basmalah Pictures, Images and Photos
Rela Lengser Demi Mencegah Perang Saudara: Mengapa Utsman bin Affan dan Sultan Abdul Hamid II Menolak Menghunus Pedang? - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Rela Lengser Demi Mencegah Perang Saudara: Mengapa Utsman bin Affan ...

Rela Lengser Demi Mencegah Perang Saudara: Mengapa Utsman bin Affan dan Sultan Abdul Hamid II Menolak Menghunus Pedang?



Rela Lengser Demi Mencegah Perang Saudara: Mengapa Utsman bin Affan dan Sultan Abdul Hamid II Menolak Menghunus Pedang?

Dalam panggung sejarah politik manusia, takhta hampir selalu dibeli dan dipertahankan dengan darah. Dari era imperium kuno hingga perebutan kekuasaan modern, norma umum politik kekuasaan seolah menegaskan bahwa kelangsungan rezim harus diperjuangkan dengan segala cara. Jika perlu, dengan mengorbankan nyawa ribuan rakyat atau prajurit di medan pertempuran internal.

Namun, sejarah Islam mencatat sebuah paradoks kepemimpinan yang amat langka sekaligus menggetarkan jiwa. Ketika takhta berada di ujung tanduk dan pengepungan sudah mengepung pusat kediaman mereka, ada pemimpin yang justru menolak perlawanan bersenjata. Mereka memilih mengorbankan jabatan—bahkan keselamatan diri sendiri—demi mencegah pecahnya perang saudara di antara kaumnya.

Dua potret agung ini terukir abadi dalam tindakan Khalifah Utsman bin Affan di Madinah pada masa Khulafaur Rasyidin, serta Sultan Abdul Hamid II di Istanbul pada detik-detik akhir Kekaisaran Utsmani. Lantas, bagaimana kedua tokoh besar ini merespons krisis kepemimpinan terhebat dalam hidup mereka, dan mengapa keputusan menolak pertumpahan darah ini menjadi warisan etika politik termahal dalam sejarah?


Pengorbanan Utsman bin Affan – Menolak Pedang Sahabat Demi Mencegah Darah Umat Tumpah

Suasana Madinah terasa begitu mencekam ketika gelombang demonstran dan pemberontak mengepung kediaman Khalifah Utsman bin Affan. Upaya diplomasi dan ajakan untuk berdamai tidak membuahkan hasil, sementara kepungan massa di luar rumah beliau kian hari kian ketat dan mengancam jiwa. Di tengah krisis yang membakar itu, Utsman bermusyawarah dengan sahabat Nabi, Abdullah bin Salam. 

Nasihat yang disampaikan Abdullah bin Salam begitu membekas: "Tahan dan tahanlah, karena hal itu akan menjadi hujjah bagimu" di hadapan Allah kelak.

Melihat bahaya maut yang kian nyata mengintai sang Khalifah, para sahabat Rasulullah SAW bertindak untuk membela beliau. Haritsah bin An-Nu'man mendatangi Utsman dan menawarkan perlawanan militer: "Jika anda mau, maka kami akan berperang membelamu." Tokoh-tokoh terkemuka seperti Al-Mughirah bin Syu'bah dan Abdullah bin Az-Zubair turut menawarkan bantuan serupa. Bahkan, Ka'ab bin Malik mengerahkan kaum Anshar seraya menyerukan: "Wahai kaum Anshar, jadilah kalian sebagai penolong (agama) Allah!"

Puncaknya, Zaid bin Tsabit menemui Utsman dan menyampaikan bahwa kaum Anshar telah bersiap penuh di depan pintu kediamannya: "Mereka orang-orang Anshar telah ada di depan pintu, jika engkau mau, maka kita adalah para penolong (agama) Allah." Namun, Utsman dengan tegas menolaknya seraya menjawab: "Aku tidak membutuhkan hal ini, tahanlah diri-diri kalian."

Meskipun para sahabat telah bersiap-siap dan sebagian masuk ke rumahnya dengan tekad bulat untuk bertempur, Utsman bergeming pada keputusannya untuk tidak melancarkan perlawanan militer. Bahkan ketika putra Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, datang dan bertanya: "Apakah perlu aku menghunuskan pedangku?", sang Khalifah memberikan jawaban yang dipenuhi keteguhan prinsip:

"Tidak, aku berlepas diri kepada Allah dari menumpahkan darahmu, masukkan pedangmu dan kembalilah ke rumah ayahmu!"

Tindakan Utsman bin Affan ini memperlihatkan kontras yang tajam dengan norma politik kekuasaan biasa. Di saat seorang penguasa pada umumnya akan memanfaatkan kesetiaan pendukungnya untuk menggempur lawan demi mengamankan kursi jabatan, Utsman memilih untuk dikepung dan melarang pendukungnya mengangkat senjata ketimbang memicu pertumpahan darah internal di antara sesama Muslim.


Keputusan Sultan Abdul Hamid II – Mengalah dari Kudeta 1909 Demi Menghindari Perang Saudara Utsmani

Paralel sejarah yang memilukan berulang ratusan tahun kemudian di jantung Kekaisaran Utsmani. Pada April 1909, krisis politik hebat meletus melalui Peristiwa 31 Maret—sebuah pemberontakan dari kaum konservatif anti-konstitusi. Untuk meredam gejolak di ibu kota, "Tentara Aksi" (Hareket Ordusu) dikerahkan dari Salonika di bawah komando Jenderal Mahmud Syaukat Pasha.

Pada 22 April 1909, Mahmud Syaukat Pasha tiba di Yesilkoy (dahulu San Stefano) dan memegang kendali komando utama. Pasukan ini kemudian bergerak memasuki Istanbul, menguasai titik-titik strategis militer, dan mengepung Istana Yildiz yang menjadi kediaman Sultan Abdul Hamid II. Ketegangan memuncak karena terciptanya sebuah paradoks yang tragis: prajurit Utsmani dari Salonika di bawah Tentara Aksi berhadapan langsung dengan prajurit Utsmani penjaga istana. Memerintahkan perlawanan bersenjata berarti memicu bentrokan berdarah antarsesama prajurit dari kekaisaran yang sama.

Di tengah situasi kepungan tersebut, sejumlah penasihat mendesak Sultan Abdul Hamid II untuk melawan dan mengangkat senjata demi mempertahankan jabatannya. Namun, sang Sultan menolak desakan tersebut secara mutlak. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan sezaman Jurji Zaidan dalam karyanya Al-Inqilab al-Utsmani, Sultan Abdul Hamid II mengambil sikap menolak perlawanan militer semata-mata demi menghindari pertumpahan darah dan mencegah terjadinya perang saudara antarsesama prajurit Utsmani.

Keputusan luhur ini mengakhiri masa kekuasaannya. Pada 27 April 1909, masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II yang telah berjalan selama hampir 33 tahun (sejak naik takhta pada tahun 1876) resmi berakhir dengan pelengserannya dari takhta. Kepemimpinan kekaisaran kemudian dialihkan kepada adiknya, Mehmed V Resad. Keputusan Sultan Abdul Hamid II menegaskan prinsip kepemimpinannya yang lebih memprioritaskan keselamatan prajurit dan keutuhan negaranya ketimbang mempertahankan mahkota kekuasaan.


Karakter Sejarah yang Berulang – Benang Merah Etika Kepemimpinan Tanpa Perang Saudara

Jika ditarik sebuah sintetis komparatif, peristiwa yang dialami Khalifah Utsman bin Affan dan Sultan Abdul Hamid II memperlihatkan sebuah perlawanan mendasar terhadap doktrin politik Machiavellian. Dalam logika politik konvensional, kelangsungan kekuasaan penguasa kerap dijadikan pembenaran atas pengorbanan jiwa rakyatnya. Sebaliknya, dalam kerangka etika kepemimpinan yang diusung Utsman dan Sultan Abdul Hamid II, keselamatan nyawa manusia dan keharmonisan masyarakat berada jauh di atas keberlangsungan posisi eksekutif.

Kedua pemimpin berdiri di hadapan krisis yang sama: ancaman pengepungan kekuasaan dan tawaran perlawanan bersenjata dari para pendukung yang setia. Kendati demikian, keduanya mengambil keputusan yang sejajar dengan menolak pertempuran internal.

Paralelitas sejarah ini menyajikan pelajaran yang sangat berharga mengenai etika tertinggi dalam kepemimpinan. Pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa gigih ia mempertahankan kursi kekuasaannya dengan mengorbankan darah rakyat atau prajuritnya, melainkan dari keberaniannya menundukkan ambisi politik demi melindungi nyawa orang-orang yang dipimpinnya.


Kisah pengorbanan Khalifah Utsman bin Affan dan Sultan Abdul Hamid II menunjukkan bahwa ukuran sejati dari integritas kepemimpinan terletak pada penghargaan tertinggi terhadap nilai nyawa manusia. Ketika dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan posisi kekuasaan atau mengorbankan keselamatan rakyat dan prajuritnya dalam perang saudara, kedua pemimpin ini memilih untuk tidak menumpahkan darah.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (363) Al-Qur’an (75) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (42) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (7) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (9) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (64) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (123) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (332) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (805) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (28) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) sirah penguasa (1) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (254) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (174) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)