basmalah Pictures, Images and Photos
Jejak Arkeologis dan Geografis Lengkong Sumedang di Tangerang Banten - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Jejak Arkeologis dan Geografis Lengkong Sumedang Untuk memperkuat da...

Jejak Arkeologis dan Geografis Lengkong Sumedang di Tangerang Banten

Jejak Arkeologis dan Geografis Lengkong Sumedang

Untuk memperkuat data historis mengenai Lengkong Sumedang, penelusuran tidak cukup hanya dilakukan melalui naskah dan tradisi lisan. Jejak sejarah tersebut perlu dibandingkan dengan peninggalan arkeologis yang masih dapat ditemukan di lapangan, terutama makam, bekas rumah, dan masjid yang secara tradisional dikaitkan dengan R.A. Wangsakara.

Pada saat yang sama, naskah asli yang pernah menjadi sumber penyusunan sejarah Lengkong Sumedang masih perlu ditemukan kembali. Keberadaan naskah tersebut sangat penting karena dari bahan kertas, jenis tinta, bentuk tulisan, kondisi fisik, serta isi dan struktur teksnya dapat diperoleh petunjuk mengenai usia, asal-usul, dan proses pewarisan informasi sejarah yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian, antara sumber tertulis dan peninggalan fisik dapat dilakukan perbandingan. Jika keduanya menunjukkan arah yang sama, gambaran sejarah Lengkong Sumedang akan menjadi semakin kuat.

Makam R.A. Wangsakara

Salah satu peninggalan yang paling penting adalah makam R.A. Wangsakara.

Makam tersebut terletak di bagian bukit dalam kawasan perkampungan Lengkong Sumedang. Penempatan makam tokoh yang dianggap sebagai leluhur atau memiliki kedudukan keramat di atas bukit bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dalam tradisi masyarakat Jawa dan Sunda. Pola semacam ini dapat ditemukan di sejumlah tempat, antara lain pada kompleks makam Sunan Gunung Jati, Sunan Muria, Sunan Sendang, Sunan Giri, serta kompleks makam Imogiri yang menjadi tempat pemakaman Sultan Agung Hanyokrokusumo dan para sultan Yogyakarta dan Surakarta (Uka Tjandrasasmita, 1992).

Karena itu, posisi makam R.A. Wangsakara di atas bukit dapat dilihat sebagai bagian dari tradisi penempatan makam tokoh leluhur atau tokoh agama pada tempat yang memiliki posisi geografis tertentu.

Dari sudut pandang arkeologis, nisan makam R.A. Wangsakara memiliki bentuk yang sederhana. Nisan tersebut kemungkinan terbuat dari batu kali. Ukurannya relatif kecil, dengan bagian puncak yang terpangkas dan sedikit melengkung menyerupai bahu. Kedua sisinya berbentuk lurus dan pendek, kemudian membentuk badan nisan yang juga lurus hingga bagian kaki.

Bagian kaki berupa bingkai dengan lekukan-lekukan. Kedua sisi lekukan tersebut seolah membentuk segitiga yang menjadi hiasan pada bagian paling bawah badan nisan. Pada bidang utama nisan tidak terdapat tulisan. Hiasannya hanya berupa pola spiral yang seakan membentuk sebuah medali.

Secara tipologis, pola dasar nisan seperti ini memiliki karakter lokal, meskipun bentuk serupa juga ditemukan di berbagai tempat lain, antara lain Troloyo, Demak, dan Banten (Othman Mohd. Yatim, 1988: 33).

Di depan makam R.A. Wangsakara terdapat makam lain dengan nisan berukuran kecil dan berbentuk bulat menyerupai gada. Bagian puncaknya berbentuk bulat melengkung seperti penutup kepala. Tipologi nisan semacam ini juga ditemukan di kompleks makam Banten yang memperlihatkan pengaruh tradisi Mandar.

Kesederhanaan kedua nisan tersebut justru menarik perhatian. Berdasarkan bentuknya, keduanya mengingatkan pada tipe nisan arkais yang diperkirakan berkembang sekitar akhir abad ke-17 M.

Tentu saja, tipologi semata tidak cukup untuk menentukan usia sebuah makam secara pasti. Namun, apabila bentuk nisan tersebut dibandingkan dengan nisan dari situs-situs lain yang telah memiliki konteks kronologis, tipologi dapat menjadi salah satu petunjuk penting dalam rekonstruksi sejarah Lengkong.

Makam Kiai Mustakim dan Jejak Generasi Berikutnya

Jejak arkeologis tidak berhenti pada makam R.A. Wangsakara.

Di luar kompleks makam R.A. Wangsakara, di dekat masjid kuno yang kini telah mengalami perubahan total, terdapat sebuah makam yang berada di dalam cungkup. Makam tersebut dikenal sebagai makam Kiai Mustakim. Di bagian depannya terdapat makam Darda.

Menurut keterangan H. Soleh, Kiai Mustakim merupakan anak Darda.

Nisan makam Kiai Mustakim memiliki bentuk yang berbeda dari nisan R.A. Wangsakara. Bentuknya menyerupai gada yang memanjang, dengan bagian puncak lebih besar dan meruncing. Badannya berbentuk seperti gada dengan bidang yang menyerupai segi delapan. Bagian kaki berbentuk segi empat, sedangkan pada setiap sudut pertemuan sisi-sisinya terdapat bentuk segitiga yang dikenal sebagai antefik.

Berdasarkan perkembangan tipologi nisan, bentuk seperti ini diperkirakan berasal dari tradisi abad ke-18 dan ke-19 M. Dr. Moh. Othman Yatim, ahli sejarah dan arkeologi Malaysia, mengelompokkannya ke dalam Tipe Otman-M.

Nisan dengan tipe tersebut ditemukan antara lain di Banda Aceh dan Malaysia. Bentuk yang serupa juga terdapat di Banten, termasuk kompleks makam di sekitar Masjid Agung Banten. Kemiripan tersebut menarik karena hubungan antara Banten dan Aceh pada masa lalu memang cukup kuat.

Bentuk nisan yang serupa juga ditemukan di Kampung Garisul, Jasinga. Situs tersebut telah disebut dalam penelitian Hoesein Djajadiningrat dan kemudian diteliti lebih lanjut oleh almarhum Muhammad Thoha Idris (Toha Idris, 1995).

Beberapa nisan di Garisul masih memiliki angka tahun yang dapat dibaca. Di antaranya makam Haji Syarif bertahun 1200 H atau 1822 M, makam Embah Adong bertahun 1215 H atau 1837 M, serta nisan lain yang bertahun 1238 H atau 1860 M.

Data tersebut menunjukkan bahwa tipe nisan semacam ini masih digunakan hingga abad ke-19. Jika bentuk nisan Kiai Mustakim dibandingkan dengan nisan-nisan Garisul dan dikaitkan dengan tradisi silsilah yang berkembang di Lengkong, ada kemungkinan bahwa Kiai Mustakim hidup pada masa ketika pergolakan sosial dan politik di Banten kembali berkembang dan perlawanan terhadap pemerintahan Hindia Belanda mulai muncul.

Dengan demikian, kompleks makam Lengkong memperlihatkan lapisan sejarah yang tidak hanya berasal dari satu generasi. Makam R.A. Wangsakara menunjukkan lapisan awal komunitas, sementara makam-makam sesudahnya dapat menjadi petunjuk mengenai kesinambungan komunitas tersebut pada abad-abad berikutnya.

Rumah R.A. Wangsakara dan Jejak Kehidupan Awal Lengkong

Peninggalan lain yang memiliki hubungan langsung dengan R.A. Wangsakara adalah rumah yang menurut tradisi merupakan tempat tinggal istrinya yang kedua.

Meskipun rumah tersebut telah mengalami perbaikan, beberapa unsur bangunannya masih memperlihatkan karakter lama. Bata merahnya masih tampak sebagai bata berukuran besar yang berbeda dari material bangunan modern. Pada bagian dinding masih terdapat gedeg bambu yang dibuat dengan teknik disasak, bukan dianyam atau dikepang.

Susunan ruangan rumah juga masih sederhana. Walaupun kemungkinan telah mengalami beberapa kali perbaikan, sejumlah unsur bangunan tersebut masih dapat digunakan untuk memahami karakter hunian masyarakat pada masa lalu.

Rumah ini penting bukan semata-mata karena usianya, tetapi karena tradisi masyarakat menghubungkannya langsung dengan keluarga R.A. Wangsakara.

Sementara itu, rumah yang menurut tradisi ditempati oleh istri pertama R.A. Wangsakara berada di sisi Cisadane dan kini sudah tidak ada lagi. Yang tersisa hanyalah sebuah pohon asam tua yang dipercaya sebagai penanda lokasi.

Letak situs tersebut sangat menarik.

Lokasinya tepat berada di tepi barat Sungai Cisadane. Sejak masa Kesultanan Banten, kawasan ini merupakan bagian dari wilayah strategis yang berhadapan dengan daerah di sebelah timur Cisadane yang dikuasai VOC, bahkan terhubung dengan kawasan hingga Angke.

Karena itu, meskipun bangunan rumahnya telah hilang, lokasi tersebut tetap memiliki nilai sebagai situs sejarah.

Menurut keterangan masyarakat, di sekitar kawasan tersebut juga terdapat gua-gua. Namun, pada saat penelitian lapangan dilakukan, gua-gua tersebut belum sempat ditelusuri lebih jauh. Jika keberadaannya dapat diverifikasi dan diteliti, kemungkinan besar gua-gua tersebut dapat menambah informasi mengenai pemanfaatan ruang di sekitar Lengkong pada masa lalu.

Masjid Lengkong: Jejak Islamisasi Komunitas

Peninggalan yang tidak kalah penting adalah masjid yang secara tradisional dikaitkan dengan R.A. Wangsakara.

Sayangnya, bangunan masjid tersebut kini telah mengalami perubahan secara menyeluruh. Namun, dokumentasi sebelum pembongkaran masih tersedia. Foto yang dibuat oleh Drs. Edi, Kasi Kebudayaan, telah disampaikan kepada Drs. Najib sehingga bentuk bangunan lama masih dapat dipelajari.

Dari foto tersebut terlihat bahwa masjid lama memiliki atap bertingkat dua. Bentuk semacam ini mengingatkan pada masjid-masjid lama di wilayah Jakarta yang pada abad ke-18 banyak menggunakan atap bertingkat dua.

Fondasinya berbentuk persegi empat dan tampak cukup kokoh. Menurut keterangan H. Soleh, bata-bata bangunan lama berukuran besar dan berwarna merah.

Jika keterangan mengenai ukuran bata tersebut benar, maka terdapat kesamaan dengan penggunaan bata berukuran besar pada sejumlah masjid kuno di Banten dan Jakarta. Masjid Agung Banten Lama, misalnya, juga memperlihatkan penggunaan bata merah berukuran besar.

Menurut tradisi masyarakat setempat, masjid tersebut didirikan oleh R.A. Wangsakara.

Keterangan ini memiliki arti penting karena memperkuat gambaran R.A. Wangsakara bukan hanya sebagai tokoh yang membuka permukiman, tetapi juga sebagai seorang kiai atau ulama yang menjalankan fungsi keagamaan di tengah masyarakatnya.

Dari sinilah nama Lengkong Ulama dapat dipahami. Lengkong bukan hanya dikenal sebagai Lengkong Sumedang karena komunitas pendirinya dikaitkan dengan Sumedang, tetapi juga sebagai Lengkong Ulama karena tokoh yang dikaitkan dengan pendiriannya dikenal sebagai seorang ulama.

Dengan demikian, makam, rumah, dan masjid membentuk satu kesatuan situs yang menggambarkan kehidupan komunitas awal Lengkong.

Cisadane dan Jaringan Perairan Masa Lalu

Namun, sejarah Lengkong tidak dapat dipisahkan dari lingkungan geografisnya.

Kampung Lengkong Sumedang berada di tepi Sungai Cisadane. Jauh sebelum permukiman yang secara tradisional dikaitkan dengan R.A. Wangsakara berdiri, kawasan Cisadane telah memiliki arti penting dalam jaringan perairan wilayah Jawa bagian barat.

Jejak penggunaan kawasan tersebut bahkan dapat ditarik jauh ke masa Kerajaan Tarumanegara. Di wilayah Muara Cianten dan Ciaruteun, Ciampea, ditemukan prasasti dari pertengahan abad ke-5 M yang berasal dari masa pemerintahan Sri Maharaja Purnawarman.

Pada masa Pajajaran, Ciliwung memang menjadi salah satu jalur perairan penting menuju Pelabuhan Kalapa. Namun, Cisadane juga tetap digunakan sebagai jalur lalu lintas air menuju wilayah Tangerang.

Pada awal abad ke-16, keberadaan Pelabuhan Tangerang bahkan telah dicatat oleh Tome Pires dalam perjalanannya pada 1512–1515 (Armando Cortesao, 1967: 171).

Artinya, Sungai Cisadane bukan sekadar unsur alam. Ia merupakan bagian dari jaringan mobilitas manusia, barang, dan kekuasaan yang telah berlangsung jauh sebelum kedatangan R.A. Wangsakara.

Pada masa Kesultanan Banten sejak abad ke-16, fungsi tersebut semakin berkembang. Cisadane menjadi jalur perhubungan air sekaligus kawasan strategis dalam menghadapi kekuatan VOC.

Bahkan pada pertengahan abad ke-18, ketika terjadi perlawanan Kiai Tapa dan Tubagus Buang, wilayah Rumpin dan Gunung Munara menjadi salah satu kawasan pertahanan dan pertempuran gerilyawan Banten melawan VOC.

Dengan demikian, Lengkong berada di dalam sebuah lanskap yang sejak lama memiliki arti strategis secara ekonomi, geografis, dan militer.

Lengkong di Belokan Cisadane

Posisi geografis Lengkong semakin menarik karena Cisadane di kawasan tersebut membentuk belokan atau meander yang menciptakan semacam tanjung.

Di satu sisi terdapat kawasan Lengkong; di sisi lainnya terbentang wilayah di seberang timur Cisadane.

Posisi seperti ini memberikan keuntungan tertentu. Sungai dapat menjadi jalur transportasi sekaligus batas alam. Pada masa konflik, aliran sungai dapat berfungsi sebagai garis pertahanan. Pada masa damai, sungai yang sama menjadi jalur perdagangan dan komunikasi.

Karena itu, tidak mengherankan apabila kawasan Lengkong kemudian memiliki nilai strategis dalam sejarah Banten dan Tangerang.

Di Kampung Lengkong Sumedang juga terdapat lebih dari satu bukit. Selain bukit tempat makam R.A. Wangsakara berada, terdapat bukit lain yang memiliki sumber air. Air tersebut membentuk aliran kecil menuju Sungai Cisadane.

Kondisi lingkungan ini memperlihatkan bahwa kawasan Lengkong memiliki sumber daya alam yang cukup untuk mendukung kehidupan masyarakat. Apabila aliran air tersebut ditata menjadi kolam atau danau kecil, selain dapat berfungsi sebagai tempat penampungan air, kawasan itu juga berpotensi memberikan nilai lanskap yang menarik.

Karena itu, apabila dilakukan penataan lingkungan secara baik dan tetap memperhatikan kelestarian situs sejarah, Lengkong Sumedang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah, budaya, dan alam.

R.A. Wangsakara dan Awal Komunitas Lengkong

Dari seluruh rangkaian data tersebut, mulai dari naskah, tradisi masyarakat, makam, rumah, masjid, hingga kondisi geografis, dapat disusun sebuah gambaran mengenai awal terbentuknya komunitas Lengkong Sumedang.

Dalam tradisi yang berkembang, tokoh pendirinya adalah R.A. Wangsakara, yang diidentifikasi dengan Pangeran Aria Wiraraja II dari Sumedang.

Ia diperkirakan meninggalkan Sumedang sekitar 1631–1633, pada masa pergolakan yang berkaitan dengan pemberontakan Dipati Ukur dan meningkatnya tekanan kekuasaan Mataram terhadap wilayah Priangan.

Dari Sumedang, ia kemudian pergi ke Banten dan memperoleh izin untuk menetap di wilayah Lengkong di tepi barat Cisadane. Masa tersebut berlangsung ketika Kesultanan Banten berada di bawah pemerintahan Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir.

Kepergian tersebut dalam tradisi lokal dikaitkan dengan penolakan terhadap semakin kuatnya pengaruh Mataram atas Sumedang. Selain itu, terdapat pula konteks yang lebih luas berupa pergolakan Dipati Ukur dan gerakan orang-orang dari Priangan yang mencari perlindungan di luar kekuasaan Mataram.

Namun, hubungan antara R.A. Wangsakara dan Pangeran Aria Wiraraja II tetap merupakan persoalan yang harus terus diuji. Kesamaan nama, tradisi silsilah, kronologi, dan hubungan dengan Sumedang merupakan petunjuk penting, tetapi pembuktian sejarah memerlukan perbandingan dengan naskah asli dan sumber-sumber lain.

Lengkong sebagai Komunitas Ulama dan Perlawanan

Setelah menetap di Lengkong, R.A. Wangsakara dalam tradisi masyarakat dikenal bukan hanya sebagai tokoh pendiri permukiman, tetapi juga sebagai kiai atau ulama.

Peran keagamaannya tercermin dalam tradisi mengenai pendirian masjid. Masjid menjadi pusat kehidupan keagamaan komunitas sekaligus menjadi salah satu tanda bahwa permukiman tersebut berkembang menjadi komunitas yang memiliki identitas sosial dan keislaman.

Namun, kehidupan Lengkong tidak berlangsung dalam ruang yang terpisah dari politik Banten.

Letaknya yang berada di tepi barat Cisadane menempatkan komunitas ini di dalam kawasan yang berhadapan langsung dengan kekuatan VOC di sebelah timur. Karena itu, dalam tradisi sejarah setempat, Wangsakara dan masyarakatnya juga dikaitkan dengan perlawanan terhadap usaha-usaha kolonial VOC sejak pertengahan abad ke-17.

Perjuangan tersebut kemudian diteruskan oleh para penggantinya dan berlangsung dalam konteks konflik Kesultanan Banten dengan VOC hingga berakhirnya masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.

Setelah kekuasaan Banten beralih kepada Sultan Haji dengan dukungan VOC, struktur pemerintahan Tangerang pun berubah. Tokoh-tokoh seperti Pangeran Aria Sutadilaga dan Pangeran Aria Subraja kemudian muncul dalam struktur pemerintahan Tangerang di bawah pengaruh VOC.

Perubahan tersebut menandai berakhirnya satu fase sejarah Lengkong dan dimulainya fase baru ketika komunitas yang sebelumnya tumbuh dalam lingkungan Kesultanan Banten harus berhadapan dengan struktur kekuasaan kolonial.

Lengkong sebagai Situs Sejarah

Jika seluruh data tersebut ditempatkan dalam satu rangkaian, maka sejarah Lengkong Sumedang dapat dilihat melalui beberapa lapisan.

Pertama, terdapat tradisi genealogis yang menghubungkan R.A. Wangsakara dengan Sumedang dan Pangeran Aria Wiraraja II.

Kedua, terdapat konteks sejarah, terutama pergolakan Sumedang, Mataram, dan Dipati Ukur pada sekitar 1631–1633 yang memberikan latar bagi perpindahan sejumlah tokoh dan komunitas dari Priangan menuju Banten.

Ketiga, terdapat bukti arkeologis, berupa makam, nisan, rumah, dan masjid yang memberikan gambaran mengenai kehidupan komunitas Lengkong dari masa ke masa.

Keempat, terdapat konteks geografis, yaitu Sungai Cisadane yang sejak masa awal telah menjadi jalur perairan, perdagangan, komunikasi, sekaligus batas strategis.

Kelima, terdapat konteks politik Banten, terutama ketika wilayah Tangerang dan Cisadane menjadi kawasan penting dalam konflik antara Kesultanan Banten dan VOC.

Semua unsur tersebut saling melengkapi. Tidak satu pun dapat berdiri sendiri sebagai bukti tunggal. Justru melalui perbandingan antara sumber tertulis, tradisi lisan, peninggalan arkeologis, dan kondisi geografis, sejarah Lengkong dapat direkonstruksi secara lebih hati-hati.

Atas dasar itu, Lengkong Sumedang atau Lengkong Ulama layak dipandang sebagai kampung bersejarah sekaligus situs sejarah yang memiliki nilai penting bagi sejarah Sumedang, Banten, Tangerang, dan perkembangan Islam di wilayah tersebut.

Pelestarian situs ini menjadi penting, bukan hanya untuk mempertahankan makam R.A. Wangsakara, rumah lama, masjid, dan lingkungan geografisnya, tetapi juga untuk menjaga memori tentang proses perpindahan masyarakat, pembentukan komunitas Islam, dan perubahan politik yang berlangsung di kawasan Cisadane sejak abad ke-17.

Dengan penataan lingkungan yang tepat, Lengkong memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya sekaligus wisata alam. Namun, pengembangan tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari upaya pelestarian: menjaga bukti sejarah terlebih dahulu, baru kemudian mengembangkan nilai edukasi dan wisatanya.

Pada akhirnya, Lengkong bukan sekadar nama sebuah kampung di tepi Cisadane. Ia merupakan ruang tempat bertemunya jejak Sumedang, sejarah Banten, pergolakan Dipati Ukur, perkembangan Islam, perjuangan melawan VOC, serta kehidupan masyarakat yang tumbuh di sepanjang sungai.

Di tengah perubahan zaman, makam, rumah, masjid, bukit, dan aliran Cisadane menjadi saksi bisu dari proses panjang terbentuknya sebuah komunitas yang hingga kini masih dikenal sebagai Lengkong Sumedang atau Lengkong Ulama.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (363) Al-Qur’an (75) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (42) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (7) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (9) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (64) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (123) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (327) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (800) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (28) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) sirah penguasa (1) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (253) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (174) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)