Motif-Motif Ekonomi dan Politik Versi Sejarawan Asing: Mengapa Islam Diterima di Nusantara?
Apa yang mendorong masyarakat Nusantara memeluk Islam?
Apakah semata-mata karena keuntungan ekonomi?
Karena kepentingan politik para raja?
Ataukah karena dakwah yang menyentuh hati masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang selama puluhan tahun menjadi bahan perdebatan para sejarawan. Berbagai teori dikemukakan, masing-masing berusaha menjelaskan mengapa Islam dapat berkembang begitu pesat di Kepulauan Melayu-Indonesia.
Teori Motif Ekonomi dan Politik
Sosiolog Belanda, van Leur, berpendapat bahwa faktor ekonomi dan politik merupakan pendorong utama islamisasi di Nusantara.
Menurutnya, para penguasa pribumi menerima Islam bukan semata-mata karena keyakinan agama, melainkan karena pertimbangan strategis. Dengan memeluk Islam, mereka memperoleh dukungan dari para pedagang Muslim yang menguasai jaringan perdagangan internasional. Sebagai imbalannya, para penguasa memberikan perlindungan dan berbagai kemudahan bagi aktivitas perdagangan mereka.
Bukankah hubungan seperti ini saling menguntungkan?
Bagi para pedagang, kerajaan-kerajaan Islam menawarkan keamanan dan kepastian berdagang. Sementara bagi para penguasa, Islam membuka akses yang lebih luas ke jaringan perdagangan dunia yang membentang dari Laut Merah hingga Laut Cina.
Lebih dari itu, menurut van Leur, Islam juga menjadi sumber legitimasi politik. Dukungan para pedagang Muslim memperkuat kedudukan para penguasa sekaligus membantu mereka melepaskan diri dari pengaruh Kerajaan Majapahit yang ketika itu masih bercorak Hindu.
Masa Perdagangan dan Islamisasi Massal
Pandangan mengenai pentingnya faktor ekonomi juga dikemukakan oleh Anthony Reid, meskipun dalam konteks periode yang berbeda.
Menurut Reid, islamisasi mencapai puncaknya pada abad ke-15 hingga ke-17, ketika Nusantara memasuki apa yang ia sebut sebagai "Masa Perdagangan" (The Age of Commerce).
Mengapa justru pada masa ini Islam berkembang begitu pesat?
Karena perdagangan internasional sedang mengalami kemajuan luar biasa. Kerajaan-kerajaan Islam menjadi bagian dari jaringan ekonomi global, sehingga Islam semakin diasosiasikan dengan kemajuan, keterbukaan, dan hubungan internasional. Keadaan ini menarik semakin banyak penduduk Nusantara untuk memeluk Islam.
Pada saat yang hampir bersamaan, bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris mulai berdatangan ke Nusantara.
Kedatangan mereka membawa dampak lain.
Identitas keagamaan menjadi semakin tegas. Perbedaan antara masyarakat pribumi Muslim dan bangsa Eropa yang beragama Kristen semakin tampak, sehingga proses konsolidasi umat Islam pun semakin menguat.
Apakah Teori Ekonomi Sudah Cukup Menjelaskan?
Namun, benarkah faktor ekonomi dan politik saja mampu menjelaskan islamisasi Nusantara?
Di sinilah berbagai kritik mulai muncul.
Teori van Leur dinilai terlalu menekankan kepentingan ekonomi, politik, dan peran para pedagang sebagai aktor utama penyebaran Islam. Padahal, berbagai historiografi lokal justru menggambarkan proses yang jauh lebih kompleks.
Anthony Johns, misalnya, mempertanyakan anggapan bahwa para pedagang merupakan penyebar Islam yang paling menentukan.
Jika benar para pedagang adalah pelaku utama dakwah, mengapa Islam tidak berkembang secara luas sejak abad ke-7, ketika mereka telah aktif berdagang di Nusantara?
Mengapa islamisasi besar-besaran baru tampak beberapa abad kemudian?
Selama periode abad ke-7 hingga ke-11 memang terdapat hubungan dagang yang intensif antara Nusantara dan dunia Islam. Namun, bukti mengenai konversi massal masih sangat terbatas. Demikian pula, belum ditemukan bukti kuat mengenai keberadaan institusi-institusi Islam seperti kesultanan, masjid, maupun lembaga pendidikan Islam pada masa tersebut.
Karena itu, menurut Johns, teori perdagangan saja belum cukup menjelaskan proses islamisasi Nusantara.
Teori Persaingan Islam dan Kristen
Pandangan lain dikemukakan oleh Schrieke.
Ia juga meragukan bahwa perkawinan antara pedagang Muslim dan keluarga kerajaan menjadi penyebab utama islamisasi massal. Demikian pula, ia tidak percaya bahwa rakyat otomatis mengikuti agama para penguasanya.
Lalu apa yang dianggap sebagai faktor utama?
Schrieke melihat penyebaran Islam dalam konteks persaingan global antara Islam dan Kristen.
Menurutnya, ekspansi agama Kristen yang dibawa bangsa-bangsa Eropa mendorong semakin kuatnya dakwah Islam di Nusantara. Penyebaran Islam dipandang sebagai respons terhadap gerakan misi Kristen yang mulai berkembang sejak kedatangan Portugis pada awal abad ke-16.
Teori ini kemudian dikenal sebagai "teori balapan antara Islam dan Kristen" (The Race Between Islam and Christianity Theory).
Schrieke bahkan menghubungkan dinamika tersebut dengan konflik yang telah lebih dahulu berlangsung di kawasan Arab dan Semenanjung Iberia. Persaingan antara kekuatan Islam dan Kristen di wilayah-wilayah tersebut, menurutnya, turut memengaruhi semangat penyebaran Islam hingga ke Asia Tenggara.
Meskipun demikian, teori ini lebih relevan untuk menjelaskan perkembangan Islam setelah tahun 1500, ketika bangsa-bangsa Eropa mulai hadir secara langsung di Nusantara.
Peran Kaum Sufi: Sebuah Penjelasan yang Lebih Meyakinkan
Lalu, teori manakah yang paling mampu menjelaskan proses islamisasi Nusantara?
A.H. Johns menawarkan penjelasan yang dinilai lebih komprehensif.
Ia berpendapat bahwa tokoh-tokoh yang paling berperan dalam penyebaran Islam bukanlah para pedagang, melainkan para sufi pengembara yang secara aktif berdakwah di berbagai wilayah Nusantara, terutama sejak abad ke-13.
Mengapa dakwah mereka begitu berhasil?
Karena para sufi mampu menyampaikan ajaran Islam dengan pendekatan yang bijaksana dan dekat dengan budaya masyarakat setempat. Mereka tidak serta-merta memutus seluruh tradisi lama, tetapi lebih menekankan kesinambungan antara nilai-nilai Islam dan unsur-unsur budaya lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran tauhid.
Pendekatan yang lentur namun tetap berlandaskan ajaran Islam inilah yang membuat dakwah mereka mudah diterima oleh masyarakat.
Untuk memperkuat pandangannya, Anthony Johns menelaah berbagai karya sastra, hikayat, dan historiografi tradisional Melayu-Indonesia. Dari kajian tersebut, ia menyimpulkan bahwa peran kaum sufi jauh lebih menentukan dalam proses islamisasi dibandingkan sekadar aktivitas perdagangan, kepentingan politik, ataupun persaingan antara Islam dan Kristen.
Dengan demikian, islamisasi Nusantara tampaknya tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal. Proses tersebut merupakan hasil interaksi antara perdagangan, dinamika politik, perubahan sosial, dan terutama dakwah para ulama sufi yang mampu menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
0 komentar: