Semua Perpecahan Bermula dari Akidah?
Dalam panggung sejarah dan pergulatan sosial manusia, perselisihan adalah keniscayaan yang kerap berulang. Kita menyaksikan bagaimana komunitas, gerakan, hingga peradaban besar terfragmentasi menjadi sekte-sekte yang saling menaruh curiga dan permusuhan.
Namun, di balik riak benturan yang tampak di permukaan—baik dalam persaingan politik, gesekan mazhab, maupun krisis kebudayaan—pernahkah kita merenungkan: di manakah hulu paling primer tempat seluruh perpecahan ini bermula?
Secara kasatmata, banyak pengamat terbiasa menyederhanakan konflik sebagai dampak dari perbenturan ekonomi, perebutan kekuasaan, atau sekadar ketidakcocokan adat.
Padahal, dinamika permukaan tersebut sejatinya hanyalah riak luar dari sebuah celah retak yang jauh lebih mendalam. Ada kemudi epistemologis yang bekerja secara tak terlihat namun amat dominan dalam mengarahkan seluruh cara pandang dan tindakan manusia.
Teks riset Perselisihan Akidah menegaskan sebuah tesis kunci yang fundamental: di balik segala perselisihan permukaan yang memecah belah manusia, akar masalah yang paling hakiki dan asli adalah perselisihan akidah. Arsitektur keyakinan inilah yang menjadi fondasi tempat seluruh tatanan perilaku, syariat, dan peradaban manusia berdiri.
Akar di Balik Segala Perpecahan Adalah Akidah, Bukan Masalah Cabang
Perselisihan akidah bukanlah sekadar perdebatan wacana yang berdiri sejajar dengan persoalan harian, melainkan perselisihan yang hakiki dan asli. Berbagai perpecahan sosial, degradasi moral, dan konflik kebudayaan pada hakikatnya hanyalah indikasi lahiriah serta konsekuensi logis dari keretakan pada level akidah.
Ketika fondasi keyakinan suatu kelompok bergeser, secara otomatis seluruh manifestasi perbuatan dan orientasi hidup mereka akan mengalami perombakan total.
Pola ini terlihat begitu gamblang dalam sejarah. Perhatikan bagaimana pergeseran akidah mengendalikan tindakan kolektif manusia secara drastis:
Transformasi Bangsa Tatar: Ketika bangsa Tatar memeluk Islam dan merombak akidah mereka, impuls destruktif mereka seketika luruh. Mereka berhenti memerangi kaum muslimin dan berbalik menjadi benteng pertahanan Islam.
Paradoks Umat Islam: Sebaliknya, ketika kaum muslimin mengabaikan akidah jihad dan melupakan pijakan agamanya, daya tahan peradaban mereka runtuh. Mereka pasrah dijajah, lalu secara bertahap mengadopsi akhlak, sudut pandang, dan pola hidup bangsa penakluknya.
Keterikatan mutlak antara arsitektur keyakinan internal dan realitas perbuatan luar ini dirumuskan secara presisi oleh Ibnu Taimiyah:
"Sedikit sekali orang yang engkau lihat kerusakan dalam akidahnya, melainkan kerusakan itu tampak dalam perbuatannya."
Mengapa Perpecahan Terjadi? Perbedaan Masalah Cabang versus Penentangan Kaidah Universal
Perbedaan pendapat dalam skala kecil tidak serta-merta merubuhkan bangunan persaudaraan. Perpecahan yang bersifat destruktif dan tercela (al-furqah) baru merebak tatkala perselisihan merambah dan menggerogoti pokok-pokok agama.
Asy-Syathibi menggarisbawahi bahwa perpecahan yang dicela oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah adalah kondisi ketika mereka yang berselisih terfragmentasi menjadi kelompok-kelompok yang saling memusuhi.
Mereka keluar dari lingkaran persatuan Islam, sekalipun secara formal masih mengaku sebagai pemeluknya. Perpecahan destruktif ini lahir dari perbenturan mazhab dan pendapat yang menyentuh ranah pokok.
Untuk memahami fenomena ini secara jernih, kita harus membedakan dua ranah perselisihan:
Perselisihan Masalah Cabang (Furu'): Perbedaan pendapat dalam satu atau beberapa perkara cabang yang terbatas tidak akan mengikis ikatan persatuan atau melahirkan faksi-faksi yang saling memusuhi.
Perselisihan Pokok (Ushul): Perpecahan yang memecah belah umat menjadi sekte-sekte yang saling memusuhi hanya terjadi tatkala timbul perselisihan dalam pokok-pokok (ushul) dan kaidah-kaidah utama agama.
Landasan tekstual mengenai keniscayaan dan bahaya perpecahan fundamental ini terpapar jelas dalam Al-Qur'an:
Ali Imran: 105: Peringatan keras agar umat tidak menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas.
Hud: 118-119: Penegasan bahwa manusia akan senantiasa berselisih pendapat, kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah.
Al-Baqarah: 213: Penjelasan bahwa Allah mengutus para nabi dan menurunkan Kitab yang membawa kebenaran justru untuk memberi keputusan atas perselisihan fundamental yang terjadi di antara manusia.
Dalam melacak akar perpecahan ini, para ahli tafsir—sebagaimana diriwayatkan oleh Ikrimah dari Ibnu Abbas—menjelaskan bahwa "orang-orang yang berselisih" dalam konteks ayat tersebut merujuk pada para pelaku bid'ah.
Asy-Syathibi menerangkan bahwa ketika seorang pembuat bid'ah terus-menerus memproduksi cabang-cabang pemikiran baru yang menyimpang, akumulasi dari inovasi parsial tersebut pada akhirnya berbalik menjadi penentangan terhadap banyak syariat sekaligus, hingga dampaknya sama merusaknya dengan penentangan terhadap kaidah universal.
Memahami Spektrum Perselisihan Akidah: Dari Filsafat Bumi hingga Perkara Fikih
1. Hawa Nafsu dan Agama Bumi: Tingkatan perselisihan paling mendasar yang berakar murni dari hawa nafsu dan bujukan setan, mencakup filsafat, ateisme, Shabi'ah, para penyembah bintang, penyembah berhala, dan Brahma.
2. Asal-usul Agama Langit: Perselisihan dengan kelompok Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Mereka berada di tingkatan kedua karena masih menyisakan sisa-sisa cahaya wahyu, namun telah berselisih mendasar dalam tauhid dan kenabian. Hal ini tampak pada klaim atas Nabi Ibrahim (orang Yahudi berkata: "Dia orang Yahudi", sedangkan orang Nasrani berkata: "Dia orang Nasrani"), serta perselisihan ekstrem mengenai Nabi Isa (orang Yahudi mengingkarinya dan melontarkan kebohongan besar pada ibunya, sedangkan orang Nasrani menjadikannya tuhan dan anak). Perbedaan mendasar ini juga merembet pada perkara hari Jumat, kiblat, shalat, dan puasa.
3. Asas-asas Agama: Perselisihan pada fondasi utama yang disepakati oleh Ahlu Sunnah wal Jamaah namun ditentang oleh ahli bid'ah dan pengikut hawa nafsu, meliputi rukun iman, tauhid, sifat-sifat Allah Maha Pencipta, serta pintu-pintu kenabian dan syarat-syaratnya.
4. Kaidah Syariat & Makna Universal: Benturan epistemologis dan metodologis, seperti pertentangan akal vs naql, diskursus kebaikan dan keburukan (al-husn wa al-qubh), penetapan syariat mutlak, pendapat mengenai keterjagaan selain Rasulullah dengan bersandar pada penyingkapan (Al-Kasyf), ilham, bisikan hati, atau mimpi-mimpi lalu mendahulukannya di atas wahyu ilahi, sikap mengikuti ayat-ayat mutasyabih dan meninggalkan muhkam, hingga merebaknya pemikiran sekularisme, batiniyah, rasionalisme, takdir batil, Mu'tazilah, dan Khawarij.
5. Simbol-simbol Agama: Perselisihan pada identitas yang membedakan keberagamaan, seperti pelaksanaan shalat Jumat, penentuan arah kiblat, puasa, dan haji.
6. Pelanggaran Masalah Cabang yang Berdampak Universal: Pelanggaran cabang yang berulang-ulang dapat berakumulasi menjadi penentangan terhadap banyak syariat sekaligus. Oleh sebab itu, Ahlu Sunnah wal Jamaah memasukkan pembahasan cabang fikih tertentu—seperti hukum mengusap dua sepatu (al-mas-hu 'alal khuffain) atau kewajiban shalat jamaah di belakang imam yang baik maupun yang durhaka—ke dalam kitab-kitab akidah mereka demi menjaga prinsip kesatuan jamaah.
Kategori nomor 3 hingga 6 merupakan ranah perselisihan yang paling krusial untuk dicermati oleh kaum muslimin.
Berbeda dari benturan dengan agama bumi atau filsafat luar, empat tingkatan terakhir ini merupakan arena perselisihan yang disandarkan langsung kepada Islam. Hal inilah yang membuatnya sangat berbahaya: keretakan di ranah ini mengaburkan batas-batas kebenaran dari dalam, menciptakan penyimpangan tersembunyi yang disangka sebagai bagian dari ajaran agama.
Re-definisi "Perselisihan Akidah" dalam Realita Manusia
Untuk merangkum seluruh dimensi sosiologis dan epistemologis dari fenomena ini, riset Perselisihan Akidah merumuskan sebuah re-definisi yang sangat komprehensif:
"Perselisihan akidah ialah semacam perselisihan manusiawi yang berkaitan dengan pokok-pokok agama dan kaidah-kaidah utamanya sehingga terbayang sesuatu oleh penentang bahwa agama yang benar berupa aliran-aliran, agama-agama, dan hawa nafsu, dan diketahuinya dengan berbagai pengaruh ekternal, sekalipun ditabiatkan beragama yang lurus."
Definisi ini menelanjangi realitas psikologis manusia secara mendalam. Pada dasarnya, setiap manusia diciptakan dengan fitrah dan tabiat beragama yang lurus. Namun, ketundukan pada hawa nafsu, terpaan doktrin eksternal, dan kegagalan memahami kaidah universal agama mengaburkan fitrah tersebut.
Akibatnya, timbul ilusi kognitif yang menyesatkan: agama yang sejati tidak lagi terlihat sebagai kebenaran tunggal yang lurus, melainkan tampak seolah-olah sekadar rimba aliran, serpihan mazhab, dan akumulasi hawa nafsu yang bercerai-berai.
Perselisihan akidah bukanlah sekadar polemik teologis di balik ruang tertutup akademisi. Ia adalah akar tunggal yang menentukan bagaimana sebuah peradaban dibangun, bagaimana nilai sosial dijalankan, dan bagaimana manusia bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan dalam masalah cabang (furu') tidak akan pernah memecah belah persatuan selama pokok agama terjaga.
Namun, ketika keretakan menyentuh pokok-pokok agama (ushul) dan kaidah universalnya, perpecahan menjadi faksi-faksi yang saling memusuhi tinggal menunggu waktu.
Dengan memahami spektrum perselisihan ini—dari pertentangan filsafat hingga pada ranah simbol syariat—kita didorong untuk terus melakukan audit kritis terhadap arsitektur keyakinan kita sendiri.
Sudah saatnya kita memeriksa kembali apakah nalar keberagamaan dan tindakan harian kita telah berjangkar pada akidah yang lurus, atau justru tanpa sadar telah terseret oleh arus hawa nafsu dan pemikiran yang menyimpang.
Sebab, jika seluruh tindakan manusia merupakan cerminan dari keyakinan yang ada di dalam hatinya, sudahkah kita memastikan bahwa fondasi akidah yang kita pegang benar-benar kokoh, murni, dan lurus?
0 komentar: