basmalah Pictures, Images and Photos
Kehidupan Masyarakat Jakarta pada Masa Kerajaan Taruma - Our Islamic Story

Postingan Popular Pekan ini

Kehidupan Masyarakat Jakarta pada Masa Kerajaan Taruma Memasuki abad-abad pertama Masehi, wi...

Kehidupan Masyarakat Jakarta pada Masa Kerajaan Taruma

Kehidupan Masyarakat Jakarta pada Masa Kerajaan Taruma

Memasuki abad-abad pertama Masehi, wilayah kepulauan Indonesia semakin terhubung dengan jaringan pelayaran dan perdagangan internasional. Selat Malaka menjadi salah satu jalur penting yang mempertemukan para pelaut dan pedagang dari berbagai kawasan. Melalui jaringan perdagangan tersebut, masyarakat kepulauan Indonesia berhubungan dengan orang-orang India. Hubungan itu tidak hanya membawa pertukaran barang, tetapi juga mempertemukan berbagai gagasan, kepercayaan, dan unsur kebudayaan. Salah satu di antaranya adalah masuknya pengaruh agama Hindu yang antara lain dibawa oleh kaum Brahmana (F.D.K. Bosch, 1946).

Kontak semacam itu pada akhirnya juga berlangsung dengan masyarakat yang telah mendiami wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pertemuan antara kebudayaan lokal dan pengaruh dari India berlangsung secara bertahap. Dari proses akulturasi tersebut kemudian berkembang bentuk pemerintahan kerajaan. Sejak sekitar pertengahan abad ke-5 M, wilayah ini dikenal dalam sumber-sumber sejarah sebagai bagian dari Kerajaan Taruma, dengan Maharaja Purnawarman sebagai salah satu penguasanya yang paling dikenal.

Prasasti sebagai Jejak Sejarah Taruma

Keberadaan Kerajaan Taruma dan nama Maharaja Purnawarman tidak hanya diketahui melalui cerita atau tradisi kemudian, tetapi terutama melalui sumber primer berupa prasasti. Sedikitnya terdapat tujuh prasasti yang berkaitan dengan masa tersebut, yaitu Prasasti Tugu di Jakarta Utara, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Angin, Prasasti Muara Cianten di wilayah Bogor, serta Prasasti Munjul di Cidangiang, Lebak, Banten.

Prasasti-prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Tidak semua prasasti mencantumkan angka tahun secara eksplisit. Karena itu, perkiraan waktunya antara lain didasarkan pada kajian paleografi, yaitu penelitian terhadap bentuk dan perkembangan aksara. Berdasarkan kajian tersebut, para ahli memperkirakan prasasti-prasasti itu berasal dari sekitar pertengahan abad ke-5 M dan termasuk di antara prasasti tertua yang ditemukan di Pulau Jawa (J.Ph. Vogel, 1945: 15–35).

Penggunaan huruf Pallawa menunjukkan adanya hubungan intelektual dan kebudayaan dengan India bagian selatan, tempat Dinasti Pallawa berkembang. Sementara itu, penggunaan bahasa Sanskerta dalam bentuk syair menunjukkan adanya lingkungan yang menguasai bahasa tersebut. Pada masa itu, Sanskerta di India terutama dikenal di kalangan Brahmana atau kaum pendeta yang memiliki kemampuan membaca dan memahami kitab-kitab Veda.

Hubungan dengan kaum Brahmana juga tampak dalam Prasasti Tugu. Prasasti tersebut menyebut adanya pelaksanaan upacara keagamaan yang berkaitan dengan kaum Brahmana. Dengan demikian, prasasti bukan hanya memberikan informasi tentang keberadaan seorang raja, tetapi juga membuka gambaran mengenai agama, kekuasaan, teknologi pengelolaan air, dan kehidupan masyarakat pada masa Taruma.

Berdasarkan penelitian para ahli epigrafi, termasuk R.M. Ng. Poerbatjaraka (Poerbatjaraka, 1952), sejumlah kesimpulan penting dapat ditarik dari prasasti-prasasti tersebut.

Purnawarman dan Kerajaan Hindu di Jawa Barat

Pertama, sejak pertengahan abad ke-5 M, masyarakat di wilayah Jakarta dan daerah sekitarnya telah mengenal agama Hindu dan bentuk pemerintahan kerajaan yang bercorak Hindu. Maharaja Purnawarman menjadi tokoh utama yang diketahui dari sumber-sumber tersebut. Wilayah kekuasaan Taruma diperkirakan mencakup kawasan yang luas, meliputi Jakarta, Bekasi, daerah aliran Sungai Citarum, Bogor, hingga Banten.

Kehadiran kerajaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di kawasan Jakarta telah memasuki fase kehidupan politik yang lebih terorganisasi. Jika pada masa sebelumnya masyarakat hidup dalam kelompok-kelompok sosial yang lebih sederhana, maka pada masa Taruma telah muncul kerajaan dengan seorang maharaja, pusat kekuasaan, struktur pemerintahan, serta jaringan wilayah yang berada di bawah pengaruhnya.

Namun, kekuasaan kerajaan tidak hanya terlihat dari simbol politik. Salah satu bukti yang paling menarik justru berkaitan dengan pengelolaan lingkungan.

Sungai, Air, dan Kekuasaan

Prasasti Tugu mencatat kegiatan besar yang dilakukan pada masa pemerintahan Purnawarman. Disebutkan bahwa Maharaja Purnawarman menggali Sungai Candrabhaga yang kemudian mengalirkan airnya menuju laut setelah melewati kawasan istana kerajaan yang termasyhur.

Pada tahun ke-22 pemerintahannya, Purnawarman kembali memerintahkan penggalian sebuah sungai yang disebut Gomati. Sungai tersebut digambarkan sebagai sungai yang indah dan jernih, mengalir di tengah tanah kediaman yang mulia milik sang pendeta nenekda. Pekerjaan itu dimulai pada tanggal 8 paro petang bulan Phalguna dan berakhir pada tanggal 13 paro terang bulan Caitra. Dengan demikian, pekerjaan tersebut berlangsung selama sekitar 21 hari dan memiliki panjang 6.122 tombak.

Pembangunan atau penggalian sungai itu juga disertai upacara keagamaan. Para Brahmana melakukan selamatan dan menerima hadiah berupa 1.000 ekor sapi.

Catatan tersebut memperlihatkan sesuatu yang penting. Sungai dalam kehidupan masyarakat Taruma bukan sekadar unsur alam, tetapi juga bagian dari pengelolaan wilayah kerajaan. Penggalian saluran air menunjukkan adanya kemampuan untuk mengerahkan tenaga manusia dalam proyek berskala besar sekaligus memperlihatkan hubungan antara kekuasaan politik, pengelolaan lingkungan, dan legitimasi keagamaan.

Waktu pelaksanaan pekerjaan juga menarik untuk diperhatikan. Penggalian sungai berlangsung pada bulan Phalguna dan Caitra, yang kira-kira bertepatan dengan Februari hingga April. Masa tersebut berada pada penghujung musim hujan atau masa ketika curah hujan mulai berkurang. Karena itu, terdapat kemungkinan bahwa proyek penggalian sungai tersebut berkaitan dengan pengelolaan air, termasuk upaya mengurangi dampak banjir pada musim penghujan.

Dengan demikian, proyek sungai pada masa Purnawarman dapat dilihat sebagai salah satu gambaran awal mengenai bagaimana masyarakat dan penguasa di wilayah Jawa Barat mengelola lingkungan untuk kepentingan kehidupan bersama.

Agama dan Legitimasi Kekuasaan

Kehidupan keagamaan juga menjadi bagian penting dari masyarakat Taruma. Prasasti-prasasti Purnawarman menunjukkan kuatnya pengaruh Hindu, khususnya dalam lingkungan kerajaan.

Dalam Prasasti Ciaruteun terdapat pahatan sepasang telapak kaki yang dikaitkan dengan Purnawarman. Gambaran tersebut dihubungkan dengan telapak kaki Dewa Wisnu. Karena itu, terdapat petunjuk bahwa Purnawarman diposisikan dalam hubungan simbolis dengan Wisnu.

Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa agama tidak berdiri terpisah dari kehidupan politik kerajaan. Simbol-simbol keagamaan menjadi bagian dari cara seorang raja menampilkan kedudukan dan kewibawaannya. Kekuasaan Purnawarman tidak hanya digambarkan melalui kemampuan mengatur wilayah, tetapi juga melalui simbol keagamaan yang menghubungkannya dengan dunia sakral.

Prasasti-prasasti pada masa pemerintahannya juga mengandung gambaran mengenai kekuasaan dan penaklukan Purnawarman terhadap kerajaan atau wilayah lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa Taruma telah berkembang menjadi kekuatan politik yang memiliki pengaruh di kawasan sekitarnya.

Di Mana Ibu Kota Taruma?

Salah satu persoalan penting dalam memahami sejarah Jakarta pada masa Taruma adalah lokasi pusat kerajaannya. Prasasti Tugu menyebut keberadaan istana kerajaan. Namun, sampai sekarang lokasi pasti ibu kota Taruma belum dapat ditentukan secara meyakinkan.

Karena itu, muncul beberapa pendapat. Ada yang memperkirakan pusat kerajaan berada di sekitar Cakung (Noorduyn & Verstappen, 1972). Pendapat lain menghubungkannya dengan kawasan sekitar Kali Bekasi, sebagaimana dikemukakan Poerbatjaraka.

Persoalan tersebut menjadi penting bagi sejarah Jakarta. Jika pusat pemerintahan Taruma memang berada di sekitar Jakarta, maka kawasan ini telah memiliki fungsi politik yang penting sejak abad ke-5 M. Namun, jika pusatnya berada di wilayah lain, Jakarta tetap berada dalam jaringan kekuasaan dan aktivitas ekonomi kerajaan tersebut.

Sampai sekarang, penelitian arkeologis terhadap bekas kota atau pusat pemerintahan Taruma yang dapat memastikan lokasi ibu kotanya belum menghasilkan temuan yang definitif. Karena itu, persoalan ini masih terbuka bagi penelitian lebih lanjut.

Masyarakat dalam Jaringan Internasional

Terlepas dari persoalan lokasi ibu kota, keberadaan Taruma menunjukkan bahwa masyarakat di kawasan Jakarta dan sekitarnya telah terhubung dengan dunia yang lebih luas.

Mereka tidak hidup dalam ruang yang terisolasi. Penggunaan aksara Pallawa, bahasa Sanskerta, praktik keagamaan Hindu, serta hubungan dengan orang India memperlihatkan adanya proses pertukaran kebudayaan yang berlangsung secara intensif. Hubungan dengan dunia luar juga tidak terbatas pada India. Sumber-sumber mengenai perjalanan Fa Hien pada awal abad ke-5 M memberikan gambaran mengenai kehidupan keagamaan di Jawa, termasuk bahwa agama Buddha belum berkembang sekuat pengaruh Hindu di lingkungan Taruma.

Dalam konteks perdagangan, hubungan dengan masyarakat India dan Tiongkok juga menunjukkan bahwa kawasan ini telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan internasional (J.C. van Leur, 1955: 80–89).

Dengan demikian, masyarakat Jakarta pada masa Taruma dapat dipahami sebagai masyarakat yang berada di persimpangan antara perkembangan lokal dan hubungan global. Kebudayaan lokal yang telah tumbuh sejak masa prasejarah berinteraksi dengan pengaruh India dan jaringan perdagangan antarkawasan. Dari perjumpaan tersebut lahir bentuk-bentuk baru dalam agama, tulisan, bahasa, teknologi, pemerintahan, dan kehidupan sosial.

Antara Taruma dan Kerajaan-Kerajaan Sesudahnya

Bagaimana perkembangan Taruma setelah masa Purnawarman masih belum dapat diketahui secara pasti. Berdasarkan sejumlah pendapat ahli, kerajaan tersebut kemungkinan telah menghilang atau mengalami perubahan besar pada akhir abad ke-7 M. Akan tetapi, penyebabnya belum dapat dipastikan. Ada pendapat yang menghubungkannya dengan perluasan kekuasaan Sriwijaya, sementara kemungkinan lain masih terbuka.

Persoalan tersebut kemudian membawa kita pada pertanyaan yang lebih luas mengenai kesinambungan sejarah masyarakat di kawasan Jakarta dan Jawa Barat.

Apakah terdapat hubungan antara masyarakat Taruma dengan temuan arkeologis di Cibuaya, terutama kompleks Batujaya? Bagaimana hubungan peninggalan tersebut dengan Prasasti Simangambat dari pertengahan abad ke-9 M? Bagaimana pula kesinambungannya dengan Kerajaan Sunda dan tokoh Sri Jayabhupati yang disebut dalam Prasasti Citatih tahun 1030 M? Lalu, bagaimana hubungan perkembangan tersebut dengan Kerajaan Galuh di wilayah Priangan Timur sejak abad ke-8 M?

Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa sejarah Jawa Barat tidak dapat dipahami hanya melalui pergantian nama kerajaan. Yang lebih penting adalah menelusuri kesinambungan masyarakat, wilayah, jaringan perdagangan, teknologi, agama, dan pusat-pusat kekuasaan dari satu periode ke periode berikutnya.

Dalam konteks sejarah Jakarta, persoalan tersebut menjadi semakin penting. Kehadiran Taruma membuktikan bahwa kawasan ini telah masuk ke dalam jaringan politik, keagamaan, dan perdagangan yang lebih luas sejak setidaknya abad ke-5 M. Namun, bagaimana kehidupan masyarakat Jakarta berkembang setelah Taruma mengalami perubahan masih membutuhkan bukti arkeologis dan sumber sejarah yang lebih kuat.

Karena itu, sejarah Jakarta sebelum Batavia sebaiknya tidak dipandang sebagai rangkaian kerajaan yang berdiri dan kemudian menghilang. Ia lebih tepat dilihat sebagai proses panjang kesinambungan dan perubahan masyarakat, ketika lingkungan, sungai, perdagangan, agama, teknologi, dan kekuasaan saling berinteraksi dari masa ke masa. Dari proses panjang itulah kemudian terbentuk lapisan-lapisan sejarah yang kelak mengantarkan kawasan Jakarta menuju masa Sunda, Kalapa, hingga akhirnya Batavia.

0 komentar:

Cari Artikel Ketik Lalu Enter

Artikel Lainnya

Indeks Artikel

!qNusantar3 (1) 1+6!zzSirah Ulama (1) Abdullah bin Nuh (1) Abu Bakar (3) Abu Hasan Asy Syadzali (2) Abu Hasan Asy Syadzali Saat Mesir Dikepung (1) Aceh (6) Adam (5) Adnan Menderes (2) Adu domba Yahudi (1) adzan (1) Agama (1) Agribisnis (1) Ahli Epidemiologi (1) Air hujan (1) Akhir Zaman (1) Akhirat (8) Al-Baqarah (1) Al-Qur'an (363) Al-Qur’an (75) alam (3) Alamiah Kedokteran (1) Ali bin Abi Thalib (1) An-Nadwi (1) Andalusia (1) Angka Binner (1) Angka dalam Al-Qur'an (1) Aqidah (1) Ar Narini (2) As Sinkili (2) Asbabulnuzul (1) Ashabul Kahfi (1) Aurangzeb alamgir (1) Bahasa Arab (1) Bahaya Kemunduran Umat Islam (1) Bani Israel (1) Banjar (1) Banten (1) Barat (1) Belanja (1) Berkah Musyawarah (1) Bermimpi Rasulullah saw (1) Bertanya (1) Bima (1) Biografi (1) BJ Habibie (1) budak jadi pemimpin (1) Buku Hamka (1) busana (1) Buya Hamka (53) Cerita kegagalan (1) cerpen Nabi (8) cerpen Nabi Musa (2) Cina Islam (1) cinta (1) Covid 19 (1) Curhat doa (1) Dajjal (1) dakwah (19) Dakwah (36) Dasar Kesehatan (1) Deli Serdang (1) Demak (3) Demam Tubuh (1) Demografi Umat Islam (1) Detik (1) Diktator (1) Diponegoro (2) Dirham (1) Doa (1) doa mendesain masa depan (1) doa wali Allah (1) dukun (1) Dunia Islam (1) Duplikasi Kebrilianan (1) ekonomi (3) Ekonomi (42) energi kekuatan (1) Energi Takwa (1) english (6) English (6) Episentrum Perlawanan (1) filsafat (3) filsafat Islam (1) Filsafat Sejarah (1) Fiqh (1) Fir'aun (2) Firasat (1) Firaun (1) Gamal Abdul Naser (1) Gelombang dakwah (1) Gladiator (1) Gowa (1) grand desain tanah (1) Gua Secang (1) Haji (1) Haman (1) Hamka (3) Hasan Al Banna (7) Heraklius (4) Hidup Mudah (1) Hikayat (3) Hikayat Perang Sabil (2) hikmah (1) https://www.literaturislam.com/ (1) Hukum (7) Hukum Akhirat (1) hukum kesulitan (1) Hukum Pasti (1) Hukuman Allah (1) Ibadah obat (1) Ibnu Hajar Asqalani (1) Ibnu Khaldun (1) Ibnu Sina (1) Ibrahim (1) Ibrahim bin Adham (1) ide menulis (1) ikhtilaf (1) Ikhtilaf (9) Ikhwanul Muslimin (1) ilmu (2) Ilmu Laduni (3) Ilmu Sejarah (1) Ilmu Sosial (1) Imam Al-Ghazali (2) imam Ghazali (1) Instropeksi diri (1) interpretasi sejarah (1) Islam (1) ISLAM (2) Islam Cina (1) Islam dalam Bahaya (2) Islam di India (1) Islam Nusantara (1) Islampobia (1) Istana Al-Hambra (1) Istana Penguasa (1) Istiqamah (1) Jalan Hidup (1) Jamuran (1) Jebakan Istana (1) Jendral Mc Arthu (1) Jibril (1) jihad (1) Jiwa Berkecamuk (1) Jiwa Mujahid (1) Jogyakarta (1) jordania (1) jurriyah Rasulullah (1) Kabinet Abu Bakar (1) Kajian (1) kambing (1) Karamah (1) Karya Besar (1) Karya Fenomenal (1) Kebebasan beragama (1) Kebohongan Pejabat (1) Kebohongan Yahudi (1) kecerdasan (22) Kecerdasan (342) Kecerdasan Finansial (4) Kecerdasan Laduni (1) Kedok Keshalehan (1) Kejayaan Islam (1) Kejayaan Umat Islam (1) Kekalahan Intelektual (1) Kekhalifahan Islam (2) Kekhalifahan Turki Utsmani (1) Keluar Krisis (1) Kemiskinan Diri (1) Kepemimpinan (1) kerajaan Islam (1) kerajaan Islam di India (1) Kerajaan Sriwijaya (2) Kesehatan (1) Kesultanan Aceh (1) Kesultanan Nusantara (1) Ketuhanan Yang Maha Esa (1) Keturunan Rasulullah saw (1) Keunggulan ilmu (1) keunggulan teknologi (1) Kezaliman (2) KH Hasyim Ashari (1) Khaidir (2) Khalifatur Rasyidin (1) Kiamat (1) Kisah (1) Kisah Al Quran (1) kisah Al-Qur'an (1) Kisah Hadist (4) Kisah Nabi (1) Kisah Nabi dan Rasul (1) Kisah Para Nabi (1) kisah para nabi dan (2) kisah para nabi dan rasul (64) kisah para Nabi dan Rasul (1) Kisah para nabi dan rasul (123) Kisah Para Nabi dan Rasul (577) kisah para nabi dan rasul. Nabi Daud (1) kisah para nabi dan rasul. nabi Musa (2) Kisah Penguasa (1) Kisah ulama (1) kitab primbon (1) Koalisi Negara Ulama (1) Krisis Ekonomi (1) Kumis (1) Kumparan (1) Kurikulum Pemimpin (1) Laduni (1) lauhul mahfudz (1) lockdown (1) Logika (1) Luka darah (1) Luka hati (1) madrasah ramadhan (1) Madu dan Susu (1) Majapahi (1) Majapahit (4) Makkah (1) Malaka (1) Mandi (1) Matematika dalam Al-Qur'an (1) Maulana Ishaq (1) Maulana Malik Ibrahi (1) Melihat Wajah Allah (1) Memerdekakan Akal (1) Menaklukkan penguasa (1) Mendidik anak (1) mendidik Hawa Nafsu (1) Mendikbud (1) Menggenggam Dunia (1) menulis (1) Mesir (1) militer (1) militer Islam (1) Mimpi Rasulullah saw (1) Minangkabau (2) Mindset Dongeng (1) Muawiyah bin Abu Sofyan (1) Mufti Johor (1) muhammad al fatih (3) Muhammad bin Maslamah (1) Mukjizat Nabi Ismail (1) Musa (1) muslimah (1) musuh peradaban (1) nabi adam (1) Nabi Adam (75) nabi Adam. Adam (1) Nabi Ayub (1) Nabi Daud (3) Nabi Ibrahim (3) Nabi Isa (2) nabi Isa. nabi ismail (1) Nabi Ismail (1) Nabi Khaidir (1) Nabi Khidir (1) Nabi Musa (29) Nabi Nuh (6) Nabi Sulaiman (2) Nabi Yunus (1) Nabi Yusuf (15) Namrudz (2) Nasrulloh Baksolahar (1) NKRI (1) nol (1) Nubuwah Rasulullah (4) Nurudin Zanky (1) Nusa Tenggara (1) nusantara (11) Nusantara (332) Nusantara Tanpa Islam (1) obat cinta dunia (2) obat takut mati (1) Olahraga (6) Orang Lain baik (1) Orang tua guru (1) Padjadjaran (2) Palembang (1) Palestina (800) Pancasila (1) Pangeran Diponegoro (3) Pasai (2) Paspampres Rasulullah (1) Pembangun Peradaban (2) Pemecahan masalah (1) Pemerintah rapuh (1) Pemutarbalikan sejarah (1) Pengasingan (1) Pengelolaan Bisnis (1) Pengelolaan Hawa Nafsu (1) Pengobatan (1) pengobatan sederhana (1) Penguasa Adil (1) Penguasa Zalim (1) Penjajah Yahudi (35) Penjajahan Belanda (1) Penjajahan Yahudi (1) Penjara Rotterdam (1) Penyelamatan Sejarah (1) peradaban Islam (1) Perang Aceh (1) Perang Afghanistan (1) Perang Arab Israel (1) Perang Badar (3) Perang Ekonomi (1) Perang Hunain (1) Perang Jawa (1) Perang Khaibar (1) Perang Khandaq (2) Perang Kore (1) Perang mu'tah (1) Perang Paregreg (1) Perang Salib (4) Perang Tabuk (1) Perang Uhud (2) Perdagangan rempah (1) Pergesekan Internal (1) Perguliran Waktu (1) permainan anak (2) Perniagaan (1) Persia (2) Persoalan sulit (1) pertanian modern (1) Pertempuran Rasulullah (1) Pertolongan Allah (3) perut sehat (1) pm Turki (1) POHON SAHABI (1) politik (3) Politik (28) Portugal (1) Portugis (1) ppkm (1) Prabu Satmata (1) Prilaku Pemimpin (1) prokes (1) puasa (1) pupuk terbaik (1) purnawirawan Islam (1) Qarun (2) Quantum Jiwa (1) Raffles (1) Raja Islam (1) rakyat lapar (1) Rakyat terzalimi (1) Rasulullah (1) Rasulullah SAW (1) Rasulullah shalallahu alaihi wassalam (1) Rehat (493) Rekayasa Masa Depan (1) Republika (2) respon alam (1) Revolusi diri (1) Revolusi Sejarah (1) Revolusi Sosial (1) Rindu Rasulullah (1) Romawi (4) Rumah Semut (1) Ruqyah (1) Rustum (1) Saat Dihina (1) Sahabat (1) sahabat Nabi (1) Sahabat Rasulullah (1) SAHABI (1) Salimul Aqidah (1) satu (1) Sayyidah Musyfiqah (1) Sejarah (2) Sejarah Nabi (1) Sejarah Para Nabi dan Rasul (1) Sejarah Penguasa (1) selat Malaka (2) Seleksi Pejabat (1) Sengketa Hukum (1) Serah Nabawiyah (1) Seruan Jihad (3) shalahuddin al Ayubi (3) shalat (1) Shalat di dalam kuburannya (1) Shalawat Ibrahimiyah (1) Simpel Life (1) Sirah Nabawiyah (338) Sirah Para Nabi dan Rasul (3) sirah penguasa (1) Sirah penguasa (11) Sirah Penguasa (253) sirah Sahabat (2) Sirah Sahabat (174) Sirah Tabiin (43) Sirah ulama (36) Sirah Ulama (158) Siroh Sahabat (1) Sofyan Tsauri (1) Solusi Negara (1) Solusi Praktis (1) Sriwijaya Islam (3) Strategi Demonstrasi (1) Suara Hewan (1) Suara lembut (1) Sudah Nabawiyah (1) Sufi (1) sugesti diri (1) sultan Hamid 2 (1) sultan Islam (1) Sultan Mataram (3) Sultanah Aceh (1) Sunah Rasulullah (2) sunan giri (3) Sunan Gresi (1) Sunan Gunung Jati (1) Sunan Kalijaga (1) Sunan Kudus (2) Sunatullah Kekuasaan (1) Supranatural (1) Surakarta (1) Syariat Islam (18) Syeikh Abdul Qadir Jaelani (2) Syeikh Palimbani (3) Tak Ada Solusi (1) Takdir Umat Islam (1) Takwa (1) Takwa Keadilan (1) Tamim Ad Dari (1) Tanda Hari Kiamat (1) Tasawuf (29) teknologi (2) tentang website (1) tentara (1) tentara Islam (1) Ternate (1) Thaharah (1) Thariqah (1) tidur (1) Titik kritis (1) Titik Kritis Kekayaan (1) Tragedi Sejarah (1) Turki (2) Turki Utsmani (2) Ukhuwah (1) Ulama Mekkah (3) Umar bin Abdul Aziz (5) Umar bin Khatab (3) Umar k Abdul Aziz (1) Ummu Salamah (1) Umpetan (1) Utsman bin Affan (2) veteran islam (1) Wabah (1) wafat Rasulullah (1) Wakaf (1) Waki bin Jarrah (1) Wali Allah (1) wali sanga (1) Walisanga (2) Walisongo (3) Wanita Pilihan (1) Wanita Utama (1) Warung Kelontong (1) Waspadai Ibadah (1) Wudhu (1) Yusuf Al Makasari (1) zaman kerajaan islam (1) Zulkarnain (1)