Menelusuri Jejak "Batavian Fury"
Pada awal abad ke-17, Jan Pieterszoon Coen, sang arsitek besi VOC, melontarkan sebuah pengakuan yang ganjil bagi telinga kolonial: ia memuja etnis Cina sebagai "bangsa terbaik" yang paling mumpuni untuk membangun Batavia. Baginya, tanpa imigran Cina, ambisi Belanda di Nusantara hanyalah sebatas benteng kosong tanpa mesin ekonomi.
Batavia pun membuka gerbangnya lebar-lebar, memicu arus migrasi besar yang semula dianggap sebagai berkah pembangunan.
Namun, sejarah memiliki selera humor yang gelap. Seabad kemudian, kebijakan pintu terbuka Coen justru menjadi mimpi buruk bagi para penerusnya. Di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Valckenier (1737-1741), gelombang 80.000 imigran yang dahulu didamba kini dipandang sebagai "bom waktu" demografis.
Ketakutan akan ledakan massa yang tak terkendali ini perlahan mengubah rasa kagum menjadi paranoid sistematis yang mematikan.
Paradoks ini mencapai titik nadir ketika sebuah kemitraan ekonomi strategis luluh lantak, bertransformasi menjadi salah satu tragedi kemanusiaan paling mengerikan dalam sejarah Nusantara. Sebuah peristiwa yang tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga secara permanen mengubah peta identitas kultural dan keagamaan di tanah Jawa.
Tragedi "Batavian Fury": Ketika Laut Menjadi Saksi Bisu
Ketegangan memuncak di perkebunan tebu wilayah Batavia Selatan, di mana ribuan orang Cina yang kehilangan pekerjaan mulai mengonsolidasikan kekuatan. Bagi VOC, massa pengangguran ini adalah ancaman eksistensial. Sebagai solusinya, kompeni meluncurkan skenario deportasi massal ke Banda, Sri Lanka, dan Tanjung Pengharapan.
Namun, di balik kedok pengasingan tersebut, tersimpan kekejaman luar biasa: para deportan ini nyatanya dibantai dan dibuang ke tengah laut—sebuah eksekusi maritim yang dilakukan jauh dari pandangan dunia.
Di dalam tembok kota, amarah penguasa meledak tanpa kendali. Pembantaian sistematis dilakukan terhadap mereka yang tersisa, menciptakan sebuah episode kelam yang diabadikan oleh sejarawan E.S. De Klerck sebagai momen di mana kemanusiaan benar-benar hilang dari Batavia.
"VOC di bawah perintah Gubernur Jenderal Valckenier melakukan pembunuhan Cina di Batavia yang mencapai jumlah 10.000 orang. Peristiwa pembantaian Cina oleh VOC ini disebut sebagai the Batavian Fury (Amuk Masyarakat Batavia)." — E.S. De Klerck (1938), History of Netherlands Indies.
Aliansi Tak Terduga: Dari Pelarian Menuju Perlawanan
Para penyintas yang berhasil lolos dari pedang kompeni melarikan diri ke pedalaman Jawa Tengah dan Banten. Di tengah keputusasaan, penderitaan kolektif ini melahirkan sebuah fenomena unik: solidaritas lintas etnis dan agama.
Para pengungsi Cina tidak lagi berdiri sendiri; mereka bergabung dengan para pejuang lokal yang sama-sama merasakan pahitnya penindasan VOC.
Di Jawa Tengah, mereka merapatkan barisan di bawah panji Soenan Mas Garendi—atau yang lebih dikenal sebagai Soenan Koening, cucu dari Amangkurat III.
Sementara di wilayah Banten, perlawanan rakyat dipimpin oleh tokoh karismatik Kiai Tapa. Kekuatan gabungan ini meluncurkan serangkaian serangan yang mengguncang pilar-pilar kekuasaan kolonial di beberapa titik krusial:
Penyerbuan ke Istana Pakubuwana II.
Pengepungan Benteng VOC di Kartasura.
Serangan terorganisir di Semarang, Demak, dan Rembang.
Konversi dan Identitas: Mengapa Penindasan Mempercepat Islamisasi?
Salah satu dampak sosiologis paling signifikan dari tragedi 1740 adalah gelombang konversi massal etnis Cina ke agama Islam. Analisis tajam W.F. Wertheim mengungkapkan bahwa Islam bukan sekadar pilihan spiritual, melainkan sebuah ruang perlindungan dan identitas baru bagi mereka yang terpinggirkan.
Proses asimilasi ini terjadi dengan sangat cepat; mereka yang semula berakar pada tradisi Hindu dan Buddha beralih memeluk Islam sebagai bentuk integrasi sosial dengan penduduk lokal demi menghadapi musuh bersama.
Jejak transformasi ini bersifat permanen. Sejarah mencatat berdirinya sebuah masjid oleh komunitas Cina di Batavia pada 1786 sebagai bukti eksistensi mereka.
Victor Purcell bahkan mencatat bahwa konsentrasi Cina Muslim terbesar kemudian terbentuk di Makassar, yang kelak melahirkan Partai Tionghoa Islam Indonesia. Dalam konteks ini, agama menjadi instrumen perlawanan dan penyatuan bagi kaum yang terzalimi oleh kolonialisme.
Strategi Gelap VOC: Melumpuhkan Islam dengan Tenaga Islam
Keberhasilan VOC mempertahankan kekuasaannya tidak hanya bersandar pada bubuk mesiu, melainkan pada taktik manipulasi yang penuh ironi. Di saat mereka membantai etnis Cina yang bersekutu dengan pejuang Islam, VOC justru menggunakan kekuatan figur-figur lokal lainnya untuk menghancurkan perlawanan tersebut.
Dengan licik, penjajah meminjam tangan Amangkurat I, Amangkurat II, Arung Palakka, hingga Sultan Haji untuk memadamkan api pemberontakan saudara sebangsanya sendiri.
Fenomena divide and conquer ini disarikan secara brilian oleh W.F. Wertheim sebagai strategi "melawan api dengan api":
"Imperialis Barat melumpuhkan kekuatan Islam dengan tenaga Islam."
Taktik ini menunjukkan betapa efisiennya kolonialisme dalam menciptakan perpecahan, di mana elemen masyarakat yang dijajah justru dijadikan alat untuk memperpanjang rantai belenggu mereka sendiri.
Penutup: Refleksi bagi Masa Depan
Tragedi "Batavian Fury" adalah pengingat keras bahwa kebencian yang dipicu oleh ketakutan penguasa hanya akan berujung pada genosida. Namun, sejarah ini juga mewariskan cerita tentang kekuatan luar biasa dari sebuah solidaritas yang melampaui sekat etnis dan keyakinan di tengah penindasan.
Masa lalu kita adalah tenunan dari luka dan persatuan yang tak terduga; sebuah bukti bahwa identitas bangsa ini tidak dibangun di atas keseragaman, melainkan di atas kesamaan nasib dalam melawan ketidakadilan.
0 komentar: