GUNA AKAL
Akallah alat untuk berpikir, dialah hulu hikmah Lantaran akal datangnya taklif perintah agama. Di dalam agama barulah sah perintah dipikulkan bila seorang telah mempunyai akal.
Tidaklah terpikul agama oleh orang yang gila atau anak-anak yang belum berakal. Untuk mencapai bahagia dunia dan agama, ialah dengan melalui jembatan akal. Dengan akal meningkat tangga mengenal Tuhan dan dengan akal diatur rahasia pendirian alam.
Diberikan-Nya kepada hamba-Nya seorang satu. Kalau mereka pandai menggunakan, bergunalah mereka di waktu hidup sampaikan mati. Dengan akal membongkar rahasia yang tersembunyi. Dengan akal terbuka hijab yang tertutup.
Maka datanglah seorang laki-laki dari suku Bani Majasyi menghadap Rasulullah Saw. lalu dia berkata, "Ya Rasulullah, bukanlah hamba ini seorang yang terutama di dalam kaumku?" Rasulullah Saw. menjawab,
إِنْ كَانَ لَكَ عَقْلٌ فَلَكَ فَضْلٌ وَإِنْ كَانَ لَكَ خُلْقٌ فَلَكَ مُرُوعَةٌ وَإِنْ كَانَ لَكَ مَالٌ فَلَكَ حَسَبٌ وَإِنْ كَانَ لَكَ تَقَى فَلَكَ دِينٌ
"Jikalau ada engkau berakal maka utamalah engkau, jika ada engkau bersopan maka budimanlah engkau, jika ada engkau berharta maka bergengsilah engkau, dan jika ada engkau taqwa maka beragamalah engkau".
Kata Rawi, "Pernahlah Jibril datang kepada Nabi Adam. lalu disuruh pilih di antara tiga perkara! Lalu Adam bertanya,
"Manakah yang tiga perkara itu?"
Jibril menjawab, "Pertama, akal; kedua, malu; ketiga, agama".
Lalu Nabi Adam memilih akal.
Maka berkatalah Jibril kepada malu dan agama, "Pulanglah engkau keduanya, karena telah dipilihnya akal".
Keduanya menjawab, "Disuruh pulang atau tidak, kalau akal telah dipilihnya, tidaklah dapat kami berdua meninggalkannya, sebab kami berdua ini adalah pengiring akal."
Menurut riwayat Anas pernah dipuji-puji orang seorang sahabat dekat Rasulullah, dipuji ibadahnya, dipuji perangainya, dipuji keimanannya, adabnya dan sopannya.
Tetapi Rasulullah Saw. tiada memperdulikan puji-pujian itu, hanya beliau tanya,
"Bagaimanakah akalnya?"
Mereka balik tanya, "Bagaimana ya Rasulullah? Kami sebut segala macam kelebihannya, tetapi Rasulullah tanyai juga akalnya."
Maka sabda beliau,
إِنَّ الْأَحْمَقَ الْعَابِدَ يُصِيبُ بِجَهْلِهِ أَعْظَمُ مِنْ فُجُوْرِ الْفَاجِرِ وَإِنَّمَا يَرْتَفِعُ النَّاسُ فِي دَرَجَاتِ الْزُلْفَى مِنْ رَبِّهِمْ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ
"Sesungguhnya orang yang ahmak (bodoh) tetapi rajin beribadah telah tertimpa bahaya lantaran bodohnya, lebih besar dari ada bahaya yang menimpa lantaran kejahatan orang yang durjana. Yang mengangkat manusia kepada derajat dekat kepada Tuhan ialah menurut kadar akal mereka jua."
Maka pada diri manusia itu terdapatlah 3 kekuatan, kekuatan akal, kekuatan marah, dan kekuatan syahwat.
1. Kekuatan akal membawa orang kepada hakikat, menjauhkan diri pada yang batil, tunduk kepada hukum, menerima perintah dan menjauhi larangan. Tampak olehnya yang baik lalu diikutinya. Kelihatan olehnya yang buruk, lalu dijauhinya.
2. Kekuatan marah, itulah yang menyuruh menangkis dan bertahan, mengajak mencapai kekuasaan dan kemenangan, dan kadang-kadang menyuruh bangga, sombong, dan takabur.
3. Kekuatan syahwat, yang mengajak melepaskan kehendak hati, mencapai kelezatan, menyuruh lalai, menyuruh lengah, sehingga lupa memikirkan akibat.
Dr. M. Amir, ahli ilmu jiwa yang terkenal berkata dalam salah satu ceramahnya, "Bahwasanya perasaan (syahwat dan kemaharan, atau hawa nafsu) adalah laksana kuda yang berlari. Dan akal laksana kusir yang memegang kekangnya".
0 komentar: