Selanjutnya, apa yang Yahudi lakukan setelah melemparkan Kitab Allah yang membenarkan kitab yang ada pada mereka? Apakah mereka kemudian berlindung kepada sesuatu yang lebih baik daripada Kitab Allah? Apakah mereka berpijak pada kebenaran yang tidak mengandung keraguan? Ataukah mereka berpegang teguh pada kitab yang justru dibenarkan oleh Al-Qur'an?
Tidak. Sama sekali tidak.
Mereka justru melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka, lalu mengikuti dongeng-dongeng dan cerita-cerita yang samar, yang tidak bersandar pada hakikat yang pasti. Al-Qur'an menggambarkan pilihan mereka itu dengan firman-Nya:
«وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُوا الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ»
«فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ»
«“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. Padahal, Sulaiman itu tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir.’ Maka, mereka mempelajari dari keduanya apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang suami dan istrinya. Dan mereka tidak dapat membahayakan seseorang dengan sihirnya, kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang membahayakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Sungguh, mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukarnya dengan sihir itu, tidak akan memperoleh keuntungan di akhirat. Sungguh, buruk sekali perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui. Dan sekiranya mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, sekiranya mereka mengetahui.”
(QS. al-Baqarah: 102–103)»
Mereka meninggalkan Kitab Allah yang membenarkan kitab yang ada pada mereka, kemudian mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan pada masa kerajaan Nabi Sulaiman. Setan-setan itu menyebarkan berbagai tuduhan dan kebohongan mengenai Nabi Sulaiman, di antaranya dengan menuduh bahwa beliau adalah seorang tukang sihir dan bahwa kekuasaannya diperoleh melalui sihir.
Al-Qur'an dengan tegas membantah tuduhan tersebut:
«وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ
“Padahal, Sulaiman itu tidak kafir.”»
Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa Nabi Sulaiman tidak melakukan sihir. Sebaliknya, Al-Qur'an mengaitkan kekafiran itu dengan setan-setan:
«وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ
“Tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.”»
Dengan demikian, Al-Qur'an membersihkan Nabi Sulaiman dari tuduhan tersebut sekaligus menunjukkan kebatilan sumber cerita yang mereka ikuti.
Harut dan Marut sebagai Ujian
Al-Qur'an kemudian menyebut Harut dan Marut. Dalam konteks ayat ini, Al-Qur'an menjelaskan bahwa keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seseorang tanpa terlebih dahulu memberikan peringatan:
«إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
“Sesungguhnya kami hanyalah cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir.”»
Artinya, siapa pun yang datang untuk mempelajari sesuatu dari keduanya terlebih dahulu diberi tahu bahwa hal tersebut merupakan ujian. Mereka diperingatkan agar tidak terjerumus ke dalam kekafiran.
Namun, sebagian manusia tetap memilih untuk mempelajarinya. Mereka tidak mengindahkan peringatan tersebut dan kemudian menggunakan apa yang mereka pelajari untuk melakukan keburukan:
«فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ
“Maka mereka mempelajari dari keduanya apa yang dengan sihir itu mereka dapat menceraikan antara seorang suami dan istrinya.”»
Inilah salah satu bentuk bahaya yang diperingatkan kepada mereka. Sesuatu yang sejak awal telah diperingatkan sebagai ujian justru mereka pilih dan gunakan untuk merusak hubungan manusia.
Semua Sebab Berjalan dengan Izin Allah
Setelah menjelaskan pengaruh sihir, Al-Qur'an segera menetapkan sebuah hakikat yang sangat penting dalam pandangan Islam:
«وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ
“Dan mereka tidak dapat membahayakan seseorang dengan sihirnya, kecuali dengan izin Allah.”»
Dengan demikian, tidak ada sesuatu pun yang dapat memberikan pengaruh secara mandiri di luar kehendak dan izin Allah. Sebab-sebab yang ada di alam ini bekerja dan menghasilkan pengaruh karena Allah memberikan kemampuan tersebut kepadanya.
Inilah salah satu kaidah penting dalam tashawwur Islam yang harus tertanam dalam hati seorang mukmin.
Contoh yang paling dekat adalah api. Ketika seseorang menyodorkan tangannya kepada api, secara normal tangannya akan terbakar. Namun, kemampuan api untuk membakar bukanlah kekuatan yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah. Allah-lah yang memberikan karakteristik tertentu kepada api dan menjadikannya sebagai sebab terjadinya pembakaran.
Karena itu, Allah juga berkuasa menghentikan pengaruh tersebut apabila Dia menghendakinya karena suatu hikmah tertentu. Hal itu, misalnya, terjadi ketika Allah memerintahkan api agar menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim a.s.
Demikian pula dengan sihir. Jika sihir menimbulkan suatu pengaruh, pengaruh tersebut tidak terjadi secara independen dari Allah. Ia tetap berada di bawah izin dan kehendak-Nya. Allah dapat membiarkan suatu sebab menghasilkan pengaruh sebagaimana biasanya, dan Allah pula berkuasa menghentikan pengaruh tersebut apabila Dia menghendakinya.
Demikianlah keadaan seluruh sebab yang kita ketahui dapat memberikan pengaruh. Setiap sebab memiliki karakteristik tertentu yang memungkinkan munculnya suatu pengaruh, tetapi semua itu tetap berada di bawah kehendak dan izin Allah.
Sesuatu yang Membahayakan dan Tidak Memberi Manfaat
Setelah menetapkan hakikat tersebut, Al-Qur'an kembali kepada hakikat lain yang tidak kalah penting: apa yang mereka pelajari itu pada akhirnya hanya membawa mudarat dan tidak memberikan manfaat.
Allah berfirman:
«وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ
“Mereka mempelajari sesuatu yang membahayakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka.”»
Mereka memilih sesuatu yang sejak awal telah diperingatkan sebagai ujian. Mereka menggunakannya untuk melakukan keburukan, bahkan untuk merusak hubungan antara suami dan istri. Karena itu, pilihan tersebut pada hakikatnya tidak membawa manfaat, melainkan kerugian bagi diri mereka sendiri.
Kerugian itu tidak hanya berkaitan dengan kehidupan dunia. Al-Qur'an menegaskan bahwa mereka sebenarnya telah mengetahui akibat yang akan mereka terima di akhirat:
«وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
“Sungguh, mereka telah mengetahui bahwa siapa yang menukarnya dengan sihir itu, tidak akan memperoleh keuntungan di akhirat.”»
Mereka mengetahui bahwa pilihan tersebut akan menyebabkan mereka kehilangan bagian kebaikan di akhirat. Namun, mereka tetap memilihnya.
Karena itu, Al-Qur'an menggambarkan pilihan tersebut sebagai transaksi yang sangat buruk:
«وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Sungguh, buruk sekali perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka mengetahui.”»
Mereka seakan-akan menjual diri mereka sendiri demi sesuatu yang tidak memberi manfaat hakiki. Mereka meninggalkan apa yang berasal dari Allah dan memilih sesuatu yang justru merusak kehidupan dunia dan menghilangkan keuntungan di akhirat.
Padahal, jalan yang tersedia bagi mereka sebenarnya jauh lebih baik:
«وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِّنْ عِندِ اللَّهِ خَيْرٌ
“Dan sekiranya mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik.”»
Iman dan takwa akan membawa mereka kepada pahala dari Allah. Itulah pilihan yang lebih baik daripada segala sesuatu yang mereka kejar melalui sihir dan kebatilan.
Pilihan antara Kitab Allah dan Kebatilan
Dengan demikian, rangkaian ayat ini memperlihatkan kontras yang sangat jelas. Di satu sisi terdapat Kitab Allah yang datang membawa kebenaran dan membenarkan kitab yang ada pada mereka. Di sisi lain, mereka memilih mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan, mempercayai tuduhan terhadap Nabi Sulaiman, mempelajari sihir, dan menggunakan sesuatu yang membahayakan serta tidak memberi manfaat.
Persoalannya bukan semata-mata tentang sihir. Persoalan yang lebih mendasar adalah pilihan mereka terhadap sumber kebenaran. Mereka meninggalkan wahyu yang berasal dari Allah, lalu mengikuti kebatilan yang disebarkan oleh setan.
Karena itu, peringatan ayat ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang yang mempelajari sihir di Babil, atau orang-orang yang mengikuti apa yang diceritakan oleh setan-setan pada masa Nabi Sulaiman dan kerajaannya. Peringatan ini juga berkaitan dengan orang-orang Yahudi yang melemparkan Kitab Allah ke belakang punggung mereka, kemudian memilih untuk mengikuti kebatilan dan keburukan yang tercela itu.
Pada akhirnya, ayat ini mengembalikan manusia kepada satu pilihan mendasar: berpegang kepada wahyu Allah atau mengikuti kebatilan yang menjauhkan manusia dari kebenaran.
0 komentar: