Dokumenter NAZA: Mengapa Sebuah Film Bisa Mengguncang Seluruh Fondasi Politik Israel?
Di Lido, Venesia, gema tepuk tangan penonton tidak kunjung reda selama 24,5 menit—sebuah durasi standing ovation yang memecahkan rekor dalam sejarah Festival Film Venesia.
Namun, ribuan kilometer dari sana, di dinding-dinding kota Ashdod, Israel, suasananya adalah antitesis dari penghormatan: coretan grafiti bertuliskan "pengkhianat" dalam bahasa Ibrani menjadi sambutan bagi Yuval Abraham dan Rachel Szor.
Fenomena ini memicu pertanyaan krusial: mengapa informasi mengenai penggunaan AI dalam militer, yang sebenarnya telah dilaporkan secara luas sejak April 2024, kini memicu "kegilaan" nasional yang begitu eksplosif?
Jawabannya tidak hanya terletak pada isi film tersebut, melainkan pada momentum politiknya. Menjelang pemilu 27 Oktober mendatang, di mana koalisi sayap kanan Benjamin Netanyahu diprediksi gagal meraih mayoritas, dokumenter NAZA telah bermutasi menjadi senjata politik dan alat uji kesetiaan nasional yang brutal.
Di Balik Istilah "NAZA" dan Kalkulasi Algoritma Kematian
Judul film ini, NAZA, bukan sekadar nama. Ia diambil dari istilah teknis militer Israel untuk expected collateral casualties—korban sipil yang telah diperkirakan.
Melalui wawancara anonim dengan petugas intelijen, dokumenter ini menguliti bagaimana militer tidak lagi hanya menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari target, tetapi untuk "menghitung harga darah" yang bersedia dibayar.
Ini adalah pergeseran paradigma etis yang mengerikan. AI tidak sekadar menghasilkan target; ia mengalkulasi bahwa penghancuran seluruh gedung hunian adalah harga yang dapat diterima demi melenyapkan satu individu. Di sini, kematian warga sipil dalam skala masif bukan lagi dipandang sebagai kegagalan operasional, melainkan risiko yang telah dikalkulasi secara sadar dan dimasukkan ke dalam prosedur operasi militer.
NAZA mengungkap bahwa di balik kecanggihan algoritma, terdapat keputusan dingin untuk menormalisasi kehancuran total.
Ketika Kritik Menjadi "Pengkhianatan Negara"
Reaksi keras dari otoritas Israel mencerminkan betapa tipisnya batas antara jurnalisme dan spionase di mata negara saat ini.
Menteri Kebudayaan Miki Zohar memimpin serangan dengan menyerukan pencabutan kewarganegaraan para sutradara, sementara Panglima Angkatan Darat Eyal Zamir menuding film tersebut sebagai "fitnah darah" dan memerintahkan penyelidikan hukum untuk memburu sumber-sumber militer yang berani berbicara.
Orly Noy, seorang editor media lokal, membedah situasi ini sebagai bentuk intimidasi sistematis:
"Anda tidak benar-benar bisa memahami sejauh mana kegilaan ini dari luar negeri. Mereka menyerang teman dan keluarga Yuval Abraham dan Rachel Szor. Mereka berbicara tentang pencabutan kewarganegaraan. Mereka meminta Shin Bet untuk menyelidiki mereka hanya karena membuat film. Ini menakutkan."
Bagi para analis, agresi ini bukan sekadar upaya mempertahankan reputasi militer, melainkan manifestasi fasisme yang mulai mengakar kuat.
Ketika sebuah karya seni memicu pengerahan badan intelijen internal, negara tersebut sedang menunjukkan bahwa narasi tunggal adalah harga mati.
Persatuan Tak Terduga Antara Netanyahu dan Lawan Politiknya
Ironi yang getir muncul ketika kebencian terhadap kebenaran menjadi satu-satunya perekat dalam politik Israel yang sedang di ambang pecah.
Di tengah rendahnya elektabilitas Netanyahu, ia memanfaatkan NAZA untuk memojokkan rival-rival politiknya, memaksa mereka membuktikan siapa yang paling "keras" dalam membela militer.
Hasilnya adalah persatuan yang mengerikan. Gadi Eisenkot, rival utama Netanyahu, menuduh film tersebut memiliki "kebutaan moral." Sementara itu, Naftali Bennett mengeluarkan pernyataan yang tak kalah tajam:
"[Film ini adalah] fitnah darah yang mengerikan terhadap putra dan putri kita."
Fenomena ini membuktikan bahwa kritik terhadap militer adalah garis merah suci yang menyatukan seluruh spektrum politik.
Netanyahu telah berhasil mengubah sebuah dokumenter menjadi alat untuk menyandera lawan politiknya, memastikan bahwa tidak ada ruang bagi perbedaan pendapat di tengah keriuhan kampanye pemilu.
Gelembung Informasi dan Penyangkalan Kolektif Media Lokal
Mengapa publik Israel begitu terperanjat oleh NAZA sementara dunia luar sudah lama mengecam krisis tersebut? Jawabannya terletak pada "penyangkalan kolektif" yang diamplifikasi oleh media arus utama.
Studi dari lembaga think tank Molad menyajikan data yang telanjang: hanya 3% dari liputan Channel 12 mengenai enam bulan pertama perang yang menyebutkan krisis kemanusiaan di Gaza. Dari ratusan gambar perang yang disiarkan, hampir tidak ada yang menunjukkan wajah korban sipil Palestina.
Anat Saragusti, pakar kebebasan pers, menjelaskan bahwa media lokal telah menjadi "bagian dari upaya perang." Narasi nasional yang dibangun adalah bahwa perang ini dipaksakan, dan penggunaan tameng manusia oleh Hamas membuat jatuhnya korban sipil menjadi sesuatu yang tak terhindarkan.
Akibatnya, ketika NAZA menyajikan perspektif dari dalam militer sendiri, gelembung informasi itu pecah, memicu guncangan hebat bagi masyarakat yang selama ini hanya mengonsumsi narasi yang telah disaring.
Senjata Hukum Baru: Menargetkan Dompet dan Identitas
Sebagai respons langsung, Netanyahu kini melangkah lebih jauh dengan memoles senjata hukum untuk membungkam kritik di masa depan.
Ia mengajukan dua rancangan undang-undang yang dirancang untuk menciptakan iklim ketakutan: pencabutan kewarganegaraan bagi mereka yang dianggap memfitnah tentara, dan peningkatan denda pencemaran nama baik sebanyak 20 kali lipat.
Ini adalah strategi untuk melumpuhkan jurnalis secara finansial dan identitas. Dengan memanfaatkan preseden putusan Mahkamah Agung tahun 2022 mengenai "pelanggaran kepercayaan," pemerintah kini mencoba melegalkan represi terhadap perbedaan pendapat.
Langkah ini bukan sekadar reaksi terhadap satu film, melainkan upaya sistematis untuk memastikan bahwa siapa pun yang berani mengusik narasi militer akan kehilangan segalanya—baik harta maupun haknya sebagai warga negara.
Kontroversi NAZA adalah cermin retak dari sebuah bangsa yang sedang berjuang mempertahankan citra moralnya di tengah kenyataan pahit di lapangan.
Di tengah angka kematian yang telah melampaui 73.000 jiwa warga Palestina, upaya untuk mengangkat kebenaran dari dalam institusi militer justru dihadapi dengan ancaman pengusiran dan kehancuran ekonomi.
Pelajaran pahit yang bisa diambil adalah betapa tingginya risiko bagi mereka yang berani membedah propaganda di tengah kobaran perang. Di bawah bayang-bayang pemilu Oktober, garis antara tugas jurnalistik dan pengkhianatan negara kian memudar di Israel.
Jika sebuah karya seni dianggap sebagai ancaman keamanan nasional, apakah itu menunjukkan kelemahan karya tersebut, atau justru kerapuhan dari narasi yang selama ini dijaga?
0 komentar: