basmalah Pictures, Images and Photos
Hakikat dan Makna Sejarah - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Ketika mempelajari suatu ilmu, penting untuk mengenal manfaatnya. Bagi seorang M...

Hakikat dan Makna Sejarah



Ketika mempelajari suatu ilmu, penting untuk mengenal manfaatnya. Bagi seorang Muslim, patut pula ditanyakan: apakah ilmu tersebut dapat menjadi salah satu jalan untuk meraih surga Allah? Lalu, apa guna sejarah?

Namun, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita telisik terlebih dahulu: apa itu sejarah?

Masa lalu. Dua kata itulah salah satu unsur terpenting dari sejarah. Tetapi, apakah seluruh peristiwa di masa lalu termasuk sejarah?

Jika sepekan silam ada seekor kucing mencakar sofa di ruang tamu rumah kita, apakah itu sejarah? Atau ketika seseorang berjalan di sekitar Ambarawa pada tahun 2020, apakah itu juga merupakan peristiwa sejarah?

Sampai di sini, kita dapat mengambil dua kesimpulan.

Pertama, sejarah bukan sekadar peristiwa di masa lalu, tetapi peristiwa yang dinilai penting. Namun, penting untuk siapa?

Tentu bagi kepentingan manusia.

Singkatnya, sejarah adalah penceritaan kembali peristiwa-peristiwa penting di masa lalu. Dengan kata lain, keberadaan Jenderal Soedirman di Ambarawa ketika bertempur melawan Sekutu memiliki nilai yang berbeda dibandingkan dengan keberadaan kita di Ambarawa dalam rangka berwisata.

Kehadiran Jenderal Soedirman dan pasukannya di Ambarawa memberi dampak terhadap lembaran sejarah Indonesia, bahkan dunia. Adapun keberadaan kita di Ambarawa dalam rangka wisata tidak memiliki signifikansi sejarah, kecuali, misalnya, kita menemukan sebuah peninggalan kuno yang telah tertimbun selama ribuan tahun di Ambarawa.

Karena itu, sebelum mengangkat suatu peristiwa atau tokoh dari masa lalu, kita perlu bertanya: mengapa hal itu perlu diceritakan pada hari ini? Apa pentingnya?

Kedua, sejarah umumnya berhubungan dengan manusia.

Pertarungan antara Tyrannosaurus rex dan Giganotosaurus jutaan tahun lalu, misalnya, tidak bermuatan sejarah dalam pengertian sejarah manusia, jika kita meyakini bahwa dinosaurus memang pernah ada.

Menurut sejarawan Inggris Gilbert Garraghan, “Dalam arti yang lebih sempit, sejarah hanya mencakup peristiwa-peristiwa yang melibatkan manusia.” Senada dengan Garraghan, sejarawan James Viscount Bryce mengatakan bahwa sejarah juga berurusan dengan sifat dan pikiran manusia: “Sejarah menjadikan sifat manusia sebagai subjeknya. Ia adalah catatan tentang apa yang telah dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan oleh manusia.”

Meskipun terdapat pakar sejarah arsitektur kuno yang menitikberatkan kajiannya pada benda mati, seperti bangunan, studi tersebut tetap tidak dapat dilepaskan dari peran manusia yang merancang dan membangun infrastruktur tersebut.

Bukan berarti makhluk selain manusia tidak memainkan peran dalam panggung sejarah. Makhluk selain manusia dapat muncul dan bahkan memainkan peran penting dalam penelitian sejarah. Namun, penyebutan mereka bukan karena mereka menjadi pusat sejarah itu sendiri, melainkan karena mereka turut berperan dalam perjalanan sejarah manusia.

Hal ini dapat kita lihat dalam kisah-kisah umat terdahulu di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an mengabarkan tentang makhluk-makhluk selain manusia, seperti semut, burung hud-hud, malaikat, jin, dan setan. Kehadiran mereka dalam kisah-kisah tersebut tetap berkaitan dengan perjalanan manusia dan pelajaran yang dapat diambil manusia darinya.

Dengan kata lain, sejarah yang dikisahkan Al-Qur’an memiliki tujuan bagi manusia, yaitu menyajikan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Allah berfirman:

Ø¥ِÙ†َّا Ø£َنزَÙ„ْÙ†َا عَÙ„َÙŠْÙƒَ الْÙƒِتَابَ Ù„ِلنَّاسِ بِالْØ­َÙ‚ِّ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) untuk manusia dengan hak.” (Az-Zumar: 41).

Al-Qur’an mengandung hal-hal yang bermanfaat bagi manusia. Singkatnya, berdasarkan perspektif Al-Qur’an, sejarah adalah peristiwa penting di masa lalu yang berkaitan dengan kemaslahatan manusia.

Namun, ada persoalan berikutnya.

Peristiwa yang terjadi di masa lalu tidak dapat berbicara sendiri. Ia hanyalah fakta-fakta yang terpisah seperti kepingan-kepingan. Agar dapat memberikan hikmah kepada manusia, fakta sejarah perlu ditafsirkan.

Maka, elemen sejarah lainnya adalah penafsiran.

Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda adalah fakta sejarah. Namun, bagaimana fakta tersebut ditafsirkan dapat berbeda-beda.

Bagi Belanda pada saat itu, Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya adalah ekstremis dan pembuat onar. Bagi penduduk Jawa, Pangeran Diponegoro adalah pejuang yang melawan kekuasaan kolonial. Bagi kalangan Muslim, ia adalah pejuang sekaligus seorang mujahid yang mengamalkan jihad di jalan Allah.

Karena manusia adalah penafsirnya, intervensi subjektivitas sulit dihindari. Isi kepala manusia tidak sama. Akibatnya, penafsiran terhadap suatu peristiwa dapat beragam, bahkan di antaranya boleh jadi saling bertolak belakang.

Jika seorang penafsir memiliki kecenderungan terhadap keburukan, tafsiran sejarahnya pun dapat mengikuti kecenderungan tersebut. Jika penafsir adalah seorang pakar ekonomi, analisisnya pun cenderung bercorak ekonomi.

Penafsiran terbaik tentu adalah penafsiran yang benar dan sesuai dengan realitas.

Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa penafsiran yang benar datang dari mereka yang benar, yaitu orang-orang yang menggunakan akalnya dengan baik (ulul albab). Ulul albab bukan sekadar orang yang benar secara intelektual, tetapi juga benar secara akidah.

Sudah menjadi prinsip mendasar dalam Al-Qur’an bahwa kebenaran sejati adalah mentauhidkan Allah. Karena itu, idealnya, seorang sejarawan adalah ulul albab: orang yang bertauhid, banyak berzikir, dan banyak berpikir tentang ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat qauliyah berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah maupun ayat-ayat kauniyah berupa alam semesta.

Sebagai permisalan, di dalam Al-Qur’an dikisahkan bahwa Khidir menghilangkan nyawa seorang anak kecil. Ini adalah fakta.

Namun, apakah hal itu berarti Khidir berbuat zalim karena telah “membunuh nyawa tak berdosa”?

Tidak.

Di balik tindakan tersebut terdapat maslahat yang lebih besar nilainya di sisi Allah. Dengan wafatnya anak tersebut, keimanan kedua orang tuanya di kemudian hari akan tetap terjaga. Sebaliknya, jika anak itu hidup hingga dewasa, ia akan menimpakan musibah besar kepada kedua orang tuanya. Dan musibah terbesar adalah musibah yang menimpa agama.

Tindakan Khidir itu pun bukan atas keinginannya sendiri, melainkan berdasarkan perintah Allah. Inilah penafsiran yang kemudian dijelaskan kepada Nabi Musa, yang sebelumnya merasa heran terhadap tindakan Khidir.

Dengan demikian, fakta perlu ditafsirkan dengan benar agar realitas yang terkandung di dalam fakta tersebut dapat dipahami.

Peristiwa di masa lalu dapat diibaratkan seperti sebuah bangunan.

Seiring berjalannya waktu, bangunan itu sering kali tidak terawat sehingga bagian-bagiannya mengalami kerusakan. Semakin lama ditinggalkan, semakin parah kerusakannya dan semakin sulit pula bangunan tersebut dikenali.

Bahkan, ada bangunan yang tidak terawat sama sekali sehingga, seiring berlalunya waktu, akhirnya roboh. Tidak hanya roboh, jika reruntuhannya dibiarkan begitu saja, puing-puing tersebut akan terkikis, tertimbun, lalu lenyap ditelan bumi tanpa bekas.

Akhirnya, jangankan merekonstruksi kembali bangunan tersebut, generasi-generasi berikutnya bahkan tidak mengetahui bahwa bangunan itu pernah berdiri.

Tugas sejarawan adalah berupaya mendirikan kembali bangunan tersebut.

Jika sejarawan dapat membangunnya kembali seperti sediakala, tentu itu luar biasa. Kalaupun tidak, setidaknya sebagian bangunan dapat direkonstruksi. Dengan sebagian yang tersisa itu, kita dapat membayangkan bagaimana bentuk utuh bangunan tersebut pada asalnya.

Jika membangun kembali sebagian bangunan pun tidak memungkinkan, setidaknya kita dapat mengumpulkan puing-puing reruntuhan yang masih tersisa. Dari kepingan-kepingan tersebut, kita dapat berusaha membayangkan bagaimana bentuk bangunan itu dahulu.

Seperti itulah penafsiran.

Penafsiran adalah cara untuk menyusun kembali masa lalu.

Karena itu, Kuntowijoyo dalam Pengantar Ilmu Sejarah menjelaskan secara singkat bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Untuk mengisahkan kembali masa lalu melalui proses rekonstruksi, penafsiran menjadi bagian yang sangat sentral.

Namun, perlu diingat bahwa seberapa pun besar tenaga yang dikerahkan para sejarawan untuk membangun kembali bangunan masa lalu, bangunan tersebut tidak akan pernah dapat dibangun secara utuh dan persis seperti bangunan aslinya.

Sebab, masa lalu telah usai. Ia tidak akan pernah kembali lagi, selama-lamanya.

Kecuali ada campur tangan Tuhan.

Artinya, satu-satunya jalan untuk mengakses masa lalu secara sempurna adalah melalui wahyu Allah. Sebab, Allah mengetahui seluruh realitas: masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Adapun berita-berita masa lalu yang tidak Allah kisahkan melalui wahyu-Nya, sejarawan sendirilah yang harus mengerjakannya sebaik mungkin. Ia harus berusaha merekonstruksi masa lalu dengan penuh tanggung jawab, berdasarkan fakta-fakta yang masih dapat ditemukan dan ditafsirkan secara benar.

Dengan demikian, seorang Muslim tidak cukup hanya mengetahui bahwa sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Ia juga perlu menyadari bahwa proses rekonstruksi tersebut membutuhkan fakta, penafsiran, dan terutama orientasi kepada kebenaran.

Di sinilah pertanyaan awal kita kembali muncul:

Apa guna sejarah bagi seorang Muslim?

Jika sejarah adalah rekonstruksi masa lalu, dan masa lalu itu mengandung berbagai pelajaran bagi manusia, maka mempelajari sejarah bukan sekadar menghafal nama, tanggal, tempat, atau rangkaian peristiwa. Sejarah menjadi sarana untuk membaca perjalanan manusia, memahami sunnatullah yang bekerja di dalamnya, dan mengambil hikmah untuk menjalani kehidupan pada masa kini.

Karena itu, setiap Muslim pada hakikatnya memiliki kebutuhan untuk memahami sejarah.

Bahkan, dalam pengertian tertentu, setiap Muslim adalah “sejarawan”: ia perlu membaca masa lalu, menimbang fakta, memahami konteks, menafsirkan peristiwa dengan benar, dan mengambil pelajaran darinya untuk menjalani amanah kehidupan pada masa kini.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (362) Al-Qur’an (64) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (35) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (31) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (3) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (3) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (61) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (120) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (319) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (763) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (2) Politik (16) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (248) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (173) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)