Agar Shalatnya Seperti Shalat Para Nabi dan Sahabat
Tsabit berkata, “Para nabi dan rasul, apabila ditimpa suatu masalah, mereka segera mendirikan shalat.”
Pernyataan ini bukan sekadar kisah, tetapi pola yang berulang dalam sejarah kenabian: shalat menjadi tempat kembali, sumber ketenangan, sekaligus pintu pertolongan.
Di masa Nabi Musa, ketika kekejaman Firaun mencapai puncaknya, Allah tidak langsung memerintahkan perlawanan terbuka. Sebaliknya, Allah memerintahkan Bani Israil agar menjadikan rumah-rumah mereka sebagai tempat shalat. Dari ruang-ruang sunyi itulah kekuatan ruhani dibangun—hingga akhirnya datang pertolongan Allah yang menenggelamkan Firaun.
Namun, pertanyaan muncul pada masa kini:
mengapa shalat yang kita kerjakan tidak selalu menghadirkan jalan keluar seperti itu?
Ibnu Mas‘ud pernah memberikan kunci jawabannya. Ia berkata,
“Amal kalian lebih banyak daripada para sahabat, tetapi mereka lebih baik daripada kalian. Sebab mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih mencintai akhirat.”
Bahkan pada generasi setelahnya—para tabi’in—terdapat orang-orang yang ibadahnya lebih banyak: shalat malamnya lebih panjang, puasanya lebih sering. Namun tetap saja, derajat mereka tidak melampaui para sahabat. Mengapa? Karena para sahabat memiliki sesuatu yang lebih dalam: kezuhudan, keyakinan yang kokoh, dan tawakal yang total kepada Allah.
Di sinilah letak perbedaannya.
Shalatnya mungkin sama.
Gerakannya sama.
Bacaannya sama.
Namun hati yang berdiri di dalamnya berbeda.
Maka, persoalannya bukan pada shalat itu sendiri, tetapi pada keadaan jiwa yang menghidupkannya. Ketika shalat kehilangan ruhnya, ia menjadi rutinitas. Tetapi ketika hati hadir dengan iman, yakin, dan tawakal, shalat kembali menjadi jalan—sebagaimana jalan yang ditempuh para nabi.
Sumber:
Ali Muhammad Ash-Shallabi, Biografi Hasan bin Ali, Ummul Qura, 2017
0 komentar: