Syariat dan Permulaan Turunnya Wahyu
Dari pemaparan di atas, kita dapat mengatakan bahwa istilah syariat digunakan secara khusus untuk menyebut ajaran yang berasal dari Allah. Allah berfirman:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاؤُا شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang menetapkan aturan bagi mereka yang tidak diizinkan Allah?” (asy-Syura: 21)
Ajaran agama yang bersumber dari wahyu Allah ditetapkan selama Nabi masih hidup. Sebab, dengan wafatnya beliau, wahyu Allah terputus.
Syariat ditetapkan melalui dua bentuk wahyu. Pertama, wahyu dari Allah secara maknawi sekaligus lafzhi, yaitu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw. Kedua, wahyu dari Allah secara maknawi, tetapi tidak secara lafzhi, yaitu sunah-sunah Rasulullah saw. Dengan demikian, lafal hadis-hadis beliau berasal dari diri beliau, sedangkan maknanya bersumber dari Allah.
Allah berfirman:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 3-4)
Hanya Allah yang memiliki hak menetapkan syariat. Sementara itu, Nabi bertugas menyampaikan dan menjelaskan syariat tersebut kepada manusia. Allah berfirman:
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (an-Nahl: 44)
Allah juga mewajibkan manusia menaati Nabi karena ketaatan kepada beliau merupakan bentuk ketaatan kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:
مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barangsiapa yang menaati Rasul (Muhammad), sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (an-Nisa’: 80)
Allah juga menetapkan bahwa hukum-hukum yang Nabi terapkan merupakan wahyu yang diberikan kepadanya. Allah berfirman:
إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.” (an-Nisa’: 105)
Dengan demikian, tidak ada syariat yang berlaku kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah ataupun dijelaskan dan ditetapkan oleh Rasulullah saw. Syariat Islam memiliki dua pokok sumber hukum, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu, penetapan syariat berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad saw., ketika wahyu telah terputus.
Permulaan Turunnya Wahyu
Hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. menjelaskan bagaimana permulaan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Ia menjelaskan bahwa wahyu diawali dengan mimpi yang benar. Setelah itu, Allah menjadikan beliau tertarik untuk mengasingkan diri hingga akhirnya beliau menyendiri untuk beribadah di Gua Hira. Di tempat itulah Malaikat datang membawa wahyu kepadanya.
Ummul Mukminin Aisyah r.a. menuturkan:
“Awal mula turunnya wahyu kepada Rasulullah saw. dimulai dari mimpi yang benar ketika beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, sebagaimana jelasnya cuaca pagi. Semenjak itu, hati beliau tertarik untuk mengasingkan diri ke Gua Hira. Di tempat itu beliau beribadah beberapa malam dan tidak pulang ke rumah istrinya. Untuk itu, beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, barulah beliau kembali kepada Khadijah untuk mengambil perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali lagi ke Gua Hira hingga suatu ketika datang kepadanya kebenaran (wahyu), yaitu ketika beliau masih berada di Gua Hira.
Malaikat datang kepadanya lalu berkata, ‘Bacalah!’ Nabi menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Nabi menceritakan, ‘Maka aku ditarik dan dipeluknya hingga aku kepayahan. Setelah itu aku dilepaskannya dan disuruh membaca. Malaikat berkata, ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Maka aku ditarik dan dipeluknya lagi hingga aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya dan disuruh membaca. ‘Bacalah!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Maka aku ditarik dan dipeluknya untuk kali ketiga. Kemudian aku dilepaskan seraya ia berkata:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ
‘Bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan. Dialah yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Demi Rabbmu yang Mahamulia.’
Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid dan berkata, ‘Selimuti aku, selimuti aku!’ Khadijah pun menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Nabi mengatakan kepada Khadijah, setelah menceritakan semua kejadian yang dialaminya, ‘Sesungguhnya aku cemas atas diriku.’
Khadijah menjawab, ‘Jangan takut. Demi Allah, Dia tidak akan membinasakan engkau. Engkau selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, dan menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.’
Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, sepupu Khadijah. Ia telah memeluk agama Nasrani pada masa jahiliah dan pandai menulis kitab dalam bahasa Ibrani. Ia menyalin Kitab Injil dalam bahasa Ibrani sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah untuk disalinnya. Pada saat itu usianya telah lanjut dan matanya telah buta.
Khadijah berkata kepada Waraqah, ‘Wahai sepupuku, dengarkan kabar dari anak saudaramu ini.’
Waraqah bertanya kepada Nabi, ‘Wahai anak saudaraku, apa yang terjadi atas dirimu?’
Nabi menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Lalu Waraqah berkata, ‘Inilah Namus yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Duhai, semoga saya masih hidup ketika kamu diusir oleh kaummu.’
Nabi bertanya, ‘Apakah mereka akan mengusir aku?’
Waraqah menjawab, ‘Ya, betul. Belum ada seorang pun yang diberi wahyu seperti engkau yang tidak dimusuhi orang. Jika aku masih mendapati hari itu, niscaya aku akan menolongmu sekuat-kuatnya.’
Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan kitab-kitab hadis lainnya.
Jeda Turunnya Wahyu
Terdapat beberapa pendapat mengenai lamanya jeda antara turunnya wahyu yang pertama dan wahyu berikutnya. Dalam kitab sejarah karangan Ahmad bin Hanbal terdapat riwayat bahwa Imam asy-Sya’bi berpendapat jeda tersebut berlangsung selama tiga tahun. Ibnu Ishaq juga berpendapat demikian. Sementara itu, Imam al-Baihaqi berpendapat bahwa masa mimpi Nabi saw. berlangsung selama enam bulan.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa permulaan wahyu berupa mimpi yang benar terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, ketika usia beliau telah genap empat puluh tahun. Mimpi yang benar tersebut menjadi pengantar dan persiapan sebelum turunnya wahyu dalam keadaan terjaga. Adapun permulaan turunnya wahyu ketika Nabi saw. dalam keadaan terjaga terjadi pada bulan Ramadhan.
Ibnu Hajar berkata dalam Fath al-Bari, “Jika telah diketahui bahwa beliau berdiam diri di Gua Hira pada bulan Ramadhan dan awal turunnya wahyu adalah ketika beliau berada di dalam gua tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa beliau pertama kali diangkat menjadi nabi adalah pada bulan Ramadhan.”
Turunnya Surat Al-Muddatstsir
Setelah masa jeda turunnya wahyu, turunlah Surat al-Muddatstsir. Sebagaimana diriwayatkan dalam ash-Shahihain dari Abu Salamah, dari Jabir, Nabi saw. menceritakan tentang masa terputusnya wahyu. Beliau bersabda:
“Di saat aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku mengangkat pandanganku ke atas dan aku melihat Malaikat yang sebelumnya pernah mendatangiku di Gua Hira. Ia sedang duduk di atas kursi yang terletak di antara langit dan bumi. Aku pun merasa takut, lalu aku pulang ke rumah seraya berkata kepada penghuni rumah, ‘Selimuti aku, selimuti aku.’ Lantas mereka pun menyelimutiku. Kemudian Allah menurunkan ayat:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
“Wahai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Rabbmu! Dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah perbuatan dosa.” (al-Muddatstsir: 1-5)
Kata al-muddatstsir dan al-muzzammil memiliki makna yang berdekatan, yaitu orang yang berselimut. Meskipun demikian, bukan berarti Surat al-Muzzammil diturunkan pada saat yang bersamaan dengan Surat al-Muddatstsir. Menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama, Surat al-Muzzammil diturunkan setelah Surat al-Muddatstsir. Hal ini dapat dilihat dari kandungan masing-masing surat.
Awal Surat al-Muddatstsir mengandung perintah kepada Nabi saw. untuk memberi peringatan kepada kaumnya. Hal ini berkaitan dengan awal masa diutusnya beliau sebagai nabi dan rasul.
Sementara itu, awal Surat al-Muzzammil mengandung perintah kepada beliau untuk melakukan qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an secara tartil. Dengan demikian, kedua surat tersebut memiliki penekanan yang berbeda: Surat al-Muddatstsir mengarahkan Nabi saw. untuk bangkit menyampaikan peringatan, sedangkan Surat al-Muzzammil mempersiapkan beliau dengan bekal ibadah dan pembinaan ruhani untuk menjalankan tugas tersebut.
0 komentar: