Awal Pengajaran Al-Qur'an
Ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad ï·º adalah:
اقْرَØ£ْ بِاسْÙ…ِ رَبِّÙƒَ الَّذِÙŠ Ø®َÙ„َÙ‚َ
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan."
Perintah iqra’ menjadi titik awal lahirnya sebuah masyarakat yang menjadikan ilmu sebagai bagian penting dari kehidupan. Pesan ayat ini tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mengandung isyarat tentang pentingnya pendidikan dalam membangun kehidupan manusia.
Tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ï·º pernah belajar seni menulis. Pada umumnya para ulama menyebut beliau sebagai seorang ummi, yakni tidak membaca dan menulis sebagaimana orang-orang yang terdidik pada zamannya. Namun, keadaan tersebut justru menjadi bagian penting dari kemukjizatan risalah beliau. Dari seorang yang tidak belajar membaca dan menulis secara formal, lahirlah sebuah peradaban yang menempatkan ilmu, pendidikan, dan pembelajaran pada kedudukan yang sangat tinggi.
Nabi Muhammad ï·º kemudian mencurahkan segala upaya yang mungkin dilakukan untuk mengembangkan pendidikan. Beliau menjelaskan keutamaan orang yang mencari ilmu, mendorong orang berilmu untuk mengajarkan ilmunya, serta memberikan peringatan keras terhadap orang yang sengaja menyembunyikan ilmu yang dibutuhkan manusia.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ï·º bersabda:
"Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga."
Sebaliknya, beliau memberikan peringatan kepada orang yang menyembunyikan ilmu. Nabi ï·º bersabda:
*"Barang siapa ditanya tentang suatu ilmu yang telah dikuasainya, lalu ia menyembunyikannya, niscaya pada hari Kiamat ia akan dikekang dengan kekangan dari api neraka."*
Dengan demikian, ilmu dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang boleh disimpan hanya untuk kepentingan pribadi. Orang yang telah memperoleh ilmu mempunyai tanggung jawab untuk menyampaikannya kepada orang lain.
Nabi ï·º juga mendorong orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membantu mereka yang belum memperoleh pendidikan. Para cendekiawan diperintahkan agar mengembangkan ilmu di tengah masyarakat dan membimbing orang-orang yang belum belajar. Mereka yang memiliki kemampuan membaca dan menulis mendapat perhatian khusus karena keterampilan tersebut menjadi sarana penting dalam penyebaran ilmu.
Pendidikan sebagai Amanah Sosial
Semangat pendidikan yang dibangun Nabi ï·º tidak hanya berlaku bagi kaum Muslimin yang telah memiliki pengetahuan. Pendidikan juga diarahkan kepada masyarakat yang masih belum mengenal baca-tulis.
Karena itu, Nabi ï·º tidak memandang ilmu sebagai milik kelompok tertentu. Siapa pun yang memiliki kemampuan mengajarkan ilmu dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.
Hal ini tampak dalam perlakuan terhadap para tawanan Perang Badar. Sebagian tawanan yang memiliki kemampuan membaca dan menulis dibebaskan dengan kewajiban mengajarkan keterampilan tersebut kepada anak-anak kaum Muslimin. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pendidikan telah ditempatkan sebagai salah satu kebutuhan mendasar masyarakat Islam sejak masa awal.
Bahkan orang-orang non-Muslim pun pernah diberi tugas mengajarkan membaca dan menulis pada masa kehidupan Rasulullah ï·º.
Semangat tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan dalam masyarakat Islam tidak dibangun berdasarkan kepentingan pribadi, tetapi sebagai sebuah amanah sosial. Ilmu harus diwariskan, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia.
Nabi ï·º juga memberikan perhatian terhadap hubungan antara guru dan murid. Orang yang memiliki ilmu harus memperlakukan mereka yang belajar dengan penuh tanggung jawab, bahkan dalam sebuah hadis terdapat penekanan agar seorang yang mengajarkan ilmu mengambil peran sebagaimana seorang ayah terhadap anaknya.
Penghargaan terhadap Orang yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an
Di antara bentuk pendidikan yang paling mendapat perhatian Nabi Muhammad ï·º adalah pembelajaran Al-Qur’an. Beliau tidak pernah menyia-nyiakan keinginan masyarakat untuk mempelajari Kalamullah.
Utsman bin Affan meriwayatkan bahwa Nabi ï·º bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain."
Makna yang sama juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Talib.
Dengan demikian, proses pendidikan Al-Qur’an memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan: belajar dan mengajarkan. Seorang Muslim tidak berhenti pada usaha memperbaiki dirinya melalui Al-Qur’an, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan apa yang telah dipelajarinya kepada orang lain.
Keutamaan membaca Al-Qur’an juga dijelaskan oleh Nabi ï·º. Ibnu Mas'ud meriwayatkan bahwa beliau bersabda:
"Barang siapa membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu huruf. Akan tetapi, Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf."
Dengan demikian, aktivitas membaca Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan intelektual, melainkan juga ibadah yang memiliki nilai spiritual.
Al-Qur’an dan Kedudukan Orang Berilmu
Penghargaan terhadap orang yang mempelajari Al-Qur’an juga tampak dalam penunjukan imam shalat. Di masa awal Islam, orang yang memiliki hafalan Al-Qur’an lebih banyak diberi kedudukan sebagai imam.
Aisyah dan Abu Mas'ud al-Anshari meriwayatkan bahwa Nabi ï·º bersabda:
"Orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya hendaknya menjadi imam."
Amir bin Salimah al-Jarmi menceritakan bahwa sekelompok kaumnya datang menemui Nabi ï·º dan menyatakan keislaman mereka. Sebelum pulang, mereka bertanya:
"Siapakah yang akan mengimami shalat kami?"
Beliau menjawab:
"Orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya."
Kedudukan tersebut menunjukkan bahwa ilmu Al-Qur’an bukan sekadar pengetahuan yang disimpan dalam pikiran. Ilmu itu menjadi dasar bagi seseorang untuk menjalankan fungsi sosial dalam masyarakat.
Penghormatan tersebut mencapai bentuk yang sangat kuat pada detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah ï·º. Abu Bakar dipercaya menjadi imam shalat selama Nabi ï·º sakit. Penunjukan tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan yang sangat besar kepada Abu Bakar dan kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah kepemimpinan umat Islam.
Keberkahan Majelis Al-Qur’an
Keutamaan mempelajari dan membaca Al-Qur’an tidak berhenti pada pahala pribadi. Aktivitas tersebut juga menjadi sebab turunnya ketenangan dan hadirnya para malaikat.
Usaid bin Hudhair pernah membaca Al-Qur’an pada suatu malam. Kudanya tiba-tiba bergerak dan melompat-lompat. Ketika ia berhenti membaca, kuda itu pun tenang. Ketika ia kembali membaca, kuda tersebut kembali bergerak.
Usaid kemudian menghentikan bacaannya karena khawatir anaknya, Yahya, berada terlalu dekat dengan kuda tersebut. Ketika ia melihat ke atas, ia menyaksikan sesuatu seperti awan atau tenda yang dipenuhi cahaya menjulang ke langit. Pemandangan itu kemudian menghilang.
Keesokan harinya ia menceritakan peristiwa tersebut kepada Nabi ï·º. Beliau menjelaskan bahwa yang dilihatnya adalah para malaikat yang sedang mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Nabi ï·º bersabda agar ia terus membaca karena seandainya ia meneruskan bacaannya, orang-orang pada pagi harinya akan dapat menyaksikan para malaikat tersebut.
Peristiwa ini memberikan gambaran tentang suasana spiritual yang menyertai majelis Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an bukan hanya hubungan antara manusia dengan kitab yang dibacanya, tetapi juga bagian dari kehidupan yang disaksikan oleh para malaikat.
Keutamaan Orang yang Tekun Bersama Al-Qur’an
Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Nabi ï·º bersabda:
*"Tidak boleh iri kecuali terhadap dua orang: seseorang yang diberi Allah Al-Qur’an lalu ia membacanya siang dan malam, dan seseorang yang diberi Allah harta lalu ia menginfakkannya siang dan malam."*
Umar bin al-Khaththab juga menjelaskan bahwa Nabi ï·º bersabda:
*"Dengan Kitab ini, Allah meninggikan sebagian kaum dan merendahkan sebagian yang lain."*
Dengan demikian, Al-Qur’an menjadi sumber kemuliaan manusia. Kedudukan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh harta, keturunan, atau kekuasaan, tetapi juga oleh hubungannya dengan wahyu Allah.
Bahkan mereka yang sudah lanjut usia atau mengalami kesulitan dalam menghafal Al-Qur’an tetap memperoleh kesempatan mendapatkan keberkahan. Mereka tidak kehilangan keutamaan hanya karena kemampuan menghafalnya terbatas. Orang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an pun mendapatkan keutamaan.
Ibnu Abbas pernah menyatakan bahwa orang yang mendengarkan satu ayat Al-Qur’an akan memperoleh cahaya pada hari Kiamat.
Demikian pula, membaca Al-Qur’an dengan melihat mushaf maupun membaca dari hafalan sama-sama memiliki keutamaan. Nabi ï·º menjelaskan keutamaan membaca Al-Qur’an dengan mushaf maupun tanpa melihat mushaf.
Bagi mereka yang mencurahkan hidupnya untuk Al-Qur’an, terdapat pula keutamaan besar pada hari Kiamat. Abdullah bin Amr meriwayatkan bahwa Nabi ï·º bersabda bahwa orang yang selalu bersama Al-Qur’an akan diminta membaca dan naik dalam derajat-derajat surga sesuai dengan bacaan yang dahulu ia lakukan di dunia. Tempatnya berada pada ayat terakhir yang dibacanya.
Jangan Sampai Al-Qur’an Ditinggalkan
Jika Al-Qur’an membawa begitu banyak keutamaan, maka meninggalkannya merupakan kerugian besar. Karena itu, Nabi ï·º memberikan peringatan kepada orang yang tidak memberikan perhatian terhadap Al-Qur’an.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi ï·º bersabda:
"Orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun Al-Qur’an adalah seperti rumah yang hancur."
Nabi ï·º juga memperingatkan orang yang telah menghafal Al-Qur’an tetapi kemudian melupakannya. Karena itu, beliau menganjurkan agar hafalan Al-Qur’an senantiasa diulang dan dipelihara.
Abu Musa al-Asy'ari meriwayatkan bahwa Nabi ï·º bersabda:
*"Segarkanlah selalu hafalan Al-Qur’an kalian. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an lebih cepat lepas daripada unta yang terlepas dari ikatannya."*
Pesan tersebut menunjukkan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an tidak boleh bersifat sesaat. Ia harus dipelihara melalui pengulangan, pembacaan, penghayatan, dan pengamalan.
Al-Qur’an sebagai Jalan Menyatukan Umat
Pada akhirnya, fungsi pendidikan Al-Qur’an tidak hanya membentuk individu yang berilmu, tetapi juga menjaga masyarakat agar tidak kehilangan arah.
Al-Harits bin al-Anwar menceritakan suatu peristiwa setelah wafatnya Nabi ï·º. Ketika melewati masjid, ia melihat beberapa orang sedang berbicara dengan suara pelan. Ia kemudian melaporkan hal tersebut dan mengingat kembali penjelasan Nabi ï·º tentang perselisihan yang akan terjadi di tengah umat.
Ketika ditanya bagaimana cara menghadapi perselisihan tersebut, Nabi ï·º menjelaskan bahwa Kitab Allah merupakan pedoman yang mencakup pelajaran dari umat-umat terdahulu, berita tentang masa yang akan datang, serta hukum dan petunjuk dalam menghadapi berbagai persoalan.
Al-Qur’an adalah pembeda antara yang benar dan yang batil. Ia bukan bahan permainan atau bahan lelucon. Orang yang meninggalkannya karena kesombongan akan kehilangan petunjuk, sedangkan orang yang menjadikannya sebagai sumber petunjuk akan memperoleh jalan yang lurus.
Al-Qur’an adalah tali Allah yang kokoh, peringatan yang penuh hikmah, dan jalan yang lurus. Ia tidak menjadi usang meskipun terus dibaca dan diulang. Bahkan semakin seseorang mendalaminya, semakin luas pula ruang ilmu yang ditemukannya.
Karena itu, Al-Qur’an tidak hanya membentuk orang yang membaca, tetapi juga membentuk orang yang mengajarkan, mengamalkan, menegakkan keadilan, dan mengajak manusia kepada jalan Allah.
Dari Pendidikan Al-Qur’an Menuju Pembentukan Masyarakat
Dari uraian tersebut terlihat bahwa pendidikan yang dibangun Nabi Muhammad ï·º memiliki cakupan yang luas. Dimulai dari perintah iqra’, pendidikan berkembang menjadi proses belajar, menghafal, membaca, mengajarkan, mengamalkan, dan menyebarkan Al-Qur’an di tengah masyarakat.
Nabi ï·º tidak membiarkan ilmu berhenti pada diri seseorang. Orang yang belajar didorong untuk mengajarkan. Orang yang memiliki kemampuan membaca dan menulis diminta membantu mereka yang belum mampu. Orang yang menguasai Al-Qur’an diberi tanggung jawab sosial. Bahkan para tawanan Perang Badar yang memiliki kemampuan membaca dan menulis dapat memberikan kontribusi pendidikan kepada masyarakat.
Dengan demikian, pendidikan pada masa Rasulullah ï·º bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Pendidikan merupakan sarana membentuk manusia yang memiliki hubungan dengan Allah, memiliki ilmu, berakhlak, mampu menjalankan tanggung jawab sosial, dan sanggup membawa masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik.
0 komentar: