Bagaimana sebuah bangsa dapat bangkit setelah mengalami kekalahan? Apa langkah pertama yang harus dilakukan sebelum berbicara tentang strategi, kekuatan, atau pengorbanan?
Jawabannya bukan dimulai dari senjata ataupun jumlah pasukan, melainkan dari kejelasan tujuan.
Tujuan Menentukan Arah Perjuangan
Setiap perjalanan selalu diawali dengan tujuan yang jelas. Tanpa tujuan, jalan menjadi kabur, pengorbanan kehilangan makna, dan strategi berubah menjadi sekadar reaksi terhadap keadaan.
Karena itu, sebelum membicarakan cara mencapai kemenangan, terlebih dahulu harus dijawab satu pertanyaan mendasar:
Apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai?
Sesudah Perang Juni 1967, bermunculan berbagai slogan yang menekankan penghentian permusuhan serta pemulihan wilayah-wilayah yang diduduki. Namun, pertanyaannya adalah:
Apakah penghentian permusuhan itu sendiri merupakan tujuan akhir, atau hanya salah satu tahapan menuju tujuan yang lebih besar?
Apakah Memulihkan Keadaan Sebelum Perang Sudah Cukup?
Pandangan pragmatis beranggapan bahwa keberhasilan cukup diukur dengan kembalinya keadaan seperti sebelum perang: wilayah dikembalikan, perbatasan dipulihkan, lalu konflik dianggap selesai.
Namun penulis mempertanyakan logika tersebut.
Bukankah setiap perang justru mengubah titik awal tuntutan?
Sesudah pembagian wilayah Palestina ditolak, wilayah yang dikuasai bertambah. Setelah Perang 1956 muncul tuntutan kembali ke batas sebelumnya. Sesudah Perang 1967 tuntutan kembali bergeser kepada batas baru sebelum perang itu.
Pertanyaannya kemudian menjadi semakin tajam.
Apakah setiap kali terjadi perang, pihak yang dirugikan hanya akan berusaha kembali ke kondisi sebelum perang terakhir, sementara perubahan-perubahan sebelumnya perlahan diterima sebagai kenyataan?
Dalam sudut pandang penulis, pola demikian membuat pihak yang menggunakan kekuatan memperoleh keuntungan politik secara bertahap.
Antara Pengembalian Hak dan Tujuan Akhir
Demikian pula mengenai pengembalian para pengungsi Palestina.
Mengembalikan mereka kepada rumah, tanah, dan harta benda mereka dipandang sebagai kewajiban moral. Namun penulis mengajukan pertanyaan lain.
Di bawah pemerintahan siapa mereka akan kembali?
Pertanyaan ini menunjukkan bahwa, menurut penulis, pemulihan hak-hak individu tidak dapat dipisahkan dari persoalan politik yang lebih luas. Karena itu, ia memandang penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan kompensasi atau repatriasi, tetapi harus menjawab persoalan yang dianggap sebagai akar konflik.
Tujuan Menurut Penulis
Dari rangkaian argumentasinya, penulis berkesimpulan bahwa tujuan perjuangan tidak boleh dibatasi hanya pada penghentian permusuhan, pemulihan wilayah, ataupun pengembalian para pengungsi.
Dalam perspektifnya, semua itu hanyalah bagian dari persoalan yang lebih besar.
Pandangan tersebut kemudian menjadi dasar kritiknya terhadap pendekatan yang disebutnya sebagai pendekatan pragmatis.
Kritik terhadap Pendekatan Pragmatis
Menurut penulis, sebagian kalangan menganggap bahwa menerima kenyataan politik yang telah terbentuk merupakan pilihan yang paling realistis.
Mereka berpendapat bahwa karena Israel memperoleh dukungan internasional yang kuat, maka jalan terbaik adalah hidup berdampingan secara damai.
Penulis menolak pandangan tersebut.
Menurutnya, menerima suatu kenyataan politik hanya karena dianggap telah mapan justru berarti mengakui hasil dari konflik yang dipersoalkan. Dalam pandangannya, sikap seperti itu bukanlah solusi, melainkan bentuk penyerahan terhadap keadaan.
Pelajaran dari Sejarah
Untuk memperkuat argumennya, penulis mengajak pembaca menoleh ke masa lalu.
Ia mengingatkan bagaimana pasukan Salib pernah menguasai Baitul Maqdis selama puluhan tahun. Pada masa itu, banyak orang mengira keadaan tersebut tidak mungkin berubah.
Namun sejarah berjalan berbeda.
Melalui kepemimpinan Salahuddin al-Ayyubi, Dunia Islam berhasil merebut kembali Baitul Maqdis setelah kemenangan dalam Pertempuran Hattin pada tahun 1187 M. Bagi penulis, peristiwa itu menjadi bukti bahwa keadaan yang tampak permanen dalam sejarah ternyata dapat berubah ketika muncul kepemimpinan, persatuan, dan semangat yang kuat.
Refleksi
Tulisan ini pada akhirnya mengajak pembaca merenungkan satu hal penting.
Apakah kemenangan hanya ditentukan oleh kekuatan material, atau justru berawal dari kejelasan tujuan, keyakinan terhadap cita-cita, dan kemampuan mempertahankan arah perjuangan dalam jangka panjang?
Terlepas dari apakah seseorang menerima atau menolak kesimpulan penulis, pesan yang ingin ditekankan ialah bahwa sebuah perjuangan tidak dapat dibangun di atas tujuan yang kabur. Kejelasan visi, menurutnya, menjadi fondasi sebelum strategi, pengorbanan, dan berbagai langkah lain disusun.
0 komentar: