Agama dan Kehidupan Bangsa Cina Sebelum Era Islam
Pada abad itu, negeri Cina berada di bawah pengaruh tiga macam ajaran keagamaan dan filsafat, yaitu Lao Tse-isme, Kong Fu Tsu-isme, dan Budhisme. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda dan memberikan pengaruh yang berlainan pula terhadap kehidupan masyarakat Cina.
Lao Tse-isme, sekalipun tidak lama kemudian berkembang menjadi agama yang sarat dengan unsur keberhalaan, pada mulanya lebih banyak menekankan segi teori daripada praktik. Para pengikutnya dikenal hidup sederhana dan berusaha menjauhkan diri dari berbagai kesenangan duniawi. Sebagian di antara mereka bahkan memilih untuk tidak berkeluarga dan tidak tertarik kepada wanita atau menjalin hubungan dengan wanita. Dalam pandangan mereka, kaum wanita dianggap tidak mampu menjadi tiang kehidupan yang lurus dan sentosa ataupun menjadi penguasa yang bijaksana.
Akan tetapi, setelah Lao Tse meninggal, generasi berikutnya banyak yang menyimpang dari ajaran yang diwariskannya. Ajaran yang semula menekankan kesederhanaan dan pengendalian diri itu kemudian mengalami perubahan dan berkembang ke arah yang berbeda dari gagasan pendirinya.
Berbeda dengan Lao Tse-isme, Kong Fu Tsu-isme lebih banyak memberikan perhatian kepada persoalan-persoalan praktis daripada teori. Ajarannya berpusat pada kehidupan duniawi, urusan kebendaan, politik, serta administrasi pemerintahan. Dalam kurun waktu tertentu, para penganutnya bahkan tidak meyakini keharusan menyembah Tuhan tertentu. Karena itu, pemujaan dapat diarahkan kepada berbagai objek yang mereka anggap memiliki kekuatan atau nilai tertentu, seperti pepohonan, sungai, dan sebagainya.
Di dalam ajaran Kong Fu Tsu-isme, sebagaimana digambarkan dalam uraian ini, tidak terdapat suatu keyakinan kepada Tuhan yang menjadi sumber hukum dan tata kehidupan manusia. Tidak ada ketentuan hukum yang dipandang berasal dari Tuhan. Ajaran-ajarannya lebih merupakan kebijaksanaan seorang arif yang dibangun berdasarkan pengalaman hidup dan pengamatan terhadap masyarakat.
Karena itu, manusia dapat mengambil manfaat dari kebijaksanaan tersebut jika menganggapnya baik. Namun, apabila tidak menganggapnya sesuai, ia dapat meninggalkannya. Ia tidak berdiri di atas suatu keyakinan keagamaan yang mengikat manusia dengan sumber hukum ilahi.
Budhisme: Perkembangan dan Kemerosotannya
Adapun Budhisme, pada masa itu, telah mengalami perubahan yang jauh dari kesederhanaan ajaran awalnya. Semangat yang dahulu menjadi kekuatannya semakin melemah. Dalam perkembangannya, Budhisme berhadapan dengan pengaruh Brahmanisme yang sarat dengan keberhalaan. Pengaruh tersebut kemudian masuk dan bercampur dengan kehidupan keagamaan Budhisme.
Perubahan itu dapat dilihat antara lain dari berkembangnya pemujaan terhadap patung-patung dan pembangunan pagoda. Di mana Budhisme berkembang, di situ pula berdiri bangunan-bangunan keagamaan dan dipancangkan patung-patung Budha. Seni pembuatan patung berkembang sedemikian pesat sehingga menjadi salah satu ciri penting perkembangan Budhisme pada masa itu.
Seorang profesor ilmu sejarah peradaban Hindu di sebuah universitas di India, Profesor Isuratoba, menggambarkan perubahan tersebut dengan mengatakan:
«“Di bawah naungan Budhisme Tuhan-tuhan, penyembahan patung-patung, dan mengadakan perubahan pernah berdiri sebuah negara yang menaruh perhatian besar pada penampilan terhadap ikatan persaudaraan Budhisme, dengan lahirnya berbagai macam bid'ah.”»
Kenyataan tersebut juga disoroti oleh seorang penulis masa kini sekaligus tokoh politik di India. Menurutnya, Budha pada mulanya dijadikan sebagai penampilan Tuhan oleh Brahmanisme, dan perkembangan semacam itu kemudian ditiru oleh Budhisme sendiri. Akibatnya, ikatan persaudaraan Budhisme memperoleh kekayaan besar dan berkembang menjadi pusat kepentingan kelompok-kelompok tertentu.
Bersamaan dengan itu, berbagai unsur baru masuk ke dalam praktik peribadahan. Bahkan, menurut pandangan yang dikutip dalam uraian tersebut, ilmu hitam turut masuk ke dalam cara-cara peribadahan. Akibatnya, tatanan keagamaan semakin kehilangan bentuk aslinya. Setelah berkembang dan memiliki pengaruh yang besar di India selama berabad-abad, Budhisme kemudian mengalami kemunduran.
Mrs. Rhys Davids, dengan mengutip tulisan Sir Radha Krisna dalam bukunya Filsafat Hinduisme, juga menggambarkan kelemahan yang menimpa Budhisme pada masa tersebut. Menurutnya, ajaran moral Budha kemudian tertutup oleh berbagai pemikiran yang dianggap tidak benar dan oleh takhayul. Berbagai aliran baru bermunculan, berkembang, menguasai hati masyarakat, kemudian menghilang dan digantikan oleh aliran-aliran lainnya.
Demikian seterusnya. Berbagai gagasan yang dianggap merusak semakin menumpuk dan menutupi ajaran pokoknya. Perdebatan yang panjang dan pembicaraan yang bertele-tele akhirnya membuat ajaran-ajaran yang dianggap berharga dari pendirinya semakin sulit dikenali.
Dengan demikian, Brahmanisme dan Budhisme dalam perkembangannya semakin sulit dibedakan. Keduanya mengalami kemerosotan dan kemasukan berbagai adat kebiasaan yang dianggap dekaden. Budhisme semakin bercampur dengan Brahmanisme hingga akhirnya, dalam pandangan yang dikutip di sini, lebur ke dalamnya.
Salah satu gambaran mengenai perubahan tersebut dapat dilihat di Museum Teksala di Punjab Barat, Pakistan. Orang yang mengunjunginya akan menemukan banyak patung Budhisme yang berasal dari hasil penggalian. Peninggalan-peninggalan tersebut memperlihatkan betapa jauh perubahan yang telah terjadi dalam agama dan peradaban Budhisme, hingga unsur-unsur keberhalaan tampil begitu kuat.
Namun demikian, persoalan tentang Tuhan dan kepercayaan tetap menjadi titik perbedaan dan perdebatan di kalangan para ahli sejarah Budhisme maupun para penerjemah ajaran-ajaran Budha. Sebagian di antara mereka mempertanyakan bagaimana sebuah agama besar dapat berdiri di atas landasan moral tanpa keyakinan dan keimanan kepada Tuhan.
Dalam gambaran seperti itu, Budhisme kemudian dipahami terutama sebagai suatu jalan untuk melatih jiwa, mengendalikan hawa nafsu, menghiasi diri dengan berbagai keutamaan, membebaskan diri dari penderitaan rohani, dan memperoleh pengetahuan.
Cina dan Asia Tengah: Dunia yang Tidak Membawa Misi Universal
Dari gambaran tersebut, uraian ini kemudian menarik kesimpulan yang lebih luas mengenai bangsa Cina. Orang-orang Cina tidak dipandang memiliki suatu misi keagamaan universal yang ditujukan kepada dunia untuk memecahkan berbagai persoalan kehidupan manusia.
Mereka hidup jauh di Timur dunia yang ketika itu disebut sebagai dunia beradab. Mereka tetap berpegang kepada agama, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Akan tetapi, menurut uraian ini, warisan tersebut tidak dikembangkan menjadi suatu misi yang memperkaya bangsa-bangsa lain ataupun memberikan sistem kehidupan baru kepada dunia.
Keadaan yang hampir serupa juga digambarkan pada bangsa-bangsa lain di Asia Tengah dan Timur.
Bangsa-Bangsa di Asia Tengah
Bangsa-bangsa di Asia Tengah dan Timur, seperti Mongol, Turki, dan Jepang, pada masa itu digambarkan berada dalam keadaan terombang-ambing di antara Budhisme yang telah mengalami kerusakan dan keberhalaan yang liar.
Mereka belum memiliki kekayaan ilmu pengetahuan dan sistem politik yang tinggi sebagaimana yang telah berkembang pada beberapa pusat peradaban lainnya. Sebagian masih berada dalam masa peralihan dari kehidupan yang disebut sebagai kebiadaban menuju kehidupan berperadaban.
Bahkan, menurut gambaran dalam uraian ini, sebagian di antara mereka masih berada pada tahap yang sangat awal dalam perkembangan pemikiran dan kehidupan sosialnya. Dengan demikian, kawasan Asia Tengah dan Timur pada masa tersebut digambarkan sebagai wilayah yang belum menemukan suatu sistem keagamaan dan peradaban yang mampu memberikan arah universal bagi kehidupan manusia.
0 komentar: