Apakah Yang Mati Akan Dihidupkan Kembali?
Ketika Al-Qur'an Menjawab Keraguan Kaum Kafir tentang Hari Kebangkitan
Apakah manusia benar-benar akan hidup kembali setelah jasadnya hancur menjadi tanah dan tulang-belulang?
Pertanyaan itu bukanlah pertanyaan baru. Jauh sebelum berkembangnya peradaban modern, kaum musyrik Mekah telah melontarkannya sebagai bentuk ejekan terhadap ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Mereka tidak sekadar bertanya, tetapi berusaha meruntuhkan keyakinan tentang hari kebangkitan.
Salah satu peristiwa paling terkenal melibatkan Ubay bin Khalaf. Menurut riwayat yang dikutip dalam Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI dari Al-Wāḥidī, ia mengambil sepotong tulang yang telah lapuk. Tulang itu diremas hingga hancur menjadi serpihan halus, kemudian diterbangkan oleh angin.
Dengan nada mengejek ia berkata,
«"Apakah setelah menjadi seperti ini manusia masih mungkin dihidupkan kembali?"»
Provokasi inilah yang menjadi latar turunnya firman Allah dalam Surah Maryam.
«"Orang (kafir) berkata, 'Betulkah apabila telah mati kelak, aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan hidup kembali?'"
(QS. Maryam: 66)»
Pertanyaan yang Berulang Sepanjang Sejarah
Al-Qur'an menunjukkan bahwa keraguan semacam ini bukan hanya diucapkan oleh Ubay bin Khalaf. Pertanyaan serupa berkali-kali muncul dari kaum yang mengingkari kehidupan akhirat.
Mereka berkata,
«"Apabila kami sudah mati, menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?"
(QS. Al-Waqi'ah: 47)»
Mereka juga bertanya,
«"Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?"
(QS. Al-Isra': 49)»
Bagi mereka, hancurnya jasad dianggap sebagai bukti mustahilnya kebangkitan. Cara berpikir ini lahir karena penilaian mereka hanya bertumpu pada apa yang dapat dilihat oleh mata.
Allah Membalik Logika Mereka
Al-Qur'an tidak menjawab dengan teori filsafat yang rumit.
Allah justru mengajak manusia kembali kepada fakta yang paling dekat dengan dirinya sendiri.
«"Apakah manusia tidak menyadari bahwa Kami telah menciptakannya dahulu, padahal sebelumnya dia tidak berwujud sama sekali?"
(QS. Maryam: 67)»
Inilah argumen yang sangat mendasar.
Jika Allah mampu menciptakan manusia dari keadaan yang sama sekali tidak ada, mengapa menghidupkan kembali manusia yang pernah ada dianggap mustahil?
Menciptakan dari "ketiadaan" tentu bukanlah pekerjaan yang lebih ringan daripada membangkitkan sesuatu yang telah pernah diciptakan.
Karena itu Allah menegaskan,
«"Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali."
(QS. Ar-Rum: 27)»
Dan dalam Surah Yasin Allah memberikan jawaban yang lebih tegas kepada orang yang membawa tulang belulang itu.
«"Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur?"»
Allah memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ menjawab,
«"Yang akan menghidupkannya ialah Allah yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui segala makhluk."
(QS. Yasin: 78–79)»
Hadis Qudsi: Mendustakan Kebangkitan Berarti Mendustakan Allah
Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari, Allah berfirman bahwa manusia telah mendustakan-Nya ketika menganggap kebangkitan mustahil.
Allah berfirman,
«"Anak Adam telah mendustakan-Ku... Ia berkata bahwa Aku tidak akan menghidupkannya kembali sebagaimana Aku menciptakannya pertama kali. Padahal mengulang penciptaan tidaklah lebih sulit bagi-Ku daripada memulainya."»
Hadis ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah kemampuan Allah, melainkan keengganan manusia mengakui kekuasaan-Nya.
Dari Keraguan Menuju Pengadilan Akhirat
Setelah membantah logika orang-orang kafir, Al-Qur'an kemudian membawa pembaca kepada gambaran Hari Kiamat.
Allah bersumpah,
«"Demi Tuhanmu, sungguh Kami akan mengumpulkan mereka bersama setan-setan, kemudian Kami akan mendatangkan mereka ke sekeliling Jahanam dalam keadaan berlutut."
(QS. Maryam: 68)»
Mereka yang dahulu mengikuti langkah-langkah setan akan dikumpulkan bersama pemimpin yang mereka taati.
Suasana Mahsyar digambarkan sangat dahsyat. Pada hari itu setiap manusia hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam Surah 'Abasa ayat 34–37.
Pemimpin Kedurhakaan Didahulukan
Al-Qur'an kemudian mengungkap proses pengadilan yang sangat adil.
«"Kemudian pasti Kami tarik dari setiap golongan siapa di antara mereka yang paling durhaka kepada Yang Maha Pengasih."
(QS. Maryam: 69)»
Mereka yang paling sombong, paling keras menentang kebenaran, dan paling banyak menyesatkan manusia akan dipisahkan terlebih dahulu.
Allah menegaskan,
«"Kami lebih mengetahui siapa yang paling layak dimasukkan ke dalam neraka."
(QS. Maryam: 70)»
Tidak ada satu pun amal yang tersembunyi. Seluruh perbuatan manusia telah tercatat secara sempurna.
Semua Akan Melewati Neraka
Salah satu ayat yang paling menggugah dalam rangkaian ini adalah firman Allah,
«"Tidak ada seorang pun di antaramu yang tidak akan melewatinya."
(QS. Maryam: 71)»
Para ulama menjelaskan bahwa seluruh manusia akan melewati Shirath yang dibentangkan di atas Neraka Jahanam.
Hadis sahih riwayat Muslim menggambarkan bahwa sebagian orang melintasinya secepat kilat, sebagian seperti angin, sebagian seperti burung, sebagian lagi tersandung, tercabik oleh pengait-pengait neraka, bahkan ada yang akhirnya terjatuh ke dalamnya.
Kecepatan melintas bergantung kepada kadar iman dan amal seseorang.
Akhir yang Berbeda
Perjalanan itu berakhir dengan dua nasib yang sangat kontras.
Allah berfirman,
«"Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalamnya dalam keadaan tersungkur."
(QS. Maryam: 72)»
Tafsir Tahlili menjelaskan bahwa yang memperoleh keselamatan bukan sekadar orang yang mengaku beriman, melainkan mereka yang menjaga ketakwaannya.
Orang-orang yang amal baiknya lebih berat akan memperoleh ampunan dan rahmat Allah, sedangkan mereka yang dipenuhi kezaliman akan menerima balasan yang setimpal.
Penutup
Rangkaian ayat Surah Maryam ayat 66–72 memperlihatkan pola argumentasi Al-Qur'an yang sangat sistematis.
Dimulai dari pertanyaan sinis orang-orang kafir, kemudian dijawab dengan bukti penciptaan manusia dari ketiadaan, dilanjutkan dengan penegasan tentang kekuasaan Allah menghidupkan kembali makhluk-Nya, lalu ditutup dengan gambaran nyata tentang Mahsyar, Shirath, dan keputusan akhir bagi setiap manusia.
Pesan utamanya sangat jelas: bagi Zat yang menciptakan manusia dari tiada, membangkitkan kembali manusia setelah kematian bukanlah sesuatu yang mustahil. Yang dipersoalkan Al-Qur'an adalah kesombongan manusia yang enggan mempercayainya sebelum hari itu benar-benar datang.
0 komentar: