siapa yang paling megah tempat tinggalnya?"
Melainkan:
"Siapakah yang paling dekat kepada Allah?"
Sebab di hadapan-Nya, bukan kemewahan yang menentukan nilai seseorang, melainkan iman, ketakwaan, dan amal salehnya.
0 komentar: