Pernahkah kita bertanya, mengapa tidak pernah ada dua manusia yang benar-benar sama jalan kehidupannya?
Bahkan dua orang yang lahir dari rahim yang sama pun tidak memiliki kekuatan tubuh, kecerdasan, pengalaman, keinginan, dan perjalanan hidup yang sepenuhnya sama. Setiap manusia memiliki kekuatannya sendiri. Sebagaimana wajah, suara, dan langkah kaki membedakan seseorang dari orang lain, demikian pula akal dan jalan hidupnya.
Bahkan perbedaan itu telah mulai tampak sejak manusia masih berada dalam rahim ibunya.
Setiap anak lahir membawa keunikan yang tidak sama dengan anak lainnya. Bentuk tubuhnya berbeda, demikian pula susunan otaknya. Di dalam otak terdapat jaringan sel yang sangat banyak dan sangat halus. Sel-sel itu saling berhubungan dan bekerja membentuk suatu sistem yang luar biasa rumit. Ada bagian yang menerima rangsangan dari telinga, mata, hidung, tangan, kaki, dan seluruh tubuh. Semuanya bermuara dalam suatu pusat pengaturan yang kita kenal sebagai otak.
Lalu kita bertanya: siapakah yang mengatur semua itu?
Kita bekerja sejak dilahirkan. Kita berpikir, mengingat, berkehendak, membayangkan, mencita-citakan sesuatu, dan mengambil keputusan. Semua pengalaman yang telah berlalu seakan-akan tidak benar-benar hilang. Sebagian tersimpan dalam perbendaharaan ingatan.
Karena itu, bukankah menakjubkan bahwa sesuatu yang pernah terjadi bertahun-tahun lalu masih dapat muncul kembali dalam ingatan kita hanya karena sebuah suara, aroma, wajah, atau tempat tertentu mengingatkannya?
Di situlah kita mulai menyadari betapa rumitnya kehidupan manusia.
Otak, Akal, dan Misteri Kehidupan
Para ahli kedokteran telah mempelajari otak manusia dengan berbagai alat dan metode. Mereka menemukan bahwa susunannya sangat rapi, sedangkan cara kerjanya amat kompleks. Semakin manusia mempelajarinya, semakin banyak pula rahasia yang terbuka.
Otak seorang anak berkembang seiring pertumbuhannya menuju dewasa. Kemampuan berpikir, mengingat, memahami, dan mengambil keputusan pun berkembang. Tetapi bagaimana jika perkembangan itu terganggu oleh penyakit atau cedera?
Ada seorang anak muda dalam keluarga kami yang berasal dari keturunan orang-orang yang dikenal memiliki kemampuan berpikir baik dan berbudi pekerti. Namun ia mengalami kesulitan dalam pelajaran yang membutuhkan kemampuan berhitung, menghafal, dan berpikir secara abstrak.
Ketika berumur sekitar empat tahun, ia pernah jatuh dan kepalanya terbentur. Bekas benturan itu bahkan masih terlihat ketika ia dewasa.
Ia dapat memahami sesuatu apabila diperlihatkan kepadanya, tetapi mengalami kesulitan ketika harus memikirkannya sendiri.
Bukankah pengalaman seperti ini mengajarkan kepada kita bahwa kesehatan tubuh dan kesehatan akal tidak dapat dipisahkan?
Jika bagian tertentu dari otak mengalami gangguan, kemampuan yang berkaitan dengannya pun dapat terganggu. Karena itu, menjaga kesehatan otak berarti juga menjaga salah satu perangkat penting yang memungkinkan manusia berpikir dan menjalani kehidupannya.
Namun di sini muncul pertanyaan yang lebih dalam:
Apakah manusia hanyalah otaknya?
Apakah Akal Hanya Hasil Kerja Otak?
Sebagian ahli yang memandang kehidupan terutama dari sisi material berusaha menjelaskan akal, kehendak, ingatan, dan berbagai gejala kejiwaan melalui kerja otak.
Menurut pandangan ini, otak merupakan pusat kehidupan mental manusia. Sebagaimana nyala api muncul dari lilin yang terbakar, demikianlah pikiran dan kesadaran dianggap muncul dari aktivitas otak.
Perumpamaan itu tampak sederhana.
Tetapi apakah benar sesederhana itu?
Di sinilah perbedaan pandangan mulai muncul.
Ada kalangan yang melihat otak sebagai zat jasmani yang menjadi alat bagi sesuatu yang lebih dalam, yaitu kekuatan batin atau roh. Menurut pandangan ini, otak bukanlah sumber terakhir kehidupan, melainkan perkakas yang digunakan oleh kekuatan yang lebih halus.
Bukankah kita sering mengenal sebuah alat melalui apa yang dihasilkannya, tetapi tidak berarti alat itu adalah sumber segala sesuatu yang dihasilkannya?
Sebuah gitar menghasilkan suara, tetapi gitar bukanlah musik itu sendiri. Musik lahir melalui permainan dan pengaturan yang menggunakan gitar sebagai alat.
Demikian pula manusia.
Tubuh adalah jasad. Otak adalah perangkat yang luar biasa rumit. Tetapi apakah seluruh hakikat manusia dapat direduksi menjadi tubuh dan otaknya?
Pertanyaan itu membawa kita kepada wilayah yang lebih dalam: roh.
Bagi kalangan yang memandang kehidupan dari sisi rohani, roh bukan sekadar produk dari tubuh. Roh dipandang sebagai sesuatu yang datang dari alam yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh pengamatan inderawi. Ia menyertai tubuh selama kehidupan berlangsung, kemudian berpisah ketika datang kematian.
Dengan demikian, terdapat dua cara pandang.
Yang pertama mendahulukan tubuh lalu menjelaskan kehidupan dari sana.
Yang kedua melihat tubuh sebagai tempat berlangsungnya kehidupan yang digerakkan oleh sesuatu yang lebih dalam.
Manakah yang sepenuhnya benar?
Mungkin di sinilah manusia harus belajar merendahkan diri di hadapan misteri kehidupan.
Kehidupan: Tenunan yang Tak Terputus
Kehidupan laksana tenunan yang terus bersambung menjadi kain.
Kita melihat satu bagian kecil dari tenunan itu dan menyebutnya sebagai kehidupan kita. Padahal sebelum kita lahir, telah ada kehidupan yang mendahului kita. Setelah kita mati, kehidupan makhluk lain tetap berjalan.
Dari mana pangkal tenunan itu?
Dan ke mana ujungnya?
Kita tidak mengetahui seluruhnya.
Kita hanya menyaksikan satu bagian kecil dari perjalanan yang sangat panjang.
Pada akhirnya, setiap manusia akan sampai pada satu titik yang disebut kematian.
Kematian tidak selalu datang seperti kilat yang menyambar. Dalam banyak keadaan, tubuh mengalami proses yang berlangsung bertahap. Fungsi-fungsi kehidupan melemah, organ-organ berhenti bekerja, dan akhirnya tubuh tidak lagi mampu mempertahankan kehidupannya.
Para ahli kedokteran bahkan menemukan bahwa berbagai bagian tubuh tidak selalu berhenti pada saat yang persis sama. Ada fungsi tertentu yang dapat bertahan sesaat setelah fungsi lainnya berhenti.
Semua itu semakin memperlihatkan kepada kita betapa rumitnya kehidupan.
Kematian bukan sekadar satu titik yang sederhana.
Ia adalah batas antara satu keadaan dengan keadaan yang lain.
Makanan, Udara, dan Kehidupan
Lalu apa yang membuat manusia tetap hidup?
Kita membutuhkan udara. Kita membutuhkan air. Kita membutuhkan makanan. Tubuh membutuhkan berbagai zat untuk mempertahankan kehidupannya.
Otak pun membutuhkan oksigen. Ketika pasokan oksigen terhenti, fungsi otak akan terganggu dan akhirnya berhenti.
Karena itu, tidak mengherankan jika kondisi tubuh sangat memengaruhi kemampuan berpikir.
Anak yang kekurangan gizi dapat mengalami gangguan pertumbuhan. Tubuh yang sakit dapat memengaruhi kejernihan pikiran. Kehidupan yang serba kekurangan dapat menghambat perkembangan manusia.
Maka tidak tepat jika kita memandang kecerdasan hanya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri.
Di balik kemampuan berpikir terdapat tubuh yang harus dipelihara.
Namun sekali lagi, pertanyaan itu kembali:
Apakah tubuh yang sehat sudah cukup untuk menjelaskan seluruh hakikat manusia?
Jika makanan, air, dan oksigen dapat menjaga tubuh tetap hidup, dari mana asal kesadaran yang membuat manusia bertanya tentang kehidupan itu sendiri?
Dari mana datangnya keinginan untuk mencari kebenaran?
Dari mana muncul rasa cinta, takut, harapan, cita-cita, dan kesadaran tentang baik dan buruk?
Di sinilah ilmu pengetahuan berhadapan dengan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar tubuh.
Dari Sel Menjadi Manusia
Coba kita kembali kepada awal kehidupan manusia.
Sebelum menjadi manusia yang dapat berbicara, berjalan, berpikir, dan mencintai, manusia bermula dari sesuatu yang sangat kecil.
Sebuah pertemuan terjadi di dalam rahim.
Dari sana bermula proses yang panjang dan menakjubkan. Sel berkembang, membelah, dan membentuk jaringan. Jaringan membentuk organ. Organ menjadi bagian dari tubuh. Perlahan-lahan terbentuklah manusia.
Dari sesuatu yang begitu kecil, lahirlah makhluk yang begitu kompleks.
Allah berfirman:
«“Dialah yang telah membentukmu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki.”»
Maka renungkanlah.
Di dalam tubuh kita sendiri terdapat jutaan bahkan miliaran proses kehidupan yang berlangsung tanpa kita perintah secara sadar.
Kita tidak memerintahkan jantung untuk berdetak.
Kita tidak mengatur setiap tarikan napas.
Kita tidak memerintahkan sel untuk menjalankan tugasnya satu per satu.
Namun semuanya berlangsung.
Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak atas dirinya sendiri?
Manusia: Jutaan Kehidupan dalam Satu Kehidupan
Tubuh manusia sendiri merupakan suatu dunia yang sangat besar.
Di dalamnya terdapat begitu banyak sel. Sebagian tumbuh, sebagian bekerja, sebagian mengalami kerusakan, dan sebagian mati. Semua berlangsung dalam satu kesatuan yang kita sebut sebagai tubuh manusia.
Dengan demikian, dalam satu kehidupan terdapat berjuta-juta kehidupan.
Kita hidup, sementara di dalam diri kita berlangsung kehidupan yang jauh lebih kecil yang tidak pernah kita sadari.
Bahkan ketika kita melihat, mendengar, mencium, menyentuh, atau berjalan, ada proses-proses mikroskopis yang bekerja di balik semua itu.
Lalu tiba-tiba muncul sebuah kesadaran:
Bukankah manusia setiap hari mengalami kelahiran dan kematian dalam dirinya sendiri?
Ada sel yang lahir.
Ada sel yang mati.
Ada jaringan yang tumbuh.
Ada jaringan yang rusak.
Ada kekuatan yang bertambah.
Ada kekuatan yang berkurang.
Kita seakan-akan sedang menyaksikan gambaran kecil dari perjalanan hidup manusia secara keseluruhan.
Hari demi hari kita bertumbuh.
Hari demi hari pula kita bergerak menuju kematian.
Pintu yang Belum Terbuka Sepenuhnya
Ilmu pengetahuan terus berkembang. Manusia menemukan sel, memahami proses biologis, mempelajari otak, meneliti saraf, dan mencoba memahami bagaimana kehidupan berlangsung.
Tetapi setiap kali manusia menemukan satu jawaban, sering kali muncul pertanyaan baru.
Dahulu manusia mencari penjelasan tentang kehidupan melalui teori tertentu. Kemudian teori itu berkembang dan digantikan oleh teori yang lebih baru. Manusia menemukan berbagai mekanisme biologis, tetapi tetap menghadapi pertanyaan tentang asal-usul kehidupan dan hakikat kesadaran.
Kita menemukan prosesnya.
Tetapi apakah kita telah menemukan sumber terakhirnya?
Kita mengetahui bagaimana sebagian proses berlangsung.
Tetapi apakah kita telah mengetahui sepenuhnya mengapa kehidupan itu ada?
Di sinilah manusia seakan-akan berdiri di hadapan sebuah pintu yang setengah terbuka.
Kita dapat melihat sebagian dari apa yang ada di baliknya.
Tetapi kita belum mampu membuka seluruhnya.
Dan mungkin memang demikian kedudukan manusia.
Kita diberi akal untuk mencari, tetapi tidak diberi kemampuan untuk mengetahui segala sesuatu.
“Karena Tidak Mendapat, Maka Telah Mendapat”
Pada akhirnya kita sampai kepada sebuah kesadaran yang sederhana tetapi dalam.
Kita tidak mengetahui zat Tuhan dengan penglihatan kita.
Kita tidak dapat mengurung-Nya dalam laboratorium.
Kita tidak dapat membedah hakikat-Nya dengan mikroskop.
Namun apakah karena kita tidak melihat-Nya berarti Dia tidak ada?
Justru dari jejak-jejak ciptaan-Nya kita mengenal keberadaan-Nya.
Kita tidak melihat angin, tetapi kita melihat daun bergerak.
Kita tidak melihat gaya gravitasi, tetapi kita melihat benda jatuh.
Kita tidak melihat hakikat kehidupan secara langsung, tetapi kita melihat kehidupan bekerja dalam diri kita setiap detik.
Maka, ketika manusia telah sampai pada batas pengetahuannya, ia bukan sedang kehilangan jawaban.
Ia justru sedang menemukan batas dirinya sendiri.
“Sebab kita tidak mendapat, maka telah mendapatlah kita.”
Kita tidak mendapatkan hakikat Zat-Nya, tetapi kita mendapatkan kesadaran bahwa ada kekuasaan yang berada di luar kemampuan kita untuk menjangkaunya.
Ada Yang Mengatur.
Ada Yang Menghidupkan.
Ada Yang Menentukan.
Ada Yang Menyusun kehidupan dengan hikmah yang tidak seluruhnya mampu kita pahami.
Tenunan Takdir
Manusia bermula dari pertemuan dua unsur yang sangat kecil. Ia tumbuh di dalam rahim. Ia dilahirkan. Ia belajar berjalan. Ia belajar berbicara. Ia tumbuh, berpikir, mencintai, berjuang, berharap, mengalami kegagalan dan keberhasilan.
Kemudian ia menjadi tua.
Dan akhirnya ia mati.
Namun setiap manusia menempuh jalannya masing-masing.
Tidak ada dua kehidupan yang benar-benar identik.
Ada yang diberi kekuatan jasmani, tetapi sedikit kekayaan.
Ada yang diberi kecerdasan, tetapi diuji dengan penyakit.
Ada yang diberi harta, tetapi diuji dengan kehilangan.
Ada yang hidup sederhana, tetapi hatinya tenteram.
Ada yang berjalan panjang.
Ada yang berjalan singkat.
Ada yang diuji dengan kesulitan sejak kecil.
Ada yang baru mengenal kesulitan ketika dewasa.
Semua itu seperti benang-benang yang berbeda warna, berbeda panjang, dan berbeda bentuk, tetapi ditenun dalam satu kain kehidupan.
Kita hanya melihat satu helai.
Allah melihat seluruh tenunan.
Maka, ketika kita melihat kehidupan orang lain dan merasa jalan mereka lebih mudah daripada jalan kita, mungkin kita sedang membandingkan satu helai benang dengan seluruh kain yang hanya Allah ketahui bentuk akhirnya.
Dan ketika kita merasa hidup kita terlalu berat, mungkin kita lupa bahwa kita sedang berada di tengah tenunan yang belum selesai.
Kita belum melihat gambar keseluruhannya.
Kita belum mengetahui ke mana setiap peristiwa akan membawa kita.
Karena itu, bukankah yang paling pantas bagi manusia adalah menjalani bagian hidupnya dengan kesadaran bahwa ia bukan pemilik mutlak kehidupan?
Ia hanyalah seorang musafir.
Ia datang melalui jalan yang telah dibentangkan.
Ia berjalan dengan bekal yang diberikan.
Ia menggunakan akal yang dianugerahkan.
Ia menikmati kehidupan yang dihidupkan oleh-Nya.
Dan pada saat yang telah ditentukan, ia akan berhenti.
Itulah hidup: sebuah tenunan yang terus berjalan, dari sesuatu yang tidak kita ketahui pangkalnya menuju suatu akhir yang pasti, sementara di sepanjang jalan manusia diajak untuk membaca tanda-tanda kekuasaan Allah dalam dirinya sendiri.
0 komentar: