Mereka, Kafir Quraisy, berkata kepada Rasulullah ﷺ:
«“Jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.”
(Al-Qashash: 57)»
Apa yang sebenarnya mereka takutkan?
Mereka tidak mengatakan bahwa petunjuk yang dibawa Rasulullah ﷺ itu salah. Mereka justru mengakui bahwa yang beliau bawa adalah petunjuk. Namun mereka takut kehilangan kedudukan dan keamanan yang selama ini mereka nikmati.
Mereka berkata dalam hati:
“Jika kami mengikuti Muhammad, bukankah kabilah-kabilah Arab di sekitar kami akan memusuhi kami? Bukankah mereka selama ini mengagungkan Ka'bah, menghormati para penjaganya, dan mengagungkan berhala-berhala yang ada di dalamnya? Jika kami meninggalkan agama nenek moyang kami, siapa yang akan melindungi kami dari serangan kabilah-kabilah lain? Siapa yang akan mencegah musuh-musuh dari luar Jazirah Arab merampas kami?”
Bukankah ini pandangan yang sangat manusiawi?
Manusia sering kali menghitung keamanan berdasarkan kekuatan yang terlihat.
Ia melihat jumlah pengikut.
Ia melihat kekuatan ekonomi.
Ia melihat dukungan politik.
Ia melihat kekuatan militer.
Ia melihat hubungan dengan kelompok-kelompok yang berpengaruh.
Kemudian ia berkata, “Inilah yang membuatku aman.”
Tetapi Al-Qur'an mengajarkan pertanyaan yang lebih mendasar:
“Apakah benar semua itu yang memberikan keamanan?”
Allah berfirman:
«“Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam sebagai rezeki dari sisi Kami? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(Al-Qashash: 57)»
Siapakah yang sebenarnya memberikan keamanan kepada mereka?
Bukankah Allah?
Siapakah yang menjadikan Makkah sebagai tanah haram yang aman?
Bukankah Allah?
Siapakah yang membuat manusia dari berbagai penjuru datang kepadanya?
Bukankah Allah?
Siapakah yang mendatangkan berbagai macam rezeki ke tanah yang secara geografis tandus itu?
Bukankah Allah?
Jika demikian, mengapa mereka takut kehilangan keamanan hanya karena mengikuti petunjuk Allah?
Mereka melihat kabilah-kabilah.
Allah mengajarkan mereka untuk melihat-Nya.
Mereka melihat kekuatan manusia.
Allah mengajarkan mereka untuk melihat sumber segala kekuatan.
Mereka takut manusia merampas mereka.
Allah mengingatkan bahwa manusia tidak akan mampu melakukan apa pun di luar kehendak-Nya.
---
Ketika Iman Mengubah Cara Melihat Kekuatan
Mengapa pandangan mereka begitu berbeda?
Karena iman belum benar-benar bercampur dengan hati mereka.
Jika iman telah memenuhi hati, cara seseorang melihat kekuatan akan berubah.
Ia tidak lagi menganggap kekuatan bumi sebagai kekuatan mutlak.
Ia memahami bahwa seluruh kekuatan di bumi berada di bawah kekuasaan Allah.
Tidak ada kekuatan yang mampu merampas seseorang jika Allah menjaganya.
Dan tidak ada kekuatan yang mampu menolong seseorang jika Allah menghinakannya.
Maka di manakah keamanan yang sebenarnya?
Keamanan tidak semata-mata terletak pada banyaknya orang yang berada di pihak kita.
Keamanan tidak semata-mata terletak pada kekayaan.
Keamanan tidak semata-mata terletak pada kekuasaan.
Keamanan yang paling mendasar adalah ketika manusia berada dalam petunjuk dan perlindungan Allah.
Karena itu, mengikuti petunjuk Allah bukanlah jalan menuju kelemahan.
Justru petunjuk Allah adalah jalan menuju kekuatan yang benar.
Petunjuk itu mengajarkan manusia untuk mengenali hukum-hukum Allah di alam, memahami sebab-akibat, mengambil manfaat dari berbagai kekuatan yang Allah ciptakan, dan menggunakannya untuk membangun kehidupan.
Bukankah Allah adalah Pencipta alam sekaligus Pengaturnya?
Maka orang yang mengikuti petunjuk-Nya tidak meninggalkan hukum-hukum kehidupan.
Ia justru belajar berjalan selaras dengannya.
---
Petunjuk Allah Bukan Jalan Meninggalkan Dunia
Lalu apakah mengikuti petunjuk Allah berarti meninggalkan kehidupan dunia?
Tidak.
Petunjuk Allah adalah manhaj kehidupan yang benar.
Ia tidak memisahkan dunia dari akhirat.
Ia tidak mengajarkan manusia untuk menghancurkan kehidupan dunia demi mengejar kehidupan akhirat.
Sebaliknya, ia mengikat keduanya.
Kesalehan hati melahirkan kesalehan masyarakat.
Kesalehan masyarakat melahirkan kehidupan bumi yang baik.
Kehidupan dunia yang baik kemudian menjadi jalan menuju akhirat.
Bukankah dunia adalah ladang akhirat?
Karena itu, memakmurkan bumi bukanlah lawan dari mengejar akhirat.
Mengelola kehidupan, membangun masyarakat, menjaga keamanan, mengembangkan ilmu, menguatkan ekonomi, dan menegakkan keadilan semuanya dapat menjadi bagian dari ibadah apabila diarahkan kepada Allah dan dilakukan sesuai petunjuk-Nya.
Tujuannya bukan sekadar menguasai dunia.
Tujuannya adalah menjadikan dunia sebagai jalan menuju keridaan Allah.
---
Ketika Sebuah Komunitas Siap Memikul Amanah
Lalu apa yang terjadi dalam sejarah ketika sebuah komunitas benar-benar hidup di bawah petunjuk Allah?
Sejarah menunjukkan bahwa ketika sebuah umat memiliki kesiapan untuk memikul amanah kekhilafahan di bumi—amanah mengelola kehidupan berdasarkan petunjuk Allah—maka kekuatan, keteguhan, dan kemampuan membangun dapat tumbuh di dalamnya.
Namun jangan dipahami secara sederhana bahwa setiap kelompok yang mengaku mengikuti Islam pasti otomatis memperoleh kekuasaan.
Tidak demikian.
Petunjuk Allah harus diwujudkan dalam kehidupan.
Ia harus melahirkan ilmu.
Ia harus melahirkan akhlak.
Ia harus melahirkan keadilan.
Ia harus melahirkan persatuan.
Ia harus melahirkan kemampuan mengelola sumber daya.
Ia harus melahirkan keberanian menghadapi kesulitan.
Dengan kata lain, iman harus berubah menjadi amal.
---
Ketakutan yang Menghalangi Manusia dari Petunjuk
Tetapi bukankah banyak manusia sampai hari ini masih memiliki ketakutan yang sama?
Mereka berkata:
“Kalau kita sungguh-sungguh menjalankan syariat, bagaimana dengan ekonomi?”
“Kalau kita berpegang teguh pada agama, bagaimana dengan tekanan manusia?”
“Kalau kita mempertahankan prinsip, bagaimana jika kita kehilangan kekuasaan?”
“Kalau kita menolak berbagai kemungkaran, bagaimana jika kita dimusuhi?”
Bukankah pola pikir itu mirip dengan kekhawatiran orang-orang Quraisy?
Mereka takut kehilangan dunia karena mengikuti petunjuk.
Padahal kekhawatiran itu bisa menjadi ilusi ketika manusia melupakan siapa yang sebenarnya menguasai kehidupan.
Dalam sejarah awal Islam, komunitas Muslim yang semula lemah kemudian berkembang menjadi kekuatan besar dan dalam waktu yang relatif singkat menyebar ke berbagai wilayah.
Maka sejarah menjadi jawaban terhadap kekhawatiran mereka.
Mereka takut kehilangan negeri.
Tetapi Allah membukakan bagi umat itu negeri-negeri yang jauh lebih luas.
Mereka takut kehilangan keamanan.
Tetapi Allah memperlihatkan bahwa keamanan tidak harus dibangun dengan tunduk kepada kemusyrikan dan tekanan manusia.
Mereka takut kehilangan dunia.
Padahal dunia itu sendiri berada di tangan Allah.
---
Makkah: Bukti yang Sudah Ada di Depan Mata
Allah kemudian mengembalikan mereka kepada realitas yang mereka sendiri saksikan:
«“Bukankah Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam sebagai rezeki dari sisi Kami?”»
Coba lihat Makkah!
Tanah itu tidak memiliki kekuatan pertanian seperti negeri-negeri subur.
Namun manusia datang kepadanya.
Berbagai rezeki dibawa kepadanya.
Berbagai bangsa berkumpul di sana.
Ka'bah menjadi pusat yang dihormati.
Siapakah yang menciptakan semua itu?
Allah.
Dan keamanan itu telah Allah berikan kepada mereka sejak masa Ibrahim عليه السلام.
Maka pertanyaannya menjadi sangat tajam:
Jika Allah mampu memberikan keamanan kepada mereka ketika mereka masih berada dalam kedurhakaan, apakah mereka mengira Allah akan meninggalkan mereka ketika mereka menjadi orang-orang yang bertakwa?
Bukankah mereka sedang salah membaca sumber keamanan?
Allah menutup ayat itu dengan firman-Nya:
«“Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”»
Mereka tidak mengetahui di mana letak keamanan.
Mereka tidak mengetahui di mana letak bahaya.
Mereka tidak mengetahui bahwa seluruh urusan pada akhirnya kembali kepada Allah.
---
Justru Inilah Jalan Menuju Kebinasaan
Lalu Allah membalikkan cara berpikir mereka.
Jika kalian benar-benar ingin menjaga negeri kalian dari kehancuran, jangan hanya takut kehilangan kekuasaan.
Takutlah kepada sebab-sebab kehancuran yang sebenarnya.
Allah berfirman:
«“Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya yang telah Kami binasakan, maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak didiami (lagi) setelah mereka, kecuali sebagian kecil. Dan Kami-lah yang mewarisinya.”
(Al-Qashash: 58)»
Apa yang menghancurkan negeri-negeri itu?
Bukan semata-mata musuh dari luar.
Salah satu sebabnya adalah kesombongan terhadap nikmat.
Mereka menikmati rezeki Allah, tetapi tidak bersyukur.
Mereka memperoleh kekuasaan, tetapi menjadi sombong.
Mereka menikmati kemakmuran, tetapi mendustakan para rasul.
Mereka melihat ayat-ayat Allah, tetapi berpaling darinya.
Akhirnya, rumah-rumah mereka kosong.
Tempat-tempat tinggal mereka menjadi saksi.
Mereka yang dahulu merasa sebagai pemilik kehidupan akhirnya pergi tanpa membawa apa-apa.
Dan Allah berkata:
«“Dan Kami-lah yang mewarisinya.”»
Betapa kuat peringatan ini.
Manusia merasa memiliki negeri.
Allah mengingatkan bahwa Dialah Pemilik sebenarnya.
Manusia merasa memiliki kekuasaan.
Allah mengingatkan bahwa kekuasaan itu hanya amanah.
Manusia merasa memiliki kehidupan.
Allah mengingatkan bahwa kehidupan itu akan berakhir.
---
Allah Tidak Membinasakan Sebelum Peringatan
Apakah Allah membinasakan suatu negeri tanpa memberikan peringatan?
Tidak.
Allah berfirman:
«“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mengutus seorang rasul di ibu kotanya yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan penduduk negeri, kecuali penduduknya melakukan kezaliman.”
(Al-Qashash: 59)»
Inilah sunnatullah.
Risalah disampaikan.
Ayat-ayat dibacakan.
Hujah ditegakkan.
Manusia diberi kesempatan untuk memilih.
Karena itu, pengiriman rasul ke pusat kehidupan masyarakat memiliki hikmah besar. Dari pusat tersebut, risalah dapat disampaikan ke berbagai penjuru sehingga alasan untuk tidak mengetahui kebenaran semakin tertutup.
Nabi Muhammad ﷺ diutus di Makkah, pusat penting kehidupan bangsa Arab.
Tetapi meskipun risalah telah datang, sebagian mereka tetap mendustakannya.
---
Kesedihan Rasulullah ﷺ
Bagaimana keadaan Rasulullah ﷺ menghadapi pendustaan itu?
Beliau sangat sedih.
Beliau bukan hanya melihat mereka sebagai orang-orang yang menolak dakwah.
Mereka adalah keluarga, kerabat, dan kaumnya.
Beliau menginginkan keselamatan mereka.
Karena itu Allah berfirman:
«“Boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk) Makkah untuk tidak beriman.”
(Asy-Syu‘ara’: 3)»
Seakan-akan Allah berkata kepada beliau:
“Wahai Muhammad, jangan engkau membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman.”
Betapa lembut teguran ini.
Allah mengetahui beratnya beban yang ada di dada Rasulullah ﷺ.
Allah mengetahui betapa dalam cintanya kepada kaumnya.
Namun Allah juga mengajarkan:
Tugasmu adalah menyampaikan. Hidayah bukan berada di tanganmu.
---
Jika Allah Menghendaki, Mereka Bisa Dipaksa Tunduk
Kemudian Allah berfirman:
«“Jika Kami menghendaki, niscaya Kami turunkan kepada mereka mukjizat dari langit, yang akan membuat tengkuk mereka tunduk dengan rendah hati kepadanya.”
(Asy-Syu‘ara’: 4)»
Bukankah Allah mampu melakukan itu?
Tentu.
Jika Allah menghendaki, Dia dapat menurunkan tanda yang begitu dahsyat sehingga mereka tidak mampu mengingkarinya.
Tengkuk mereka akan tunduk.
Mereka tidak mempunyai ruang untuk membantah.
Tetapi Allah tidak memilih cara itu untuk risalah terakhir.
Mengapa?
Karena iman yang dikehendaki adalah iman yang lahir dari kesadaran terhadap kebenaran, bukan sekadar ketundukan karena dipaksa oleh tanda yang tidak mungkin ditolak.
Karena itu, Allah menjadikan Al-Qur'an sebagai mukjizat utama risalah terakhir.
---
Al-Qur'an: Mukjizat yang Menjadi Manhaj Kehidupan
Allah membuka Surat Asy-Syu‘ara:
«طسم تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ»
«“Taa Siin Miim. Inilah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) yang jelas.”
(Asy-Syu‘ara’: 1–2)»
Mengapa surat ini dimulai dengan huruf-huruf seperti Tha, Sin, dan Mim?
Huruf-huruf itu sendiri dikenal oleh bangsa Arab.
Mereka memiliki huruf yang sama.
Mereka mengetahui bahasa yang sama.
Mereka mampu menyusun kata-kata dari huruf-huruf tersebut.
Namun mereka tidak mampu menghasilkan sesuatu yang sebanding dengan Al-Qur'an.
Di sinilah tantangannya:
Bahan dasarnya berada di hadapan mereka, tetapi mereka tidak mampu menghasilkan bangunan yang serupa.
Mukjizat Al-Qur'an bukan hanya terletak pada keindahan ekspresinya.
Ia juga terletak pada keselarasan dan kedalaman kandungannya.
---
Al-Qur'an: Kesatuan yang Tidak Terpecah
Apa yang membuat manhaj Al-Qur'an begitu istimewa?
Ajarannya tidak berjalan secara terpisah-pisah.
Akidah berhubungan dengan akhlak.
Akhlak berhubungan dengan masyarakat.
Masyarakat berhubungan dengan keadilan.
Keadilan berhubungan dengan kehidupan ekonomi dan politik.
Kehidupan dunia berhubungan dengan pertanggungjawaban akhirat.
Semuanya bertemu pada satu poros:
penghambaan kepada Allah.
Tidak ada bagian yang berdiri sendirian tanpa hubungan dengan bagian lainnya.
Tidak ada satu prinsip yang menghancurkan prinsip yang lain.
Semuanya saling melengkapi.
Bukankah ini yang membuat Al-Qur'an bukan sekadar kitab untuk dibaca, tetapi manhaj untuk dijalani?
Ia berbicara tentang hati.
Ia berbicara tentang keluarga.
Ia berbicara tentang masyarakat.
Ia berbicara tentang keadilan.
Ia berbicara tentang ilmu.
Ia berbicara tentang kekayaan dan amanah.
Ia berbicara tentang kehidupan.
Dan pada akhirnya, ia mengarahkan semuanya kepada Allah.
---
Dari Ketakutan Menuju Keyakinan
Maka kita kembali kepada ucapan orang-orang Quraisy:
«“Jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.”»
Bukankah kalimat itu sebenarnya mencerminkan ketakutan manusia sepanjang zaman?
Takut kehilangan kedudukan.
Takut kehilangan keamanan.
Takut kehilangan kekayaan.
Takut dimusuhi.
Takut menghadapi kesulitan.
Takut kehilangan dunia karena memilih kebenaran.
Tetapi Al-Qur'an mengajarkan kita untuk bertanya lebih dalam:
Siapa yang memberikan keamanan?
Siapa yang memberikan rezeki?
Siapa yang menjaga negeri?
Siapa yang memberikan kekuatan?
Siapa yang memiliki masa depan?
Dan siapa yang pada akhirnya mewarisi seluruh bumi?
Jawabannya hanya satu: Allah.
Karena itu, jangan sampai ketakutan kepada makhluk membuat kita meninggalkan petunjuk Sang Pencipta.
Jangan sampai kekhawatiran kehilangan dunia membuat kita kehilangan akhirat.
Dan jangan sampai kita mengira bahwa mengikuti petunjuk Allah adalah sumber kehinaan, padahal yang menjadi sumber kehancuran justru kesombongan, kufur terhadap nikmat, pendustaan terhadap kebenaran, dan berpaling dari ayat-ayat-Nya.
Maka pertanyaan yang lebih penting bukanlah:
«“Apa yang akan terjadi pada dunia kita jika kita mengikuti petunjuk Allah?”»
Tetapi:
«“Apa yang akan terjadi pada kita jika kita meninggalkan petunjuk Allah demi mempertahankan dunia?”»
Di situlah Al-Qur'an mengubah cara kita melihat rasa aman, rasa takut, dunia, kekuasaan, dan bahkan makna kehidupan itu sendiri.
Link Kami
Beberapa Link Kami yang Aktif