Jakarta di Era Pra Sejarah
Jauh sebelum dikenal sebagai Batavia, bahkan sebelum tumbuh menjadi kota pelabuhan, wilayah Jakarta telah memiliki kondisi geografis dan ekologis yang mendukung kehidupan manusia. Letaknya berada di kawasan teluk yang relatif terlindungi oleh gugusan pulau-pulau. Di sekitar teluk tersebut terdapat Pulau Damar Besar, Pulau Air Besar, Nyamuk Kecil, Damar Kecil, Gosong, Kelor, dan Sabit. Banyaknya pulau yang tersebar di kawasan tersebut kemudian melahirkan sebutan Kepulauan Seribu.
Posisi geografis tersebut menjadikan kawasan pantai Jakarta bukan sekadar ruang pertemuan antara daratan dan laut, tetapi juga lingkungan yang memungkinkan berkembangnya berbagai bentuk kehidupan manusia. Sungai-sungai besar yang mengalir dari pedalaman membawa material yang secara perlahan membentuk daratan baru di kawasan pesisir.
Berdasarkan potret udara dan kajian geomorfologi, pada masa lalu Sungai Cisadane diperkirakan bermuara di bagian barat Teluk Jakarta, sedangkan Sungai Citarum bermuara lebih jauh ke sebelah timur. Garis pantai Jakarta sendiri terbentuk melalui proses pengendapan material yang dibawa oleh sungai-sungai besar, terutama Cisadane dan Ciliwung. Proses tersebut berlangsung dalam waktu yang sangat panjang hingga membentuk dataran aluvial di sepanjang pesisir utara.
Di bagian tengah Jakarta, dataran aluvial tersebut membentang hingga sekitar tujuh kilometer ke arah daratan. Di bagian barat, endapan Sungai Cisadane membentuk delta sehingga dataran aluvial melebar hingga kurang lebih lima belas kilometer dan membatasi Teluk Jakarta di sisi barat. Sementara itu, ke arah timur, endapan yang dibawa Kali Bekasi dan Sungai Citarum menyebabkan dataran aluvial melebar hingga sekitar tiga puluh lima kilometer.
Material yang dibawa oleh sungai-sungai tersebut tidak hanya berupa lumpur biasa. Sebagian di antaranya berasal dari material vulkanis yang terbawa dari kawasan pegunungan, terutama Gunung Pangrango, Gede, dan Salak. Endapan tersebut kemudian menyebar membentuk kipas-kipas aluvial yang secara perlahan mengubah bentang alam pesisir Jakarta.
Ahli geomorfologi Belanda, H. Th. Verstappen, memperkirakan bahwa proses pengendapan material vulkanis di dataran pantai Teluk Jakarta telah berlangsung sekitar 5.000 tahun yang lalu. Lapisan tanah yang terbentuk dari endapan tersebut diperkirakan berasal dari zaman Holosen, atau setidaknya dari pertengahan Holosen (Verstappen, 1953: 53).
Dengan demikian, lingkungan Jakarta yang dikenal sekarang sebenarnya merupakan hasil proses alam yang berlangsung sangat panjang. Daratan yang kemudian menjadi ruang kehidupan masyarakat terbentuk melalui hubungan antara gunung, sungai, laut, dan proses sedimentasi. Kondisi ekologis semacam ini menyediakan berbagai sumber daya yang memungkinkan manusia menetap, bercocok tanam, berhubungan dengan wilayah lain, dan pada tahap berikutnya membangun kehidupan perkotaan.
Dalam perspektif perkembangan kota, kondisi ekologis merupakan salah satu unsur penting. Gideon Sjoberg menjelaskan bahwa pertumbuhan kota dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor utama: lingkungan ekologis yang menguntungkan, perkembangan teknologi baik dalam bidang agrikultur maupun nonagrikultur, serta terbentuknya organisasi sosial yang kompleks beserta struktur kekuasaan yang berkembang (Gideon Sjoberg, 1965: 7–15).
Jika kerangka tersebut digunakan untuk membaca sejarah Jakarta, maka fondasinya telah terbentuk jauh sebelum munculnya Batavia. Lingkungan alam menyediakan ruang dan sumber daya, teknologi memungkinkan manusia mengolah lingkungan tersebut, sedangkan organisasi sosial memungkinkan masyarakat hidup secara lebih teratur. Perkembangan itu kemudian semakin terlihat ketika kawasan ini tumbuh sebagai pelabuhan Kalapa, terutama pada masa Kerajaan Sunda Pajajaran yang berpusat di Pakuan-Pajajaran, Bogor.
Namun, perkembangan tersebut bukanlah titik awal kehidupan manusia di Jakarta. Jauh sebelumnya, kawasan ini telah dihuni dan dijelajahi oleh masyarakat prasejarah.
Kehidupan Masyarakat pada Masa Prasejarah
Jejak kehidupan manusia di wilayah Jakarta dapat ditelusuri setidaknya sejak masa prasejarah, khususnya pada Zaman Batu Baru atau Masa Bercocok Tanam. Robert von Heine Geldern dan W.G. Solheim memperkirakan masa tersebut berlangsung sekitar 2500–1500 SM. Rentang waktu ini tidak terlalu jauh dari perkiraan Verstappen mengenai proses pembentukan dataran aluvial Jakarta sekitar 5.000 tahun yang lalu (Robert von Heine Geldern, 1945: 129–167; W.G. Solheim II, 1972: 34–41).
Dugaan mengenai keberadaan masyarakat pada masa tersebut tidak semata-mata didasarkan pada kondisi lingkungan, tetapi juga pada bukti arkeologis. Sejumlah artefak yang dikumpulkan pada masa Hindia Belanda telah diinventarisasi oleh Th.Th. van der Hoop dan kini menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional. Bukti tersebut kemudian dilengkapi dengan hasil ekskavasi arkeologis di situs Kelapa Dua sekitar tahun 1971 (Th.Th. van der Hoop, 1941).
Artefak yang ditemukan memperlihatkan kehidupan masyarakat yang telah mengenal berbagai teknologi dasar. Di antaranya terdapat kapak persegi, beliung, serpihan batu, manik-manik, gelang batu, serta pecahan gerabah atau kreweng.
Menariknya, dalam daftar inventaris Van der Hoop terdapat pula sebuah alat batu berbentuk seperti pacul yang ditemukan di daerah Jatinegara. Temuan-temuan semacam itu tersebar di berbagai tempat di wilayah Jakarta, antara lain Pasar Minggu, Pasar Rebo, Tanjung Timur, Kampung Salak dekat Pesing, Kampung Sukabumi, Cililitan, Sunter, Condet di sekitar jalan Jakarta–Bogor, kawasan dekat Stasiun Jatinegara, Kampung Kranggan, Karang Tengah, Pasar Jumat, Kebayoran, Karet, Gedungijo Pasar Jumat, Pondok Betung–Ciputat, Kebayoran Lama, Kampung Pulo Jatinegara, Kebon Sirih, Cawang, Kampung Cipayung–Kebayoran, Pondok Pinang–Kebayoran, Kebon Pala–Jatinegara, Kebon Nanas, Rawa Belong–Kebayoran, Rawa Lele, Kelapa Dua, dan sejumlah tempat lainnya.
Sebaran temuan tersebut menjadi penting karena menunjukkan bahwa aktivitas manusia prasejarah tidak hanya berlangsung di satu lokasi. Kawasan yang sekarang menjadi bagian dari kota Jakarta ternyata menyimpan jejak aktivitas manusia dalam ruang yang cukup luas.
Salah satu lokasi yang memberikan gambaran penting adalah Kelapa Dua. Banyaknya alat batu yang ditemukan bersama pecahan tembikar dan batu asahan, serta lokasinya yang berada di sekitar Sungai Ciliwung, memberikan kemungkinan adanya pemukiman pada masa tersebut. Hasil ekskavasi arkeologis tahun 1971 semakin memperkuat arti penting situs ini dalam memahami kehidupan masyarakat awal di wilayah Jakarta.
Jika berbagai temuan tersebut dibaca secara keseluruhan, terlihat bahwa masyarakat pada masa bercocok tanam bukanlah kelompok yang hidup tanpa pola kehidupan yang teratur. Mereka telah mengenal tempat tinggal yang relatif menetap dan memiliki pengetahuan mengenai pembangunan rumah. Mereka juga telah mengenal bercocok tanam di tanah darat, mengolah makanan dengan cara dibakar dan direbus, membuat pakaian, serta melakukan aktivitas perdagangan meskipun masih menggunakan sistem barter.
Hubungan mereka dengan lingkungan juga tidak terbatas pada daratan. Pengetahuan mengenai pelayaran dan perbintangan menunjukkan bahwa mereka telah memiliki kemampuan untuk membaca lingkungan alam yang lebih luas. Pengetahuan tersebut penting bagi masyarakat yang hidup di kawasan yang memiliki hubungan erat antara sungai, daratan, dan laut.
Kehidupan sosial mereka pun tampaknya telah berkembang. Masyarakat telah mengenal bentuk organisasi sosial dengan pemimpin kelompok atau suku yang dipilih oleh anggota masyarakatnya. Dengan demikian, kehidupan mereka tidak hanya berpusat pada pemenuhan kebutuhan individual, tetapi juga telah melibatkan kerja sama, pembagian peran, dan aturan sosial.
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa sebelum hadirnya pengaruh India, masyarakat kepulauan Indonesia telah memiliki berbagai unsur kebudayaan yang berkembang. Hal ini antara lain pernah dikemukakan oleh J.L.A. Brandes melalui teorinya mengenai "sepuluh pengetahuan" yang telah dikenal masyarakat Indonesia sebelum datangnya pengaruh India. Pandangan mengenai perkembangan kebudayaan lokal sebelum pengaruh India juga ditemukan dalam karya N.J. Krom dan F.D.K. Bosch (Brandes, 1887: 122–129; N.J. Krom, 1923: 44–45; F.D.K. Bosch, 1952: 8).
Karena itu, kehadiran pengaruh India tidak tepat dipahami sebagai awal munculnya kebudayaan di wilayah Jakarta. Sebaliknya, pengaruh tersebut datang ke tengah masyarakat yang sebelumnya telah memiliki pengalaman panjang dalam mengelola lingkungan, membangun kehidupan sosial, serta mengembangkan teknologi.
Dari Batu ke Logam
Perkembangan itu berlanjut pada masa berikutnya ketika masyarakat memasuki Masa Kebudayaan Logam atau Masa Perundagian, yang diperkirakan berlangsung sejak sekitar 500 SM. Sejumlah temuan dari wilayah Jakarta memperlihatkan bahwa masyarakat telah mengenal teknologi pengolahan logam, khususnya perunggu dan besi.
Artefak dari masa tersebut antara lain berupa kapak sepatu atau kapak corong, tombak, bekas coran besi, serta sisa-sisa besi. Temuan-temuan itu berasal dari beberapa lokasi, seperti Kelapa Dua, Tanjung Barat, Lenteng Agung, Pasar Minggu, dan Jatinegara.
Kehadiran benda-benda tersebut memperlihatkan adanya perkembangan teknologi yang lebih kompleks. Masyarakat tidak lagi hanya mengandalkan batu sebagai bahan utama pembuatan alat, tetapi telah mengenal metalurgi dan teknik pengolahan logam. Pembuatan alat dilakukan melalui proses pengecoran menggunakan cetakan (bivalve), atau mungkin melalui teknik a cire perdue atau teknik cetak lilin hilang.
Perubahan teknologi tersebut membawa konsekuensi sosial. Ketika proses pembuatan alat menjadi semakin rumit, muncul kebutuhan akan orang-orang yang memiliki keterampilan khusus. Dari sinilah kemungkinan berkembang kelompok-kelompok seperti pandai besi atau pengrajin logam, pembuat gerabah, serta pedagang. Pembagian kerja yang semakin jelas kemudian dapat mendorong terbentuknya lapisan sosial berdasarkan keterampilan dan penguasaan sumber daya.
Dengan demikian, perkembangan teknologi logam bukan sekadar perubahan jenis alat. Ia juga menjadi bagian dari perubahan struktur masyarakat. Pengetahuan mulai terspesialisasi, pekerjaan semakin beragam, dan hubungan antarkelompok menjadi semakin kompleks.
Dalam konteks yang lebih luas, perkembangan tersebut memperlihatkan adanya kesinambungan kehidupan masyarakat di wilayah Jakarta sejak masa bercocok tanam hingga masa perundagian. Koentjaraningrat menyebut berbagai unsur tersebut sebagai bagian dari unsur universal kebudayaan yang lazim ditemukan dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat, baik dalam bentuk klan, suku, maupun komunitas yang lebih luas (Koentjaraningrat, 1990: 202–208).
Menjelang Munculnya Pengaruh India
Perkembangan masyarakat tersebut pada akhirnya membawa wilayah Jakarta memasuki fase baru. Ketika jaringan hubungan antarkawasan semakin luas, masyarakat Jakarta mulai berhubungan dengan kelompok-kelompok dari luar kepulauan Indonesia, termasuk masyarakat India.
Kontak tersebut tidak berlangsung di ruang sosial yang kosong. Masyarakat lokal telah memiliki tradisi, teknologi, organisasi sosial, serta pengetahuan mengenai lingkungan yang berkembang selama berabad-abad. Karena itu, perjumpaan dengan kebudayaan India kemudian menghasilkan proses akulturasi, yaitu pertemuan dan penyesuaian antara unsur kebudayaan luar dengan kebudayaan yang telah berkembang di lingkungan setempat.
Dalam proses panjang inilah kemudian muncul kebudayaan bercorak Hindu-Buddha di Nusantara. Perkembangan tersebut selanjutnya berkaitan dengan munculnya kerajaan-kerajaan awal, termasuk Tarumanagara yang dikenal sebagai salah satu kerajaan bercorak Hindu tertua di Pulau Jawa.
Dengan demikian, sejarah Jakarta sebelum Batavia tidak bermula ketika pelabuhan Kalapa berkembang, apalagi ketika VOC mendirikan Batavia. Jauh sebelumnya, wilayah ini telah mengalami sejarah ekologis dan sosial yang panjang: daratan terbentuk melalui proses sedimentasi, manusia mulai menetap dan bercocok tanam, teknologi berkembang dari batu menuju logam, organisasi sosial semakin kompleks, dan jaringan hubungan dengan wilayah luar mulai terbentuk.
Batavia kemudian hadir di atas bentang alam dan warisan kehidupan yang jauh lebih tua. Kota itu bukanlah titik awal sejarah Jakarta, melainkan salah satu fase dari proses panjang perubahan lingkungan, masyarakat, teknologi, dan jaringan perdagangan yang telah berlangsung sejak masa prasejarah.
0 komentar: