Rela Lengser Demi Mencegah Perang Saudara: Mengapa Utsman bin Affan dan Sultan Abdul Hamid II Menolak Menghunus Pedang?
Dalam panggung sejarah politik manusia, takhta hampir selalu dibeli dan dipertahankan dengan darah. Dari era imperium kuno hingga perebutan kekuasaan modern, norma umum politik kekuasaan seolah menegaskan bahwa kelangsungan rezim harus diperjuangkan dengan segala cara. Jika perlu, dengan mengorbankan nyawa ribuan rakyat atau prajurit di medan pertempuran internal.
Namun, sejarah Islam mencatat sebuah paradoks kepemimpinan yang amat langka sekaligus menggetarkan jiwa. Ketika takhta berada di ujung tanduk dan pengepungan sudah mengepung pusat kediaman mereka, ada pemimpin yang justru menolak perlawanan bersenjata. Mereka memilih mengorbankan jabatan—bahkan keselamatan diri sendiri—demi mencegah pecahnya perang saudara di antara kaumnya.
Dua potret agung ini terukir abadi dalam tindakan Khalifah Utsman bin Affan di Madinah pada masa Khulafaur Rasyidin, serta Sultan Abdul Hamid II di Istanbul pada detik-detik akhir Kekaisaran Utsmani. Lantas, bagaimana kedua tokoh besar ini merespons krisis kepemimpinan terhebat dalam hidup mereka, dan mengapa keputusan menolak pertumpahan darah ini menjadi warisan etika politik termahal dalam sejarah?
Pengorbanan Utsman bin Affan – Menolak Pedang Sahabat Demi Mencegah Darah Umat Tumpah
Suasana Madinah terasa begitu mencekam ketika gelombang demonstran dan pemberontak mengepung kediaman Khalifah Utsman bin Affan. Upaya diplomasi dan ajakan untuk berdamai tidak membuahkan hasil, sementara kepungan massa di luar rumah beliau kian hari kian ketat dan mengancam jiwa. Di tengah krisis yang membakar itu, Utsman bermusyawarah dengan sahabat Nabi, Abdullah bin Salam.
Nasihat yang disampaikan Abdullah bin Salam begitu membekas: "Tahan dan tahanlah, karena hal itu akan menjadi hujjah bagimu" di hadapan Allah kelak.
Melihat bahaya maut yang kian nyata mengintai sang Khalifah, para sahabat Rasulullah SAW bertindak untuk membela beliau. Haritsah bin An-Nu'man mendatangi Utsman dan menawarkan perlawanan militer: "Jika anda mau, maka kami akan berperang membelamu." Tokoh-tokoh terkemuka seperti Al-Mughirah bin Syu'bah dan Abdullah bin Az-Zubair turut menawarkan bantuan serupa. Bahkan, Ka'ab bin Malik mengerahkan kaum Anshar seraya menyerukan: "Wahai kaum Anshar, jadilah kalian sebagai penolong (agama) Allah!"
Puncaknya, Zaid bin Tsabit menemui Utsman dan menyampaikan bahwa kaum Anshar telah bersiap penuh di depan pintu kediamannya: "Mereka orang-orang Anshar telah ada di depan pintu, jika engkau mau, maka kita adalah para penolong (agama) Allah." Namun, Utsman dengan tegas menolaknya seraya menjawab: "Aku tidak membutuhkan hal ini, tahanlah diri-diri kalian."
Meskipun para sahabat telah bersiap-siap dan sebagian masuk ke rumahnya dengan tekad bulat untuk bertempur, Utsman bergeming pada keputusannya untuk tidak melancarkan perlawanan militer. Bahkan ketika putra Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, datang dan bertanya: "Apakah perlu aku menghunuskan pedangku?", sang Khalifah memberikan jawaban yang dipenuhi keteguhan prinsip:
"Tidak, aku berlepas diri kepada Allah dari menumpahkan darahmu, masukkan pedangmu dan kembalilah ke rumah ayahmu!"
Tindakan Utsman bin Affan ini memperlihatkan kontras yang tajam dengan norma politik kekuasaan biasa. Di saat seorang penguasa pada umumnya akan memanfaatkan kesetiaan pendukungnya untuk menggempur lawan demi mengamankan kursi jabatan, Utsman memilih untuk dikepung dan melarang pendukungnya mengangkat senjata ketimbang memicu pertumpahan darah internal di antara sesama Muslim.
Keputusan Sultan Abdul Hamid II – Mengalah dari Kudeta 1909 Demi Menghindari Perang Saudara Utsmani
Paralel sejarah yang memilukan berulang ratusan tahun kemudian di jantung Kekaisaran Utsmani. Pada April 1909, krisis politik hebat meletus melalui Peristiwa 31 Maret—sebuah pemberontakan dari kaum konservatif anti-konstitusi. Untuk meredam gejolak di ibu kota, "Tentara Aksi" (Hareket Ordusu) dikerahkan dari Salonika di bawah komando Jenderal Mahmud Syaukat Pasha.
Pada 22 April 1909, Mahmud Syaukat Pasha tiba di Yesilkoy (dahulu San Stefano) dan memegang kendali komando utama. Pasukan ini kemudian bergerak memasuki Istanbul, menguasai titik-titik strategis militer, dan mengepung Istana Yildiz yang menjadi kediaman Sultan Abdul Hamid II. Ketegangan memuncak karena terciptanya sebuah paradoks yang tragis: prajurit Utsmani dari Salonika di bawah Tentara Aksi berhadapan langsung dengan prajurit Utsmani penjaga istana. Memerintahkan perlawanan bersenjata berarti memicu bentrokan berdarah antarsesama prajurit dari kekaisaran yang sama.
Di tengah situasi kepungan tersebut, sejumlah penasihat mendesak Sultan Abdul Hamid II untuk melawan dan mengangkat senjata demi mempertahankan jabatannya. Namun, sang Sultan menolak desakan tersebut secara mutlak. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan sezaman Jurji Zaidan dalam karyanya Al-Inqilab al-Utsmani, Sultan Abdul Hamid II mengambil sikap menolak perlawanan militer semata-mata demi menghindari pertumpahan darah dan mencegah terjadinya perang saudara antarsesama prajurit Utsmani.
Keputusan luhur ini mengakhiri masa kekuasaannya. Pada 27 April 1909, masa pemerintahan Sultan Abdul Hamid II yang telah berjalan selama hampir 33 tahun (sejak naik takhta pada tahun 1876) resmi berakhir dengan pelengserannya dari takhta. Kepemimpinan kekaisaran kemudian dialihkan kepada adiknya, Mehmed V Resad. Keputusan Sultan Abdul Hamid II menegaskan prinsip kepemimpinannya yang lebih memprioritaskan keselamatan prajurit dan keutuhan negaranya ketimbang mempertahankan mahkota kekuasaan.
Karakter Sejarah yang Berulang – Benang Merah Etika Kepemimpinan Tanpa Perang Saudara
Jika ditarik sebuah sintetis komparatif, peristiwa yang dialami Khalifah Utsman bin Affan dan Sultan Abdul Hamid II memperlihatkan sebuah perlawanan mendasar terhadap doktrin politik Machiavellian. Dalam logika politik konvensional, kelangsungan kekuasaan penguasa kerap dijadikan pembenaran atas pengorbanan jiwa rakyatnya. Sebaliknya, dalam kerangka etika kepemimpinan yang diusung Utsman dan Sultan Abdul Hamid II, keselamatan nyawa manusia dan keharmonisan masyarakat berada jauh di atas keberlangsungan posisi eksekutif.
Kedua pemimpin berdiri di hadapan krisis yang sama: ancaman pengepungan kekuasaan dan tawaran perlawanan bersenjata dari para pendukung yang setia. Kendati demikian, keduanya mengambil keputusan yang sejajar dengan menolak pertempuran internal.
Paralelitas sejarah ini menyajikan pelajaran yang sangat berharga mengenai etika tertinggi dalam kepemimpinan. Pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa gigih ia mempertahankan kursi kekuasaannya dengan mengorbankan darah rakyat atau prajuritnya, melainkan dari keberaniannya menundukkan ambisi politik demi melindungi nyawa orang-orang yang dipimpinnya.
Kisah pengorbanan Khalifah Utsman bin Affan dan Sultan Abdul Hamid II menunjukkan bahwa ukuran sejati dari integritas kepemimpinan terletak pada penghargaan tertinggi terhadap nilai nyawa manusia. Ketika dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan posisi kekuasaan atau mengorbankan keselamatan rakyat dan prajuritnya dalam perang saudara, kedua pemimpin ini memilih untuk tidak menumpahkan darah.
0 komentar: