Penderitaan Rasulullah ﷺ Sebelum Menjadi Imam di Masjidil Aqsha
Perjuangan Rasulullah ﷺ menghadapi kaum musyrik Quraisy semakin hari semakin berat. Bagi para pemuka Quraisy, dakwah Islam bukan sekadar perbedaan keyakinan, tetapi ancaman terhadap kedudukan sosial, politik, ekonomi, dan spiritual yang selama ini mereka nikmati. Karena itulah, pertarungan antara hak dan batil semakin sengit.
Islam datang membawa sebuah revolusi besar dalam cara manusia memandang kehidupan. Manusia diperintahkan untuk hanya menyembah Allah, Rabb yang menciptakan mereka, bersujud hanya kepada-Nya, serta membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada sesama manusia, batu, pohon, bintang, maupun makhluk lainnya. Dengan tauhid, manusia diangkat kembali kepada kemuliaannya sebagai hamba Allah semata.
Sebaliknya, masyarakat jahiliah telah tenggelam dalam berbagai bentuk penyimpangan. Mereka tidak lagi memiliki ukuran yang benar tentang halal dan haram. Kezaliman dianggap biasa. Pembunuhan, perbudakan, riba, perampasan hak orang lain, dan eksploitasi terhadap kaum lemah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat terpecah dalam kelas-kelas sosial: bangsawan dan rakyat jelata, tuan dan budak, orang kaya dan orang miskin. Bahkan agama dijadikan alat untuk mempertahankan kekuasaan segelintir orang yang memanfaatkan kebodohan masyarakat demi kepentingan mereka sendiri.
Karena itulah kaum Quraisy mempertahankan sistem tersebut dengan sekuat tenaga. Tekanan terhadap kaum Muslim semakin keras hingga sebagian sahabat terpaksa berhijrah demi menyelamatkan akidah mereka. Namun Rasulullah ﷺ tetap bertahan di Makkah, menyampaikan risalah Allah dengan penuh kesabaran, menjelaskan kebenaran Islam sekaligus membongkar kebatilan kepercayaan masyarakat saat itu.
Di tengah beratnya perjuangan tersebut, Allah menganugerahkan kepada beliau dua pendukung yang sangat berarti. Yang pertama adalah Khadijah radhiyallahu 'anha, istri yang setia menghibur beliau, mengorbankan seluruh hartanya demi dakwah, dan menjadi penenang di saat semua orang memusuhinya. Yang kedua adalah pamannya, Abu Thalib, yang meskipun tidak memeluk Islam, tetap memberikan perlindungan sehingga kaum Quraisy tidak berani membunuh keponakannya secara terang-terangan.
Namun ujian terbesar kemudian datang. Pada tahun yang sama, Khadijah wafat, disusul Abu Thalib. Tahun itu kemudian dikenal sebagai 'Amul Huzn (Tahun Kesedihan), sekitar tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah.
Sejak kedua pelindung beliau tiada, gangguan Quraisy meningkat drastis. Mereka melakukan penghinaan yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Pernah suatu ketika mereka menumpahkan pasir ke kepala Rasulullah ﷺ. Putri beliau, Fatimah Az-Zahra radhiyallahu 'anha, membersihkan kepala ayahnya sambil menangis. Rasulullah ﷺ justru menenangkan putrinya seraya bersabda,
«"Wahai putriku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah akan melindungi ayahmu."»
Ketika pintu dakwah di Makkah semakin tertutup, Rasulullah ﷺ mencoba mencari harapan baru di Thaif. Beliau mendatangi para pemimpin Bani Tsaqif: Abdu Yalil bin Amru, Mas'ud bin Amru, dan Habib bin Amru. Namun sambutan yang beliau terima jauh lebih menyakitkan daripada di Makkah.
Mereka menolak dakwah beliau dengan kata-kata yang kasar dan menghina. Bahkan ketika Rasulullah ﷺ meminta agar penolakan itu tidak disebarluaskan kepada Quraisy demi keselamatan dirinya, permintaan tersebut justru diabaikan. Mereka menghasut anak-anak dan para budak untuk mengejar, mencaci, dan melempari beliau dengan batu hingga kedua kaki beliau berdarah. Rasulullah ﷺ akhirnya berlindung di sebuah kebun milik Utbah bin Rabi'ah dan Syaibah bin Rabi'ah.
Di tempat itulah Rasulullah ﷺ memanjatkan doa yang sangat mengharukan kepada Allah:
«"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, sedikitnya daya upayaku, dan hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, Engkaulah Rabb orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Rabbku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang asing yang bermuka masam kepadaku, atau kepada musuh yang menguasai urusanku? Selama Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas bagiku..."»
Doa itu menggambarkan bahwa penderitaan terbesar Rasulullah ﷺ bukanlah luka fisik ataupun penghinaan manusia, melainkan kekhawatiran jika semua itu merupakan tanda kemurkaan Allah. Selama Allah meridhainya, seluruh penderitaan terasa ringan.
Isra': Karunia Setelah Penderitaan
Di tengah suasana duka dan tekanan yang begitu berat, Allah menganugerahkan salah satu mukjizat terbesar kepada Rasulullah ﷺ, yaitu peristiwa Isra' dan Mi'raj.
Allah memperjalankan beliau pada suatu malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha, kemudian mengangkat beliau menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Perjalanan agung ini merupakan bentuk pemuliaan Allah kepada hamba-Nya yang telah bersabar dalam menghadapi seluruh ujian dakwah.
Di Masjidil Aqsha, Rasulullah ﷺ menjadi imam bagi seluruh nabi dan rasul. Dengan izin Allah, para nabi dikumpulkan dan bermakmum kepada beliau. Peristiwa ini menjadi simbol bahwa risalah yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ merupakan penyempurna seluruh risalah para nabi sebelumnya.
Kesucian Masjidil Aqsha
Allah mengabadikan peristiwa tersebut dalam firman-Nya,
«"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami."
(QS. Al-Isra': 1)»
Dalam hadis riwayat Muslim, Abu Dzar radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang masjid pertama yang dibangun di muka bumi. Beliau menjawab, "Masjidil Haram." Ketika ditanya masjid berikutnya, beliau menjawab, "Masjidil Aqsha." Abu Dzar bertanya lagi tentang jarak waktu antara keduanya, dan Rasulullah ﷺ menjawab, "Empat puluh tahun."
Peristiwa Isra' sekaligus mengembalikan kemuliaan Masjidil Aqsha sebagai salah satu masjid paling suci dalam Islam. Setelah pembebasan Al-Quds pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, kawasan masjid dibersihkan kembali dan difungsikan sebagai tempat ibadah kaum Muslimin.
Surah Al-Isra' juga mengabadikan hubungan umat Islam dengan Masjidil Aqsha serta menyebut keberkahan negeri Syam, termasuk Palestina. Dalam surah yang sama, Allah juga mengingatkan tentang berbagai bentuk kerusakan yang dilakukan Bani Israil serta akibat yang akan mereka terima sebagai konsekuensi dari penyimpangan tersebut.
Karena itu, bagi umat Islam, Masjidil Aqsha bukan sekadar situs bersejarah. Ia merupakan bagian dari perjalanan kenabian Muhammad ﷺ, tempat beliau menjadi imam seluruh nabi, sekaligus salah satu masjid yang dimuliakan Allah hingga akhir zaman.
Sumber:
Asad At-Tamimi, impian Yahudi dan Kehancurannya Menurut Al-Qur'an, GIP, 1992, Hal. 13-21
0 komentar: