Jejak Sejarah Awal Islam di Jepang
Di mata dunia, Jepang kerap dicitrakan sebagai titik temu yang memesona antara megalopolis berteknologi tinggi dan kedalaman tradisi leluhur yang berakar pada ajaran Shinto serta Buddha. Dalam benak publik global, Negeri Sakura adalah lanskap budaya yang steril dari pengaruh spiritualitas Semit, sebuah ruang di mana Islam kerap dianggap sebagai entitas asing yang berjarak.
Namun, jika kita bersedia menelisik di bawah permukaan narasi arus utama tersebut, terbentang sebuah jalinan sejarah yang amat kaya, dinamis, dan penuh dengan perjumpaan budaya yang tak terduga.
Di balik status populasi Muslim yang hingga hari ini merupakan minoritas kecil, tersimpan rekam jejak diplomasi geopolitik masa lalu, pengorbanan personal yang dramatis dari para pencari kebenaran, hingga resonansi etis yang mendalam antara nilai-nilai lokal Jepang dan ajaran Islam. Perkembangan Islam di Jepang bukanlah kisah penaklukan atau ekspansi masif, melainkan sebuah "jejak sunyi yang menguat"—sebuah perjumpaan perlahan yang menautkan dua peradaban besar.
Berikut adalah lima fakta paling berdampak dan mengejutkan mengenai perjalanan sejarah serta dinamika sosiologis Islam di Negeri Matahari Terbit.
Rumor Spektakuler Tahun 1906: Ketika Jepang Dikabarkan Hampir Mengadopsi Islam
Kemenangan mengejutkan Kekaisaran Jepang atas Kekaisaran Rusia dalam Perang Rusia-Jepang (1904–1905) menjadi titik balik geopolitik yang mengguncang tatanan dunia.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, sebuah bangsa Asia non-Kristen berhasil menundukkan kekuatan militer utama Eropa. Peristiwa ini meruntuhkan mitos invinsibilitas kolonialisme Barat dan menyalakan api harapan di seluruh Dunia Islam, mengilhami para intelektual serta aktivis pergerakan dari Kairo, Istanbul, hingga Mumbai.
Di tengah atmosfer euforia global tersebut, berhembus sebuah rumor spektakuler pada tahun 1906.
Jurnal-jurnal dan media massa di India, Persia, Mesir, Kekhalifahan Utsmaniyah, hingga Tiongkok melaporkan berita menggemparkan: sebuah Kongres Agama akan segera digelar di Tokyo, di mana pemerintah Jepang secara serius mempertimbangkan untuk mengadopsi Islam sebagai agama negara, dan Kaisar Meiji dikabarkan berada di ambang memeluk Islam.
Secara sosiopolitik, wacana fenomenal ini lahir dari persilangan dua agenda strategis dunia modern:
Simbolisme Geopolitik Pan-Asianisme Jepang: Elite militer dan sipil Jepang bersikap pragmatis dengan memanfaatkan isu kedekatan dengan dunia Islam guna menarik simpati serta dukungan komunitas Muslim—terutama Muslim Tiongkok dan kawasan Asia lainnya. Strategi intelijen dan diplomasi budaya ini dirancang untuk membendung hegemoni serta ekspansi imperialisme kekuatan Barat di Asia.
Wacana Pan-Islamisme Utsmaniyah: Di sisi lain, rumor ini berkelindan dengan agenda Pan-Islamisme yang diusung oleh Sultan Abdul Hamid II. Kekhalifahan Utsmaniyah memproyeksikan wacana konversi Jepang sebagai sarana memperkuat posisi tawar dan solidaritas transnasional umat Islam di panggung global.
"Pada tahun 1906, propaganda Muslim skala besar secara sadar diarahkan kepada dunia Islam... Laporan luas muncul di jurnal-jurnal Muslim yang menyatakan bahwa Kongres Agama akan diadakan di Tokyo, di mana orang Jepang akan mempertimbangkan untuk mengadopsi Islam sebagai agama nasional, dan Kaisar berada di tepi menjadi seorang Muslim.
Gelombang ini terjadi tidak lama setelah kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905, yang mengangkat Jepang menjadi pemimpin potensial rakyat Asia dalam perjuangan melawan imperialisme."
Kisah Heroik Syaikh Ali Al-Jirjawi: Nekat Menjual Seluruh Harta Demi Dakwah Mandiri
Perkembangan Islam di Jepang tidak dapat dipisahkan dari riwayat keagungan jiwa dan keteguhan personal. Salah satu monumen keteladanan paling menggetarkan diukir oleh Syaikh Ali Al-Jirjawi, seorang ulama terkemuka asal wilayah Sa'id, Mesir.
Latar belakang aksi heroiknya bermula ketika ia membaca warta di surat kabar mengenai surat resmi Perdana Menteri Jepang yang mengundang para ulama, legislator, dan pemuka agama dari seluruh penjuru dunia untuk menghadiri konferensi agama akbar di Tokyo.
Melihat terbukanya pintu sejarah yang begitu berharga, Al-Jirjawi bergegas mendatangi para ulama Al-Azhar untuk mendesak pengiriman delegasi resmi. Namun, langkahnya terbentur oleh inersia institusional; ia hanya mendapati tanggapan yang lamban dan sikap yang melemahkan semangat.
Tidak menyerah, Al-Jirjawi menyuarakan panggilannya melalui surat kabar miliknya sendiri, Al-Irshad, tetapi seruan tersebut tetap bertepuk sebelah tangan.
Dihadapkan pada kepasifan lembaga, Al-Jirjawi memilih jalan radikal berupa kemandirian total. Demi membiayai perjalanan dakwahnya seorang diri, ia mengambil keputusan dramatis dengan menjual seluruh harta kekayaannya di tanah air, yakni 5 feddan tanah pertanian yang menjadi satu-satunya penopang hidupnya.
Titik Keberangkatan: Pelabuhan Alexandria (Mesir)
Kawasan Eropa & Timur Tengah: Melintasi Italia, lalu menuju Pelabuhan Aden
Kawasan Asia Selatan & Tenggara: Menyusuri India, Pulau Ceylon (Sri Lanka), dan Singapura
Titik Tiba: Pelabuhan Yokohama (Jepang)
Setibanya di Pelabuhan Yokohama pada tahun 1906, Al-Jirjawi mendapati fakta mengharukan bahwa ia tidak berjuang sendirian.
Di pelabuhan tersebut, ia bertemu dengan ulama-ulama independen lain yang bertolak atas biaya pribadi dengan gelora tekad yang sama: seorang syaikh dari India, syaikh bangsa Berber, syaikh asal Tunisia, serta utusan dari Tiongkok dan Rusia, yang berpadu dengan delegasi resmi utusan Sultan Abdul Hamid II.
Di Tokyo, Al-Jirjawi turun langsung ke jalan-jalan kota. Ditemani seorang penerjemah, ia menyampaikan hakikat ajaran Islam secara santun dan dialogis. Ketulusan dakwahnya membuahkan hasil manis hingga ribuan warga lokal mengikrarkan keislaman mereka.
Sekembalinya ke tanah air, Al-Jirjawi mengabadikan petualangan spiritual dan historisnya dalam karya monumental yang sangat sukses di abad ke-20, Al-Rihla Al-Yabaniyya (Perjalanan ke Jepang).
Tragedi Kapal ErtuÄŸrul (1890) dan Lahirnya Para Mualaf Jepang Pertama
Bintik-bintik awal diplomasi formal antara Kekaisaran Jepang dan Dunia Islam terukir pada era Meiji.
Berawal dari kunjungan kenegaraan Pangeran Komatsu Akihito ke Konstantinopel pada tahun 1887 untuk menemui Sultan Abdul Hamid II, Kekhalifahan Utsmaniyah membalas ikatan persahabatan tersebut dengan mengirimkan frigate angkatan laut ErtuÄŸrul ke Jepang pada tahun 1890.
Namun, misi diplomasi ini berujung pada duka kemanusiaan yang mendalam. Dalam pelayaran pulang pada 16 September 1890, kapal ErtuÄŸrul dihantam badai dahsyat dan karam di karang lepas pantai Prefektur Wakayama. Musibah mengerikan ini merenggut nyawa mayoritas awak kapal; dari sekitar 600 penumpang, hanya 69 jiwa yang berhasil selamat.
Tragedi ini memantik gelombang empati dan solidaritas luar biasa dari masyarakat serta pemerintah Jepang. Warga lokal Wakayama dan publik Jepang secara spontan menggalang bantuan, merawat korban selamat, serta menggelar penghormatan bagi para prajurit yang gugur.
Pada tahun 1891, para korban selamat diantar kembali ke Konstantinopel menggunakan dua kapal perang Kekaisaran Jepang. Respon kemanusiaan inilah yang membuka pintu ikatan emosional mendalam dan melahirkan barisan mualaf pribumi Jepang paling awal:
Shotaro Noda (Abdul Halim): Wartawan muda Jepang yang mendampingi pemulangan korban selamat ErtuÄŸrul ke Konstantinopel.
Terpesona oleh kebudayaan Utsmaniyah dan kehangatan interaksi di sana, ia memeluk Islam pada tahun 1891 dan mencatatkan namanya sebagai mualaf pribumi Jepang pertama yang terverifikasi dalam rekam sejarah modern.
Torajiro Yamada (Abdul Khalil): Tokoh pemuda yang menggalang dana simpati di Jepang atas tragedi ErtuÄŸrul. Ia bertolak ke Turki untuk menyerahkan bantuan secara langsung, lalu memutuskan menetap di Konstantinopel selama hampir 20 tahun sebagai pedagang sekaligus konsul tak resmi yang menjadi jembatan budaya antar-bangsa. Yamada memeluk Islam, berganti nama menjadi Abdul Khalil, dan menunaikan ibadah haji.
Mitsutaro Takaoka / Kotaro Yamaoka (Omar Yamaoka): Tokoh yang memeluk Islam pada tahun 1909 di Bombay, India, setelah berinteraksi dengan intelektual Tatar Abdurreshid Ibrahim. Ia mengambil nama Omar Yamaoka dan diakui dalam sejarah sebagai orang pribumi Jepang pertama yang berhasil menunaikan ibadah haji ke Makkah.
Bumpachiro Ariga (Ahmad Ariga): Pedagang asal Jepang yang memeluk agama Islam di Bombay, India, pada era yang hampir bersamaan setelah terpikat oleh etika dan interaksi muamalah komunitas Muslim setempat. Sekembalinya ke Jepang, ia aktif menerbitkan buku-buku keislaman dan menerjemahkan makna Al-Qur'an.
Perjalanan sejarah dan dinamika modern Islam di Jepang adalah narasi indah tentang adaptasi, keheningan dakwah, pengorbanan historis, serta perjumpaan dua etika peradaban yang saling menghormati. Dari rumor politik diplomasi era Meiji, kenekatan heroik Syaikh Ali Al-Jirjawi, tragedi kapal ErtuÄŸrul, hingga keselarasan etos kerja harian, keberadaan Islam di Negeri Sakura telah mengakar secara perlahan namun menghunjam dalam.
0 komentar: