Perjalanan Menuju Kehidupan Akhirat: Mempersiapkan Diri Sebelum Ajal
Memikirkan Perjalanan yang Pasti
Kebanyakan manusia sibuk memikirkan hari ini, tetapi jarang memikirkan hari esok yang paling pasti: hari ketika ia meninggalkan dunia.
Kita memikirkan pekerjaan, keluarga, harta, kesehatan, masa depan anak-anak, dan berbagai urusan dunia. Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya:
«Ke mana sebenarnya perjalanan hidup ini akan berakhir?»
Mengapa kita begitu serius mempersiapkan masa depan dunia yang belum tentu kita nikmati, tetapi begitu sedikit mempersiapkan kehidupan akhirat yang pasti akan kita datangi?
Apakah karena akhirat itu gaib sehingga kita meragukannya?
Jika demikian, yang perlu diperbaiki adalah iman kita.
Ataukah kita sebenarnya percaya kepada akhirat, tetapi terlalu terlena oleh dunia?
Jika demikian, yang perlu diperbaiki adalah kelalaian kita.
Sebab perkara akhirat bukanlah perkara kecil. Di sanalah kehidupan yang hakiki dan masa depan yang sebenarnya.
Allah bahkan bersumpah:
«“Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.”
(Adz-Dzariyat: 23)»
Kalau demikian, mengapa kita masih hidup seolah-olah akhirat tidak pernah ada?
Iman kepada yang Gaib Mengubah Cara Kita Hidup
Iman kepada yang gaib dan hari akhir merupakan bagian mendasar dari keimanan.
Tetapi iman kepada akhirat tidak seharusnya berhenti sebagai pengetahuan di kepala. Ia harus mengubah cara kita memandang kehidupan.
Cobalah sesekali duduk seorang diri.
Jauhkan sejenak kesibukan.
Bayangkan perjalanan yang sedang menunggu kita.
Detik-detik yang berlalu akan membawa kita menuju kematian. Setelah itu ada kubur dan alam barzakh. Kemudian kebangkitan, mahsyar, penghisaban, shirath, lalu surga atau neraka.
Inilah perjalanan yang pasti.
Kita mungkin tidak mengetahui kapan setiap tahap itu akan dimulai. Tetapi kita mengetahui dengan pasti bahwa kita sedang menuju ke sana.
Bukankah aneh jika seseorang mengetahui bahwa ia sedang menuju suatu tempat, tetapi sama sekali tidak mempersiapkan perjalanan?
Umur yang Tersisa
Masalahnya, kita tidak mengetahui berapa lama umur yang masih tersisa.
Apakah masih panjang?
Ataukah tinggal beberapa tahun?
Beberapa bulan?
Beberapa hari?
Beberapa jam?
Bahkan, siapa yang dapat menjamin bahwa kita masih memiliki beberapa detik?
Karena itu, rasa takut harus berjalan bersama harapan kepada rahmat Allah.
Takut mendorong kita untuk waspada.
Harapan mendorong kita untuk terus beramal.
Keduanya membuat kita tidak menyia-nyiakan waktu.
Allah berfirman:
«“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.”
(Al-Muzzammil: 20)»
Seandainya Dokter Mengatakan: Enam Bulan Lagi
Cobalah sebuah renungan.
Bayangkan seorang dokter mengatakan kepada seseorang:
“Penyakit ini akan menyebabkan kematianmu. Waktumu mungkin tidak lebih dari enam bulan.”
Apa yang akan terjadi?
Orang beriman tentu akan mulai memandang waktu dengan cara yang berbeda.
Hal-hal yang dahulu dianggap penting mungkin tiba-tiba terasa tidak berarti.
Waktu menjadi mahal.
Ia akan berusaha memperbanyak amal saleh. Ia akan memanfaatkan waktunya. Ia akan memperbaiki hubungan dengan manusia. Ia akan memperbanyak sedekah. Ia akan meninggalkan kemaksiatan. Ia akan mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.
Mengapa?
Karena ia merasa waktunya terbatas.
Tetapi bukankah sebenarnya keadaan kita tidak jauh berbeda?
Kita hanya tidak diberi tahu kapan batas waktunya.
Siapa yang dapat menjamin hidup sampai enam bulan?
Siapa yang menjamin sampai besok?
Siapa yang menjamin sampai malam?
Bahkan, siapa yang menjamin beberapa detik lagi?
Maka jangan menunggu vonis dokter untuk mulai serius mempersiapkan akhirat.
Kita semua sedang berjalan menuju ajal, hanya tanggal kedatangannya yang dirahasiakan.
Allah berfirman:
«“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Luqman: 34)»
Jangan Menunggu Kesempatan untuk Berbuat Baik
Karena umur tidak pasti, kesempatan berbuat baik jangan ditunda.
Ketika kesempatan datang, segera manfaatkan.
Jangan berkata:
«“Nanti saja.”»
Sebab kita tidak tahu apakah kesempatan itu akan kembali.
Allah memuji orang-orang yang segera melakukan kebaikan:
«“Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”
(Al-Mu’minun: 61)»
Kita sering melihat manusia bersusah payah mengejar keuntungan dunia.
Mereka bepergian jauh.
Mereka bekerja hingga larut malam.
Mereka mengorbankan waktu istirahat.
Mereka menahan lelah.
Semua itu dilakukan demi memperoleh keuntungan yang belum tentu besar dan belum tentu bertahan lama.
Lalu bagaimana dengan perdagangan bersama Allah?
Allah menawarkan keuntungan yang tidak akan pernah habis.
Maka, mengapa kita begitu bersungguh-sungguh mengejar keuntungan dunia, tetapi begitu lambat mengejar keuntungan akhirat?
Sebelum Mati, Lunasi Semua “Hutang”
Wahai saudaraku, berusahalah agar kematian datang ketika kita tidak membawa beban yang belum diselesaikan.
Jika memiliki hutang kepada manusia, berusahalah melunasinya.
Jika memiliki kesalahan kepada saudara, berusahalah meminta maaf.
Jika ada hati yang terluka karena ucapan atau perbuatan kita, berusahalah memperbaikinya.
Dan jangan lupa: hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan.
Jalankan kewajiban.
Tinggalkan kemaksiatan.
Perbanyak amal saleh.
Bersihkan hati dari kebencian dan kedengkian.
Sebab tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah salamatus shadr: hati yang bersih dari perasaan buruk terhadap saudara sesama Muslim.
Sedangkan salah satu puncaknya adalah itsar: mendahulukan kepentingan saudara daripada kepentingan diri sendiri.
Maka, bagaimana jika setiap malam kita berusaha tidur dengan hati yang bersih?
Bagaimana jika kita tidak membiarkan satu malam pun berlalu sementara hati kita masih menyimpan dendam yang sebenarnya dapat kita lepaskan?
Jangan Menunda Taubat
Ada satu hal yang lebih berbahaya lagi: menunda taubat.
Kita berkata:
«“Nanti kalau sudah tua.”»
«“Nanti kalau pekerjaan sudah selesai.”»
«“Nanti kalau kehidupan sudah tenang.”»
Tetapi siapa yang menjamin kita akan sampai pada “nanti”?
Allah berfirman:
«“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka itulah yang diterima Allah taubatnya.”
(An-Nisa’: 17)»
Adapun ketika ajal telah datang dan seseorang baru berkata, “Sekarang aku bertaubat,” itu bukanlah waktu yang dapat diandalkan untuk memperbaiki kehidupan.
Karena itu:
Bertaubatlah sebelum dipaksa oleh kematian.
---
Tahap Kematian
Setelah kehidupan dunia, datanglah tahap yang tidak mungkin dihindari: kematian.
Allah berfirman:
«“Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati.”
(Ali ‘Imran: 185)»
Tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri darinya.
Namun, bukankah kita sering bertindak seolah-olah kematian hanya berlaku untuk orang lain?
Kita menghadiri pemakaman.
Kita melihat jenazah.
Kita mengantar seseorang ke kubur.
Kemudian kita pulang dan kembali menjalani kehidupan seolah-olah kita tidak akan pernah mengalami hal yang sama.
Mengapa?
Karena dunia membuat kita lupa.
Padahal kematian bisa datang ketika seseorang sedang bekerja, tidur, bepergian, berbicara, bahkan ketika sedang melakukan kemaksiatan.
Maka bayangkan:
Bagaimana jika kematian datang tepat ketika seseorang sedang melakukan dosa?
Bagaimana ia akan menghadap Allah?
Renungan semacam ini bukan untuk membuat kita hidup dalam ketakutan yang berlebihan. Justru ia membantu kita mengendalikan hawa nafsu.
Ketika setan membisikkan kemaksiatan, ingatlah:
«“Bagaimana jika setelah perbuatan ini aku tidak sempat bertaubat?”»
Pertanyaan itu saja terkadang cukup untuk menghentikan langkah menuju dosa.
Menginginkan Akhir yang Baik
Karena itu, jangan hanya berdoa agar panjang umur.
Berdoalah agar umur yang tersisa dipenuhi ketaatan.
Jangan hanya berharap hidup lama.
Berharaplah agar akhir hidup kita menjadi akhir yang baik.
Allah menggambarkan orang-orang bertakwa yang diwafatkan dalam keadaan baik:
«“Orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan kepada mereka, ‘Salāmun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.’”
(An-Nahl: 32)»
Wahai saudaraku,
ketika engkau lahir, engkau menangis sementara orang-orang di sekelilingmu tersenyum bahagia.
Maka berusahalah menjalani hidup sedemikian rupa sehingga ketika engkau meninggal, engkau pergi dengan membawa harapan kepada Allah, sementara orang-orang yang mencintaimu menangisi kepergianmu.
Jangan sekadar berusaha hidup dengan baik.
Berusahalah juga mati dalam keadaan baik.
Menjual Diri kepada Allah
Jika seseorang ingin menjadikan hidupnya bernilai tinggi, maka ia harus memahami bahwa kehidupan ini pada hakikatnya adalah amanah.
Allah berfirman:
«“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.”
(At-Taubah: 111)»
Inilah perdagangan yang sebenarnya.
Kita menyerahkan jiwa dan harta kepada Allah.
Allah memberikan surga sebagai balasannya.
Jika ajal datang setelah perjanjian itu kita pegang teguh, kita memperoleh keberuntungan.
Jika ajal belum datang, maka kita tetap harus setia kepada perjanjian tersebut.
Jangan ragu.
Jangan bakhil.
Jangan kembali menjual jiwa yang telah kita serahkan kepada Allah kepada kesenangan dunia yang sementara.
Allah mengingatkan:
«“Dan siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri.”
(Muhammad: 38)»
---
Kubur dan Kehidupan Alam Barzakh
Sekarang mari kita “mengunjungi” kubur sebelum benar-benar berkunjung ke sana.
Bukan dengan membawa marmer.
Bukan dengan membangun kemegahan.
Tetapi dengan membawa kesadaran.
Sebab ketika seseorang berada di dalam kubur, harta yang ia kumpulkan tidak lagi menemaninya.
Jabatan tidak ikut masuk.
Popularitas tidak ikut masuk.
Rumah yang megah tidak ikut masuk.
Yang menyertai manusia adalah amalnya.
Karena itu, bermegah-megahan dengan dunia jangan sampai membuat kita lupa bahwa seluruh perlombaan itu memiliki garis akhir.
Allah berfirman:
«“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(At-Takatsur: 1–2)»
Kubur adalah salah satu tahapan perjalanan menuju akhirat.
Kita memang tidak mengetahui secara rinci hakikat kehidupan barzakh. Namun Al-Qur’an dan Sunnah memberikan petunjuk tentang adanya kehidupan setelah kematian, pertanyaan dan fitnah kubur, serta adanya kenikmatan dan azab yang Allah kehendaki.
Al-Qur’an, misalnya, menyebut keadaan Fir’aun dan kaumnya:
«“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat, dikatakan, ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’”
(Ghafir: 46)»
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang azab kubur dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas r.a., ketika beliau melewati dua kuburan dan menjelaskan bahwa keduanya sedang disiksa karena dosa yang dilakukan.
Maka jangan meremehkan dosa yang tampaknya kecil.
Jangan menganggap perkataan yang kita sampaikan kepada orang lain tidak akan dipertanggungjawabkan.
Jangan menganggap kelalaian terhadap kebersihan diri tidak memiliki konsekuensi.
Perkara yang kita anggap kecil di dunia dapat menjadi perkara besar ketika kita berdiri di hadapan Allah.
Bagaimana Jika Malam Ini Menjadi Malam Terakhir?
Mari bertanya kepada diri sendiri.
Bagaimana jika pagi tadi kita masih bersama keluarga, tetapi sore ini kita sudah berada di kubur?
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir kita?
Apa yang ingin kita perbaiki?
Siapa yang ingin kita mintai maaf?
Dosa apa yang ingin kita tinggalkan?
Amal apa yang ingin kita lakukan?
Hubungan dengan siapa yang ingin kita pulihkan?
Inilah pertanyaan yang seharusnya tidak hanya muncul ketika seseorang sedang sakit.
Ada sebuah pengalaman yang memberikan pelajaran mendalam.
Seorang saudara pernah ditangkap oleh penguasa zalim pada tengah malam dan dimasukkan ke dalam penjara yang gelap dan sunyi. Ketika pintu penjara ditutup, ia merasa seolah-olah telah keluar dari dunia dan memasuki alam kubur.
Dalam kesendirian itu, ia membayangkan bahwa dirinya sedang menghadapi penghisaban.
Ia membayangkan seluruh amalnya diperiksa.
Ia membayangkan balasan yang akan diterimanya.
Saat itu ia sangat berharap dapat dikembalikan ke dunia agar memiliki kesempatan memperbaiki kekurangan amalnya.
Kemudian ia menyadari sesuatu:
Bukankah ia memang masih berada di dunia?
Bukankah penjara itu justru menjadi kesempatan baru untuk memperbaiki dirinya?
Kesadaran tersebut mengubah cara pandangnya.
Penjara yang gelap tidak lagi hanya dipandang sebagai penderitaan. Ia menjadi ruang untuk bermuhasabah.
Kesulitan itu menjadi pengingat bahwa selama seseorang masih hidup, berarti pintu amal masih terbuka.
Bukankah ini pelajaran yang sangat besar?
Selama kita masih bernapas, kita masih memiliki kesempatan.
Selama belum dikuburkan, kita masih dapat memperbaiki amal.
Selama ajal belum tiba, kita masih dapat bertaubat.
Maka jangan menunggu berada di kubur untuk berharap kembali ke dunia.
Gunakan kesempatan hidup sekarang, sebelum kita benar-benar kehilangan kesempatan itu.
---
Perjalanan yang Sedang Kita Jalani
Inilah sebagian tahapan perjalanan gaib yang menunggu setiap manusia:
kehidupan yang tersisa → kematian → kubur → alam barzakh → kebangkitan → mahsyar → penghisaban → shirath → surga atau neraka.
Kita tidak tahu kapan tahap pertama berakhir.
Tetapi kita tahu bahwa setiap detik yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada tahap berikutnya.
Karena itu, persoalannya bukan:
«“Apakah aku akan mati?”»
Jawabannya sudah pasti: ya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
«“Dalam keadaan seperti apa aku akan mati?”»
Bukan:
«“Apakah aku akan bertemu Allah?”»
Tetapi:
«“Apa yang telah kupersiapkan untuk pertemuan itu?”»
Maka jangan biarkan dunia membuat kita lupa terhadap perjalanan yang pasti.
Jangan tunggu sakit untuk bertaubat.
Jangan tunggu tua untuk beramal.
Jangan tunggu kehilangan untuk menghargai nikmat.
Jangan tunggu kematian mendekat untuk mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.
Mulailah sekarang.
Sebab waktu yang kita miliki bukanlah seluruh umur yang kita inginkan.
Yang kita miliki hanyalah umur yang masih tersisa.
Dan kita tidak pernah tahu berapa banyak lagi yang tersisa.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk memanfaatkan setiap detik, membersihkan hati, memperbaiki amal, menunaikan kewajiban, memperkuat ukhuwah, memperbanyak kebaikan, dan istiqamah di atas syariat-Nya hingga ajal menjemput.
Sebab perjalanan itu pasti.
Tempat kembali itu pasti.
Yang belum pasti hanyalah bekal apa yang akan kita bawa ketika perjalanan itu benar-benar dimulai.
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan, taufik, ampunan, dan bimbingan.
0 komentar: