Beberapa istri sahabat pernah mengadukan kondisi rumah tangga mereka kepada Rasulullah ﷺ. Aduan itu bukan tentang kemiskinan atau kekerasan, melainkan karena mereka tidak pernah “didatangi” oleh suami di malam hari.
Salah satu kisah datang dari istri Utsman bin Mazh’un. Ia mendatangi istri-istri Nabi ﷺ dalam keadaan murung dan berpenampilan tidak terurus. Mereka bertanya, “Ada apa denganmu? Bukankah suamimu termasuk orang yang berada?”
Ia menjawab, “Jika malam, ia selalu shalat. Jika siang, ia berpuasa.”
Maksudnya, Utsman bin Mazh’un tenggelam dalam ibadah hingga mengabaikan kebutuhan istrinya.
Mendengar hal itu, Rasulullah ﷺ mendatangi dan menasihati Utsman bin Mazh’un, “Apakah engkau tidak meneladaniku?”
Setelah itu, istri-istri Nabi ﷺ menemui istri Utsman dengan membawa wewangian, seakan memberi isyarat bahwa malam itu suaminya akan kembali memperhatikannya.
Kisah serupa terjadi pada Abu Darda yang dipersaudarakan dengan Salman Al-Farisi. Suatu hari, Salman mengunjungi rumah Abu Darda dan melihat istrinya berpakaian lusuh. Ia bertanya, “Ada apa denganmu?”
Istri Abu Darda menjawab, “Saudaramu itu tidak lagi membutuhkan dunia. Malamnya beribadah, siangnya berpuasa.”
Salman pun menginap di rumah itu. Ketika Abu Darda hendak shalat malam di awal waktu, Salman menahannya dan menasihatinya,
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka tunaikanlah setiap hak tersebut. Datangilah Istrimu."
Ia pun menyarankan agar Abu Darda beristirahat terlebih dahulu dan bangun menjelang Subuh. Peristiwa ini kemudian disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau membenarkan nasihat Salman.
Kisah lain datang dari Abdullah bin Amr bin Ash. Ia baru menikah, namun istrinya tampak murung. Setelah ditelusuri, ternyata ia belum pernah mendatangi istrinya karena terlalu sibuk dengan shalat malam dan puasa di siang hari.
Hal ini sampai kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun memanggil Abdullah bin Amr dan menasihatinya,
“Aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku juga mendatangi istriku. Barang siapa tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”
Dari rangkaian kisah ini terlihat jelas bahwa kehidupan rumah tangga, termasuk hubungan suami istri, adalah bagian dari sunnah yang diajarkan Rasulullah ﷺ. Ibadah tidak dimaksudkan untuk mengabaikan hak-hak pasangan, tetapi untuk menyeimbangkan antara hak Allah dan hak manusia.
Dengan demikian, kesempurnaan ibadah bukan terletak pada banyaknya amal semata, tetapi pada keseimbangan dalam menjalani seluruh aspek kehidupan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.
Sumber:
Adz-Dzahabi, Siyar A'lam An-Nubala, Pustaka Azzam, 2011
0 komentar: