Tiga Tahun Pasca-7 Oktober: Ketika Trauma Kolektif dan Normalisasi Ekstremisme Merombak Israel dari Dalam
Kini, pada Oktober 2026, tiga tahun telah berlalu sejak titik balik bersejarah tersebut. Perang genosida yang dilancarkan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan meluas menjadi konflik regional.
Bagi mayoritas warga Israel, sejarah modern tidak lagi diukur melalui kalender konvensional. Garis waktu telah terbelah secara permanen menjadi dua era: sebelum dan sesudah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.
Kini, pada Oktober 2026, tiga tahun telah berlalu sejak titik balik bersejarah tersebut. Perang genosida yang dilancarkan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan meluas menjadi konflik regional.
Namun di balik agresi militer ke luar, lanskap internal Israel sendiri telah mengalami metamorfosis yang menggetarkan.
Kombinasi antara trauma kolektif yang tak tersembuhkan dan histeria media telah dimanfaatkan oleh elite politik untuk merombak tatanan sosial, mengikis nilai demokrasi, dan mendorong wacana publik ke arah ekstremisme yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Runtuhnya Mitos Invinsibilitas: Ketika Kontrak Sosial Keamanan Hancur Seketika
Sebelum 7 Oktober 2023, masyarakat Israel umumnya hidup dalam kenyamanan yang terisolasi dari konsekuensi nyata atas pendudukan militer di Gaza dan Tepi Barat. Terdapat keyakinan doktrinal yang sangat kuat akan keunggulan teknologi dan benteng pertahanan militer negara yang dianggap tak tertembus.
Guncangan psikologis masyarakat kian mendalam seiring menguatnya indikasi bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kemungkinan telah menerima laporan intelijen awal mengenai rencana serangan tersebut namun gagal bertindak. Kegagalan sistemik ini memicu krisis kejiwaan kolektif yang permanen.
"Ini mengganggu [segalanya] secara luar biasa. Ini adalah krisis yang tidak meninggalkan populasi." — Daniel Bar-Tal, Psikolog Politik Israel dari Tel Aviv University
Mobilisasi Ketakutan: Konsolidasi Kanan Ekstrem dan Kematian Politik Kiri
Rasa takut dan trauma mendalam yang melanda publik pasca-7 Oktober tidak dibiarkan mereda secara alami. Sebaliknya, ketakutan tersebut dimobilisasi secara terencana oleh kekuatan politik kanan jauh untuk menghapus seluruh pencapaian yang telah dibangun bertahun-tahun dalam hubungan Yahudi-Palestina.
Di tingkat teratas pemerintahan, pergeseran ini mengambil wujud normalisasi tata kelola kekerasan spontan (vigilante governance). Mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant secara terbuka melabeli warga Palestina di Gaza sebagai "hewan manusia", sementara Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir membagikan ribuan senjata standar pemerintah kepada kelompok-kelompok pemukim yang memiliki rekam jejak melakukan aksi kekerasan di Tepi Barat.
Pergeseran ini begitu masif hingga surat kabar arus utama di Israel secara terbuka mempertanyakan apakah kelompok kiri—yang selama ini menjadi pilar utama penyokong solusi dua-negara—masih ada di negara tersebut. Wacana perdamaian dan hak asasi manusia praktis tereliminasi dari ruang publik.
"7 Oktober tidak diragukan lagi merupakan titik balik dalam politik Israel kontemporer... Saya akan katakan bahwa ini telah membawa kita mundur seratus tahun – dalam kesadaran kolektif kita, dalam kesediaan kita untuk saling berhubungan, dan terutama dalam tingkat kepercayaan bersama. Ini adalah kemunduran yang sangat besar, yang akan sangat sulit untuk diatasi." — Yehouda Shenhav-Shahrabani, Sosiolog Israel
Kelompok kanan mesianis dan rasis telah memanfaatkan bencana politik ini bukan sekadar untuk membenarkan posisi ideologis mereka, melainkan untuk memperluas batas-batas tentang apa yang wajar diucapkan dan dilakukan dalam panggung politik Israel.
Pergeseran Wacana Publik: Normalisasi Pengusiran dan Pembunuhan Massal
Pergeseran mendasar dalam kesadaran sosial Israel tecermin secara presisi melalui data empiris. Gagasan-gagasan radikal yang dulunya berada di marjin terlarang kini telah bertransformasi menjadi pandangan arus utama yang diaminkan publik.
Dukungan Pengusiran Massal: Mayoritas yang sangat besar (overwhelming majority) dari responden Israel secara terbuka mendukung pengusiran seluruh penduduk Gaza dari tanah kelahirannya.
Dukungan Pembunuhan Massal: Sebagian minoritas yang signifikan mendukung tindakan "pembunuhan massal" (mass killing) terhadap seluruh penduduk di kota-kota yang diserbu militer Israel, dengan secara eksplisit mengutip narasi Alkitab mengenai penaklukan Kota Yerikho.
Eksekusi Tahanan: Dukungan publik tetap sangat tinggi terhadap pendorongan hukum pidana mati dan eksekusi massal bagi tahanan-tahanan Palestina yang dituduh terlibat "terorisme".
Data ini mengonfirmasi bagaimana narasi keagamaan kuno dan histeria perang telah direkayasa sedemikian rupa untuk melegitimasi kekerasan massal kontemporer di mata publik.
Eskalasi Apartheid Tepi Barat: Sebuah Proyek Politik Gabungan Negara dan Pemukim
Garis kekerasan terhadap bangsa Palestina sejatinya tidak dimulai pada 7 Oktober 2023; akarnya membentang jauh hingga peristiwa Nakba 1948 yang diwarnai pengusiran paksa sekitar 750.000 warga Palestina dan penghapusan ratusan desa dari peta. Namun, pasca-7 Oktober, mesin pendudukan tersebut mengalami percepatan brutal.
Di Tepi Barat yang diduduki, kekerasan tidak lagi terjadi secara terpisah-pisah, melainkan beroperasi sebagai satu kesatuan. Organisasi hak asasi manusia B'Tselem mencatat sedikitnya 1.107 warga Palestina tewas dalam apa yang mereka sebut sebagai "satu proyek politik" terpadu antara tentara Israel dan kelompok pemukim bersenjata.
"Infrastruktur apartheid, represi, dan kontrol terhadap warga Palestina menjadi lebih keras, sementara lintasan yang lebih luas untuk menghilangkan keberadaan kolektif Palestina menjadi lebih jelas dan makin ternormalisasi – melalui genosida di Gaza, pembersihan etnis dan pembongkaran masyarakat Palestina di Tepi Barat, serta intensifikasi diskriminasi dan dehumanisasi terhadap warga Palestina warga negara Israel." — Yair Dvir, Perwakilan B'Tselem
Tiga tahun setelah peristiwa 7 Oktober 2023, Israel telah bertransformasi menjadi sebuah entitas yang digerakkan oleh trauma kolektif yang dipersenjatai, histeria politik kanan ekstrem, dan agresi tanpa batas.
Kombinasi antara pembantaian di Gaza, pembersihan etnis yang terstruktur di Tepi Barat, serta penyingkiran narasi kritis dalam negeri telah memperdalam jurang penderitaan warga Palestina sekaligus mempercepat isolasi diplomatik Israel di panggung internasional.
0 komentar: