Pengertian dan Kemukjizatan Al-Qur’an
Ar-Raghib berkata dalam kitab Al-Mufradat, “Kata Al-Qur’an pada dasarnya adalah masdar. Kata tersebut memiliki kesamaan shighah dengan kata kufran dan rujhan.”
Allah berfirman:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ، وَقُرْءَانَهُ فَإِذَا قَرَأْنَهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ
“Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.” (Al-Qiyamah: 17–18)
Ibnu Abbas berkata mengenai tafsir ayat tersebut, “Jika telah Kami kumpulkan Al-Qur’an dan memantapkannya di dalam dadamu, maka amalkanlah.”
Kata Al-Qur’an kemudian menjadi nama khusus bagi kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., sebagaimana Taurat merupakan nama kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Injil merupakan nama kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa.
Sebagian ulama berkata bahwa dari seluruh kitab yang Allah turunkan, hanya kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang secara khusus menyandang nama Al-Qur’an. Hal ini karena Al-Qur’an mencakup kandungan pokok kitab-kitab sebelumnya, sekaligus menjadi petunjuk yang menjelaskan berbagai persoalan yang dibutuhkan manusia. Allah mengisyaratkan keluasan kandungannya dalam beberapa firman-Nya:
وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ
“Dan menjelaskan segala sesuatu.” (Yusuf: 111)
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (An-Nahl: 89)
قُرْءَانًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ
“(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya).” (Az-Zumar: 28)
Dari perkataan Ar-Raghib di atas, dapat dipahami bahwa kata Al-Qur’an pada asalnya merupakan masdar dari kata:
قَرَأَ – يَقْرَأُ – قِرَاءَةً – قُرْآنًا
Secara bahasa, Al-Qur’an berkaitan dengan makna membaca, menghimpun, dan menyatukan. Kata masdar tersebut kemudian menjadi nama khusus bagi kitab Allah yang mulia.
Adapun pengertian Al-Qur’an secara istilah adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., disampaikan kepada kita secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah. Al-Qur’an juga menjadi hujah yang kuat atas kebenaran risalah Nabi Muhammad saw.
Al-Qur’an Diturunkan dalam Bahasa Arab
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril kepada Rasulullah saw. dalam bahasa Arab. Allah berfirman:
وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara: 192–195)
Pemilihan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an memiliki konteks yang sangat kuat. Masyarakat Arab ketika itu dikenal memiliki kemampuan bahasa dan sastra yang tinggi. Mereka menguasai berbagai bentuk syair dan prosa, serta sangat membanggakan kefasihan bahasa mereka.
Dalam konteks seperti itu, Rasulullah saw. datang membawa Al-Qur’an sekaligus memberikan tantangan kepada mereka untuk mendatangkan sesuatu yang semisal dengannya. Tantangan tersebut tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang tidak menguasai bahasa Arab, tetapi justru kepada masyarakat yang berada pada puncak kejayaan bahasa dan sastra mereka.
Allah berfirman:
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Al-Baqarah: 23)
Tantangan tersebut kembali ditegaskan:
أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Bahkan mereka mengatakan, ‘Muhammad telah membuat-buat Al-Qur’an itu.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Al-Qur’an) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Hud: 13)
Allah bahkan menegaskan bahwa manusia dan jin tidak akan mampu membuat sesuatu yang semisal dengan Al-Qur’an:
قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ، وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’” (Al-Isra’: 88)
Tantangan serupa juga terdapat dalam firman Allah:
أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ بَل لَّا يُؤْمِنُونَ فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِّثْلِهِ إِن كَانُوا صَادِقِينَ
“Ataukah mereka mengatakan, ‘Dia (Muhammad) membuat-buatnya.’ Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar.” (Ath-Thur: 33–34)
Al-Qur’an sebagai Mukjizat Nabi Muhammad
Secara umum, manusia yang hidup sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. lebih mudah mengakui mukjizat yang berbentuk peristiwa luar biasa yang dapat mereka saksikan secara langsung. Karena itu, para rasul terdahulu diberi mukjizat yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan kaum mereka.
Nabi Musa, misalnya, diberi mukjizat berupa tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bercahaya. Nabi Isa diberi kemampuan menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta, serta menghidupkan orang mati dengan izin Allah.
Adapun Nabi Muhammad saw. diutus untuk seluruh manusia dan membawa risalah yang berlaku hingga akhir zaman. Karena itu, mukjizat utama beliau juga memiliki karakter yang sesuai dengan keabadian risalah tersebut. Mukjizat itu bukan sekadar peristiwa yang disaksikan oleh satu generasi, melainkan wahyu yang dapat terus dibaca, dikaji, direnungkan, dan menjadi hujah bagi manusia sepanjang zaman.
Mukjizat tersebut adalah Al-Qur’an.
Rasulullah saw. bersabda:
مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ نَبِيٌّ إِلَّا أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ أُومِنَ أَوْ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ، وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إِلَيَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Tidak seorang nabi pun kecuali diberi mukjizat yang dengannya manusia beriman kepadanya. Adapun mukjizat yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang Allah wahyukan kepadaku. Karena itu, aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari Kiamat.”
Dengan demikian, kemukjizatan Al-Qur’an tidak berhenti pada satu bentuk saja. Ia merupakan mukjizat yang dapat terus dihadapi dan dikaji oleh manusia sepanjang zaman.
Tantangan Al-Qur’an kepada Masyarakat Arab
Siapa saja yang memiliki pengetahuan tentang sejarah Arab dan sastra mereka akan memahami konteks penting dari tantangan Al-Qur’an tersebut. Masyarakat Arab memiliki tradisi bahasa yang sangat kuat. Kefasihan, syair, prosa, dan kemampuan berpidato merupakan bagian penting dari kehidupan sosial mereka.
Berbagai pasar sastra menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan berbahasa sekaligus membanggakan keunggulan suatu kabilah. Bahasa menjadi salah satu sarana utama untuk mempertahankan kehormatan dan kedudukan sosial.
Dalam masyarakat seperti ini, Al-Qur’an hadir dengan susunan bahasa yang tidak mampu mereka tandingi. Mereka membaca ayat-ayatnya, mendengarkannya, dan berusaha membandingkannya dengan syair serta prosa yang mereka kuasai. Namun, mereka tidak mampu menghadirkan sesuatu yang dapat menandingi Al-Qur’an.
Bahkan, sebagian pengakuan mereka sendiri menunjukkan kuatnya pengaruh Al-Qur’an terhadap jiwa mereka. Al-Qur’an mengguncang hati mereka, tetapi kesombongan membuat mereka mencari berbagai alasan untuk menolaknya. Muhammad saw. dituduh sebagai penyihir, penyair, orang yang terkena sihir, bahkan pembawa dongeng orang-orang terdahulu.
Walid bin Mughirah merupakan salah satu contoh yang sering disebut dalam pembahasan ini. Ketika berhadapan dengan Al-Qur’an, mereka tidak menemukan jalan untuk menandinginya. Karena itu, penolakan akhirnya dilakukan bukan melalui tandingan bahasa yang setara, melainkan melalui berbagai tuduhan terhadap Rasulullah saw.
Jika mereka benar-benar mampu menandingi Al-Qur’an, tentu kondisi masyarakat Arab ketika itu menyediakan kesempatan yang sangat luas untuk melakukannya. Mereka memiliki kemampuan bahasa, motivasi kesukuan, kepentingan politik, dan dorongan yang kuat untuk menggagalkan dakwah Nabi Muhammad saw. Namun, tantangan tersebut tidak mereka jawab dengan karya yang semisal Al-Qur’an.
Dalam konteks inilah ketidakmampuan mereka menjadi bagian dari argumentasi tentang kemukjizatan Al-Qur’an.
Kemukjizatan Al-Qur’an Sepanjang Zaman
Kemukjizatan Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan keindahan lafaz dan susunan bahasanya. Ia juga berkaitan dengan keluasan kandungan, kedalaman makna, berita tentang umat-umat terdahulu, petunjuk mengenai kehidupan manusia, serta hukum-hukum yang mengatur kehidupan individu dan masyarakat.
Al-Qur’an melemahkan manusia dengan berbagai sisi kemukjizatannya.
Pertama, dengan lafaz dan bahasanya. Susunan kata, pilihan lafaz, dan struktur kalimatnya memiliki karakter yang tidak dapat ditandingi. Setiap bagian Al-Qur’an tersusun dalam keserasian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan bangunannya.
Kedua, dengan penjelasan dan susunan maknanya. Al-Qur’an memberikan gambaran yang mendalam mengenai manusia, kehidupan, alam semesta, serta hubungan antara manusia dengan Penciptanya.
Ketiga, dengan kandungan maknanya. Al-Qur’an menyingkap hakikat kehidupan manusia dan menjelaskan tujuan keberadaannya di dunia. Ia tidak sekadar memberikan informasi, tetapi mengarahkan manusia agar memahami kedudukan dan tanggung jawabnya.
Keempat, dengan ilmu dan pengetahuannya. Al-Qur’an mengandung berbagai isyarat mengenai alam dan kehidupan. Pengetahuan manusia yang terus berkembang dapat menemukan berbagai tanda kebesaran Allah di alam semesta, meskipun Al-Qur’an bukan kitab ilmu pengetahuan dalam pengertian teknis.
Kelima, dengan hukum dan sistem kehidupannya. Al-Qur’an menetapkan hukum, menjaga hak manusia, mengatur hubungan antarindividu, dan memberikan prinsip-prinsip bagi terbentuknya masyarakat yang adil dan bermartabat.
Karena itu, kemukjizatan Al-Qur’an tidak terikat pada satu generasi. Tantangannya tetap terbuka sepanjang zaman. Setiap perkembangan pengetahuan manusia justru menghadapkan manusia kembali kepada keluasan ayat-ayat Allah dan keterbatasan kemampuan mereka.
Misteri alam semesta yang kemudian disingkap oleh ilmu pengetahuan modern bukanlah sesuatu yang berdiri di luar kekuasaan Allah. Ia merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta. Al-Qur’an telah memberikan isyarat global mengenai berbagai hakikat tersebut dan mengarahkan manusia untuk memperhatikan ayat-ayat Allah, baik yang terdapat dalam wahyu maupun yang terbentang di alam.
Pada akhirnya, Al-Qur’an bukan hanya sebuah kitab yang dibaca, tetapi juga wahyu yang membentuk manusia. Ia mengubah manusia yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan visi menjadi manusia yang mampu memikul amanah besar. Ia bahkan mengangkat para penggembala kambing menjadi pemimpin umat dan pembawa peradaban.
Perubahan sebesar itu merupakan salah satu bukti paling nyata tentang kekuatan Al-Qur’an dalam membentuk manusia dan masyarakat.
0 komentar: